Posts Tagged ‘review’

Supernova: Partikel by Dee

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 508 pages
Published April 13th 2012 by Bentang Pustaka (first published April 1st 2012)
ISBN13: 9786028811743
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Partikel (Supernova #4)

Sinopsis

Zarah adalah anak dari seorang dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Karena idealisme sang ayah, Zarah tidak bersekolah di sekolahan konvensional sebagaimana anak-anak lain. Firas mendidiknya dengan caranya sendiri dan tentu saja keputusan yang diambil Firas mendapat pertentangan dari anggota keluarga yang lain.

Dari metode yang diajarkan ayahnya, Zarah menjadi anak yang cerdas. Namun satu hal yag tidak diajarkanayahnya adalah pendidikan agama. Ayahnya sendiri terobsesi dengan jamur. Dari situlah ayahnya memperoleh rahasia alam yang tidak mudah dipahami bahkan oleh anggota keluarganya sendiri yang menganggapnya sudah sinting. Ayahnya menjadi semakin aneh ketika dia kedapatan sering mengunjungi tempat angker yang ditakuti warga kampung. Disusul kemudian tragedi-tragedi yang menimpa keluarganya yang semakin membuat ayahnya dianggap sebagai biang keladi segala kutukan itu. Hingga puncaknya, ayahnya pun menghilang.

Pencarian Zarah terhadap ayahnya membuat Zarah dibawa nasib berkeliling dunia. Berawal dari jurnal peninggalan ayahnya, Zarah tahu ada suatu misteri besar yang diketahui ayahnya demikian juga harapannya yang bertumbuh bahwa ayahnya bisa saja masih hidup. Sebuah kiriman kamera dari orang tak dikenal adalah tiketnya untuk mengembara. Awalnya hanya karena fotonya mendapatkan juara yang hadiahnya berupa wisata gratis ke konservasi orangutan Tanjung Puting. Bakat fotografi dan nalurinya justru membuatnya betah tinggal di sana dan mengabaikan jadwal kepulangannya ketika agenda wisata gratis itu sudah habis. Hingga talentanya itu kembali mengantarkannya lagi untuk menjelajah lebih jauh, mulai dari London, Kenya dan Bolivia. Zarah merasa bahwa petualangan itu akan membawanya kepada jawaban mengenai ayahnya. Hingga akhirnya tibalah di Glastonbury dan dia bertemu dengan seseorang yang menjadi kunci yang bisa membantu menemukan ayahnya.

Terlepas dari kisah Zarah, di Keping terakhir, akan diceritakan pertemuan Elektra dan Bodhi yang akan mengikat simpul kecil misteri kisah mereka.

Did You Know?

Dee (Dewi Lestari)

Seri Supernova berikutnya dikabarkan akan berjudul Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi.

Jika anda bertanya-tanya kenapa seri ke-4 ini berjarak 8 tahun dari seri sebelumnya, maka jawabannya ada di bagian akhir buku ini. Dee menjelaskan kenapa dirinya begitu lama menyusun seri Partikel ini.

Logo cover depan adalah simbol “bumi”.

Opini

Opini yang sudah bisa ditebak bagi pecinta seri Supernova ini pastilah: kita terlalu lama menunggu seri ini keluar sampai-sampai cerita seri-seri sebelumnya sudah terlupakan. Tapi setelah kita baca, nampaknya hal itu bisa dimaklumi karena data-data yang disajikan di kisah ini begitu kompleks dan pastinya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendalami segala sesuatunya.

Seri ini kembali menghadirkan kisah manusia dengan pengalaman ajaib. Tokoh sentral itu bernama Zarah. Pengalamannya adalah pengalaman spiritual, gaib dan selalu berurusan dengan rahasia semesta tanpa ada unsur religi sama sekali karena dia sama sekali tidak mendapatkan pendidikan itu sejak kecil. Dee menjadikan tema yang oleh beberapa orang masuk ranah klenik dan perdukunan ini menjadi seolah bagian dari kehidupan nyata. Secara garis besar, kesemuanya akan berujung pada pesan agar manusia lebih menghormati bumi. Namun bagi orang yang tidak suka hal-hal spritual, gaib dan perdukunan, bisa jadi tidak akan suka dengan kisah ini. Terlebih lagi tokoh utamanya yang sangat jauh dari sentuhan agama membuat kisah ini cenderung panteisme (menyembah alam).

Beberapa fenomena alam termasuk eksistensi mahluk luar angkasa dan aktivitasnya di bumi disajikan sebagai unsur yang dominan. Namun bagi orang yang mengharapakan adanya penjelasan empiris dan logis, bisa jadi mereka kecewa karena tidak menemukannya sampai akhir kisah ini. Dari awal plotnya memang diarahkan ke suasana spiritual, jadi Dee tidak akan memasukkan logika Dimas dan Reuben di situ. Sudah bisa diduga juga, mereka tidak hadir di seri ini.

Setiap menyelesaikan seri-seri Supenova saya selalu bertanya-tanya, dimanakah mereka semua akan dipertemukan. Selalu saja ada tokoh baru dengan permasalahan baru yang selalu saja meninggalkan teka-teki besar di akhir cerita. Meskipun beberapa kisah kecil mulai terhubung satu sama lain, halk itu tidak sebanding dengan teka-teki baru yang lebih besar. Misalnya, satu orang menghilang dan belum ditemukan (Diva), sekarang harus dihadapkan pada orang hilang lainnya (ayah Zarah).
Semoga saja seri berikutnya tidak perlu menunggu lama untuk terbit melanjutkan kisahnya.

Favorite Quotes

“…manusia telahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur ke luar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta.” (hal. 8)

“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.” (hal. 69)

“Kita, manusia, adalah virus terjahat yang pernah ada di muka bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan berusaha mayakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah besar. Kita adalah kutukan bagi bumi ini. Bukan karena manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir semua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka.” (hal.71)

“…alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan atau tanpa kita.” (hal. 190)

“Manusia berbagi 63% kesamaan gen dengan potozoa, 66% kesamaan gen dengan jagung, 75% dengan cacing. Dengan sesama kera-kera besar, perbedaan kita tidak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orang utan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.” (hal. 227)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Iklan

Supernova #3 : Petir by Dee

My rating: 4 of 5 stars

Detail Info:

Paperback, 286 pages
Published April 2012 by Bentang Pustaka (first published 2004)
ISBN13: 9786028811736
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Petir

Sinopsis

Buku ini terdiri dari tiga Keping yang merupakan kepingan lanjutan dari dua seri sebelumnya. Keping 37 akan menghadirkan kembali tokoh Dimas-Reuben yang keduanya akan berurusan dengan kiriman e-mail Gio yang mengatakan bahwa Gio sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Keping 38 adalah inti cerita keseluruhan dari buku ini. Menceritakan tentang kehidupan Elektra, seorang Cina yang dipaksa bertahan hidup dengan sisa-sisa peninggalan Ayah yang telah meninggal. Elektra hidup sendiri setelah kakaknya, Watti, memutuskan tinggal bersama suaminya di Freeport.

