Arsip untuk Februari, 2012

Director:  Woody Allen

Writer:  Woody Allen

Stars: Owen WilsonRachel McAdamsMarion Cotillard

Runtime: 94 min

Rated: PG-13 for some sexual references and smoking

Satu lagi karya sutradara Woody Allen yang menyajikan sebuah film komedi romantis. Film ini sangat ringan tapi layak untuk disandingkan dengan film berkualitas lainnya di tahun 2011. Buktinya lewat film ini Woody Allen memperoleh penghargaan Oscar untuk kategori Best Original Screenplay.

Sang Sutradara Woody Allen

Cerita ini mengisahkan tentang Gil Pender (Owen Wilson) yang sedang berlibur di Paris dengan tunangannya Inez (Rachel McAdams). Gil adalah seorang penulis novel yang sedang menyelesaikan novel pertamanya. Gil memiliki ketertarikan pada suasana Paris era 20-an. Tapi sudut pandang ketertarikan Gil nampaknya tidak sejalan dengan Inez tunangannya. Ketertarikan Gil nampaknya terbayar ketika pada suatu malam ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri dalam rangka mencari inspirasi untuk novelnya. Ketika lonceng jam tengah malam berdentang, keajaibanpun dimulai. Gil mengalami perjalanan ajaib yang membawanya ke era 20-an. Setiap kali Gil berdiri di Montmare ia dijemput oleh Peugeot kuno yang kemudian secara ajaib membawanya ke era dimana menurutnya adalah era golden age itu.

Gil dan Inez

Kejutan tidak berhenti di situ saja. Ternyata dari perjalanan itu Gil dipertemukan dengan para pujangga dan seniman terkenal di Paris di masa lalu yang menjadi idolanya. Sebut saja Cole Porter, Josephine Baker, Zelda dan F. Scott Fitzgerald, Salvador Dali sampai Ernest Hemingway serta Gertrude Stein yang bersedia menyempatkan diri untuk membaca novel karya Gil dan memberikan masukan-masukan. Dan kisah romantis ini akan lebih kompleks ketika Gil dipertemukan dengan Adriana (Marion Cotillard). Adrian adalah wanita simpanan seniman Pablo Picasso yang membuatnya jatuh hati karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Inez tunangannya.

Gil, Hemingway dan Gertrude

Tokoh Salvador Dali

 

Gil Bersama Adriana

Film komedi romantis ringan ini dikemas secara menarik. Bahkan saya sangat menikmati musik score nya yang sangat Perancis. Meskipun ide mengumpulkan seiman dan pujangga terkenal dalam satu waktu itu terkesan tidak masuk akal secara kronologis, tapi kemasan drama ringan ini menjadikan kita tidak terlalu banyak mempertanyakan masuk akal tidaknya alurnya. Woody Allen juga nampaknya mengekspos sudut-sudut eksotis kota Paris yang membuat film ini dipenuhi gemerlap tempat-tempat terkenal di Paris yang begitu romantis. Film ini pada dasarnya adaah film mengenai pencarian jati diri dan penilaian terhadap perbedaan sudut pandang subjektif dalam menilai lingkungannya.

Iklan

Writers:  Len Wiseman (screenplay), John Hlavin

Stars: Kate BeckinsaleMichael Ealy and India Eisley

Runtime: 88 min

Rated: R for strong violence and gore, and for some language

Vengeance Returns

Jika akhir tahun 2011 kita dihadirkan kisah roman manusia, vampir dan manusia serigala, maka pada awal tahun ini ada pula film sejenis yang tentunya lebih menonjolkan cerita yang lebih kelam dan mencekam dengan monster-monster yang sangat mengerikan. Ya, Underworld yang di awal tahun ini merilis installment yang ke-4 nampaknya menyeimbangkan tema film vampir-manusia serigala dari saga Twilight: Breaking Dawn part 1. Tentu saja Underworld masih setia dengan latar belakang kegelapannya tanpa ada kisah percintan yang terlalu terdramatisasi.

Franchais Underworld kali ini mengusung subjudul: Awakening. Ini membuktikan bahwa peperangan antara vampir dan manusia serigala masih saja menarik untuk digali dan dibuat konflik-konflik yang lebih kompleks. Underworld ke-4 ini kembali dibintangi oleh aktris Kate Beckinsale yang pernah sukses memerankan perawat Evelyn Johnson dalam film Pearl Harbour (2001). Hal ini jelas meningkatkan pamornya bagi yang sudah terlanjur jatuh hati pada aksi Selene (Beckinsale) di sekuel 1 dan 2 nya yang kemudian tokoh sentral beralih pada Sonja yang diperankan Rhona Mitra di sekuel ke-3 nya. Masih dengan tokoh sentral Selene, Underworld Awakening banyak menghadirkan sesuatu yang berbeda dari sekuel-sekuel sebelumnya.

Satu hal yang mengejutkan adalah diambil alihnya posisi sutradara yang di sekuel sebelumnya dipegang suami sang aktris sendiri Len Wiseman oleh duo sutradara Swedia Måns Mårlind dan Björn Stein. Sedangkan Len Wiseman sendiri menempati posisi produser. Nilai jual film ini diangkat dari penggunaan teknologi kamera terbaru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu kamera Epic RED Pre-Alpha yang akan menghasilkan kualitas gambar lima kali lebih baik dari kamera High Definition. Dan benar saja, kulitas 3D nya nampak lebih tajam karena kamera ini mampu mengambil gambar 120 frame per detik.

Produser Len Wiseman

Sutradara Måns Mårlind

Sutradara Björn Stein

Kamera Epic Red 3D

Kisah ini bersetting enam bulan setelah kisah Underworld: Evolution. Sekuel ini menceritakan tentang keadaan dunia dimana manusia sudah menyadari kehadiran vampir dan manusia serigala (lycan). Dan kebijakan dari manusia menetapkan bahwa kedua mahluk ini harus diperangi dan di musnahkan. Awal plotnya memfokuskan pada pencarian Selene terhadap kekasihnya Michael untuk melarikan diri dari usaha pemusnahan masal terebut. Tapi keduanya justru tertangkap dan keduanya ditidurkan di sebuah perusahaan yang bernama Antigen yang bertujuan membuat obat penawar racun vampir dan lycan.

Dua belas tahun kemudian Selene berhasil melarikan diri. Dia masih berusaha mencari kekasihnya dengan memanfaatkan kemampuannya yang bisa melihat apa yang dilihat Michael. Tapi alih-alih menemukan Michael, kemampuan Selene itu justru membawa dirinya untuk menemukan gadis cilik Eve (India Eisley). Siapakah Eve ini hingga anak itu menjadi buruan para Lycan? Ternyata jawaban dari semua ini merujuk pada konspirasi dari perusahaan Antigen.

