Arsip untuk Januari, 2012

Wanita Dalam Lukisan - Rose MadderWanita Dalam Lukisan – Rose Madder by Stephen King

My rating: 3 of 5 stars

detail info:

Paperback, Large print edition, 766 pages
Published March 2007 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9792227059
edition language: Indonesian
original title: Rose Madder
setting: United States

Ini cerita tentang kekerasan rumah tangga. Hanya saja levelnya lebih gila-gilaan karena diceritakan oleh master novelis msiteri Stephen King.

Novel ini bercerita mengenai penderitaan Rose Daniels yang hidup dalam penderitaan oleh siksaan terus-menerus oleh suaminya yang seorang polisi. Norman Daniels, suami Rose itu selalu menemukan cara untuk bisa membuat istrinya menderita. Suatu hari Rose mendapatkan semacam kekuatan untuk melarikan diri dari rumah itu. Melarikan diri dari suaminya.

Namun sebagai polisi Norman memiliki kekuasaan yang cukup besar. Belum lagi instingnya sebagai seorang polisi akan membuat alur di sepanjang buku ini menjadi ketegangan pengejaran yang tak pernah berakhir. Hingga akhirnya Rose menemukan kekuatan dari sebuah lukisan yang dibelinya. Melalui lukisan itu, Rose akan mengalami semacam dunia di balik lukisan mistis itu. Dan nampaknya lukisan itu menjadi kekuatan baginya untuk melawan balik pada suaminya. Dari sinilah pertarungan hidup dan mati akan berlangsung.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Iklan

1

Di situlah aku tinggal. Di sebuah rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter. Hanya ada satu ruangan di situ yang aku pakai untuk tidur sekaligus memasak. Sebenarnya aku tidak terlalu sering memasak. Lihat saja kompor minyak tanah itu. Bahkan sekarang telah bertumbuh banyak sarang laba-laba di sana. Dan panci-panci itu, mungkin sudah jadi sarang yang nyaman untuk kawanan cicak. Aku lebih sering makan ditempat kerja. Soal MCK itu urusan lain. Bukan urusan yang bikin pusing tentu saja. Aku bisa saja menumpang di mushola belakang rumah. Aku bantu-bantu bebersih di mushola yang selalu sepi itu. Sebagai imbalan, aku boleh memanfaatkan toiletnya sesering aku mau.

Sudah enam belas atau tujuh belas tahun aku di sini. Aku agak lupa. Banyak pekerjaan yang telah aku lakukan di sini tanpa harus berpindah. Untuk ukuran pekerja serabutan, di sinilah surganya. Cobalah lihat di ujung luar gang itu. Ada mandor becak yang menyewakan becaknya. Aku pernah menyewanya selama satu tahun sebelum aku akhirnya memutuskan berhenti karena badanku capek semua sedangkan hasilnya tidak seberapa. Menjadi tukang becak itu harus standby siang dan malam agar bisa menabung.

Lalu sedikit lebih jauh di sana ada terminal. Profesi kernet pun pernah aku jalani untuk waktu yang lumayan lama yaitu lima tahun. Profesi itu cukup untuk membuatku akhirnya punya sebuah motor tua. Tapi nasib mengambil keputusannya sendiri. Bus yang aku kerneti terlibat kecelakaan beruntun menewaskan puluhan orang. Sopir busnya masuk penjara karena terbukti lalai. Dari penyidikan polisi ternyata hampir semua bus tidak layak jalan. Keputusannya: perusahaan bus harus ditutup atau membuat perusahaan bus baru dengan nama yang berbeda. Sama saja membangun peusahaan dari nol, pikirku. Itu artinya harus ada penyusutan karyawan atau istilah yang lebih merakyat: PHK. Sedangkan kondisiku pasca kecelakaan itu: kaki kananku patah dan untuk biaya perawatan rumah sakit, motor tuaku harus aku jual untuk biaya berobat.

Hidup serasa mulai dari nol lagi. Beberapa usaha masih bisa aku coba. Aku mencoba membantu menjaga kios koran seorang kenalan di sudut teminal itu sambil menunggu kakiku hingga bisa berjalan dengan baik. Sambil berharap juga ada mandor bus yang memanggilku kembali untuk menjadi kernet. Beberapa bulan aku menjaga kios, sampai kakiku sembuh benar, belum ada mandor bus yang memanggilku. Aku mulai mencoba naik setingkat menjadi pengantar koran untuk orang-orang yang berlangganan. Kadang aku bisa mencoba peruntungan lewat usaha makelar apa saja. Makelar kecil-kecilan dari barang-barang yang dijual pelanggan koranku yang satu dan aku tawarkan ke pelanggan koran yang lain. Dari usahaku itu aku berhasil membeli sebuah sepeda.

