Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

Director:  Christopher Nolan

Writers:  Jonathan Nolan (screenplay), Christopher Nolan(screenplay),

Christopher Nolan (story), David S. Goyer (story), Bob Kane (Batman Character)

Stars: Christian BaleTom Hardy and Anne Hathaway

Genres: Action | Adventure | Drama | Thriller

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for intense sequences of violence and action, some sensuality and language

Runtime: 164 min

-The Legend Ends-

Sinopsis

Kisah ini bersettingkan delapan tahun setelah Batman (Christian Bale) dituduh sebagai pelanggar hukum dan buronan polisi Gotham demi menutupi aksi kejahatan Harvey Dent alias Tow Face. Dent sendiri akhirnya dianggap sebagai The White Knight. Atas dasar inilah Bruce Wayne yang semakin tua dan sedikit cacat menahan diri untuk tidak lagi keluar sebagai Batman.

Di lain pihak kota Gotham mendapatkan ancaman dari teroris bernama Bane (Tom Hardy) yang ingin menguasai Gotham. Maka dengan melawan segala konflik batin, Wayne akhirnya merasa harus membangkitkan kembali Batman. Tokoh antagonis yang sangat brutal tersebut akan menguji batas kemampuan yang dimiliki Batman baik fisik maupun mental.

Tokoh antagonis Bane

Batman vs Bane

Cat Woman

 

 

Opini

Setelah empat tahun menunggu kelanjutan kisah Batman versi Nolan, akhirnya film yang dirilis 20 Juli 2012 ini mengakhiri triloginya. Christopher Nolan memang memiliki ciri khas di film-filmnya yang menggabungkan aksi psikologis dan sedikit filsafat. Saya pribadi sudah menyukai karya Nolan sejak film Batman Begins (2005) yang sudah kental nuansa gelapnya. Tidak sekedar superhero yang hanya menyasar anak-anak, trilogi Batman versi Nolan lebih memiliki kompleksitas cerita yang jauh lebih berat dan dewasa.

Spesial efeknya tidak terlalu mendominasi karena kekuatan justru ada pada jalan ceritanya. Namun aksi-aksinya cukup brutal mengingat sosok Bane yang memang secara fisik sangat kuat dan cukup cerdas. Tapi yang disayangkan adalah kekalahan tokoh antagonisnya yang berkesan terlalu sederhana.

Penampilan Anne Hathaway sangat memukau. Mengingat bahwa dia belumlah familier tampil di peran-peran yang membutuhkan olah fisik. Hal ini membuktikan bahwa ia sanggup memainkan karakter apapun.

Behind the Scene

Sekitar bulan Desember 2008, sang sutradara Christopher Nolan menyelesaikan outline kasar dari kisah Batman ketiga ini sebelum kemudian berpaling untuk mengerjakan proyek Inception. Proyek ini kembali mencuat pada bulan Februari 2010.  Akhirnya pada bulan Desember 2010, dimulailah eksplorasi beberapa lokasi.

Sutradara Christopher Nolan

Tahapan pertama syuting dilakukan di Jodhpur, India. Kemudian berpindah ke Pittsburg untuk mencegah bocornya materi film seminimal mungkin. Nolan juga menggunakan judul palsu seperti yang sudah ia lakukan untuk film-film sebelumnya. Nama samaran yang digunakan kali ini adalah Magnus Rex. Di kota inilah sebagian besar adegan disyut. Tiga minggu berada di sana, proses produksi dilanjutkan di Loas Angeles dan New York. Pada bulan November 2011 syuting dilangsungkan di Newark, New Jersey. Seluruh rangkaian proses syuting berakhir pada 14 November 2011.

Kabarnya proyek ini cukup kontroversial karena beberapa kecelakaan, bocornya materi foto maupun video rekaman proses pengambilan gambar, serta kritikan fans mengenai kostum Bane dan Catwoman. Maka untuk menghadapi tantangan tersebut, Nolan tampil habis-habisan dan bisa dilihat dari segi bujet yang mencapai $250 juta. Bandingkan dengan proyek The Dark Knight yang hanya berkisar $185 juta saja.

Behind The Scene

Behind The Scene

Behind The Scene

 

 

Did You Know?

Christopher Nolan adalah sutradara pertama yang menyelesaikan trilogi penuh dari film Batman dan merupakan sutradara kedua yang meneyelesaikan trilogi penuh film superhero setelah Sam Raimi (Spider Man).

Angelina Jolie, Natalie Portman, Jessica Biel, Charlize Theron, Emily Blunt, Vera Farmiga, Gemma Arterton, Abbie Cornish, Eva Green, Kate Mara, Blake Lively, Charlotte Riley, Olivia Wilde dan Keira Knightley pernah diaudisi untuk peran Selina Kyle. Namun Anne Hathaway akhirnya mendapatkan peran tersebut.

Naomi Watts, Rachel Weisz dan Marion Cotillard pernah direncanakan untuk memerankan tokoh Miranda Tate sebelum akhirnya Cotillard yang mendapatkan perannya. Cottilard memulai proses syuting hanya dua bulan setelah melahirkan.Joseph Gordon-Levitt, Leonardo DiCaprio, james Holzier, Ryan Gosling dan Mark Ruffalo merupakan kandidat kuat untuk memerankan tokoh John Blake. Namun akhirnya Gordon-Levitt yang terpilih.

Untuk mempersiapkan peannya dalam memainkan tokoh Bane, Tom Hardy menaikkan berat badannya sebanyak 30 pon dan mempelajari beberapa macam ilmu beladiri.

Untuk menghormati mendiang Heath Ledger, tokoh Joker tidak pernah sekalipun disebut-sebut di sepanjang film.