Selene berhasil meloloskan diri setelah 12 tahun

Eve

Aksi Selene masih saja luar biasa. Bahkan akan lebih brutal. Dengan kemampuan supernya, aksi-aksi perkelahian cukup menegangkan. Belum lagi ditambah kemampuan Eve yang ternyata juga tak kalah hebatnya. Ending dari film ini nampaknya masih akan membuka peluang untuk dibuatkan kelanjutnnya.

Adegan perkelahian Selene dengan Lycan raksasa

Kekuatan tersembunyi eve

1

Pamali itu bagaikan candu. Keyakinannya membuat seseorang menutup mata terhadap sains. Atau bisa jadi ketiadaan sains yang menyebabkan mereka percaya pada pamali. Katakanlah dua kutub itu menjadikannya sebuah lingkaran setan di negeri yang sedang berkembang ini. Ya, lingkaran setan. Setan ikut berkeliling di lingkaran itu dan akan terus mengelabuhi manusia dimanapun ia berada. Setan juga akan mengelabuhi orang kota. Jika di desa disebut pamali maka orang-orang kota akan menyebutnya sebagai urband legend.

Gelar kesarjanaanku tentu saja tidak penah mengajarkanku tentang pamali. Tapi lingkunganku justru menyajikan yang sebaliknya. Untunglah aku bagai katak yang berhasil keluar dari tempurung mistik. Sejak SMA aku sekolah di kota. Kuliahpun di kota. Pamali itu sedikit demi sedikit aku pahami sebagai bentuk lain dari pesan moral orang tua kepada anaknya.

Aku pernah ingat ketika mamak berkata, “Le, kalau makan gak boleh pindah-pindah.” Katanya ketika aku beranjak dari meja makan untuk mendekat ke arah televisi. Lesehan di lantai. “ Gak boleh Le, bisa dapat ibu tiri kamu nanti.” Begitu katanya. Tentu saja dengan otak sarjanaku sekarang, aku hanya tersenyum karena betapa lucunya orang tua jaman dahulu dalam mengajarkan moral. Sudah pasti isi pesan dari pamali itu mengajarkan untuk tetap diam di tempat selama makanan belum habis. Dan belakangan aku baru tahu kalau pamali yang bisa mendatangkan ibu tiri itu agak fleksibel: boleh berpindah asal ke tempat yang lebih baik atau lebih layak. Misalnya dari lantai ke meja makan. Bukankah itu inti dari pesan moral tersebut? Yaitu makanlah di tempat yang baik dan layak.

Jika aku meniatkan, bisa jadi daftar pamali pembentuk moral di usia pendewasaanku itu menjadi satu buku berjudul ‘Ensiklopedia Pamali di Indonesia’. Suatu hari aku berkonsultasi dengan dokter gigi pribadi sewaktu masih di kota dulu. Dan ajaib, petuah dokter gigi itu mirip dengan pamali yang dikampanyekan mamak. “Le, jangan suka menggigit bibir bawah macam itu.” katanya sambil menyentil bibirku dengan keras. “Kelak kamu seret rejeki, lho. Dan jangan terbiasa menggigit yang atas, bisa-bisa kamu nanti banyak hutang.” Katanya ketika itu. Luar biasa, jangan-jangan mamak berbakat jadi dokter gigi. Tentu saja bukan perkara rejeki yang sejalan dengan dokter gigi itu. Tapi perkara gigit menggigit bibir itu. Dokterku bilang jika punya kebiasaan menggigit bibir bawah, gigi atas jadi mrongos. Jika bibir bawah yang digigit, gigi bawah bisa-bisa nyakil. Mana mungkin mamak dengan ilmu sekapasitas lulusan SD itu tahu menahu urusan gigi. Tapi belakangan aku berpikir,  bisa jadi kalau gigi tidak rapi, rejeki juga jadi seret.

Untuk urusan jodoh, pamali mamak lagi-lagi membuatku terkesan meski tidak seketika. “Le, ingat, jangan malas menghadiri undangan pernikahan. Bisa sulit jodoh kamu nanti.”

Jodoh urusan Tuhan tentu saja, bukan urusan hadir atau tidak hadir kan?

Tapi beberapa tahun setelahnya aku terpaksa mengingat kembali kata-kata mamak. Karena Lastri, istriku, adalah wanita yang membuatku jatuh hati saat aku pertama kali bertemu dengannya, di sebuah acara pernikahan seorang teman.

Pernah juga sesekali aku mencoba berkeras hati untuk tidak menggubris peringatan mamak. Karena waktu itu aku mulai dewasa dan dengan akal SMP ku, aku mulai berpikir rasional. Katanya, “Jangan duduk di depan pintu, Le. Kalau ada setan lewat, kamu bisa jatuh sakit.” Mana bisa setan bikin sakit? Kataku dalam hati. Tapi apa yang terjadi berikutnya tidak jauh dari teori pamali  mamak. Wening, mbakyu kandungku tiba-tiba berlari sambil menyenggol daun pintu. Pintu terhempas dan tanganku terjepit. Dalam hati aku tetap tak terima pamali mamak menang. Kan bukan setan yang lewat, tapi mbak Ning. Eh, bisa jadi setan yang menyuruh mbak Ning untuk membuatku sakit. Bukankah setan penuh tipu daya dan sangat manipulatif? Ah, entahlah.

“Makanya dengerin yang dibilang orang tua, Le.” Kata mamak.

Aku hanya meringis memegangi ketiga jari kananku yang terjepit tadi. Sakitnya luar biasa. Sambil beranjak masuk kedalam. Tidak di depan pintu lagi. Baiklah aku mengalah kali ini mak.

Maka selanjutnya aku berkuat hati untuk berdamai dengan pamali mamak yang semakin tak masuk akal. Bisa saja aku berhasil melawan mitos-mitos itu saat di rumah. Tapi lihatlah, ketika aku diluar, orang-orang di sini sudah sama macam mamak saja. Jangan inilah, jangan itulah. Benar-benar semua yang dikatakan mamak ketika di rumah, aku dengar lagi ketika di luar rumah.

Syukurlah, tempurung itu mulai terbuka ketika pintu kelulusan SMP juga terbuka. Tidak ada SMA di kampung sini. SMA hanya ada di kota. Maka SMA adalah penumbuh kecerdasan rasionalku. Tapi bukan mamak jika tidak membekaliku dengan segudang pamali yang sampai sekarang masih saja aku ingat. Bukan karena pesan moralnya, tapi karena mamak nampaknya telah mengeluarkan semua pamali bermuatan moral sejak aku kecil, dan sekarang mamak kehabisan pamali bermoral itu. Maka sisanya tinggal yang aku anggap sebagai  lelucon.