Elektra yang memiliki kebiasaan malas-malasan dan kerjaannya hanya tidur siang jelas tidak siap menghadapi hidupnya yang menuntut untuk mandiri. Sarjananya sudah lama didapat, tapi dia tidak memiliki ketrampilan bekerja. Beberapa peluang pekerjaan dicobanya. Dari bisnis MLM hingga memenuhi panggilan kerja untuk menjadi asisten dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Gain Nasional yang belakangan baru diketahui bahwa surat panggilan itu ternyata hanyalah kerjaan orang iseng. Namun justru karena surat itulah Elektra akan menemukan gerbang metamorfosis dirinya. Untuk melengkapi syarat-syarat penggilan kerja itu, Elektra membeli perlengkapan klenik di sebuah warung yang memang dikhususkan menjual perlengkapan perdukunan macam itu. Di situlah akhirnya Elektra mengenal sosok Ibu Sati yang merupakan pemilik dari warung tersebut. Ibu Sati dijadikannya sebagai guru spiritual yang nantinya akan menginspirasi bisnis usaha Elektra sekaligus seseorang yang mampu menggali bakat ajaib Elektra yang berhubungan dengan listrik yang ada di tubuhnya.

Usaha Elektra menjadi berkembang pesat karena bantuan entrepreneur muda bernama Toni alias Mpret. Belakangan Toni akan menjadi penghubung antara kisah Elektra dengan Bodhi lewat sepupu Toni yang bernama Bong (tokoh Bong dan Bodhi di kisahkan di seri sebelumnya, Akar). Kisah yang diceritakan di Keping 39 ini akan menjadi sebuah awal untuk menjembatani kisah di seri berikutnya.

Opini

Buku ini masih mempertahankan konsep bab-babnya dalam bentuk “Keping” yang angkanya masih saja bersambung dari seri-seri sebelumnya. Di buku ini kepingan kisahnya akan melewati keping 37, 38 dan 39. Masih mempertahankan formasi 3 Keping, sama seperti seri sebelumnya, Akar.
Berbeda dengan Akar yang menghadirkan petualangan yang mendebarkan dan cukup serius, seri Petir ini justru menghadirkan kisah hidup yang sedikit santai dan bertaburan kekonyolan yang cerdas di beberapa bagian plotnya.

Pada keping awal kita kembali disajikan dengan pasangan homo Dimas dan Reuben yang sempat menghilang di seri Akar. Di sini mereka diceritakan sedang memperingati usia hubungan mereka yang telah berjalan 12 tahun. Nampaknya posisi mereka menjadi simpul yang mengikat di kedua seri sebelumnya setelah di akhir Keping 37 mereka mendapatkan kiriman e-mail dari Gio yang mengatakan bahwa dirinya sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva ini makin misterius saja. Ketika di seri pertama (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh) kita disajikan sebuah kisah yang seolah kisah Gio-Diva adalah kisah karangan Dimas-Reuben semata. Namun teka-teki ini semakin terangkat ke permukaan saat kita amati bahwa di seri pertama, Dimas-Reuben tidak pernah menyebutkan nama Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin dan tokoh-tokoh di lingkungan kisah hidup mereka untuk tokoh karangannya. Mereka hanya menyebutknya sebagai: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Mungkinkah kisah yang paralel ini ternyata benar-benar berjalan beriringan yang jika dipikir-pikir, mungkin saja kisah Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin ini hanya kebetulan saja sama dengan kisah Ksatria-Putri-Bintang Jatuh karangan Dimas-Reuben. Kecerdasan Dee sebagai penulis saja yang menempatkannya seolah kedua kehidupan itu adalah realitas bertingkat antara dua orang penulis homo dan kehidupan tokoh yang ditulisnya. Padahal sebenarnya ada kehidupan yang lain yang sama-sama nyata dan kebetulan kisah hidupnya sama dengan kisah hidup tokoh karangan mereka. Inilah yang masih menjadi teka-teki dan nampaknya masih perlu beberapa seri lanjutan untuk menghubungkan teka-teki itu.

Seri Petir ini menghadirkan sebuah kehidupan tokoh baru bernama Elektra. Dengan segala kemampuan dan metamorfosis kehidupannya yang ajaib, tokoh ini akan dipertemukan dengan tokoh Bodhi di seri Akar. Lantas apa hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva dengan Elektra-Bodhi? Ini yang masih teka-teki.

Favorite Quotes

“…kursi itu berguncang hebat pada akhirnya. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk Cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.” (hal 33)

“Air bisa menjawab dirinya ‘air sungai’ atau ‘air laut’. Tapi, kalau ia memilih menjawab ‘air’ saja, itu juga tidak salah, kan?” (hal 112)

“Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban.” (hal 229)

“…bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik, melainkan dari apa yang kamu lakukan.” (hal 248)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director:  Chris Gorak

Writers:  Jon Spaihts (screenplay), Leslie Bohem (story), Jon Spaihts (story), M.T. Ahern (story)

Stars: Emile HirschOlivia Thirlby and Max Minghella

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for sci-fi action violence and some language

Runtime: 89 min

Survive The Holidays

Review

Invisible aliens and a band of foreigners in a foreign land must face each other in the ultimate battle fo mankind. Will they even survive?”

Sean (Emile Hirsch) dan Ben (Max Minghella) adalah 2 orang programmer Amerika yang sedang berada di Moskow Rusia dalam rangka proyek pembuatan jejaring sosial baru. Namun sesampainya di sana, mereka mendapati teman bisnis mereka, Skyler (Joel Kinnaman) dengan curang menjual tanpa sepengetahuan mereka. Ketika mereka melepas kekecewaan itu di sebuah klub, mereka bertemu dengan dua wanita Amerika Natalie (Olivia Thirlby) dan Anne (Rachael Taylor). Di luar dugaan, Skyler juga ada di tempat itu. Di tempat itulah petualangan mereka diawali. Bermula dari padamnya listrik, kemudian munculnya aurora di langit dan akhirnya banyak sekali bulatan-bulatan cahaya turun perlahan dari langit.

Beberapa bulatan cahaya jatuh di dekat mereka. Seorang polisi bahkan mencoba menyentuhnya menggunakan pentungan, namun tiba-tiba saja tubuhnya meledak menjadi abu. Dari situlah kepanikan mulai menghantui orang-orang. Mereka mulai berlarian dan bulatan cahaya itu juga mulai mengejar.

Seorang polisi langsung melebur menjadi abu ketika menyentuh alien bertegangan tinggi

Sean, Ben, Natalie dan Anne berhasil menyelamatkan diri. Ditambah lagi Skyler yang diijinkan bergabung dengan mereka karena dia satu-satunya orang yang bisa berbahasa Rusia. Mereka berlindung beberapa hari hingga ketika mereka keluar, kota sudah kosong. Tak manusia satupun. Jalanan dipenuhi mobil-mobil yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Mereka berusaha mencari orang-orang yang selamat sekaligus berusaha menghindari bulatan cahaya yang belakangan diketahui benda itu adalah alien yang berperisai listrik tegangan tinggi. Siang hari adalah waktu yang sangat berbahaya bagi mereka. Alien itu bisa melihat mereka namun mereka tidak. Karena alien listrik itu sama sekali tidak terlihat. Jika malam hari, kedatangannya akan menyalakan lampu atau alat listrik di sekitarnya. Maka dari itu mereka membuat alat detektor sederhana yang terbuat dari bohlam lampu yang dikalungkan ke leher masing-masing.

ketika mereka keluar dari persembunyian, kota telah kosong

Sebuah harapan yang mereka pegang adalah ketika mereka menemukan rekaman yang dipancarkan melalui gelombang radio yang mengatakan bahwa sebuah kapal selam militer sedang mengumpulkan orang-orang yang selamat untuk diangkut ke tempat yang aman. Seiring dengan perjalanan mencari kapal selam penyelamat itu, mereka akan dihadapkan pada bahaya yang mengancam nyawanya. Mereka dikejar-kejar, namun di beberapa titik, mereka akan bertemu dengan beberapa kelompok yang selamat dan mampu memberikan tambahan pengalaman bagaimana cara menghadapi alien tegangan tinggi tersebut.

senjata yang bisa melemahkan alien

Sebenarnya apa yang dicari para alien itu di Bumi? Jawabannya ada di bagian akhir film.