Gang kedua dari ujung jalan besar, rumah ke lima sebelah kiri dari gerbang masuk, di situlah aku melepas segala penat dan lelahku dalam menyambung hidup. Di gang inilah semua orang mengadu nasib mencari perpanjangan hidup. Gang ini cukup terkenal bahkan sampai keluar kota. Tanyalah pada para penumpang yang baru saja turun di teminal itu tentang gang ini, pastilah mereka tahu. Gang kedua dari ujung adalah lokalisasi paling ternama di kota ini. Strategis sekali memang. Pas berada di tengah kota, dekat dengan terminal dan akan menjadi penghasilan tambahan bagi para sopir taksi, ojek dan abang becak yang mangkal di seputaran terminal. Mereka akan mendapatkan bonus jika bisa mendapatkan dan mengantar pelanggan ke gang birahi itu.

Gang ini memang menjanjikan uang dari segala pofesi. Pada suatu hari aku mendengar akan dibangun sebuah hotel di gang ketiga. Inilah lowongan pekerjaan, kataku dalam hati ketika itu. Akhirnya setelah sekian lama aku bebisnis dengan koran aku memulai profesi baruku sebagai kuli bangunan. Aku melihat prospek kedepannya memang cukup menjanjikan karena menjamin kepastian pekerjaan untuk beberapa tahun kedepan. Akan dibangun beberapa gedung besar lagi setelah ini, kata kontraktornya.

Malam ini genap satu tahun aku melepas lelahku sebagai buruh bangunan. Sudah dua bulan ini aku memulai pembangunan gedung baru di sebelah hotel gang ketiga itu. Hotel itu sendiri sudah berdiri megah. Banyak sekali pengunjungnya. Dan aku tahu hotel ini makin menyuburkan bisnis syahwat itu. Menyuburkan bisnis yang berpusat di gang kedua tempat aku tinggal itu. Ya, aku belum kemana-mana. Masih saja di bangunan empat kali enam ini. Masih dengan kesepian yang sama.

2

Sudah enam belas atau tujuh belas tahun aku di gang ini. Tentu saja sudah mengenal betul para perempuan pekerja malam itu. Beberapa perempuan sudah aku kenal selama sepuluh tahun terakhir. Beberapa hanya aku kenal beberapa tahun dan kemudian menghilang entah kemana. Tidak ada perempuan pekerja yang tinggal di gang ini lebih lama dari aku.

Dan gadis itu, aku baru melihatnya sekitar enam bulan terakhir. Gadis yang cantik. Pakaiannya dan cara berjalannya begitu terhormat. Tapi apalah artinya predikat terhormat itu kalau dia tinggal di rumah mewah bertingkat dua dengan arsitektur Italia yang menjulang berhadap-hadapan tepat di depan gubukku ini. Siapa yang tidak tahu tentang rumah itu? Itulah rumah tempat para pelacur paling terhormat. Mucikarinya wanita modis setengah bule. Maka wanita pekerjanya juga sering disewakan kepada para bule. Ada sekitar enam belas pelacur berkelas yang hanya disediakan untuk pelanggan berkelas. Katakanlah wanita di dalamnya memang kualitas ekspor. Sesekali aku melihat mobil mewah berhenti di situ. Aku tahu yang di depan adalah si sopir. Sedangkan penumpangnya di belakang adalah orang yang sering aku lihat di TV warteg. Sesekali seorang artis, sesekali menteri dan keseringan adalah para anggota dewan. Ah sudahlah, aku tidak akan ambil pusing soal itu. Aku hanya orang miskin yang kebetulan melihat tamu-tamu rumah mewah itu dari gubuk minimalisku ini. Dan dengan mobil itu, mereka biasa membawa satu atau dua pekerja seks berkelas itu. Tidak pernah tiga. Mereka tidak akan kuat.

Semua wanita pelacur itu, mau berkelas atau tidak, ya sama saja. Pekerjaan kotor, hasilnya pun kotor, lahir batin pasti ikut kotor.

Tapi gadis itu beda.

3

Siapakah gadis itu? Tidak ada yang tahu betul. Teman-temanku yang juga sering menilai semua perempuan di gang itu pun pasti hanya akan berhenti pada pernyataan: entahlah, baru enam bulan aku melihatnya.