Sebelum aku berangkat ke asrama SMA, mamak berpetuah, “Perhatikan tidurmu. Jangan tidur dengan kepala di utara dan kaki di selatan, nanti cepet meninggal. Jangan tidur menjelang maghrib, nanti bisa gila. Kalau mandi jangan di siang bolong, nanti cepet tua. Perhatikan cara makanmu juga. Jangan telalu sering makan pakai mangkuk, nanti saudaramu ada yang meninggal. Jangan suka membuang nasi jika sudah kenyang, nanti terjadi konflik keluarga. Perhatikan juga cara berbicara, bla bla bla….”

Aku banyak mengangguk, banyak tersenyum tapi tidak banyak mendengarkan. Sekedar formalitas sebagai anak berbakti yang hendak merantau saja. Biar mamak tidak cemas.

 

2

Sekarang rumahku di desa sudah berubah status menjadi hanya sekedar tempat lahir. Sekarang aku sudah berkeluarga dan sudah punya rumah sendiri di kota. Bersama istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Sesekali aku mengunjungi mamak sepanjang aku sekolah dan kuliah. Tiap liburan semester aku pasti pulang. Dan sekarang adalah kunjungan kami kedua semenjak kehamilan istriku.

Seperti yang aku duga, mamak dengan petuah-petuahnya selalu saja ada yang dipamalikan. Bukan aku yang menerima petuah itu sekarang. Tapi istriku.

Nduk, kalau lagi hamil ingat ya, kamu ga boleh terlalu banyak bersedih biar anak kamu kelak tidak jadi anak cengeng. Makanmu harus diperhatikan juga ya, nduk. Jangan terlalu banyak makan cakar ayam, nanti anakmu tulisannya kayak cakar ayam juga.”

“Sudahlah mak, Lastri kan perawat. Dia lebih ngerti bagaimana menjaga kandungannya. Dia sudah paham betul pola makan sehat untuk bayinya.”

Le, kamu itu dikasih tau selalu saja ngeyel. Kamu itu jangan main-main sama pamali. Bisa kualat!” kata mamak sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Matanya melotot marah.

“Sudahlah mas.” Lastri berbisik ketika mamak sudah beranjak menjauhiku dengan sebal. “Apa salahnya mendengarkan saran mamak. Hanya mendengarkan saja tanpa banyak melawan kan bukan berarti ikut mempercayai.”

Aku mengangguk saja. Menurut.

“Mas, aku nyidam lagi nampaknya.” Katanya sambil menarik lengan bajuku.

“Eh? Katakan saja sayang, mas ini selalu siap sedia menuruti apa yang kamu mau. Eh, maaf, apa yang kalian mau.”

 

3

“Mak, ayamnya boleh aku sembelih satu?” tanyaku pada mamak. “Lastri nyidam pengen makan opor ayam kampung.”

“Oalah. Le… Jangan macam-macam kamu Le…” teriak mamak. “Istrinya lagi hamil kok mau membunuh binatang. Gak boleh itu Le…”

“Mak, jangan katakan itu lagi. Percuma anakmu ini sekolah sampai sarjana kalau masih percaya hal seperti itu. Nanti aku belikan ayam lagi, mak. Jika mamak sayang kehilangan satu ayam itu. Aku bisa belikan dua nanti. Lastri bisa saja aku belikan daging ayam kampung di pasar. Tapi Lastri nyidamnya sama ayam mamak yang itu.” kataku sambil menunjuk ayam kampung hitam yang sedang asik mematuk di halaman depan. Berharap dengan dalih nyidam, ketidaklaziman apapun akan segera dimaklumi.

“Bukan, Le.. bukan semata-mata karena itu. Mamak gak masalah ayam yang satu itu disembelih. Tapi mamak lebih sayang sama jabang bayimu itu. Pamali, Le…pamali… Anakmu bisa lahir cacat. Tidak boleh membunuh atau menganiaya binatang jika istrimu sedang hamil.”

“Mak, pamali itu hanya untuk anak kecil. Biar mereka nurut, ngerti tata krama dan sopan santun tanpa banyak bertanya karena takut kualat. Aku sudah dewasa mak, sudah sarjana. Aku tahu membunuh atau menganiaya binatang itu tidak boleh. Tidak peduli saat istrinya sedang hamil atau tidak. Tapi aku menyembelihnya dengan berucap Bismillah. Itu beda dengan membunuh atau menganiaya. Sudah, mak, biar aku potong sekarang ayamnya.” Kataku sambil begegas mengambil pisau dapur.

“Jangan, Le. Jangan!” Mamak menarik ujung bajuku, menahanku. Tapi aku lebih gesit. “Biar Lek Karto yang motong.”

Aku mendengar mamak teriak-teriak memanggil Lek Karto yang tinggal di depan rumah mamak. Saat aku keluar Lek Karto nampak bergegas berlari sambil memgang sarungnya yang kedodoran.

“Ada apa ribut-ribut?” tanya Lek Karto. Sarungnya sudah rapat sekarang.

“Ini, To… Lihat, si Danar keponakanamu ini, mau motong ayam. Padahal istrinya hamil tua.” Kata mamak sambil mengacungkan telunjukknya kearahku.

Ngger, mbok ya kalau mamakmu memberi nasihat itu didengarkan.” Tentu saja Lek Karto makmum sama pendapat mamak. Orang di desa ini semuanya juga akan mengatakan hal yang sama. “Bahaya, itu. Anakmu bisa lahir cacat.”

“Aku tidak percaya hal-hal macam itu Lek.”

“Jangan kalap kamu ngger, kualat kamu nanti. Lihat anaknya si Dullah, kakinya bengkok karena waktu istrinya hamil dia tidak sengaja memutuskan kaki belalang untuk umpan pancing.”

Itu kan polio, pikirku. Anaknya si Dullah tidak diimunisasi karena puskesmas jauh.

“Lalu si Amat, yang menggunakan umpan pancing yang disiapkan Dullah, istrinya sedang hamil juga. Ikan yang tersangkut di pancingan itu bikin dia kualat. Perut anaknya jadi buncit seperti mau meledak.”

Itu kan busung lapar. Keluarga Amat memang miskin. Hidup dari jualan ikan yang dipancing atau dijalanya dari sungai besar batas desa. Anaknya kurang nutrisi.