Opini

Film ini cukup menarik dari segi ide. Belum pernah ada alien dengan kemampuan dan perlindungan listrik tegangan tinggi macam ini. Tidak ada UFO, tidak ada pesawat luar angkasa. Alien menyerang manusia di bumi secara individual.  Jika kita berbicara tentang alien yang tidak terlihat, sedangkan mereka bisa melihat kita, sepintas kita pasti akan teringat tentang film Predator. Bedanya, jika predator mendeteksi keberadaan manusia dari panas tubuh, alien di film ini mendeteksi manusia melalui konduktivitas terhadap listrik.

Dari segi cerita, setting Rusia adalah suatu nilai plus karena kebanyakan film alien bersettingkan di Amerika. Plotnya sendiri banyak lubang yang membuat kita kecewa karena banyak cerita yang bercelah dan terkesan dipaksakan sehingga sangat tidak realistis. Ditambah lagi efek CGI yang kesannya masih kasar. Di beberapa scene tampak sekali terjadi penggantian background yang terlalu kontras dengan objek atau subjek utama di depannya.

Adegan kejar-kejaran dengan alien sungguh menegangkan

Overall, film ini menarik dari segi ide, namun sang sutradara yang merupakan sineas pendatang baru dengan karir yang belum banyak, nampaknya perlu peningkatan dalam segala dalam memproduksi sebuah film yang berkualitas.

Behind the scene

Film berbujet $40 juta ini disutradarai oleh Chris Gorak, sineas yang pernah menjadi kru di film Fight Club (1999). Namun bukan nama Gorak yang menjadi jualannya, melainkan sang produser berdarah Kazakhstan bernama Timur Bekmambetov yang lebih terkenal ketika menyutradarai Night Watch (2004), Day Watch (2006), Wanted (2008).

Produser Timur Bekmambetov

Ini adalah film kedua Chris Gorak sebagai sutradara setelah sebelumnya menyutradarai film thriller Right at Your Door (2006). Aslinya Gorak adalah seorang sarjana arsitektur dan bekerja sebagai production designer. Awal karirnya di dunia perfilman adalah sebagai Art Director dan Production Designer yang akhirnya kini dia tertantang untuk mengisi kursi sutradara.

Sutradara Chris Gorak

Behind The Scene

Chris Gorak bersama aktor Emile Hirsch dan Max Minghella

Kata Gorak mengenai film The Darkest Hour, “What was really attractive about this project to me was, it kind of flips the genre on its head (in making) daytime scarier than night.” Sebuah tantangan terbesar ketika membuat film ini adalah ketika membuat adegan tanpa aktivitas manusia dibeberapa tempat di Rusia yang kesehariannya dipadati oleh para wisatawan misalnya Lapangan Merah Rusia dan perpustakaan Lenin. Proses syuting di Lapangan Merah (Red Square) memakan waktu hingga lima hari dengan menutup seluruh akses yang menuju ke Lapangan Merah tersebut. Bahkan dikabarkan syuting sempat terhenti selam tiga minggu karena ada kebakaran hutan.

Timur Bekmambetov mengatakan bahwa pemerintah Rusia sendiri tidak peduli berapa lama syuting akan berlangsung dan ceritanya akan seperti apa asalkan seluruh proses pengambilan gambarnya dilakukan sesuai peraturan yang ada maka tidak akan ada masalah.

Film ini dibuat dalam versi 3D. Namun yang menarik di sini adalah bahwa teknologi 3D yang digunakan tidak sama dengan teknologi film Avatar, melainkan hasil modifikasi para kru dengan memakai lensa Panavision dan kamera Sony F35 dengan rig Element Technica kamera yang berat totalnya mencapai 100 kg. Timur Bekmambetov berkata, “Its about suspense because you don’t see the aliens and they might be next to you and you don’t know. 3D for suspense movies is very effective.”

Kamera Sony F35

Rig Element Technica

Did you know?

“The Darkest Hour” adalah istilah yang dipopulerkan Perdana MenteriInggris, Winston Churcill, untuk menggambarkan perjuangan Inggris ketika harus sendirian berhadapan dengan Jerman di Perang Dunia II.

Teknologi “Faraday Cage” yang di bangun sebagai perlindungan dari serangan alien adalah teknologi yang benar-benar ada di kehidupan nyata. Teknologi ini ditemukan oleh Michael Faraday pada tahun 1983 yang berfungsi sebagai pelindung aliran listrik tingkat tinggi. Biasanya untuk melindungi alat-alat elektronik dari sambaran petir.

Disain Faraday's Cage dalam film

Faraday's Cage dalam kehidupan nyata

Quotes

Sean: Team work makes the dream work.

Nibiru dan Kesatria Atlantis by Tasaro

My rating: 3 of 5 stars

detail info:

Hardcover, 692 pages
Published December 2010 by Tiga Serangkai
ISBN13: 9789790843462
edition language: Indonesian
original title: Nibiru dan Kesatria Atlantis

Review

Novel ini berkisah di tahun 13.359 Sebelum Masehi. Tokoh sentralnya bernama Dhaca Suli yang tinggal di sebuah daerah bernama Kedhalu. Kedhalu sendiri terbagi menjadi Kedhalu Utara dan Kedhalu Selatan. Masing-masing penduduknya memiliki ciri khas yang berlainan. Kedhalu utara lebih cenderung modern, beradab dan berpendidikan sekaligus pusat pemerintahan. Sedangkan Kedhalu Selatan adalah kebalikannya sehingga tak jarang penduduk Selatan menjadi cemooh para penduduk Utara. Dhaca Suli adalah anak Kedhalu Selatan.

Pada masa itu seluruh penduduk Kedhalu memiliki kemampuan kekuatan super yang disebut sebagai pugabha. Kekuatan super ini bermacam-macam dan setiap orang hanya memiliki satu bakat pugabha saja. Untuk mengetahui jenis pugabha apa yang dimilikinya, seseorang harus bisa memunculkan bakat dan melatihnya di sebuah sekolah bernama bephomany. Ada delapan macam pugabha yang bisa dikuasai orang Kedhalu yaitu: penguasa satwa, penguasa kekebalan, penguasa kekuatan raksasa, penguasa ketakkasatmataan, penguasa tirai gaib, penguasa ruang dan waktu, penguasa luka dan penguasa unsur alam.

Dhaca Suli adalah orang Selatan dengan tipikal tingkat pendidikan pugabha yang tidak setinggi orang Utara. Orang Selatan memang lebih unggul dalam bentuk kekuatan fisik daripada pendidikan. Ayahnya, Wamap Suli, adalah orang yang keras dan berharap Dhaca bisa lebih rajin lagi menuntut ilmu untuk mengembangkan pugabha-nya. Dhaca Suli yang sering membolos memiliki pugabha yang sangat jauh tetinggal dibandingkan teman-teman seusianya.