Usianya kira-kira sekitar 25 tahun. Tidak seperti pelacur ekonomis atau pelacur paket hemat yang rata-rata sudah 30 tahun ke atas bahkan mereka masih menjual yang sudah menopause. Cantik, kulit putih terawat tanpa banyak make up, rambutnya hasil dari salon rutin, kukunya selalu berganti warna menyesuaikan warna bajunya. Dan bajunya sendiri, sekalipun aku tidak paham tentang merk ternama, tapi aku tahu semua yang dipakainya sangat mahal. Itulah tampilan fisiknya. Tapi itu semua tidak membuat kecantikannya spesial karena semua wanita di rumah begaya Italia itu memang seperti itu. Mucikarinya juga tidak seperti mucikari lokal yang hitam, gemuk dan kotor. Mucikari yang satu ini kalau dijual pun pasti laku.

Tapi ada yang spesial saat aku melihat cahaya matanya.

Sore itu aku beranjak pulang dari pekerjaan pembangunan gedung di sebelah hotel di gang tiga. Saat itulah aku berpapasan dengannya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapanku. Ada keteduhan di mata gadis itu. Ada kedalaman yang menyimpan perasaan tetentu di sana. Tatapannya sangat bersahaja hingga aku sejenak lupa kalau dia seorang pelacur. Hingga dia berbelok memasuki hotel baru itu dan predikat bersahaja itu buru-buru menghilang dari pikiranku. Pastilah hendak menemui klien hidung belangnya, kataku dalam hati.

Malamnya aku tidak bisa berhenti memikirkan sepasang mata gadis 25 tahun itu. Pikiranku melayang ke enam belas atau tujuh belas tahun yang lalu. Mencoba mengingat kembali kenangan akan tatapan mata yang sama. Yang pernah membuatku jatuh hati untuk yang terakhir kalinya. Tidak pernah lagi aku jatuh hati pada pemilik mata lain setelah itu. Mata itu yang kini tidak lagi di sisiku. Yang membuatku kesepian enam belas atau tujuh belas tahun terakhir ini.

Lita, pemilik mata teduh itu, yang tetap teduh ketika kesedihannya yang terakhir itu sebelum dia meninggalkan kehidupan rumah tangga kami. Lita, perempuan yang aku nikahi ketika usia kami masih telalu dini akibat kelakuan kami yang kelewatan. Kami dinikahkan ketika usia kami sama-sama lima belas tahun. Dan akhirnya keluarganyalah yang mendesak Lita untuk meninggalkanku bahkan sesaat sebelum anak kami lahir karena aku tidak pernah bisa menghidupi kami berdua. Aku adalah anak yatim piatu yang tidak becus cari duit.” Kata bapaknya ketika itu. “Menghidupi diri sendiri saja sulit, jangan bermimpi bisa menghidupi anak istrimu.” Tambahnya.

Bersamaan dengan hancurnya rumah tangga kami, aku memutuskan untuk pergi ke kota. Aku tidak mau lagi merepotkan kakekku yang selama ini menghidupiku dengan uang pensiunnya yang pas-pasan. Sudahlah, aku ingin meninggalkan desa dan biarlah masa laluku tertinggal di desa itu. Aku berangkat ke kota untuk mencari hidup baru.

4

Hanya sekali itulah aku berpapasan mata dengannya. Selebihnya justru aku tidak memahami apa yang aku rasakan. Mata teduh itu selalu setia mendatangi benakku ketika aku mulai sulit tidur dan kesepian di ruangan empat kali enam ini. Nampaknya keteduhan tatapannya terlanjur mengendap.

Suatu saat, ketika aku tidak bisa tidur aku mencoba duduk menghadap jendela. Gawang jendela itu cukup rendah hingga aku bisa melipat lenganku di atasnya sekaligus menyangga daguku. Posisi yang sempurna untuk melamun. Anginnya pun sejuk. Saat itulah aku melihat mobil mewah berhenti di depan rumah Italia itu. Gadis itu turun. Dia baru pulang jam segini ternyata. Aku menengok jam yang tergantung di dinding. Jam setengah 3 dini hari. Dan selanjutnya aku tahu itu adalah jadwal kepulangannya. Itu jika dia ada panggilan keluar. Jika pelanggannya yang datang kerumah, pelangan itu akan keluar juga sekitar jam dua-an. Pelacur berkelas memang terjadwal, pikirku. Untuk waktu berangkatnya, aku sering melihatnya ketika aku pulang kerja. Tidak berpapasan, hanya melihatnya dari jauh dan dia beberapa kali berbelok ke hotel baru itu. Benar saja, hotel itu memang memfasilitasi bisnis basah tersebut. Jika dia sedang tidak ada keperluan di hotel itu, aku pasti akan melihatnya keluar dari rumah mewah itu dengan berjalan kaki atau dijemput mobil mewah atau jika sedang tidak perlu keluar rumah, pelanggan akan datang di jam yang sama. Hingga aku bisa menyimpulkan jam kerjanya dimulai sekitar jam 5 sore.