Favorite Quotes

——————————————————————————————–

Bruce Wayne: Why didn’t you just kill me?

Bane: Your punishment must be more severe

——————————————————————————————–

Alfred: [to Bruce] I won’t bury you. I buried enough members of the Wayne family.

——————————————————————————————–

Bruce Wayne: I’m not afraid. I’m angry.

——————————————————————————————–

Batman: No guns, no killing.

Catwoman: Where’s the fun in that?

——————————————————————————————–

Roland Daggett: You’re pure evil!

Bane: I’m necessary evil.

——————————————————————————————–

CIA Agent: [to Bane] Now what’s the next step of your master plan?

Bane: Crashing this plane…with no survivors!

——————————————————————————————–

Bane: When Gotham is ashes, you have my permission to die.

Director: Rupert Sanders

Writers: Evan Daugherty (screenplay), John Lee Hancock (screenplay), Evan Daugherty (screen story), Hossein Amini (screenplay)

Stars: Kristen StewartChris Hemsworth and Charlize Theron

Genres: Action | Adventure | Drama | Fantasy

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for intense sequences of violence and action, and brief sensuality.

Runtime: 127 min

Sinopsis

Queen Ravenna (Charlize Theron) adalah ratu yang memerintah sebuah kerajaan secara tiran. Anak tirinya, Snow White (Kristen Stewart), yang ditawan di penjara kerajaan akhirnya meloloskan diri tepat ketika Cermin Ajaib Ratu Ravenna mengatakan bahwa Snow White harus dikorbankan sebagai syarat hidup abadi. Maka Ravenna mengutus pemburu bernama Eric (Chris Hemsworth) untuk mencari Snow White. Namun ketika Eric menyadari bahwa dirinya hanya dipermainkan oleh Ravenna, dirinya justru berbalik untuk berusaha menyelamatkan Snow White dan menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan. Dengan bantuan delapan kurcaci dan Prince William yang merupakan sahabatnya ketika masih anak-anak, mereka siap untuk menggulingkan tahta sang ratu.

Queen Ravenna

Snow White dan si Pemburu

Snow White ketika berperang melawan kekuasaan Queen Ravenna

Opini

Film ini sedikit berbeda dengan dongeng yang selama ini kita kenal. Dengan menambahkan unsur kegelapan, film ini jauh dari suasana dongengn untuk anak-anak semata. Meski plot utamanya masih tetap mengusung alur yang sama, namun detail dai unsur-unsur ceritanya sedikit berubah. Misalkan selama ini kita tahu bahwa dalam dongeng, kurcaci yang membantu dan melindungi Snow White berjumlah tujuh. Namun di film ini justru ada delapan. Karena satu kurcaci memang dipersiapkan untuk mengemban tugas khusus.

Charlize Theron yang memerankan Queen Ravenna cukup berhasil membawakan penjiwaan perannya. Namun aktris sentral Kristen Stewart justru terkesan biasa-biasa saja mengingat tidak ada bedanya dengan peran Bella Swan di Twilight Saga. Chris Hemsworth yang selama ini kita tahu lewat peran Thor yang membawa senjata khas sebuah palu sekarang harus memegang kapak. Perannya sendiri kurang signifikan.

Alur cerita terkesan sangat panjang dan membosankan. Bahkan beberapa alur justru menjadi plot hole misalnya Snow White yang mendadak bisa berperang padahal sepanjang hidupnya dikurung di penjara istana.

Behind the Scene

Film ini disutradarai oleh Rupert Sanders yang sebelumnya dalah sutradara untuk iklan.

Pada awalnya para produser tepikir menggunakan aktris-aktris muda yang belum terlalu populer untuk memerankan Snow White, seperti Riley Keough, Felicity Jones, Bella Heathcote, Alicia Vikander dan Rachell Maxwell. Tapi selain nama-nama tersebut, para petinggi studio masih menyelipkan nama bintang tenar seperti Saoirse Ronan, Selena Gomez, Emily Browning dan Lily Collins. Lily Collins sendiri setelah gagal mengikuti audisi ini justru mendapatkan peran sebagai Snow White dalam Mirror Mirror yang rilisnya hampir bersamaan).

Untuk peran Queen avenna, Winona Ryder pernah dipertimbangkan untuk mengambil perannya sebelum akhirnya jatuh pada Charlize Theron. Sementara Chris Hemsworth masuk menggantikan Johnny Depp, Vigo Mortensen dan Hugh Jackman.

Proses syutingnya dimulai di London Inggris pada Oktober 2011 dan diselesaikan pada Desember 2011.

Sang sutradara Rupert Sanders sedang mengarahkan aktris Charlize Theron

Sang sutradara Rupert Sanders sedang mengarahkan aktris Kristen Stewart

Kristen Stewart in action

Did You Know?

Sebutan awal Snow White adalah Snowdrop seperti yang disebutkan di edisi pertama kumpulan kisah-kisah Grimm, Children’s and Household Tales.

Snow White sering diartikan sebagai “Putri Salju”, padahal arti secara harfiahnya adalah “Putih Salju”.

Nama sang ratu jahat sangat variatif di berbagai versi. Orang-orang lebih sering menyebutnya dengan “Evil Queen” saja.

Usaha sang ratu yang berusaha membunuh Snow White karena kecemburuan sang ratu terhadap putri tirinya yang disebut-sebut sebagai gadis tercantik di seluruh kerajaan. Namun tidak banyak orang yang tahu bahwa Snow White saat itu baru berumur tujuh tahun.

Di antara berbagai usaha pembunuhan yang dilakukan Ratu Jahat kepada Snow White, apel beracunlah yang paling populer. Sementara, dua usaha yang lain kerap diabaikan.