 

4

Dengan ketetapan hati dan kerasnya pendirianku, tentu saja nasib ayam kampung mamak berakhir di tanganku dan pisau dapur itu. Kupotong ayam mamak dengan bacaan Bismillah. Tidak ada keraguan sedikitpun. Otakku sudah mengenal sains dan agama. Mengenal teori-teori yang memberiku gelar sarjana. Maka dari itu aku berani melawan adat kampung. Sekalipun ditentang oleh beberapa tetangga yang segera menyusul datang karena mendengar ribut-ribut di depan rumah mamak waktu itu, aku tetap berhak memiliki pendirian sendiri. Pengetahuan harus ditegakkan. Modernisasi tak bisa ditolak. Agama harus dimurnikan dan ajaran moral harus direvisi. Pamali harus hilang dan diganti dengan nasihat moral rasional.

Tapi apa yang terjadi dua bulan setelahnya adalah pembantaian tehadap seluruh ilmu beserta prinsip-prinsip idealisme kebenaran yang aku pelajari selama ini. Mungkinkah sains tidak lagi bertaring? Mungkinkah ilmu pengetahuan itu sudah semacam tren yang suatu saat kebenarannya valid seratus persen dan suatu hari akan kadaluarsa? Mungkinkah pengetahuan itu kembali ke titik primitif dan kita kembali ke ranah mistik untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan? Aku tidak percaya mistisisme pamali beserta hukuman tehadap pelanggarnya yang kena kualat. Tapi siapa yang akan menjelaskan secara meyakinkan dan gamblang ketika aku melihat Lastri melahirkan bayi yang cacat? Ya, bayi kami cacat!

Bagaimana cara aku menghadapi mamak dengan bayi cacat ini? Bayi tidak bersalah yang harus menanggung pelanggaran pamaliku. Bagaimana aku menghadapi para kerabat dan tetangga yang kala itu telah melarangku sekuat tenaga untuk tidak memotong ayam kampung mamak? Dan aku keras kepala hanya karena aku sarjana. Padahal mereka telah hidup dengan segala adat istiadat dan kearifan budaya yang telah lama terbentuk dan tak terusik. Mereka lebih paham akan filosofi hidup. Sedangkan aku masih begitu muda menjalaninya. Apakah mereka akan memaafkan dan memaklumi segala keputusan emosional jiwa mudaku? Ataukah mereka akan memvonisku sebagai ‘pelanggar pamali yang kualat’ yang nantinya dapat dipakai untuk menuturkan ke anak cucu mereka sebagai contoh yang buruk? Aku menyesal, bukankah perkataan mamak selalu ada benarnya? Maafkan aku, mak. Aku menyesal.

Tiada guna gelar sarjana dan kehidupan modern yang aku jalani delapan tahun terakhir.

 

5

Tentu saja aku masih berdiri di sini. Masih di depan halaman rumah mamak memegang pisau dapur sementara pikiranku berkelebat melayang apa yang akan terjadi dua bulan ke depan. Dan lihatlah, tentu saja ayam mamak masih menikmati masa hidupnya di depan sana. Dan aku kini berdiri di antara mamak, Lek Karto dan beberapa tetangga yang tadi berusaha mencegahku mengejar ayam mamak. Mencegah aku kalap melanggar pamali. Mereka mengkhawatirkan bayiku.

Sebenarnya bukan karena aku kalah banyak. Bukan karena mereka lebih banyak sehingga marahku mereda. Tapi ada Lastri yang sekali lagi menenangkanku. Dia keluar karena mendengar ribut-ribut. Sesaat dadaku sesak ketika Lastri menggenggam tanganku. Tiba-tiba aku benar-benar mengkhawatirkan bayi kami. Tentu saja aku akan mengusahakan apapun untuk menjamin kesehatan bayi kami. Apapun, yang tidak masuk akal sekalipun. Baiklah, mak. Aku menurut.

Kuserahkan pisau dapur itu. Biarlah Lek Karto yang memotong ayamnya.

Director: Stephen Daldry

Writers: Eric Roth (screenplay), Jonathan Safran Foer(novel)

Stars: Thomas HornTom Hanks and Sandra Bullock

Rated: PG-13 for emotional thematic material, some disturbing images, and language

Runtime: 129 min

Tragedi 11 Spetember 2001 nampaknya belum basi untuk kembali di-setting-kan dalam sebuah film. Kali ini kejadian tersebut melatarbelakangi sebuah film drama yang disutradarai oleh Stephen Daldry yang diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Jonathan Safran Foer.

Sang Sutradara Stephen Daldry

Penulis novel Jonathan Safran Foer

Novel 'Extremely Loud & Incredibly Close' Terbitan Tahun 2005

Kisah ini memfokuskan pada tokoh sentral berusia 9 tahun bernama Oskar Schell (Thomas Horn) yang harus kehilangan ayahnya Thomas Schell (Tom Hanks) yang kebetulan pada hari tragedi tersebut berada di gedung WTC. Oskar adalah seorang anak yang sangat cerdas dengan kepribadian yang unik. Pandai berhitung dan mengingat sesuatu. Hanya saja dia terlalu berlebihan dalam menganalisis adanya suatu bahaya. Inilah yang menyebabkan dia seolah fobia pada hal-hal tertentu seperti ayunan atau ketika hendak menyeberangi jembatan.

Awalnya Oskar adalah anak yang sangat dekat dengan ayahnya. Kebersamaan ini begitu erat seiring dengan pertumbuhan usianya. Ayahnya banyak sekali mengajarkan keberanian dan falsafah hidup. Akan tetapi semuanya berubah ketika dia harus kehilangan ayahnya di tragedi Black September tersebut. Pengalaman hidup yang harus dijalani setelahnya akan membuat dia lebih dewasa dalam memaknai hidup dan berdamai dengan masa lalu.

Awal dari petualangannya adalah setelah setahun sejak kejadian tersebut. Saat itu hubungan Oskar dengan ibunya Linda Schell (Sandra Bullock) sudah mulai renggang. Oskar menemukan sebuah kunci yang disimpan dalam vas biru diantara barang-barang milik ayahnya. Kunci itu dibungkus amplop yang bertuliskan ‘Black’. Maka dengan rasa penasaran seorang anak yang masih merindukan ayahnya, kunci itulah yang membuatnya berkeliling New York untuk memecahkan misteri apa yang tersimpan pada sebuah kunci itu. Dari sinilah Oskar akan bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter orang-orang yang bernama ‘Black’ yang akan membentuk pendewasaan dan pemahaman akan hidupnya.