Tiap hari adalah harapanku untuk melihat sosoknya keluar rumah mewah itu, melewati kandang kecil berukuran empat kali enam meterku. Tentu saja dia tidak bisa melihatku di balik gawang jendela ini karena ada semak tanaman yang tak terurus di sana. Tiap hari adalah kebutuhanku untuk melihat sosoknya, dan melihat sedikit tatapan teduh itu yang telah menjadi candu. Sore hari dia akan mengobati lelahku setelah bekerja dan malam hari dia akan menemaniku ketika aku tidak bisa tidur. Walau hanya sekian detik dan dia akan bergegas memasuki rumah angkuh itu. Saat malam tiba, sosok yang sedang pulang itu akan mengisi kerinduanku. Tapi ketika sore tiba, sosok yang hendak berangkat itu membuat hatiku pilu. Dan aku menyadari bahwa sepiku lambat laun telah terisi.

Ya Tuhan, aku jatuh cinta pada seorang pelacur!

5

Inikah yang dinamakan cinta, ya Tuhan? Aku telah merasakan rindu dan cemburu terhadapnya. Seperti yang aku rasakan ketika mengenal Lita kala itu.

Oh, Lita. Lihatlah ada seorang perempuan bertatapan teduh seperti kamu. Apakah Tuhan telah mendatangkan pengganti bagiku karena aku telah layak untuk menikah lagi? Karena aku sudah bisa mandiri? Tapi kenapa Tuhan mengirimkan pelacur itu untuk membuatku jatuh cinta lagi? Ataukah itu adalah ujian dari Tuhan? Tentu saja ini adalah unjian-Nya. Lihatlah diriku ini. Aku hanya kuli bangunan, sedangkan dia tinggal dirumah mewah serta angkuh itu. Tapi bukankah dia hina? Sedangkan aku bekerja dengan halal. Apakah itu petunjuk serta cobaan dari Tuhan tentang bagaimana hakikat dari saling melengkapi dan saling menolong?

Lita, seandainya tidak ada tatapan bersahaja itu, aku tidak akan memiliki harapan untuk melanjutkan hidup. Tapi mengapa tatapan begitu teduh seteduh dirimu itu harus dimiliki oleh seorang pelacur? Inikah hukuman dari Tuhan atas dosa-dosaku di masa lalu?

Lita, aku tidak tahu dimana dirimu berada. Enam belas atau tujuh belas tahun ini nampaknya Tuhan memang tidak mentakdirkan kita untuk bertemu kembali. Usiaku dulu masih terlalu dini untuk kita bertemu. Itulah dosaku. Saat ini aku berusia tiga puluh dua atau tiga puluh tiga. Aku sendiri tidak mampu lagi mengingatnya. Namun cukuplah diriku untuk disebut sebagai pria dewasa. Apakah Tuhan mengirimkan cinta itu karena aku sudah dewasa? Karena aku berhak untuk cinta itu? berhak untuk merasakan cinta lagi? Tapi mengapa cinta itu hadir dalam bentuk seorang pelacur? Apakah sekali lagi ini adalah hukuman atas dosa-dosaku?

Ya Tuhan, sejenak aku lupa siapa diriku. Sejenak aku buta akan jati diriku. Siapalah aku? Untuk mendekatinya saja aku tidaklah pantas. Cobalah lihat para menteri, pejabat dan artis yang sering berkunjung itu. Duitnya pastilah tak terbatas. Dan waktumu itu pastilah sudah berharga jutaan per jamnya. Atau sejumlah nominal  yang sama sekali tak pernah terbayangkan banyaknya. Siapa namamu, bahkan aku tidak tahu.

Siapa namamu, bahkan aku tidak tahu.