Favourite Quotes

Queen Ravenna: Lips red as blood, hair black as night, bring me your heart, my dear, dear Snow White.

———————————————————————————————————————————–

Queen Ravenna: Mirror, mirror on the wall. Who is fairest of them all?

———————————————————————————————————————————–

Mirror Man: My queen, you have defied nature and robbed it of its fairest root. But on this day there is one more beautiful than you.
Queen Ravenna: Who is it?
Mirror Man: Snow White.

———————————————————————————————————————————–

Snow White: I would rather die than live another day in this death!

———————————————————————————————————————————–

Director: Barry Sonnenfeld

Writers: Etan CohenLowell Cunningham (Malibu comic)

Stars: Will SmithTommy Lee Jones and Josh Brolin

Genres: Action | Comedy | Sci-Fi

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for sci-fi action violence, and brief suggestive content

Runtime: 106 min

“They are back… in time”

Sinopsis

Agent J (Will Smith) dan Agent K (Tommy Lee Jones) harus menyelamatkan bumi ketika Boris the Animal (Jemaine Clement) berhasil meloloskan diri dari penjara LunarMax yang berada di bulan. Boris adalah spesies Boglodite terakhir yang hendak balas dendam kepada Agent K yang telah memotong tangannya pada tanggal 16 Juli 1969. Boris berhasil menemui seseorang yang bisa membuat mesin waktu untuk menjelajah kembali ke tahun 1969. Maka sejarahpun berubah ketika Boris tenyata berhasil membunuh Agent K di tahun tersebut. Masa depan bumi juga terancam. Maka Agent J berusaha kembali ke masa lalu untuk memperbaiki sejarah dan menyelamatkan bumi. Bersama Agent K muda (Josh Brolin), Agent J memburu Boris sebelum sejarah benar-benar berubah.

Boris berhasil melarikan diri dari penjara LunarMax

Aksi Agent J

Agent K dan Agent J

Agent J dengan kendaraan canggihnya

Opini

Untuk ukuran film yang disyuting dengan naskah dadakan bahkan belum jadi, film ini cukup berhasil memuaskan penonton. Lelucon cerdas Will Smith masih saja mengocok perut penonton. Sama sekali jauh dari kesan “naskah yang belum siap”. Sekuel ini adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selalu muncul di dua sekuelnya. Misalnya mengapa Agent K begitu  pendiam dan dingin. Di sekuel ini pula penonton akan dijabarkan mengenai masa lalu Agent J yang cukup mengejutkan di akhir film.

Spesial efeknya cukup seru apalagi ditambah dengan teknologi 3D. Karakter yang dibawakan para tokoh sentral juga masih saja sangat kental dengan karakter di dua sekuel sebelumnya. Satu tokoh yang cukup menarik adalah tokoh Griffin, alien yang mampu melihat masa depan, yang tidak kalah kocaknya juga. Namun satu kekurangan kecil di penokohan ini adalah tokoh Agent K muda yang diperankan Josh Brolin ini gagal menunjukkan bahwa sang tokoh berusia 29 tahun karena Brolin sendiri berusia 45 tahun. Namun dari segi kemiripan wajah, Brolin sangat pantas untuk memerankan Agent K versi muda.

Behind the Scene

Sekuel ketiga ini dikabarkan telah melakukan syuting bahkan sebelum naskahnya selesai. Naskahnya tak juga selesai karena selalu melibatkan banyak penulis dan ada elemen perjalanan antar waktu. Menurut ahli spesial efek Rob Baker, ketika akan syuting penulis juga berada di studio untuk menulis naskah dan hanya dalam hitungan menit, kata-kata yang dituliskan penulis akan diucapkan aktornya. Beberapa adegan juga di syut secara dadakan.

Rencana pembuatan sekual ini sudah tersusun sejak tahun 2009 dengan memasukkan ide tentang perjalanan antar waktu. Namun sampai bulan Maret 2010 Will Smith belum bisa memutuskan untuk bisa kembali bergabung dalam proyek ketiga ini meskipun Tommy Lee Jones sudah setuju. Smith akhirnya mau bergabung dan syuting dilaksanakan mulai dari November 2010 sampai Mei 2011.

Kursi sutradara masih diisi oleh sineas yang membuat dua sekuel sebelumnya yaitu Barry Sonnenfeld. Harapannya adalah meskipun syuting tanpa naskah, setidaknya Sonnenfeld masih memiliki mood dan feel dari dua film sebelumnya. Tak kalah pentingnya juga Sonnenfeld sudah akrab dengan dua aktor sentral Smith dan Jones. Sedangkan kursi produser masih ditempati oleh Steven Spielberg.

Sutradara Barry Sonnenfeld

produser Steven Spielberg

Persiapan kostum

Persiapan kostum

Persiapan sang aktor

Persiapan kostum

Foto bersama sebelum syuting

Did You Know?

Michael Bay pernah tertarik untuk menyutradarai film ini.

Sacha Baron Cohen pernah menjadi kandidat untuk memerankan tokoh Boris.

Ini adalah film Will Smith dalam 3,5 tahun terakhir sejak dirilisnya film “Seven Pounds” bulan Desember tahun 2008 silam sekaligus waktu terlamanya dia menghilang dari layar lebar sejak karirnya di tahun 1993.

“Men in Black II” dirilis di tahun yang sama dengan film “Spider Man”. Sekuel kali ini, “Men in Black III”, dirilis di tahun yang sama dengan “The Amazing Spider Man”

Favourite Quotes

*Agent K: Don’t ask questions you don’t want to know the answer to.

*Griffin: The bitterest truth is better than the sweetest lie.

*Agent K: Do you know what is the most destructive power in the universe?
Agent J: Sugar?