Namun kemalasan Dhaca Suli pun akhirnya luruh juga ketika menyadari kehancuran Kedhalu di depan mata. Konon menurut ramalan, setiap 5.013 tahun sekali Nibiru, sang raja pembawa kehancuran, akan datang. Di lain pihak negeri-negeri di luar Kedhalu juga ingin memanfaatkan kekuatan para penduduk pugabha ini untuk saling mengalahkan satu sama lain.  Dhaca Suli, sebagai orang Selatan, bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya juga bisa sehebat orang-orang Utara bahkan mampu menyelamatkan Kedhalu dari kehancuran.

Lika-liku nasib akan dihadapi Dhaca Suli dalam mengasah kemampuan pugabha-nya. Masa lalu tentang dirinya yang bahkan dia sendiri tidak tahu ternyata menyimpan sejarah yang luar biasa. Di lain pihak konspirasi di internal Kedhalu pun akan membuat perkara menjadi semakin pelik. Persahabatan dan cinta akan dikorbankan dalam pertempuran-pertempuran yang menentukan masa depan Kedhalu.

Did You Know?

Meskipun setting dan bahasa Kedhalu dari tokohnya serasa sangat asing dan susah diucapkan, Tasaro nampaknya memasukkan unsur-unsur yang sangat Jawa dalam novel ini. Bahkan memasukkan sedikit ajaran agama di salah satu Bab nya. Mungkin pembaca banyak yang tidak tahu bahwa ada makna-makna tersembunyi di balik kata-kata yang sulit diucapkan itu.

Sebelumnya mari kita pelajari dulu 20 aksara jawa kuno yang terdiri dari 4 baris dan masing-masing baris terdapat 5 aksara:

  1. Ha Na Ca Ra Ka
  2. Da Ta Sa Wa La
  3. Pa Da Ja Ya Nya
  4. Ma Ga Bha Tha Nga

Tasaro membuat sebuah enkripsi memakai aksara-aksara itu untuk membuat bahasa Kedhalu. Caranya: pasangkan baris pertama dengan baris ke tiga yang sudah dibalik urutan aksaranya. Sedangkan baris ke dua dipasangkan dengan baris ke empat yang sudah dibalik. Maka urutan pasangannya menjadi:

Ha=Nya; Na=Ya; Ca=Ja, Ra=Dha, Ka=Pa

Da=Nga; Ta=Tha; Sa=Bha; Wa=Ga; La=Ma

Dengan catatan: huruf vokal menyesuaikan dengan kata-katanya (misal Hi=Nyi; Hu=Nyu)

Mari kita ambil beberapa contoh kata:

“Bephomany” sama dengan “sekolah”

“Dhaca Suli” sama dengan “Raja Bumi”

“Pugabha” sama dengan “Kuwasa atau Kuasa”

“Nyamanny” sama dengan “Allah” (aksara Ha bisa dibaca tanpa huruf H, mosal Ha dibaca A, Ho dibaca O)

Silakan mencoba untuk menerjemahkan kata-kata lain yang bertebaran di buku ini.

Sedangkan muatan religius tersembunyi di mantra-mantra berbahasa Kedhalu yang biasa di ucapkan di Kuil Perak (baca bab 26: Kuli Perak) yang berbunyi: “Nyabhamalunyamanyipul” yang jika di terjemahkan menggunakan kode aksara jawa walikan menjadi “Assalamualaikum”. Dan jawaban dari ucapan itu adalah “Ganyamanyipulbhamal” yang artinya “Waalaikumsalam”.

Muatan Islam yang lain ada di Bab 7: Pedhib Mata Perak yang menjelaskan bahwa setiap lekuk pedhib (pedhib artinya keris) memiliki makna. Ada 6 lekukan pedhib memiliki enam makna yang sama dengan enam Rukun Iman.

Opini

Novel ini menarik terutama jika kita melihat tagline “Buku Aksi Fantasi Atlantis Pertama di Indonesia” membuat kita tertarik apalagi bagi yang telah membaca cerita tentang asumsi bahwa benua Atlantis itu ada di Indonesia. Namun sayang di buku ini bahasan tentang Atlantis belum begitu dominan karena setting tempatnya sepenuhnya di negeri Kedhalu. Sedangkan Atlantis ada di luar Kedhalu. Hal ini bisa dimaklumi karena Tasaro merencanakan seri Nibiru ini dalam pentalogi alias 5 seri untuk menyelesaikan kisah fantasi Atlantis ini.

Buku ini cukup tebal (690) halaman ditambah lagi sampul hardcover-nya yang menambah kokoh buku ini. Namun ada sedikit cacat yang saya lihat di semua cetakan novelnya, yaitu gambar sampul yang cetakannya bergeser di bagian tengah. Jika kita amati gambar cakar sabretooth akan terlihat seperti patah. Dari segi gambar sampulnya sendiri menegaskan bahwa novel ini layak dibaca oleh semua umur.

Ketika kita mulai membaca kisah-kisah di bab awalnya, kita seolah akan disajikan kisah-kisah yang mirip dengan kisah Nibiru ini. Bisa jadi Nibiru adalah gabungan antara kisah Avatar: The Legend of Aang dan seri Harry Potter.

Satu kekurangan novel ini adalah penggunaan bahasa dan nama-nama yang sulit untuk dibaca baik itu nama orang, nama tempat atau beberapa istilah dalam bahasa sehari-hari masyarakat Kedhalu dan juga beberapa mantra untuk mengaktifkan pugabha. Namun setelah kita memahami enkripsi yang sudah dijelaskan di atas, kita akan menjadi lebih mudah memahami makna di balik kata atau nama-nama sulit itu. Akan tetapi, di beberapa tempat, nama-nama tokoh yang diterjemahkan dengan aksara jawa walikan itu justru akan membuat mood dari cerita lenyap seketika karena terkesan penamaan tokoh hanya dicomot asal-asalan. Misalnya tokoh yang bernama “Nyithal Sadeth” yang berarti “Hitam Banget”, “Bhupa Supu” yang berarti “Suka Buku”, “Muwu Thedmamu” yang berarti “Lugu Terlalu” dan masih banyak lagi. Intinya: tidak usah mencoba menerjemahkan semua nama tokohnya jika tidak ingin mood dari cerita lenyap dengan cepat.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Steven Spielberg

Writers:  Lee Hall (screenplay), Richard Curtis (screenplay), Michael Morpurgo (novel)

Rated: PG-13 for intense sequences of war violence

Runtime: 146 min

Genre:  Drama | History | War

Separated by war. Tested by battle. Bound by friendship.

Review

Film ini bersetting di Devo, Inggris pada masa berkecamuknya perang Dunia I. Kisah film ini bermula pada acara pelelangan yang akhirnya memenangkan seorang petani tua bernama Ted Narracott (Peter Mullan). Kemenangannya membuatnya rela mengeluarkan banyak uang untuk menebus seekor kuda yang ditawarnya dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja Ted tidak membelinya dengan akal yang sehat karena dipengaruhi oleh minuman keras dan egonya untuk mengalahkan penawaran sang tuan tanah bernama Lyons (David Thewlis). Akhirnya kuda itupun terbeli tidak hanya membuat uangnya terkuras, tapi tentu saja tidak tidak sesuai dengan kebutuhan. Bahkan istri Ted, Rose Narracott (Emily Watson) dibuat geram dengan keputusan suaminya yang tanpa otak itu.