6

Ditengah kerinduan pekat ini, cinta memang membuat mati rasa dan mati pikiran. Kukumpulkan seluruh tabungan yang senilai gaji tiga bulan itu lantas kunaiki sepedaku ke arah pasar di belakang terminal. Kujual sepedaku. Demi cinta aku bersedia berkorban banyak hal. Mungkinkah uang segitu bisa membuat sang mucikari menjual sedikit waktu gadis bertatapan teduh itu padaku? Besok aku akan mencobanya. Setidaknya aku masih memiliki kemampuan menawar. Setidaknya aku akan hanya ingin bercakap sebentar dengannya. Setidaknya aku bisa tahu namanya. Itu saja.

7

Di sebuah kamar di lantai dua dari rumah bergaya Italia itu seorang gadis cantik sedang memandang melalui celah kecil korden jendela keseberang jalan. Ke arah bangunan mungil seukuran empat kali enam meter. Dengan mata yang sangat teduh.

Akhirnya aku menemukanmu wahai lelaki pekerja keras. Aku begitu mengenalmu setelah perjumpaan kita di depan hotel itu. Aku selalu memandangmu dari jendela ini. Memandangi wajahmu yang selalu saja ada di jendela kecil itu setiap malam. Aku merindukanmu.

Aku telah mencarimu. Hanya bermodal foto ini dan namamu. Dan orang-orang terminal kota sebelah itu mengenalmu. ‘Gang kedua dari ujung’, kata mereka. Untunglah engkau tidak pernah beranjak dari sini. Tidakkah kau mengenali aku? Aku sudah lama mengenalmu wahai lelaki yang penuh dengan ketabahan.

Aku mencarimu bertahun-tahun. Tapi apa daya, kekejaman kehidupan kota telah mengubahku seperti ini. Aku telah berubah. Sedangkan engkau, masih saja sama seperti foto yang selalu saja aku bawa ini. Fisikmu memang berubah. Tapi aku melihat kenangan seseorang yang sama di matamu.

Aku telah berubah, maukah engkau mengenaliku sekali lagi? Berusahalah mengenaliku!. Aku mohon berusahalah! Aku tahu hidupku sangat kotor. Aku tahu engkau menganggapku hina. Hidupku memaksaku dewasa sebelum waktunya. Hidupku telah memaksaku untuk tampil 10 tahun lebih dewasa.  Maafkan aku karena belum bisa menyapamu waktu itu, ayah… 

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 162 pages
Published June 2011 by Bentang Pustaka
ISBN13: 9786028811491
edition language: Indonesian

Dee, dengan khas gaya bahasanya yang lugas dan punya makna yang sangat kuat kembali memikat hati pembaca dengan kumpulan cerita yang bertajuk Madre. Judul ini diambil dari cerita pertama dari 13 cerita fiksi lain di buku ini. Madre bercerita tentang perjuangan sebuah toko roti kuno. Dengan bahasa ringan dan tetap memasukkan unsur spiritual filosofis menjadikan keseluruhan ketigabelas cerita itu memiliki kekuatan tersendiri untuk mengungkapkan maknanya.

Tema yang diusung tiap ceritanya sangat lengkap, selain tentang perjuangan toko roti, Dee juga menulis tentang cinta dan persahabatan hingga reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Tema-tema itu disiratkan secara konotatif dan denotatif. Cerita-cerita yang ditampilkan berbentuk cerpen, puisi dan prosa liris, khas Dee tentunya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Motherless Brooklyn (Riwayat Seorang Detektif Gila)Motherless Brooklyn by Jonathan Lethem

My rating: 3 of 5 stars

detail info:
Paperback, 570 pages
Published July 2007 by PT. Serambi Ilmu Semesta (first published 1999)
ISBN: 9791112833 (ISBN13: 9789791112833)
edition language: Indonesian
original title: Motherless Brooklyn
setting: United States

Ini kisah detektif yang agak lain dari yang lain karena di-mix dengan gaya komedi tanpa meninggalkan keberingasan unsur aksinya. Pantaslah kalau sub judulnya: Riwayat seorang detektif gila. Karena detektifnya adalah detektif amatiran dan ditambah lagi dia menderita sindrom Tourette. Dialah Lionel Essrog. Sindrom Tourette adalah sindrom yang membuatnya tidak bisa mengontrol ocehannya; tangannya selalu membelai-belai barang, menepuk bahu dan membenarkan kerah baju setiap orang. Bisa dikatakan spontanitasi ini jauh lebih parah daripada latah. Karena latah memerlukan kejutan, sedangkan sindrom Tourette sangat spontan. Bagaimana detektif seperti ini akan memecahkan sebuah kasus pembunuhan bos nya sendiri? Bos yang telah menjadikannya detektif dadakan.