*Griffin: A miracle is something that seems impossible but happens anyway.

Director: Ridley Scott

Stars: Noomi RapaceLogan Marshall-Green and Michael Fassbender

Genres: Action | Horror | Sci-Fi

Motion Picture Rating (MPAA): Rated R for sci-fi violence including some intense images, and brief language

Runtime: 124 min

-They went looking for our beginning. What they found could be our end-

Sinopsis

Pada tahun 2089, pasangan arkeolog Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) menemukan sebuah gambaran kuno di dinding gua yang menggambarkan susunan gugusan bintang. Gambaran ini muncul di tempat-tempat dan peradaban lain yang terpisah dan tidak ada hubungannya sama sekali. Namun gambaran tersebut begitu identik. Maka para ilmuwan itu secara sepakat mengintepretasikan gambar-gambar tersebut adalah suatu pesan yang bersifat undangan dari suatu tempat yang diyakini sebagai tempat asal mula seluruh kehidupan manusia di bumi.

Berdasarkan susunan gambaran bintang-bintang tersebut, mereka akhirnya menemukan lokasi yang identik dengan gambaran itu. Mereka menyebut tempat itu LV-223. Peter Weyland (Guy Pearce), seorang CEO dari Weyland Corporation mendanai perjalanan mereka ke tempat tersebut dengan membangun sebuah pesawat luar angkasa Prometheus.

Pesawat Prometheus

Sekelompok ilmuwan diberangkatkan dalam keadaan ditidurkan. Sedangkan pesawat luar angkasanya dikendalikan oleh robot android bernama David (Michael Fassbender). Mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju pada tahun 2093. Mereka mendaratkan Prometheus di sebuah tempat yang dekat dengan suatu struktur raksasa yang ada di planet tersebut. Di situlah sekelompok tim dikirimkan untuk mempelajari tempat yang diyakini sebagai asal mula kehidupan manusia tersebut. Namun yang mereka temukan justru bisa jadi akan menyebabkan musnahnya umat manusia di bumi.

David si manusia android

Opini

Promosi film ini cukup luar biasa. Menurut pengamat film, Prometheus memiliki berbagai aspek yang membuatnya jadi film unggulan musim panas yang layak diperhitungkan kehadirannya. Bahkan mereka optimis bahwa film ini bisa menjadi kuda hitam diantara film-film rilisan tahun 2012 secara keseluruhan baik dari segi pencapaian finansial dan ataupun kualitas.

Namun menurut saya pribadi, ekspektasi akibat materi promosi justru melebihi dari kenyataannya. Saya melihat film ini belum menghadirkan sesuatu. Sepanjang film saya menunggu adanya klimaks yang luar biasa. Namun nyatanya, film ini secara keseluruhan berkesan baru sekedar pemanasan. Untungnya saya menyadari bahwa film ini memang dipersiapkan untuk berlanjut di sekuel berikutnya. Dengan alasan itu saya bisa memaklumi jika ‘si klimaks’ mungkin saja tidak hadir di installment  ini tapi memang dipersiapkan di sekuel berikutnya. Namun pengakuan sutradara Ridley Scott justru mematahkan harapan saya. Dia berkata, “If we’re lucky, there’ll be a second part. It does leave you some nice open questions.” Ini jelas-jelas mengkhawatirkan. Bagaimana mungkin sebuah film yang masih terdapat begitu banyak missing link tidak dibuat lanjutannya? Saya anggap si Ridley Scott sudah berhutang besar pada saya dan dia wajib membuat lanjutan kisahnya yang benar-benar bisa memuaskan ekspektasi saya tehadap franchise  ini. Kita tunggu dan kita doakan saja agar Ridley Scott meluangkan waktunya untuk proyek lanjutannya.

Teknologi 3D yang disajikan belum begitu, menggigit. Alur ceritanya telalu mudah ditebak dan emosi dari alur cerita dan penokohan karakternya masih terlalu datar.

Behind The Scene

Prometheus menjadi ajang kembalinya lagi Ridley Scott, sang sineas yang pada tahun 1979 pernah menyajikan Alien, film horor fiksi ilmiah yang luar biasa sukses. Melalui film ini, Scott hendak menciptakan kisah pondasi bagi mitologi Alien yang selama ini belum pernah diceritakan di layar lebar. Pada awalnya Scott berencana membuat film ini sebagai prekuel langsung dari Alien, namundalam perkembangannya, proyek ini menjadi film yang bisa dibilang berdiri sendiri.

Ridley Scott

Proses syuting dimulai pada bulan Maret 2011 hingga Januari 2012 yang dilangsungkan di Kanada, Inggris, Skotlandia, Islandia dan Spanyol dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi. Bahkan, para pemain penting di film ini harus menandatangani persetujuan guna mencegahtejadinya kebocoran plot penting cerita serta kesediaan mereka membaca skripnya hanya kala berada di bawah pengawasan langsung pihak studio.

Suasana Syuting

Ridley Scott mengarahkan proses syuting

Aktris Charlize Theron ketika syuting

Did You Know?

Gemma Arterton, Carey Mulligan, Olivia Wilde, Anne Hathaway, Abbie Cornish dan Natalie Portman pernah dipertimbangkan untuk memerankan tokoh Elizabeth Shaw.

James Franco pernah dipertimbangkan untuk peran Holloway.

Michelle Yeoh pernah dipertimbangkan untuk peran Meredith Vickers yang akhirnya diperankan oleh Charlize Theron.