Rosie marah-marah ketika Ted membawa pulang kuda yang dibelinya dengan sangat mahal

Namun di lain pihak, sang anak, Albert Narracott (Jeremy Irvine) tertarik dengan kuda itu. Dia merasa kuda tersebut sangat istimewa. Sekalipun belum terlatih, Albert berniat menjadikannya kuda kesayangannya dan menamakan kuda itu Joey. Terlebih ketika Lyons menagih uang sewa, sedangkan Ted sudah tidak punya uang lagi, Albert bertekad melatih kuda itu agar bisa membajak sebuah lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Usaha keras Albert pada awalnya dipandang sebelah mata  oleh Lyons bahkan oleh keluarganya sendiri. Namun karena ikatan batin antara Albert dan Joey, akhirnya yang dianggap mustahil pun terkabul juga. Joey berhasil menarik bajak dan membuat lahan itu siap ditanami.

Albert berusaha membuat Joey bisa membajak

Namun nasib nyatanya belum berpihak pada mereka. Karena cuaca buruk, tanaman yang ditanam di ladang itu rusak seluruhnya. Mau tidak mau untuk membayar uang sewa, Ted menjual kuda itu kepada para tentara. Terlebih saat itu perang telah dimulai. Di sinilah awal dari petualangan sang kuda yang sangat heroik, mengharukan dan mendebarkan terjadi di sepanjang sisa plot film. Albert berusaha mendapatkan kuda itu lagi dengan mendaftar sebagai relawan perang, namun tidak berhasil karena faktor usia. Dia berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan kuda kesayangannya. Perang telah membuat mereka terpisah sangat jauh dengan petualangan masing-masing. Apakah mereka akan bertemu lagi satu sama lain?

Albert berusaha mencegah Joey dijual kepada tentara

Film ini sangatlah menyentuh. Menceritakan tentang ikatan batin yang begitu dalam antara sang kuda dengan pemiliknya. Sinematografi yang sangat istimewa mampu membuat mood film begitu terasa. Ditambah lagi adegan perang yang hampir mirip-mirip dengan adegan Saving Private Ryan. Unsur komedi juga dimasukkan di film ini. Adegan lucu dari kuda pintar ini cukup membuat penonton gemas. Alurnya sendiri cukup kompleks namun ringan. Begitu mengalir tanpa membuat penonton bosan. Sepanjang plotnya menghadirkan kisah-kisah yang inspiratif dan motivatif. Membuat penonton mendapatkan ‘sesuatu’ setelah menonton film ini.

Behind The Scene

Ini adalah film pertama Spielberg yang bersetting Perang Dunia I. Setelah bekerja sama dengan Peter Jackson untuk membuat The Adventures Of Tintin, tampaknya Spielberg masih memiliki proyek lain untuk menutup kiprahnya di tahun 2011 lalu. Yang artinya, 2 film garapan Spielberg yang dirilis di tahun yang sama.

From the moment I read Michael Morpurgo’s novel War Horse, I knew this was a film I wanted DreamWorks to make… Its heart and its message provide a story that can be felt in every country.” —Steven Spielberg

Sutradara Steven Spielberg

Film ini memakan waktu 64 hari pengambilan gambar dan memakan biaya total $90 juta. Lokasi pengambilan gambar di Dartmoor, Devon, Inggris yang dimulai sejak bulan Agustus 2010.

Film ini menceritakan tentang seekor kuda pintar yang selama pembuatannya, diperankan oleh 14 kuda yang dilatih selama 3 bulan.

Spielberg sedang memberikan pengarahan di lokasi syuting

Adegan ketika Joey terjerat kawat berduri, kawat yang digunakan terbuat dari karet dan sebagian adegannya menggunakan kuda animatronic.

Dalam proses syutingnya, Michale Morpurgo mendatangi lokasi syuting untuk melihat secara langsung visualisasai yang diadaptasi Spielberg dari novelnya. Morpurgo menyatakan bahwa dirinya sangat puas dengan proyek Spielberg ini.

Did You Know?

Film ini disutradarai oleh Steven Spielberg yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Michael Morpurgo. Novel tersebut pertama kali dipublikasikan tahun 1982 dan mendapatkan penghargaan runner up di Witebread Book Award 1982. Film ini dirilis pada tahun yang sama dengan film Spielberg yang lain yaitu The Adventures Of TintinKedua film itu sama-sama mendapatkan nominasi di ajang penghargaan Academy Award namun gagal memenanginya. Kejadian nominasi dua film ganda tanpa memenangi satupun Oscar ini juga pernah dialami oleh Spielberg ketika tahun 2006. Ketika itu Spielberg mendapatkan nominasi untuk film Munich dan War of the Worlds. Nampaknya Spielberg tidak bisa mengulangi lagi kejayaannya ketika dia mendapatkan kemenangan di dua filmnya sekaligus pada tahun 1994 untuk film Schindler’s List (menang 7 Oscar) dan Jurassic Park (menang 3 Oscar).

Michael Morpurgo penulis novel War Horse

Novel War Horse

War Horse adalah film tentang kuda yang mendapatkan nominasi Oscar sejak 8 tahun terakhir. Film kuda sebelumnya yang mendapatkan nominasi adalah Seabiscuit.

Untuk menjaga kerahasian proyek ini, sepanjang pengambilan gambarnya, film ini memakai nama sandi Dartmoor yang merupakan nama sebuah tempat di Devon, Inggris, tempat syuting paling dominannya.

Michael Morpurgo dan istrinya menjadi cameo dalam film ini yaitu dalam adegan pelelangan di awal film.

Penghargaan yang diterima fim ini:

Awards and date results announced Category Name Result
84th Academy Awards 26 February 2012 Best Picture Steven Spielberg, Kathleen Kennedy Nominated
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Sound Editing Richard Hymns, Gary Rydstrom Nominated
Best Sound Mixing Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson, Stuart Wilson Nominated
62nd American Cinema Editors Awards 18 February 2012 Best Edited Feature Film – Dramatic Michael Kahn Nominated
American Film Institute Awards 11 December 2011 Film of the Year 2011 Won
65th British Academy Film Awards 12 February 2012 Best Film Music John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Production Design Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Sound Stuart Wilson, Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson,Richard Hymns Nominated
Best Special Visual Effects Ben Morris, Neil Corbould Nominated
Broadcast Film Critics Association Awards 2011 12 January 2012 Best Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound Nominated
Best Score John Williams Nominated
Central Ohio Film Critics Association Awards 5 January 2011
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
Chicago Film Critics Association Awards 19 December 2011 Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
69th Golden Globe Awards 15 January 2012 Best Motion Picture – Drama[152] Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Houston Film Critics Society Awards 14 December 2011
Best Film Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
32nd London Film Critics’ Circle Awards 19 January 2012 British Actor of the Year Peter Mullan Nominated
Young British Performer of the Year Jeremy Irvine Nominated
59th Motion Picture Sound Editors Golden Reel Awards 19 February 2012 Best Sound Editing: Sound Effects and Foley in a Feature Film Won
Best Sound Editing: Dialogue and ADR in a Feature Film Nominated
National Board of Review Awards 1 December 2011 Best Film Nominated
23rd Producers Guild of America Awards 2011 21 January 2012 Best Theatrical Motion Picture Kathleen Kennedy, Steven Spielberg Nominated
16th Satellite Awards 18 December 2011 Best Motion Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Adapted Screenplay Lee Hall, Richard Curtis Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Visual Effects Ben Morris Nominated
Best Film Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound (Editing & Mixing) Andy Nelson, Gary Rydstrom, Richard Hymns, Stuart Wilson,Tom Johnson Nominated
Southeastern Film Critics Association19 December 2011 Top Ten Film Won
Washington D.C. Area Film Critics Association 5 December 2011
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated

Quotes

Michael: The food in Italy is good, yeah?
Gunther: [nods] Yes, very good.
Michael: And the women?
Gunther: Not as good as the food…
Michael: From eating too much of the food?
——————————————————————————————————
Rose Narracott: [to Ted] I might hate you more, but I’ll never love you less.
——————————————————————————————————

Director: Cameron Crowe

Writers: Aline Brosh McKenna (screenplay), Cameron Crowe(screenplay), Benjamin Mee (book)

Rated: PG for language and some thematic elements.