Dalam petualangannya, Oskar bertemu dengan sosok lelaki tua yang menemani sebagian dari pencariannya mengunjungi  orang bernama ‘Black’ tersebut. Siapakah lelaki tua ini? Tentu saja akan ada sebuah kaitan dalam lajur-lajur ceritanya. Banyak sekali letupan-letupan emosi yang mengejutkan di sini. Selain karena karakter Oskar yang memang agak annoying, ditambah pula karena luapan emosi yang diaduk-aduk ketika mendalami kisahnya yang mengharukan. Bahkan di akhir cerita, akan ada kejutan lain yang menghubungkan keseluruhan kisahnya.

Film ini bisa jadi adalah film drama terbaik tahun lalu. Peran yang dimainkan Thomas Horn sangat bagus meskipun ini adalah film bioskop pertama yang dibintanginya. Wajarlah bila tahun ini film ini mendapatkan 2 nominasi oscar untuk kategori Best Motion Picture of the Year dan Best Performance by an Actor in a Supporting Role. Dan tentunya masih banyak penghargaan yang dimenangkan dan dinominasikan (6 menang dan 6 nominasi).

Overall: inilah film yang menginspirasi sekaligus mengharukan.

Amigo

Posted: Februari 18, 2012 in Karya Sendiri, puisi
Tag:, , ,

Teman yang berikutnya tak mampu menggantikanmu.

Teman yang lebih baik tak mampu menggantikanmu.

Waktu yang terus berjalan tak mampu menghapuskanmu.

Sahabat sejati adalah untuk selamanya.

Jogja, 2003

(Karya puisiku yang sempat menghilang selama 9 tahun karena satu-satunya tulisan tangan yang aku bikin, aku berikan ke sahabat paling spesial sebelum kami berpisah. Belakangan baru tahu kalau puisi ini diposting sama yang bersangkutan di sini)

Estella

Posted: Februari 18, 2012 in Karya Sendiri, puisi
Tag:, , , ,

Bintang itu indah karena dia sendirian.

Kau menemukannya karena dia sendirian.

Akan berbeda jika dia tidak sendirian.

Kau tak pernah menemui, kau tak pernah menyukai, dan selamanya dia menjadi bintang biasa.

Aku adalah bintang itu.

Saat aku bersembunyi, saat aku menyendiri, semakin kau melihatku.

Saat aku berbeda, semakin kau mengenalku.

Dan saat aku tersisih, semakin kau memahamiku.

Hingga sinarku seterang bintang itu, dan aku bukan lagi aku yang biasa.

Jogja, 2003

(Karya puisiku yang sempat menghilang selama 9 tahun karena satu-satunya tulisan tangan yang aku bikin, aku berikan ke sahabat paling spesial sebelum kami berpisah. Belakangan baru tahu kalau puisi ini diposting sama yang bersangkutan di sini)

Bidadari Bidadari SurgaBidadari Bidadari Surga by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 365 pages
Published June 1st 2008 by Republika
ISBN13: 9789791102261
edition language: Indonesian
original title: Bidadari Bidadari Surga
setting: Indonesia

 

“Pulanglah. Sakit kakak kalian semakin parah. dokter bilang mungkin mingu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya telambat, pulanglah….”

Itulah kutipan paragraf pembuka di halaman pertama novel ini. Kalimat itu adalah isi dari SMS seorang ibu yang dikirimkan ke anak-anaknya. Sederhana saja kisahnya. Kisah ini sebenarnya hanya menceritakan proses kepulangan dari keempat anak yang mendapatkan SMS yang berisi kabar tersebut. Keempat anaknya yang berada di empat penjuru dunia seketika itu berusaha pulang setelah menerima SMS itu. Apapun kesibukannya. Sebelum semuanya terlambat.

Bukan Tere Liye jika tidak mampu membuat alur yang begitu sederhana menjadi lebih kompleks. Benar saja. Tidak hanya proses kepulangan empat bersaudara itu saja yang diceritakan. Tapi sepanjang alur, kita akan diajak kembali untk flashback tentang latar belakang dan riwayat kehidupan mereka.

Bersetting di Lembah Lahambay, seorang ibu dengan kelima anaknya menjalani kehidupan sederhana yang dihiasi usaha dan jerih payah kerja keras. Laisa adalah anak sulung yang begitu mulia. Demi kebahagiaan keempat adiknya dia rela berkorban seumur hidupnya. Pengorbanan Laisa tentu saja tidak sia-sia. Buktinya keempat bersaudara itu kini telah berpencar ke seluruh penjuru dunia.

Laisa tidak mengharapkan apa-apa untuk dirinya sendiri. Untuk pendidikan, dia selalu mengutamakan adik-adiknya. Bahkan urusan perkawinan, Laisa rela didahului oleh adik-adiknya. Laisa tidak pernah mempermasalahkan nasib dirinya. Bahkan kekurangan fisiknya yang kini membuatnya jauh tertinggal dalam segala hal dibanding adik-adiknya. Laisa tulus hingga akhir hayatnya.
Kisah-kisah flashback ini membuat proses kepulangan keempat bersaudara itu menjadi sangat berarti. Kisah-kisah itu juga akan menganyam alur-alur cerita yang membuat begitu runtut sampai akhir. Di akhir cerita, bahkan Tere Liye seolah menjadi cameo untuk sedikit memasukkan tokoh dirinya sendiri di kisah itu.

Sungguh suatu kisah yang bisa menjadi motivasi untuk mencapai kesuksesan yang dicapai dengan kerja keras, pengorbanan yang tulus dan rasa bersyukur. Muatan filosofis religiusnya membuat kita mampu menjauhi segala manifestasi dari sifat egosentris.

View all my reviews

1

Tidak pernah ada cinta di hati Tien. Hidup tidak memberinya cinta sedikitpun. Dia lahir juga bukan karena cinta. Orang tuanya menjodohkan ibunya dengan pria yang tidak ia cintai. Subhan nama pria itu. Dan akhir kisah rumah tangga itu sudah bisa ditebak. Kedua orang tua Tien tidak pernah bisa memaksakan cinta lebih lama lagi. Maka ibu Tien kawin lari dengan pria pilihannya dahulu sambil mengandung Tien yang berusia tujuh bulan.

Tien di sini sekarang. Kembali merenungi hidupnya yang pahit itu. Tentu saja Tien mengenal cinta. Hanya saja dia belum juga merasakannya. Malang benar nasib Tien. Dia sudah meninggalkan masa kanak-kanaknya sekarang. Usia remaja juga sudah dijalaninya sejak tiga tahun yang lalu.

Ah, betapa Tien membutuhkan cinta.