Investigasinya yang konyol sekaligus menegangkan mengantarkannya pada mobster yang sangat berkuasa. Endingnya tidak terlalu mengejutkan. Sedikit mudah ditebak. Tapi cukup menghibur dengan kekonyolan Essrog. Kekurangan dari novel ini adalah karena terjemahan, maka umpatan-umpatan Tourette nya sudah disesuaikan dan diterjemahkan menjadi umpatan-umpatan yang biasa kita dengar di lingkungan kita. Sehingga sedikit merusak setting luar negerinya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Blind Eye : Dokter Pencabut Nyawa (Kisah Nyata Dokter Psikopat, Pembunuh Berantai Terkejam dalam Sejarah Amerika) Blind Eye : Dokter Pencabut Nyawa (Kisah Nyata Dokter Psikopat, Pembunuh Berantai Terkejam dalam Sejarah Amerika) by James B. Stewart

My rating: 5 of 5 stars

Soft Cover, 552 pages
Published September 2008 by Dastan Books (first published 1999)
ISBN13: 9789793972183
edition language: Indonesian
original title: Blind Eye : The Terrifying Story of a Doctor Who Got Away With Murder

Membaca buku ini serasa membaca arsip terlengkap yang merangkum semua riwayat kejahatan seorang dokter psikopat. James B. Stewart melakukan riset dengan menghubung-hubungkan banyak sumber secara kronologis bagaikan penyusunan karya ilmiah. Pantaslah baginya ketika Pulitzer Price dianugerahkan kepadanya.

Inilah rujukan paling lengkap mengenai biografi seorang dokter psikopat yang diduga bertanggung jawab terhadap enam puluh pembunuhan dengan menggunakan racun. Dokter Swango, dokter psikopat itu, dinilai sebagai dokter yang sangat kharismatik, pandai memikat hati siapa saja dan memiliki catatan akademik yang sempurna membuat siapapun tidak percaya bahwa dirinya adalah dokter yang terobsesi dengan segala jenis racun dan mencobakannya pada pasien.

Banyak sekali pasien yang meninggal secara misterius saat dokter ideal itu mendapatkan giliran jam jaga. Kecurigaan sudah sangat kuat akan tetapi selalu saja dia lolos dari segala macam tuduhan. Alasannya adalah rumah sakit yang ditempati selalu menutup-nutupi segala macam bentuk “kecacatan” yang dikhawatirkan berpengaruh pada reputasi rumah sakit itu sendiri. Ditambah lagi undang-undang kesehatan masih belum mengatur secara ketat tentang praktik kedokteran.

Setiap Swango dicurigai atau kasusnya mulai diusut secara hukum, dia pindah ke rumah sakit lain dengan mudahnya karena pihak petinggi rumah sakit selalu mengeluarkan rekomendasi baik kepada rumah sakit yang baru itu dengan alasan agar reputasi rumah sakit sebelumnya tidak tercemar. Diperkuat lagi dengan bakat alami Swango yang memang pandai memikat hati siapa saja.

Ketika membaca buku ini, kita akan dibuat sedikit geram dengan birokrasi dan hukum yang sangat bercelah sehingga membuka banyak sekali kesempatan kepada Swango untuk semakin memanjakan obsesi mematikan itu. Stewart bukan hanya bercerita, tetapi membuat buku ini menjadi semacam reportase paling lengkap dan dapat digunakan sebagai rujukan.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Matthijs van Heijningen Jr.

Writers:  Eric Heisserer, John W. Campbell Jr. (short story “Who Goes There?”)

Stars: Mary Elizabeth Winstead, Joel Edgerton and Ulrich Thomsen

Runtime: 103 min

Jika kita baca judulnya mungkin sekilas film ini adalah remake dari film John Carpenter dengan judul yang sama di tahun 1982. Setting dan alur pun hampir sama. Yang membedakan adalah ending dari film ini yang dibuat untuk bersambung di film The Thing ’82. Ya, ini adalah film prekuel untuk film dengan judul yang sama tahun 1982.

Cerita ini bermula ketika seorang paleontologis Kate Lloyd (Mary Elizabeth Winstead), yang bergabung dengan tim Norwegia, melakukan penelitian ilmiah di Antartika. Mereka menemukan organisme yang nampaknya telah hidup selama ribuan tahun yang lalu.