Runtime: 124 min

Genres: Comedy | Drama | Family

Review

Film ini mengisahan tentang Benjamin Mee (Matt Damon) yang berusaha mengasuh kedua anaknya Dylan (Colin Ford) dan Rosie (Maggie Elizabeth Jones) setelah istrinya meninggal. Di mata anak-anaknya, Benjamin adalah ayah yang supeldan berjiwa petualang mengingat dia bekerja sebagai wartawan kolumnis di sebuah surat kabar. Namun dibalik itu semua, Benjamin dihadapkan pada kenangan-kenangan masa lalu bersama istrinya. Inilah perkara tersulitnya ketika Benjamin diharuskan berdamai dengan masa lalunya.

Benjamin Mee dan keduan anaknya Dylan dan Rosie

Sebagai single parent Benjamin merasa sedikit kewalahan mengasuh kedua anaknya. Ditambah juga kewalahan menghadapi beberapa wanita yang mencoba mendekatinya. Akhirnya Benjamin memutuskan untuk keluar dari pekerjannya agar bisa lebih meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Setelah mantap dengan keputusan itu, Benjamin justru makin terbebani oleh kelakuan Dylan yang membuat ulah di sekolah yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah.

Penat dan hampir putus asa dalam mencoba mengasuh dan  menyenangkan kedua anaknya membuat Benjamin berpikir untuk memulai sesuatu dan suasana yang baru. Terlebih lingkungan rumahnya juga sudah tidak bisa dipakai untuk menenangkan pikiran lagi. Maka dia berniat untuk membeli sebuah rumah. Beberapa tawaran rumah dipelajarinya satu per satu dengan melihat spesifikasi dari catatan seorang agen dan mengunjungi lokasi secara langsung. Namun tidak ada rumah yang dirasa cocok, kecuali satu. Yaitu rumah yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah kebun binatang terlantar dengan koleksi binatang yang masih lumayan lengkap.

Meskipun Benjamin tidak memiliki latar belakang keilmuan dalam merawat binatang, dia tetap saja membelinya karena Rosie merasa senang tinggal di situ. Namun Dylan merasa semakin terasing ditempat yang jauh dari pusat kota. Inilah yang akan menjadi salah satu konflik dalam sisa alurnya.

Rosie sangat suka bermain dengan binatang

Mereka tidak sendiri. Ada sekelompok tim para petugas pemeliharaan kebun binatang di sana dengan keahlian masing-masing. Benjamin bersama tim itu telah berkomitmen untuk membangun kembali kebun binatang itu dengan memanfaatkan seluruh harta dan tabungan Benjamin. Bahkan kakak laki-lakinya Duncan Mee (Thomas Haden Church) menganggap Benjamin terlalu gegabah dalam menggunakan seluruh tabungan untuk membangun kembali kebun binatang tersebut. Dan apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Pada suatu titik Benjamin benar-benar kehabisan dana. Bahan beberapa teman satu timnya mulai memboikot karena mengetahui bahwa Benjamin tidak punya uang lagi. Bagaimana Benjamin menghadapi kisah dilematis ini? Inilah konflik besar yang akan membuat cerita ini menjadi makin kompleks.

Tim pemelihara kebun binatang

Duncan Mee dan Benjamin Mee

Sebagai film drama komedi yang bertemakan keluarga, film ini akan menghadirkan cerita-cerita lucu seputar kehidupan Benjamin beserta anak-anaknya yang kadangkala dibalut dengan kisah haru. Alur cinta romantis juga dihadirkan dalam subplot-subplot yang akan membuat film ini tidak membosankan. Siapa lagi kalau bukan kisah cinta antara Dylan dengan Lily (Elle Fanning) serta Benjamin dengan Kelly Foster (Scarlett Johansson)

Tokoh Dylan dan Lily

Kelly dan Benjamin

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh Cameron Crowe yang sudah dikenal lewat karya filmnya Vanila Sky (2001), Jerry Maguire (1996) dan mendapatkan piala oscar lewat Almost Famous (2000).

Sutradara Cameron Crowe

Sebelum peran Kelly Foster jatuh ke tangan Scarlett Johanson, Amy Adams, Mary Elizabeth Winstead dan Rachel McAdams sempat menjadi kandidat untuk memerankan tokoh ini. Sedangkan kandidat untuk memerankan Benjamin Mee sempat jatuh pada Ben Stiller sebelum akhirnya dipegang oleh Matt Damon.

Sutradara Cameron Crowe mengarahkan Matt Damon

Sutradara Cameron Crowe sedang mengarahkan Maggie Elizabeth Jones, Colin Ford dan Matt Damon

Suasana Saat Syuting

Sesi Santai Para Aktor dan Sutradara di Sela-Sela Syuting

Beginilah cara mengatur adegan beruang kabur

Did You Know?

Film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama dan merupakan pengalaman hidup nyata dari Benjamin Mee yang memutuskan menggunakan tabungannya untuk membeli kebun binatang Dartmoor Zoological Park yang sudah tidak terurus di bagian barat daya Inggris.

Novel Memoar 'We Bought A Zoo' oleh Benjamin Mee

Meskipun film ini diangkat dari pengalaman nyata dari Benjamin Mee,tapi ada beberapa perbedaan antara film dengan kenyataan. Diantaranya adalah:

-Kebun binatang dalam film bernama Rosemoor Wildlife Park dan berlokasi di California, sedangkan aslinya bernama  Dartmoor Zoological Park  di bagian barat daya Inggris.

-Di filmnya, istri Benjamin Mee, Katherine,  meninggal sebelum dia membeli kebun binatang. Aslinya meninggal kebn binatang itu dibeli dan ditinggali.

-Di filmnya ada adegan beruang lepas. Kenyataannya yang lepas adalah jaguar.

-Anak-anak Benjamin ketika kisah itu dialami seharusnya lebih muda (empat dan enam tahun) daripada tokoh di filmnya.

-Anak-anak Benjamine Mee dalam film bernama Dylan dan Rosie, sedangkan aslinya adalah Milo dan Ella.

Benjamin Mee dan anak-anaknya Milo dan Ella

Benjamin Mee besert anak-anaknya yang asli menjadicameo di akhir film sebagai pengunjung yang mengantri di urutan pertama ketika kebun binatangnya dibuka untuk pertama kalinya.