Tien selalu ingat masa lalunya. Menurutnya setiap manusia itu minimal mendapatkan cinta dari orang tuanya. Tapi Tien tidak pernah mendapat hak itu. Tien pernah mendengar bahwa induk harimau sekalipun tidak pernah melukai anak-anaknya. Aku ingin jadi anak harimau saja kalau begitu, pikirnya. Induk manusia lebih kejam. Tien banyak membaca dari koran bekas yang dipungutnya. Membaca tentang aborsi, pembuangan bayi dan penganiayaan anak oleh orang tua.

Tien tidak penah mengalami kekejaman fisik itu. Tapi Tien tahu ibunya sangat membencinya. Sama seperti kebencian ibu terhadap Subhan suami pertamanya, ayah Tien. Suatu ketika ibunya pernah berkata kalau Tien selalu mengingatkannya pada suami terkutuk itu. Ya Tuhan, bahkan ibu kandung Tien menganaktirikannya. Bagi Tien, ibunya telah mengaborsi, membuang sekaligus menganiaya dalam takaran batinnya.

Maka Tien tidak pernah menangis ketika ibunya mati.

Tien praktis tinggal dengan ayah tirinya setelah itu. Apakah ayah tirinya memberinya cinta? Tien tidak begitu memahaminya. Ayah tirinya baik, ramah tapi tidak ada cinta di hatinya. Tien merasakan kekosongan yang aneh. Dengan usianya yang baru tujuh tahun Tien tidak memahaminya. Sesekali ayahnya melepaskan pakaiannya dan Tien berpikir: ya, ayah yang baik melepaskan pakaianku untuk dicuci. Sesekali ayah Tien memandikannya dan Tien masih bepikir: ya, ayah yang perhatian sudah wajar jika sesekali memandikanku. Sesekali ayah Tien meraba-raba tubuh Tien dan Tien tetap berpikir: ya, ayah yang penolong membantuku membersihkan dan menyabun daki-daki di badanku. Dan sesekali ayah Tien memasukkan kemaluannya ke kemaluan Tien dan Tien semakin tidak memahaminya: entahlah apa yang dilakukan ayah. Pertama menyakitkan tapi ayah selalu menghiburku. Dan permen-permen itu sangatlah lezat. Ayah adalah penghibur yang baik.

Tien di sini sekarang. Sudah memahami segalanya dengan baik. Ternyata ibunya memilih pria bejat untuk dinikahi. Mungkin kakek neneknya telah mengetahui keburukan pria pilihan ibunya ini. Maka dijodohkanlah ibu dengan pria baik-baik menurut mereka.

Ah, kakek nenek, dimanakah kalian tinggal? Ibu telah memisahkan kita. Memisahkan satu-satunya kemungkinan adanya sumber cinta yang selama ini aku rindukan.

Ayahnya resmi memutus sekolah Tien sesaat setelah lulus SD. Itu artinya sebelum Tien mendapatkan penjelasan edukatif biologis tentang apa yang dilakukan oleh ayahnya, dia resmi terputus dari pendidikan formalnya. Pengetahuannya akan datang terlambat dan itulah tujuan sang ayah.

Tien mulai mengenal teman-teman ayahnya yang sering datang ke rumahnya. Tien dengan pemahaman seusianya kala itu menyebutnya: ‘teman-teman kantor’ ayah. Hanya saja Tien tidak pernah paham bahwa ‘teman-teman kantor’ ayahnya itu melakukan persis apa yang dilakukan ayahnya. Tien bukannya terganggu. Tien hanya tidak mengerti. Tapi yang Tien tahu, ayahnya selalu memanjakannya setelah itu. Sepertinya ayahnya selalu mendapatkan banyak uang setelah teman kantor ayah itu selesai ‘bermain’ dengannya.

Mungkin ayah telah berdagang sesuatu dengan teman kantornya.

Tien selalu sesak mengingat alur hidupnya yang tak seindah sinetron. Tapi Tien sudah tidak pernah menangis. Tien lupa kapan teakhir menangis. Tangisan hanyalah untuk orang-orang yang cintanya terenggut, pikirnya. Sedangkan Tien, tidak pernah memiliki cinta sejak lahir. Jadi tidak ada sedikitpun yang terenggut darinya.

Tien yang kini telah memahami segalanya, selalu terkurung dengan perasaan benci itu. Kepada ibunya yang memisahkan dirinya dengan cinta yang ia butuhkan. Ibunya yang juga melahirkannya dengan kebencian. Dan tentu saja ayah tirinya yang telah mengantarkan nasibnya pada detik ini dan di tempat ini.

Pada suatu ketika itu teman kantor ayah membicarakan sesuatu dengan ayah. Hasil dari pembicaraannya itulah yang membuat Tien pergi dari rumah ayah. Tien harus ikut Om kata ayahnya ketika itu.

Ayah menjanjikan aku akan senang. Ayah berkata Om akan membelikan apapun yang aku mau. Tentu saja, tentu saja aku mau pergi bersama Om ini. Tien tahu ayahnya berkata benar. Buktinya ayahnya setelah itu memegang banyak duit dari si Om yang pastinya nanti akan dipakai untuk membelikan Tien apa saja. Dan Om yang telah memberikan uang sebanyak itu pada ayah pastilah kaya raya. Om itu pasti akan banyak membelikan sesuatu juga.

Lambat laun Tien mengerti juga. Perjalanan hidupnya akhirnya mendewasakannya juga. Tien mulai tahu betapa kejamnya ayahnya yang menjualnya kepada teman kantornya. Dan si Om yang sama kejamnya dengan ayah. Semua memperlakukannya sama seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Sama seperti yang dilakukan ‘teman kantor’ ayah dulu. Sekarang ‘teman kantor’ Om melakukan hal yang sama dengan membayar sejumlah uang kepada si Om. Semuanya sama. Bedanya, Tien sekarang sudah mengerti. Ketika itu Tien tidak terganggu. Tien rela, pasrah. Tapi Tien merasa semakin kosong. Kemanakah cinta untuknya?

Sekarang Tien sedang berdiri di sini. Di sebuah jembatan sepanjang lima ratus meter yang baru berusia satu tahun. Masih baru. Di sinilah titik yang paling menyenangkan untuk Tien. Di sinilah Tien bisa menunggu matahari tebenam.

Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta dari sesama, biarlah aku mengais cinta dari pesona matahari yang mulai meninggalkan langit tempatku berpijak ini. Matahari telah memberikan cintanya pada alam. Sekarang sebelum dia pergi, aku ingin merasakan sedikit dari hangatnya cinta yang masih tersisa itu.