Apa yang terjadi kemudian sudah bisa ditebak. Organisme yang dibawa ke kamp penelitian dalam keadaan membeku di dalam balok es tebal itu akhirnya hidup kembali. Mahluk yang tentunya bukan berasal dari bumi ini mencoba bertahan hidup dan memperbanyak diri dengan bentuk manusia. Yang artinya sel-sel dalam tubuh manusia akan diambil alih oleh sel-sel alien itu dengan tetap mempertahankan wujudnya sebagai manusia. Hal ini tentu saja akan menyebabkan teror besar-besaran karena adanya krisis kepercayanan antara satu dengan yang lain.

Flame thrower tetap menjadi senjata paling ampuh untuk membunuh alien-alien itu

Film The Thing 1982 merupakan film yang sangat terkenal di masanya. Jika semua creature di tahun itu menggunakan robot, maka The Thing kali ini akan menggunakan efek CGI yang tak kalah mengesankan. Film versi ’82 juga meninggalkan pertanyaan, dari mana anjing yang dikejar-kejar di awal film itu berasal? Dari mana mayat manusia berwajah dua itu berasal? Maka jawabannya adalah di prekuel The Thing di tahun 2011 ini.

Screenshot adegan dalam film The Thing

Orang Miskin Dilarang Sekolah (Mimpi-Mimpi Tak Terjamah)Orang Miskin Dilarang Sekolah by Wiwid Prasetyo

My rating: 3 of 5 stars

detail info:

Paperback, 450 pages
Published June 2009 by Diva Press
ISBN: 9799637937 (ISBN13: 9789799637932)
edition language: Indonesian

 

Buku ini mirip dengan Laskar Pelangi. Menceritakan tentang anak-anak miskin yang sangat semangat untuk belajar. Novel ini sarat dengan kritik sosial dan kritik terhadap terpuruknya sistem pendidikan yang tidak terurus akibat pemerintahan yang cacat.

Lain dari itu semua, buku ini mengajarkan pada kita tentang kegigihan untuk berusaha menuntut ilmu walaupun dengan kondisi yang kekurangan. Mengajarkan bahwa mimpi-mimpi itu haruslah tercapai.

Dari segi cerita, buku ini sedikit mengecewakan karena status best sellernya nampaknya belum bisa disandingkan dengan novel best seller lain. Alasannya: tokoh-tokoh sentral dalam novel ini memiliki pemikiran yang terlalu dewasa dan terlalu cerdas untuk anak-anak seusianya. Akan nampak benar bahwa pemikiran dewasa dan cerdas ini adalah pemikiran Wiwid yang dimasukkan ke tokoh anak-anak SD itu yang akhirnya dirasa kurang pas.

Overall, jika kita hanya mengambil pesan dan intisari novelnya, terlepas dari masuk akal atau tidaknya pola pikir itu, inilah buku yang sangat menggugah dan menggetarkan hati.

View all my reviews

For One More Day (Satu Hari Bersamamu)

For One More Day by Mitch Albom

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 248 pages
Published December 2010 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9792234330 (ISBN13: 9789792234336)
edition language: Indonesian
original title: For One More Day

Buku ini sangat menarik. Mengisahkan pengalaman spiritual dari seseorang yang depresi seetalah kematian ibunya 8 tahun yang lalu.

Charley Benetto (Chick) memilih tinggal bersama ayahnya ketika kedua orang tuanya itu bercerai. Dia begitu memuja ayahnya. Namun sang ayah malah meninggalkannya ketika dia beranjak remaja. Kemudian Chick dibesarkan oleh ibunya seorang diri dan merasa malu akan hal itu. Bertahun-tahun kemudian Chick menjadi putus asa karena merasa hidupnya hancur karena minuman keras. Dia mencoba bunuh diri tetapi gagal. Yang terjadi justru dia mengalami pengalaman spiritual bertemu dengan ibunya dan merasakan tinggal satu hari bersama ibunya yang telah meninggal 8 tahun yang lalu itu. Dari situlah inti ceritanya.