Penghargaan untuk film ini:

Phoenix Film Critics Society Awards
Year Result Award Category/Recipient(s)
2011 Nominated PFCS Award Best Live Action Family Film

Quotes

Benjamin Mee: ” You know, sometimes all you need is twenty seconds of insane courage. Just literally twenty seconds of just embarrassing bravery. And I promise you, something great will come of it ”

 

More movie reviews klik here

Director:  George Miller

Stars: Elijah WoodRobin Williams and Pink

Rated: PG for some rude humor and mild peril

Runtime: USA: 100 min

“Every step counts”

Review

Sekuel kedua dari kawanan penguin menggemaskan ini hadir lagi untuk mengulangi kembali kesuksesannya. Jika dahulu menceritakan tentang penguin bernama Mumble (Elijah Wood) yang tidak bisa bernyanyi layaknya kawanan penguin yang lain namun punya kelebihan piawai dalam bermain tap dance, kali ini Mumble  dan Gloria (Pink) dihadapkan tantangan untuk membuat anaknya, Erik (Ava Acres), menjadi anak yang percaya diri. Erik sendiri merasa susah sekali untuk menari. Bahkan ketika dia mencoba menari untuk pertama kalinya, teman-temannya justru menertawakan. Kejadian inilah yang membuat Erik menjadi inferior.

Mumble mengajari Erik menari

Erikpun berusaha menyendiri dan menjauhi kawanan yang lain karena merasa dirinya berbeda dengan kawanan sejenisnya yaitu kawanan jenis penguin Emperor. Bahkan dua temannya Bo (Meibh Campbell) dan Atticus (Benjamin Flores Jr.) tidak mampu menghiburnya. Di saat yang sama, ada seekor penguin bernama Ramon (Robin Williams) yang berbeda diantara mereka, yaitu jenis penguin  Adélie yang merasa tidak cocok di tempat itu dan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari kawanan Adélie yang lain. Maka kepergian Ramon nampaknya menjadi fasilitas bagi Erik yang ingin menjauh dari kawanannya juga. Maka tidak heran, kepergian Ramon diekori oleh Erik dan dua temannya.

Ramon diikuti Erik, Bo dan Atticus

Tempat tujuan Ramon adalah area yang dihuni sekumpulan penguin Adélie. Di sanalah Erik dan dua temannya juga dibawa. Mereka benar-benar merasakan suasanan yang berbeda. Di sanalah mereka bertemu dengan satu penguin yang memiliki kelebihan dibandingkan seluruh jenis penguin yang pernah ada yaitu: penguin itu bisa terbang. Penguin terbang itu bernama Sven (Hank Azaria). Akhirnya Erik mendapatkan sosok idolanya. Erik juga ingin mempunyai kelebihan yang dimiliki oleh Sven untuk keluar dari rasa inferiornya.

“If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.” (kata Sven kepada Erik)

Sven yang bisa terbang memberi nasihat pada Erik

Tentu saja ketika Erik menghilang, Mumble begitu panik mencari anaknya tersebut. Akhirnya Mumble memutuskan mencari dengan mengandalkan jejak mereka. Tidak begitu sulit untuk menemukan mereka, Mumble pun tiba di pemukiman penguin Adélie. Dengan susah payah Mumble membujuk Erik untuk pulang. Akhirnya berhasil setelah Erik dibujuk oleh idolanya, Sven.

Di saat yang sama, kita akan dihadirkan juga plot cerita lain dengan tokoh binatang dan lingkungan yang lain pula. Tersebutlah dua udang kecil bersahabat bernama Will (Brad Pitt) dan Bill (Matt Damon) yang memiliki masalah yang sama dengan para penguin yang merasa inferior itu. Mereka berusaha meninggalkan kawanan karena merasa mereka berada di tingkat terendah rantai makanan. Obsesi mereka adalah: ingin berada di puncak rantai makanan. Kedua tokoh ini tidak begitu penting dari sisi alur ceritanya tapi keberadaan mereka begitu lucu dengan petualangan-petualangan yang menegangkan di laut dan di darat. Pada suatu waktu peran mereka juga akan dipertemukan dengan para penguin yang tentu saja, tidak pernah ada interaksi di antara kedua pihak.

Will dan Bill yang berusaha menjadi penguasa puncak rantai makanan dengan mecoba memakan seekor anjing laut

Ketika Mumble membawa pulang Erik dan kedua temannya, terjadi suatu bencana runtuhnya beberapa lapisan es yang mengakibatkan kawanan penguin Emperor menjadi terisolir oleh tebing es yang sangat tinggi dan susah dipanjat. Itu artinya hanya Mumble dan ketiga anak penguin itulah yang berada di luar dan dianggap sebagai harapan untuk menyelamatkan ribuan rekannya yang terisolir. Lantas bagaimana seekor penguin dewasa dan 3 penguin kecil akan menyelamatkan seluruh anggota kawanan yang lain untuk menghadapi masalah ini? Jelas mereka juga harus menghadapi masalah kelaparan dari ribuan kawanan terisolir itu.

Mumble dan tiga anak-anak akan berusaha menyelamatkan kawanan lainnya

Film ini mengandung pesan moral bahwa sekecil apapun usahanya, jika kita memiliki keyakinan, pasti akan berpengaruh. Hal ini digambarkan dengan jelas lewat tokoh Will dan Bill, dua ekor udang kecil yang seolah tidak punya kemampuan signifikan, ternyata usahanya akan membuat pengaruh yang sangat besar. Kemudian ada juga pesan moral mengenai persahabatan dan balas budi tanpa memandang perbedaan. Ini digambarkan dengan jelas dari adegan saling bantu membantu antara jenis penguin yang berbeda bahkan dari jenis hewan yang berbeda juga.

Seperti halnya ciri khas film sekuel, sudah tentu film ini juga tidak akan jauh-jauh dari plot installment sebelumnya. Masih dengan iringan-iringan musikalnya tentunya. Hanya saja, nilai jual film sekuel kedua ini akan lebih nendang karena menggunakan teknologi 3D.

Behind The Scene

Sekuel ini masih disutradarai oleh George Miller, sama dengan sekuel pertamanya. Miller sebelumnya merupakan sineas dari film terkenal Mad Max.

Sutradara George Miller

Beberapa pengisi suaranya antara lain:

Robbin Williams pengisi suara Ramon dan Lovelace

Elijah Wood Pengisi Suara Mumble

Pink pengisi suara Gloria

Hank Azaria pengisi suara Sven

Brad Pitt pengisi suara Will dan Matt Damon pengisi suara Bill

Did You Know?

Inilah wujud mereka di dunia nyata:

Penguin Emperor dewasa dan anaknya
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Sphenisciformes
Family: Spheniscidae
Genus: Aptenodytes
Species: A. forsteri
Binomial name: Aptenodytes forsteri

Penguin Adélie
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Order: Sphenisciformes
Family: Spheniscidae
Genus: Pygoscelis'
Binomial name: Pygoscelis adeliae

Udang kecil (Krill)
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Subphylum: Crustacea
Class: Malacostraca
Superorder: Eucarida
Order: Euphausiacea

Penghargaan yang diterima film ini:

Award Category Winner/Nominee Result
As Seen By Awards Best Animated Film Won
Best Original Song “Bridge of Light” by Pink Won
Best Performance by an Actor in a Voice-Over Role Elijah Wood Won
Brad Pitt Nominated
Best Performance by an Actress in a Voice-Over Role Pink Nominated
Ava Arces Nominated
Central Ohio Film Critics Association Awards Actor of the Year Brad Pitt (also for The Tree of Life and Moneyball) Nominated
Houston Film Critics Society Awards Best Animated Film Nominated
San Diego Film Critics Society Awards Best Animated Film Nominated
Satellite Awards Best Original Song “Bridge of Light” Nominated

Ketika sang Sutradara George Miller ditanya soal apakah dia akan melanjutkan membuat sekuel ketiganya, maka dia menjawab,

“If you put a gun to my head and said, ‘You have to come up with a story for Happy Feet 3,’ I’d say shoot me. I would have no idea. I really would have no idea. The stories creep up on you. You just have to allow the stories to come, and then they get in like little ear worms in your head and they won’t go away. If that happens and we’ve got the energy, we’ll do a third one. If it doesn’t happen, it doesn’t happen. That’s the only way you can do it. It has to be authentic. I really wanted to make this film better than the first one. Otherwise, at my age, what’s the point? You really want to make it better. If something comes up that’s really exciting and I can convey that enthusiasm to other people, then there would be a third one.”