Film ini awalnya akan diberi judul Paradise. Tapi Ridley Scott sendiri yang mengusulkan memberi judlu Prometheus karena dianggap lebih sesuai dengan tema yang diangkat film ini yang menceritakan tentang proses penciptaan. Prometehus adalah pelayan para dewa-dewi. Dia mencuri dan membagi-bagikan anugerah besar pada manusia berupa api yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan manusia untuk selamanya.

Noomi Rapace, aktris Swedia yang memerankan tokoh Elizabeth Shaw, harus berlatih berbicara dengan dialek British agar sesuai dengan karakter Shaw.

Charlize Theron mengalami kesulitan menjalani adegan berlari di pasir dengan menggunakan sepatu boot gara-gara kebiasaan merokoknya.

Nama tokoh android yang muncul di franchaise Alien, entah sengaja atau tidak, selalu dinamai menurut urutan abjad: Ash (dalam Alien), Bishop (dalam Aliens,dan Aliens 3), Call (dalam Alien: ressurection) dan kini David (dalam Prometheus).

Favorite Quotes

David: Big things have small beginings.

Elizabeth Shaw: My God, we were so wrong…

Detektif Conan Vol. 67Detektif Conan Vol. 67 by Gosho Aoyama

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 184 pages
Published May 23rd 2012 by PT Elex Media Komputindo (first published February 18th 2010)
ISBN13: 9786020025483
edition language: Indonesian
original title: 名探偵コナン 67 (Detective Conan #67)

Menyambung kisah di seri sebelumnya, di seri ini Conan memecahkan misteri pembunuhan seorang wanita yang memakai kostum Goth Lili. Atribut dan tren pesta kostum itulah yang digunakan si pembunuh untuk membuat alibinya.

Kisah kedua adalah kisah yang pendek. Melibatkan para detective boys. Kisahnya dimulai ketika mereka bertemu dengan pria pejalan kaki berusia 62 tahun yang begitu bersemangat menunggu hari esok. Pria itu memiliki banyak sekali agenda yang harus dikerjakan esok hari. Namun dibalik itu, ada rahasia yang ditutupinya. Conan harus memecahkan rahasia itu karena menyangkut nyawa seseorang.

Detective Boys

Kisah ketiga adalah kisah utama dan tepanjang di seri ini. Komplotan Jubah Hitam dihadirkan kembali karena mendengar rumor ada orang yang mirip Suichi Akai masih hidup. Organisasi Jubah Hitam melakukan pengintaian di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka meyakini Suichi Akai ada di situ. Di saat yang bersamaan, Conan, detektif Mouri dan Ran terlibat kasus ancaman bom di tempat itu.

Suichi Akai

komplotan jubah hitam

Tak lengkap jika seri Detektif Conan tidak menghadirkan kisah romantis. Seri ini akan ditutup dengan kisah cinta bu Kobayashi dan Shiratori. Saat itu bu Kobayashi juga sedang menjadi saksi terhadap pembunuhan seorang perempuan. Bagaimana akhir dari kisah itu? nampaknya kita harus menunggu kelanjutannya di seri 68.

Shiratori

Kobayashi

View all my reviews

Ternyata mitos itu benar adanya. Setelah aku berhasil menangkap bunga yang dilempar pengantin itu, kini aku bisa menikah paling cepat di antara rekan-rekanku. Dan perempuan yang aku nikahi itu, adalah si gadis pelempar bunga.

I

“Pak, Jaka boleh kuliah gak?” Jaka merasa sudah waktunya pertanyaan itu disuarakan. Masa penghabisan di bangku SMA sudah di depan mata. Sedangkan pertanyaan itu sudah dirumuskan oleh hatinya yang tak pernah nyata bersuara.

“Percayakan sama bapakmu ini, Jaka. Kamu gak perlu khawatir. Kamu memang harus kuliah.” Kata bapaknya. Senyum di sela kata-katanya itu selalu bisa menentramkan hati Jaka yang gulana.

“Memangnya duit bapak cukup?”

“Kamu harus percaya, pasti ada jalan. Harta orang tua gak bakal habis jika dipakai untuk membiayai pendidikan anaknya.”

“Dani bahkan sudah siap-siap duit ratusan juta, pak. Dia merasa gak yakin dengan kemampuannya. Biar duit yang bekerja katanya.”

“Kamu gak perlu mikir duit. Biar bapak yang mikir. Kamu rajinkan lagi belajarmu ya. Percayakan pada otak. Jangan pada duit.”

“Tapi otak Jaka dan otak Dani sama, pak. Dari dulu rankingnya juga selalu atas bawah. Mending kalau atas bawahnya di lima besar. Bapak kan tahu ranking jaka terbaik cuma di peringkat 23.”

“Otak kamu belum telambat untuk dibikin lebih pandai kan? Masih ada waktu Jaka. Itulah senjatamu. Sudah sana, buka bukumu!”

Semangat Jaka kembali tersulut. Dia betekad untuk bisa berkuliah di tempat bapaknya itu bekerja. Bapaknya sudah belasan tahun bekerja sebagai tukang parkir di fakultas Teknik di sebuah Universitas Negeri ternama. Mimpi-mimpi bapaknya agar anaknya bisa menjadi mahasiswa telah tertanam sejak bapaknya bekerja di lingkungan kampus. Tempat para intelektual itu menuntut ilmu. Mimpi itu juga tumbuh di benak Jaka sejak kecil.

II

“Dapet berapa jadinya, Dan?”

“Tujuh ratus lima puluh pa. Ga bisa kurang lagi.” Jawab Dani.

“Udah naik lagi ya?”

“Iya pa. Makin gila-gilaan aja harganya. Tahun lalu, untuk fakultas Kedokteran, tujuh ratus lima puluh itu udah kisaran maksimal. Masih bisa turun. Tapi tahun ini, jumlah segitu udah minimalnya. Maksimalnya sampai delapan ratus.”