Tien masih di sini. Menatap jenuh. Kekosongan itu bisa juga jenuh ternyata. Mengenang kekosongan dan kejenuhan yang sama ketika Tien memutuskan berlari dari semuanya. Berlari secara lahir dan batin. Dini hari dua tahun yang lalu itu Tien mencoba peruntungannya. Dan beruntunglah si Om yang tidak pernah menaruh curiga pada Tien, yang dikenalnya sebagai ‘barang dagangannya’ yang paling penurut, membuat pelarian Tien bukanlah perkara yang sulit. Dengan uang hasil penjualan dirinya itu cukuplah untuk menghilang dengan jarak sejauh lima kota dari ‘kantor’ Om. Tak ada yang bisa menemukannya di kota ini. Kota yang memiliki jembatan baru yang indah. Cocok untuk Tien yang sedang merenung saat ini.

Di sini Tien berdiri menunggu matahari terbenam. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Setelah penat dengan pekerjaan seharian itu. bukanlah pekerjaan yang menyenangkan jika Tien harus berkeliling kota dengan sepeda tua berkeranjangnya, hasil menabung selama enam bulan, yang penuh dengan kertas bekas. Melelahkan memang tapi Tien sedikit menikmatinya. Tien mulai berpikir, mungkin transaksi perasaan cinta-mencintai itu memang tidak ada. Yang ada hanyalah transaksi jual beli yang dinilai dengan uang. Uang yang membuatnya tetap hidup. Bukan cinta.

Tapi malam ini nampaknya telah merubah pandangan Tien.

Malam yang sederhana. Dengan situasi dan keadaan yang biasa. Di jembatan ini Tien telah hafal benar dengan kebiasaan anak-anak muda seumurannya, yang berpasang-pasangan, ikut meramaikan kedua sisi jembatan itu tiap senja mulai menggelap. Jembatan remang-remang yang cocok untuk memadu kasih. Kendaraan yang lewat juga tidak banyak. Entah mengapa lampu penerang jalan yang berjajar sepanjang jembatan yang masing-masing berjarak seratus meteran itu tidak pernah menyala. Seolah para ahli tata kota sengaja menjadikannya sebagai tempat cocok untuk berpacaran. Atau mungkin para vandalis kota telah merusak sensor lampu agar tidak lagi otomatis menyala ketika senja tiba.

Senja mulai menghitam. Tien mulai melihat beberapa pasangan mulai berdatangan. Seperti biasa, pikir Tien. Tien juga sudah bosan dengan gaya cakap-cakap para dua sejoli itu. Yang satu pandai merayu, satu lagi pura-pura malu tapi mau. Tien bosan dan dia selalu berhasil berkutat pada lamunannya. Tapi tidak malam itu. Dia sayup-sayup mendengar sang pria berucap ‘selamat hari valentine’ pada pasangannya. Hanya sekali Tien mendengar sudah cukup membuatnya keluar dari lamunan dan memalingkan wajah. Menengok pasangan itu. Tidak, tidak hanya satu. Beberapa pasangan lagi mengatakan kata yang sejenis sesaat berikutnya. Beberapa lagi bersendau gurau dan menyinggung kata yang sama. Semuanya, pikir Tien.

Valentine. Tien tahu kata itu. Tahu tentang perayaan dimana orang-orang meramaikannya dengan atribut berwarna pink. Lihatlah, para pasangan di jembatan itu memakai pakaian dengan unsur pink juga. Tien tahu betul peringatan hari kasih sayang itu.

Hari ini adalah hari valentine. Seluruh dunia merayakannya. Kecuali aku…

Tien sesak. Hatinya menangis. Kembali lagi dia mendambakan cinta. Kemanakah cinta untuk Tien? Tien ingin cinta menerbangkan kebahagian seperti kebahagiaan yang terpancar pada sejoli-sejoli di sekitarnya itu. Tien ingin terbang bersama orang-orang yang dicintainya. Tien ingin terbang dilangit luas agar sesak di hatinya terlepas melega.

Jembatan itu remang-remang. Tak ada yang tahu bahwa Tien mencoba terbang. Meluncur kebawah. Tien berharap cinta akan menerbangkannya pada detik-detik terakhir.

2

“Fenomena apa yang terjadi pada anak muda akhir-akhir ini benar-benar harus diwaspadai. Psikologis remaja yang baru berkembang bisa jadi adalah silent killer yang cukup serius selain obat-obatan terlarang. Bagiamana tidak? Dalam tiga bulan terakhir kita jumpai fenomena yang nampaknya menjadi tren. Apakah Shakespeare patut dipersalahkan jika anak muda jaman sekarang lebih memilih bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban percintaan? Meniru Romeo Juliet katanya. Ataukah pemerintah yang harus bersikap hanya karena tidak pernah bisa menyelesaikan urusan pelik yang bernama ekonomi?

Bagaimanapun juga bunuh diri di kalangan remaja di Indonesia cenderung meningkat. Adapun jumlah tertinggi pelaku bunuh diri berada pada kisaran usia remaja dan dewasa muda (15-24 tahun). Laki-laki melakukan bunuh diri (comite suicide) empat kali lebih banyak daripada perempuan. Sedangkan perempuan melakukan percobaan bunuh diri (attempt suicide) empat kali lebih banyak daripada laki-laki.

Laporan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia tercatat di Gunung Kidul Yogyakarta yaitu 9 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan di Jakarta hanya 1,2 per 100.000 penduduk.”

………………………………………………………

“Kau tidak lupa memasukkan bahasan pada kasus terakhir dua hari yang lalu itu kan?” tanya seseorang dari bagian percetakan kepada seorang kolumnis yang sedang asik mengetik.

“Mana bisa aku lupa?” Kata si kolumnis sambil menghentikan kegiatannya sejenak. “Kamu tahu kan kemarin aku bela-belain untuk ke TKP. Meliput secara langsung. Sungguh menyedihkan kalau kamu melihatnya juga. Dan anak itu akan sedikit merubah data statistik yang sudah aku hitung sebelumnya. Tenang saja, data terbaru itu sudah siap aku cantumkan kok.”

“Mengharukan?” dahinya mulai sedikit berkerut. “Mengerikan maksudmu?”

“Tentu saja mengerikan. Korban terjun bebas mana yang matinya anggun? Tapi aku sedih, melihat wajah mayat itu… Dia tersenyum.”

“Ah, sudahlah. Bicaramu mulai mengerikan. Cepat selesaikan artikelmu itu. Jangan masukkan bagian itu. Koran kita bukan koran mistik.”