Banyak sekali pesan moral dalam buku ini. Ceritanya sangat mengharukan. Ini adalah kisah nyata. Dan menurutku kisah ini terlalu ajaib untuk disebut sebagai kisah nyata. Namun itulah yang terjadi. Pelajaran yang paling menarik yang dapat aku ambil dari buku ini adalah: mengenai kata Perceraian , Chick berpikir bahwa perceraian adalah “perpisahan”. Chick mengira bahwa Perceraian itu berasal dari kata Divorce-Divide yang berarti “terbagi”. Tapi ternyata berasal dari kata DIVERTERE yang berarti “mengubah”

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Blow Fly - Lalat Bangkai (Kay Scarpetta, #12)

Blow Fly – Lalat Bangkai by Patricia Cornwell

My rating: 3 of 5 stars

576 pages
Published July 2006 by Serambi
ISBN: 9791275010
edition language: Indonesian
original title: Blow Fly

Belakangan baru tahu kalau buku ini adalah buku ke-12 dari seri Kay Scarpetta. Pantas saja ada bagian yang serasa hilang yang nampaknya ada beberapa bagian yang memang berhubungan dengan seri-seri sebelumnya.

Ini adalah novel detektif yang ditokohi oleh seorang ahli forensik dr. Kay Scarpetta. Tokoh ini digambarkan sebagai wanita yang cerdas dan cantik plus sifatnya yang agak dingin. Dalam seri ini Scarpetta dihadapkan pada kasus yang sudah delapan tahun tidak terpecahkan. Kasus itu adalah pembunuhan seorang perempuan yang sering kehilangan kesadaran. Ternyata kasus ini tidak berhenti begitu saja karena menyusul kasus-kasus hilangnya sejumlah perempuan dalam setahun terakhir. Kecurigaan mengarah pada penjahat kembar yang salah satunya sedang menunggu hukuman mati sedangkan yang lain masih bebas berkeliaran.

Akan ditemui banyak sekali pengkhianatan di sini. Walaupun endingnya terlalu biasa dan sudah bisa tertebak. Apa yang menarik dari buku ini adalah mengenai informasi bagaimana cara mengetahui lama kematian dengan menganalisis usia lalat bangkainya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Directed by
Troy Nixey
Writing credits(WGA)
Guillermo del Toro (screenplay) &
Matthew Robbins (screenplay)
Nigel McKeand (1973 teleplay)

Cerita diawali dengan prolog yang cukup misterius dari tokoh bernama Emerson Blackwood (Garry McDonald) seorang seniman yang hilang secara misterius di rumahnya tahun 1910. Seniman tersebut nantinya akan membuka misteri itu dari gambar-gambar yang telah dibuatnya.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, Alex (Guy Pearce) seorang arsitek merestorasi tempat tinggal bernuansa gothic itu bersama pacarnya Kim (Katie Holmes). Sally (Bailee Madison) adalah anak perempuan Alex yang kini dikirim ibunya untuk tinggal bersama Alex.

Alex dan Kim di Rumah yang Bernuansa Gothik

Sally

Sally mulai mendengar bisikan-bisikan aneh semenjak ditemukannya ruang bawah tanah yang nampaknya sudah lama ditutup. Bisikan itu selalu berusaha membujuk Sally untuk membuka baut lempeng besi yang menutup tungku di ruang bawah tanah yang dihuni oleh peri gigi jahat. Peri jahat menyeramkan itu harus diberi makan gigi anak-anak.

Sally Mulai Mendengar Suara-Suara Aneh

Keanehan semakin berlanjut ketika mahluk itu mulai berulah. Baju-baju Kim terkoyak dan penjaga rumah turun-temurun tiba-tiba dipenuhi sayatan di sekujur tubuhnya. Sally yang mengetahui siapa biangnya mengatakan bahwa itu semua perbuatan peri jahat itu. Akan tetapi semua orang justru menganggap Sally berhalusinasi.

Peri Gigi Jahat

Kim yang ingin berusaha dekat dengan Sally berusaha untuk mempercayainya. Kim memperoleh informasi penting dari perpustakaan dan gambar-gambar yang ditinggalkan Emerson Blackwood. Kim mendapatkan bukti yang cukup. Akan tetapi Alex belum bisa mempercayainya.

Lukisan Karya Blackwood

Kim Mencoba Mempercayai Sally

Sally Ingin Membuktikan Dengan Foto

Film ini adalah garapan sineas  Guillermo del Toro, produser, sutradara dan penulis naskah yang sudah terlibat dengan beberapa film fiksi berkarakterkan monster (Mimic,Blade, Pan’s Labyrinthdan Hellboy). Film Don’t be Affraid of the Dark ini adalah film remake dari film TV berjudul sama keluaran tahun 1973.

Guillermo del Toro

Alur ceritanya cukup menarik. Lumayan mencekam dan memiliki ending yang mengejutkan.