Papa Dani geleng-geleng kepala mencerna nominal sebanyak itu.

“Tapi dijamin aman kan?”

“Dijamin aman pa, DP nya bisa sepuluh persen dulu. Sisanya kalau udah diterima. Sistemnya juga aman kok pa. Berlapis gitu. Jadi Dani sendiri gak tahu siapa yang bakal jadi Joki ntar. Dani cuma ketemu sama makelarnya.”

“Ya sudah, pokoknya kamu atur sendiri. Jangan sampai kena tipu lho ya.”

“Beres, pa.”

Di mata Dani, sudah terbayang fakultas Kedokteran yang sudah dimimpikannya sejak sepuluh persen DP itu diserahkan. Mimpi yang menurut Dani harus dikejar meski hal itu berimbas pada papanya yang harus mengeluarkan dana tujuh ratus juta rupiah. Toh papanya juga gak sulit mengumpulkan uang sejumlah itu.

Sepuluh persennya sudah kepegang. Katanya dalam hati. Uang muka sepuluh persen dirasa sebagai cicilan nasib baik juga.

III

Ada  enam orang di ruangan tertutup itu. Si koordinator sudah memulai koordinasinya sejak lima belas menit yang lalu.

“Kita masih memakai sistem tahun lalu karena belum ada sistem yang lebih baik dari itu.” kata koordinator, “Jadi nanti ada lima master yang akan mendampingi pasien.”

Randa tahu betul istilah ‘master-pasien’ itu. Master adalah sebutan untuk joki dan pasien adalah sebutan untuk klien. Sudah tahun ketiga dia jadi ‘master’. Sudah tahu betul seperti apa ‘sistem tahun lalu’ yang dimaksud koordinator.

“Meski kalian sudah pada ngerti, pada hapal, saya perlu review lagi biar kalian tambah mantap.” Kata koordinator, “Terutama untuk Dado sama Tengku yang baru tahun lalu jadi master.”

Dua orang yang disebut namanya manggut-manggut. Yang lain tetap menyimak.

“Kalian berlima  nanti ikut masuk ke ruang ujian sebagai peserta ujian resmi. Alat komunikasi sudah siap terpasang rapi seperti saat technical meeting kemarin sore. Kalian kerjakan soal-soal itu sebaik-baiknya. Lalu kirimkan jawaban ke saya. Jawaban yang terkumpul di saya akan saya analisis. Kesamaan jawaban terbanyak saya anggap sebagai jawaban yang benar. Jawaban itulah yang akan saya kirimkan ke pasien. Tentu saja pasien juga telah dilengkapi alat komunikasi tersembunyi. Untuk mengantisipasi adanya perbedaan kode soal, tolong tuliskan juga kode soal yang kalian pegang. Jadi saat saya nanti tiba-tiba dihadapkan dengan lima jawaban yang seluruhnya berbeda, itu artinya kalian memegang lembar soal yang berbeda. Solusinya gini, nanti akan saya suruh si pasien menuliskan kode soal yang sesuai dengan kode soal salah satu master senior. Meskipun berbeda dengan soal yang dipegang pasien, itu gak masalah karena komputer hanya men-scan kode soal yang ditulis di lembar jawaban. Komputer tidak akan mencocokkan antara lembar jawaban dan lembar soal yang dibawa pasien. Beberapa tahun lalu saya pakai cara seperti itu dan berhasil. Hal itu boleh dilakukan daripada kita tidak profesional dengan memberikan jawaban yang asal atau perkiraan saja. Ada yang mau ditanyakan dulu?”

Tidak ada suara, satu dua menggelengkan kepala.

Koordinator melanjutkan, “Pasien kita tahun ini total tujuh orang. Untuk pembagian fee, meskipun sudah saya tegaskan di awal, sekedar mengingatkan lagi saja, bahwa lima puluh persen total uang yang masuk adalah bagian saya. Sedangkan lima puluh persen sisanya dibagi rata untuk kalian berlima. Bagian saya besar karena risiko yang saya tanggung juga besar. Saya ujung tombak. Saya orang yang langsung berhubungan dengan pasien. Mereka mengenal saya. Sedangkan kalian para master, tetap terjaga identitasnya karena mereka tidak akan pernah bertemu muka dengan kalian. Ada yang keberatan?”

Tidak ada suara. Air muka mereka menyetujui.

“Sedangkan bagian kalian berlima,” lanjut koordinator, “akan dibagi sama rata. Tidak peduli mana master senior mana yang junior. Sekian briefing dari saya. Sesi diskusi saya buka.”

Beberapa orang mulai diskusi dengan sesamanya. Randa tidak butuh lagi diskusi. Dia sudah meluluskan belasan pasien sepanjang kariernya. Dialah master senior.

IV

Seorang pria tambun berkacamata duduk di belakang meja kantor dengan papan nama yang berisi lebih banyak huruf titel dibandingkan dengan huruf namanya sendiri. Bardi namanya. Tanpa nama belakang. Titel itulah yang dipakai sebagai senjata pencalonannya menjadi dekan dua tahun yang lalu. Dan kini dia amat sangat menikmati singgasana tertinggi di lingkungan fakultas tesebut.

Namun hari itu, dahi Bardi berkerut. Hatinya abu-abu. Pikirannya juga sedang letih mengangkat beban masalah. Ditatapnya pesawat telepon di mejanya itu rapat-rapat. Perlu waktu lama bagi Bardi untuk memutuskan mengangkatnya dan menekan serangkaian nomor.

Nada sambung terputus oleh suara seorang pria di seberang sana.