Kolumnis itu nyengir dan segera kembali berkutat pada laptopnya. Mengetik dengan cepat.  Trending news dengan kasus terakhir dua hari yang lalu itu membuat otaknya kebanjiran ide yang harus ditulis dan diselesaikan segera. Ini kasus menarik. Biarpun kasus terakhir hanya melibatkan seorang gadis gelandangan, tapi tetap saja bunuh diri di malam valentine akan cukup menarik untuk dibahas. Entah apa latar belakangnya, tak ada informasi satupun. Dia remaja gelandangan. Tak ada seorangpun yang tahu kisahnya. Pengaruhnya dalam berita ini mungkin hanya sekedar perubahan data statistik.

“Eh, buruan ya. Setengah jam lagi deadline naik cetak.” Kata manajer percetakan, mengingatkan.

“Oke, aku hampir selesai. Beberapa kata lagi dan artikel ini siap diterbitkan.” Kolumnis itu tampak puas dengan idenya yang telah tertuang dalam 2 halaman yang terketik rapi itu. Sebagai penutup artikel itu, dia menuliskan:

Yogyakarta, 16 Februari 2012,

Subhan

Dan hanya Tuhan yang tahu urusan ini.

Kisah Sang PenandaiKisah Sang Penandai by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 295 pages
Published July 2011 by Republika
ISBN: 6029888323 (ISBN13: 9786029888324)
edition language: Indonesian
original title: Kisah Sang Penandai

Bagi yang penasaran dengan arti kata penandai, sebelumnya aku jelaskan dulu apa artinya. Kata penandai dibaca seperti kata landai, pantai. Asal kata penandai dari andai, yang berarti dongeng dalam bahasa tertentu (keterangan ini bisa dilihat di footnote halaman 33. Jadi Sang Penandai adalah orang yang membawakan sebuah kisah dongeng.

Tere Liye membuat sesuatu yang baru dalam novel ini. Sangat berbeda dengan novel-novel sebelum dan sesudahnya. Inilah novel pertama yang bersettingkan masa lalu sekitar ratusan tahun yang lalu. Kisah-kisahnya didominasi oleh petualangan kolosal para pelaut gagah berani.

Kisahnya berpusat pada tokoh bernama Jim yang ceritanya dimulai dengan kisah cinta yang tragis. Kekasih Jim yang bernama Nayla adalah seorang perempuan keturunan bangsawan. Sedangkan Jim hanyalah seorang yatim piatu pemain biola yang buta huruf. Cinta ini tentu saja mengalami puncak hambatan ketika Nayla hendak dijodohkan oleh orang tuanya. Karena cinta Nayla yang begitu besar kepada Jim, dia justru memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.

Dengan kesedihan yang luar biasa Jim bertemu dengan Sang Penandai yang muncul secara misterius. San Penandai mengatakan bahwa Jim adalah orang yang terpilih untuk menggurat cerita tentang berdamai dengan masa lalu. Dari sinilah petualangan Jim yang luar biasa akan bermula. Berawal dari kejaran pembunuh bayaran yang disewa keluarga Nayla untuk menghabisi Jim yang kemudian mengalirkan nasibnya pada keikutsertaannya dengan pelayaran Laksaman Ramirez untuk menemukan Tanah Harapan.

Ekspedisi pelayaran itulah yang akan menyajikan banyak sekali pertempuran yang sarat dengan pertumpahan darah. Inilah yang membuat novel Tere Liye begitu berbeda dengan karyanya yang lain.
Petualangan seru bak dongeng akan diiringi dengan kisah-kisah cinta. Jim yang sangat melankolis yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu akan membuatnya berada pada pilihan-pilihan sulit yang akan menentukan masa depan hidupnya.

Novel ini memberikan pesan bagaimana kita harus berdamai dengan masa lalu dan sembuh dari luka-luka itu. Selain itu akhir dari kisah ini akan mengajarkan kita bahwa kesabaran akan memberikan imbalan terbaik untuk masa depan.

Kisah ini akan berakhir dengan melengkapi kisah-kisah di awal sehingga simpul-simpulnya saling bertaut. Akan tetapi ada beberapa cerita yang memang berkesan putus tanpa penjelasan yang memuaskan.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Alexander Payne

Writers: Alexander Payne (screenplay), Nat Faxon (screenplay), Jim Rash (screenplay),  Kaui Harts Hemmings

Stars: George ClooneyShailene Woodley and Amara Miller

Rated: R for language including some sexual references

Runtime: 115 min

Kisah film ini bersetting di Hawaii. Awalnya kita akan dihadirkan pada kisah seorang ayah bernama Matt King (George Clooney), seorang pengacara sukses, yang nampak sedang berusaha mengasuh anaknya seorang diri sejak istrinya Elizabeth (Hastie) koma karena kecelakaan. Anaknya Scottie (Amara Miller) memang sering mendapatkan masalah di sekolahnya. Untuk membantu menangani Scottie, Matt King akhirnya menjemput anak tertuanya Alexandre (Woodley) untuk tinggal dirumah. Ternyata Alexandre juga memiliki kenakalannya sendiri. Konflik Alexandre dengan ayahnya juga sedikit menyinggung tentang ayahnya yang workaholic dan jarang memiliki waktu untuk keluarga sehingga tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anak-anaknya.

Matt King beserta anak-anaknya: Alexandra dan Scottie

Konflik akan bertambah ketika Matt King dihadapkan pilihan pada keputusan medis istrinya ketika dokter menyatakan Elizabeth tidak akan pernah terbangun dari komanya. Matt memegang keputusan untuk mencabut alat penunjang kehidupannya dan membertitahukan ke anak-anaknya dan kerabat yang lain. Dilema ini makin kompleks ketika Alexandre membeberkan rahasia perselingkuhan ibunya sebelum kecelakaan dan kabar bahwa ibunya hendak menggugat cerai Matt. Seiring dilema kapan alat penunjang hidup akan dicabut, Matt menyelidiki siapa pria selingkuhan istrinya. Setelah diketahui ternyata pria itu adalah Brian Speer yang juga sudah berkeluarga.

Film ini adalah film tentang krisis paruh baya. Sang sutradara Alexander Payne mengangkat kisah ini dari novel Kaui Hart Hemmings yang terbit tahun 2007. Novelnya sendiri mendapat pujian New York Times. Filmnya pun sudah mendapat banyak penghargaan dan menjadi film terbaik 2011 versi American Film Institute dan lima nominasi Golden Globe. Bahkan, kabarnya George Clooney juga akan mendapatkan nominasi Oscar lewat film ini.

Novel The Descendants karya Kaui Hart Hemmings

Sang Sutradara Alexander Payne