“Ya, halo…” kata Bardi, “Ini saya, Pak Bardi dekan fakultas Teknik. Kalau kamu jadi mau diluluskan semester ini…” Nada kalimatnya semakin canggung.

“…bawakan saya lima puluh ya.” Lanjutnya.

Sesaat kerutan di dahinya mengendur saat Bardi meletakkan gagang telepon. Abu-abu di hatinya sedikit luruh. Dan beban pikiran yang berat itu mendadak sedikit ringan oleh kesepakatan lima puluh juta  pertamanya. Dicentangnya satu nama mahasiswa paling atas yang baru saja ditelpon. Masih ada empat belas lain yang nantinya bisa membantu mengangkat beban hatinya. Beban bernominal tujuh ratus lima puluh juta yang merupakan tiket untuk Dani, anaknya yang kepingin masuk fakultas Kedokteran.

V

Di seberang sana, orang yang ditelepon Bardi tersebut ingin mengumpat menghujat dekan korup itu tapi apalah daya jika dirinya sebenanrya juga hampir sama saja dengan Bardi. Di dunia ini yang terpenting adalah uang.

Untunglah fee DP dari koordinator sudah turun. Pikir Randa sambil menyisihkan lima puluh juta untuk dekan busuk itu. Akhirnya dia bisa lulus juga semester ini.

VI

“Halo, bisa bicara dengan Pak Bardi?” kata seorang pria paruh baya dari sebuah wartel.

“Oh, ini Pak Bardi ya?” lanjutnya ketika sudah mendengar jawaban orang yang diteleponnya, “Sebelumnya maafkan atas kelancangan saya, pak. Begini, saya ingin minta tolong dan minta kerjasamanya dari Pak Bardi…”

Pria itu diam sejenak. Berpikir untuk merangkai kata-kata yang layak.

“Pak, saya tahu betul siapa anda… Saya juga sudah tahu kebusukan Bapak. Saya ada buktinya. Saksinya juga banyak. Mahasiswa-mahasiswa itu cerita semuanya ke saya. Bapak gak punya pilihan lain selain membantu saya. Kalau tidak, saya akan perkarakan kasus Bapak.”

Terdengar suara mencak-mencak di lubang dengar gagang telepon.

“Permintaan saya sederhana Pak. Tidak sebanding dengan pertaruhan nama baik Bapak.”

Vokal yang meninggi dan alunan umpatan kembali meluncur dari lubang dengar. Kemudian terdiam. Tanda kesepakatan tak tertulis telah disetujui dengan terpaksa.

“Loloskan anak saya Pak. Buat dia diterima di fakultas Bapak. Bebaskan dia dari semua biaya pendidikan. Saya rasa itu hal sepele jika dibandingkan dengan kebusukan Bapak.”

Suara di seberang kembali angkat bicara tanda menyetujui. Sekali lagi dengan tepaksa tentunya.

Pria penelepon yang berprofesi sebagai tukang parkir di fakultas Teknik itu mengakhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Senyumnya terkembang membayangkan Jaka, anaknya, kelak bisa berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Negeri ternama di kota itu. 

Director: Andrew Stanton

Writers: Andrew Stanton (screenplay), Mark Andrews(screenplay), Michael Chabon (screenplay), Edgar Rice Burroughs (story “A Princess of Mars”)

Stars:  Taylor KitschLynn Collins and Willem Dafoe

Genres: Action | Adventure | Fantasy | Sci-Fi

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for intense sequences of violence and action

Runtime: 132 min

Lost in Our World. Found in Another.

Sinopsis

John Carter (Taylor Kitsch) adalah seorang kapten yang berasal dari virginia. Saat itu dia hidup dalam suasana perang saudara. Usai perang dia dipindahkan ke Arizona dan menjadi pencari emas di sana. Namun dia mendapat tentangan dari penduduk setempat. Salah satunya Kolonel Powell (Bryan Cranston) yang menekannya untuk ikut melawan suku Apache. Carter menolaknya. Maka usaha-usaha pelarian dari kolonel Powell pun sering dilakukan tapi tidak pernah berhasil.

Suatu hari Carter bisa meloloskan diri dari kurungan Powell. Ditengah kejar-kejaran itu, mereka bertemu dengan suku Apache yang justru membalik situasi sehingga Powell dan Carter kini menjadi buruannya. Mereka bersembunyi dari suku Apache di sebuah gua keramat. Di situlah Carter secara tiba-tiba bisa berpindah ke Mars.

Pada awalnya Carter tidak menyadari bahwa dirinya berada di Mars. Yang menjadi pertanyaan hanyalah mengapa dia memiliki kemampuan meloncat yang jauh lebih tinggi dari biasanya dan banyak mahluk-mahluk aneh yang ditemuinya. Carter berjumpa dengan suku Tharks yang terkesan dengan kemampuan super Carter. Karena adanya perbedaan gravitasi yang jauh lebih ringan dripada  di bumi, Carter mampu bergerak lebih lincah danbisa melompat lebih jauh. Di planet itu Carter terjebak dalam petempuran yang telah terjadi ratusan tahun antara negri Helium dan Zodanga. Dalam pertempuran itu Carter menyelamatkan  puteri Helium, Dejah Thoris (Lynn Collins) yang sedang betarung dengan Sab Than (Dominic West), pimpinan Zodanga. Sab Than sendiri diperalat oleh bangsa Thern yang dipimpin oleh Matai Shang (Mark Strong) yang memiliki misi memecah belah dan membuat kehancuran di Mars.

John Carter di antara suku Tharks

John Carter bersama Dejah Thoris

Carter bersama Dejah Thoris dan anak Tarkas (pimpinan suku Tharks), Sola (Samantha Morton) menjalani petualangan dengan konflik-konflik berbagai pihak di planet itu.

Carter melawan monster

Opini

Film ini mendapatkan tantangan terbesar yang dihadapi Disney. Pasalnya, unsur-unsur tema dan plot dalam John Carter sudah begitu sering digunakan di berbagai film seperti Star Wars hingga Avatar. Untuk itu, para sineas John Carter harus bisa menyajikan sesuatu yang lebih hingga para audiensnya tahu bahwa John Cater-lah tokoh pioner dengan segala unsur-unsur dalam plot nya. Tokoh inilah yang bisa menginspirasi kisah petualangan luar angkasa di waktu-waktu setelahnya hingga saat ini.

Namun harapan ini tidak terealisasi sepenuhnya karena nyatanya hasilnya juga biasa-biasa saja. Dari segi cerita yang cukup kompleks itu, alurnya berkesan terlalu cepat. Penggambaran mahluk Mars-nya kurang variatif jika dibanding dengan alien-alien yang ada di Star Wars. Kisah petualangan bernuansa koboi western ini juga masih kalah jika dibanding dengan Indiana Jones. Aksi-aksinya terlalu banyak dibalut dengan spesial efek.

Tapi dari segi cerita, kompleksitasnya lumayan menarik. Twist-nya tetap ada meskipun tidak begitu dominan. Mungkin pujian ini agaknya semu karena sudah tentu segala kebaikan di sisi ceritanya tak lain karena adaptasi dari novelnya yang memang sudah laris.

Behind The Scene

Disney rupanya berambisi dalam menghidupkan kisah John Carter. Maka setelah tahun 2007 mereka mendapatkan hak ciptanya, Andrew Stanton ditunjuk sebagai sutradara dan Mark Andrews sebagai penulisnya.

Sutradara Andrew Stanton

“So much has been deived from this book over 100 years that my first dilemma was, “How the hell do you make this and not look like you’re being derivative yourself?” (Andrew Stanton)

Setelah menyelesaikan proyek Wall-E, sutradara Andrew Stanton secara praktis ‘dipinjamkan’ kepada Disney oelh Pixar untuk mendalangi proyek John Carter ini. Kata Jim Morris, General Manager  dari Pixar, ”It’s not a Pixar film, it’s not an animated film, it’s not a G or PG rated film-probably a PG-13. There are battles and dismembements and things such as that: things not suitable for small children.”

Untuk pengambilan gambar sesi motion capture-nya, para pemain yang memerankan karakter suku Tharks harus mengenakan setelan berwarna abu-abu dan beraksi di set lokasi yang memiliki suhu sampai 100 derajat celcius.

Stanton sedang mengarahkan sang aktor

Suasana syuting di studio

Suasana syuting di studio

Film ini diangkat dari tokoh novel karya Edgar Rice Burroughs. Total ada 11 volume yang peilisan volume pertamanya di tahun 1917 hingga kisah terakhirnya dirilis pada tahun 1964. Filmnya sendiri disetting untuk berformat trilogi dimana seri pertama ini hanya akan mengangkat kisah novel pertamanya yang berjudul A Princess of Mars.

Edgar Rice Burrough

Novel A Princess of Mars

Novel A Princess of Mars ditulis sejak tahun 1991 ketika Burroughs berumur 35 tahun. Publikasi pertamanya justru menggunakan judul Under the Moons of Mars. Burroughs sendiri merasa pesimis ketika membuat novel ini namun kecemasannya tidak beralasan karena novel begenre aksi fantasi ini menjadi pionir tema kisah petualangan antariksa yang populer hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya sampai sekarang.

Did You Know?

Sebelum tokoh John Carter jatuh ke tangan Taylor Kitsch, akto Jon Hamm dan Josh Duhamel juga pernah dicalonkan juga.

Taylor Kitsch mengaku menderita masalah hati ketika menjalani diet ketat dan latihan fisik hingga berat badannya berkurang 30 pon.

Film ini dirilis tepat seratus tahun sejak kemunculan pertama kali cerita john Carter yang ditulis oleh Edgar Rice Burroughs pada tahun 1912.

Buku John Carter ditulis di Utah. Film ini juga sebagian besa disyuting di Utah.

Salah satu tato Dejah di tangan kanannya bergambar kepala Mickey Mouse.

Film ini adalah film fomat live action ketiga yang memiliki rating PG-13 setelah Pirates of Caribean: The Cuse of the Black Pearl dan Prince of Pesia: The Sands of Time.

Kisah ini sempat menjalani proses pra produksi sejak tahun 1931. Ini membuatnya menjadi proyek film dengan status development hell (nasib pembuatan yang tidak menentu) paling lama. Ketika itu Robert Clampett sudah melobi novelis Edgar Rice Burroughs untuk mengangkat buku A Princess of Mars menjadi film animasi. Sayang proyek tesebut berhenti di tengah jalan. Seandainya saja bisa bejalan dengan mulus, bisa jadi John Carter akan menjadi film animasi layar lebar pertama di Amerika mengalahkan Snow White and the Seven Dwarfs (1937).

Planet Mars disebut sebagai Barsoom oleh penghuninya. Kata ini berasal dari kata soom (planet: dalam bahasa mahluk Mars) dan bar (artinya: delapan, karena Mars diceritakan berada di posisi kedelapan tata surya setelah matahari, Merkurius, Venus, Bumi beserta sateli-satelit yang berada di antara bumi dan Mars)

Favorite Quotes

–Tars Takas: When I saw you, I believed it was a sign… that something new can come into this world.

–Tars Tarkas: (to john) You are ugly, but you are beautiful. And you fight like a Thark!

–Matai Shang: we do not cause the destruction of a waorld, Captain Carter. We simply manafe it. Feed off it, if you like.