Director:  Martin Scorsese

Writers: John Logan (screenplay), Brian Selznick (book)

Runtime: USA: 126 min

Rated: PG for mild thematic material, some action/peril and smoking

One of the most legendary directors of our time takes you on an extraordinary adventure.

Review

Film ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield) yang tinggal di sebuah stasiun kereta api dan bekerja sebagai perawat jam-jam di menara-menara jam besar di sana. Pasca meninggal ayahnya (Jude Law), Hugo tinggal bersama pamannya yang mabuk, Claude Cabret (Ray Winstone). Dari pamannya itulah ilmu perawatan jam didapatnya. Namun tak lama kemudian pamannya juga meninggal dan memaksa Hugo hidup sendiri dan berkeliaran di sekitar stasiun. Tentu saja hidup sendirian di sekitar stasiun bukan perkara mudah karena Gustav (Sacha Baron Cohen), sang penjaga satsiun selalu mengejar-ngejar para gelandangan tanpa orang tua yang berkeliaran di situ.

Hugo dengan pekerjaannya merawat jam

Gustav sang penjaga stasiun

Sebelum meninggal, ayah Hugo meninggalkan sebuah catatan yang berisi tentang seluk beluk komponen dari sebuah robot yang bisa menulis sendiri. Namun robot itu nampaknya rusak karena ada beberapa komponen yang hilang termasuk anak kunci yang berbentuk hati. Maka dengan bekal catatan peninggalan ayahnya itu, Hugo berniat untuk memperbaiki robot yang dinamakan automaton itu karena merasa ada sesuatu yang hendak disampaikan ayahnya lewat robot itu. Kemampuannya sebagai perawat jam adalah kemampuan yang sudah lebih dari cukup untuk bisa memperbaiki robot rusak itu. Namun dia harus mencari beberapa komponen yang hilang. Dia mencarinya dengan jalan mencuri. Seorang penjual mainan bernama Georges (Ben Kingsley) lah sasaran Hugo untuk melengkapi apa yang dia cari. Tentu saja dia semakin kucing-kucingan dengan Gustav sang penjaga stasiun.

Hugo dan ayahnya yang sedang memperbaiki robot automaton

Akhirnya Georges adalah rival  bagi sang tokoh sentral, Hugo. Buku catatan peninggalan ayahnya dirampas ketika dia tertangkap setelah ketahuan mencuri beberapa komponen dari toko mainannya. Dari sinilah petualangan akan dimulai. Petualangan yang membawa sebuah bentuk persahabatan dengan Isabelle (Chloë Grace Moretz) yang merupakan anak angkat Georges. Bersamanya Hugo akan berusaha mengambil kembali buku catatan itu yang nantinya akan semakin membuka twist-twist alur yang mengungkap kebenaran dan jati diri para tokohnya. Terlebih setelah automaton itu sudah kembali bekerja.

Hugo dan Georges

Hugo dan Isabelle

Film ini tidak hanya menyajikan petualangan anak laki-laki yang berusaha mengejar obsesinya. Melainkan ada kisah romansa yang manis pada tokoh-tokoh lainnya. Dengan teknologi 3D dan sinematografi yang luar biasa, film ini menghadirkan suasana kota Paris khususnya stasiun kereta api Gare du Nord di tahun 1931 yang begitu memukau. Inilah film keluarga yang sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh sineas beralis tebal Martin Scorsese. Dalam kiprahnya yang telah genap 18 tahun, inilah film pertamanya yang berrating PG dan penggunaan efek 3D. Bahkan Sutradara film Titanic James Cameron juga memuji penggunaan efek 3D nya yang dirasa sangat maksimal. Dalam menyutradarai sinematografi yang berformat 3D nya, Scorsese selalu menggunakan lensa kaca mata 3D yang dipasangkan (clip on) pada kacamata biasanya.

Sutradara Martin Scorsese

Martin Scorsese sedang mengarahkan Asa Butterfield dan Chloë Grace Moretz. Lihatlah Kacamata 3D clip on yang dipasangkan di kacamata konvensionalnya.

Martin Scorsese sedang mengarahkan aktor Ben Kingsley

Did You Know?

Martin Scorsese dikenal sebagai sineas yang sering berpasangan dengan aktor Leonardo Dicaprio. Sebut saja Gangs of New York (2002), The Aviator (2004), The Departed (2006), dan Shutter Island (2010).

Adegan pembuka yang memperlihatkan kota paris tahun 30-an dan berakhir di stasiun kereta api adalah adegan paling pertama diambil dan didisain hingga memakan waktu selama satu tahun untuk menyelesaikannya. Dibutuhkan 1000 unit komputer untuk merender setiap frame yang telah di-shoot.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul The Invention of Hugo Cabret’ karangan Brian Selznick yang pertamakali dipublikasikan tahun 2007.

Brian Selznick pengarang novel 'The Invention of Hugo Cabret'

Novel 'The Invention of Hugo Cabret'

Penghargaan yang dimenangkan film Hugo dalam ajang penghargaan Acadeny Award 2012:

Best Cinematography: Robert Richardson

Best Art Direction: Dante Ferretti & Francesca Lo Schiavo

Best Sound Editing: Philip Stockton & Eugene Gearty

Best Sound Mixing: Tom Fleischman & John Midgley

Best Visual Effects: Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossman & Alex Henning

Dalam film ini terdapat tokoh Georges Méliès. Tokoh ini bukanlah tokoh fiktif dan memang pernah hidup di abad 19-20. Ia dikenal sebagai pencipta banyak efek dalam film layar lebar pada saat itu. Dia juga seorang yang menggunakan teknik multiple exposure, time-lapse photography, dissolves dan pembuatan film berwarna dengan cara menmberikan cat secara manual pada pita filmnya. Karya terkenalnya adalah film yang menceritakan tentang penerbangan sebuah roket ke bulan yang akhirnya roket itu menancap di permukaan bulan yang digambarkan sebagai sebuah wajah yang memiliki mata hidung dan mulut. Roket itu menancap pada bagian mata kanannya.

salah satu adegan terkenal dalam film "A Trip To The Moon (1902)"

Detektif Conan Vol. 66Detektif Conan Vol. 66 by Gosho Aoyama

My rating: 4 of 5 stars

ISBN13: 9786020021461
edition language: Indonesian
original title: 名探偵コナン 66 (Detective Conan #66)

Kisah pada seri ini diawali dengan kelanjutan kasus di seri sebelumnya. Yaitu tentang kasus pembunuhan Shusaku Akashi dalam keadaan duduk di kursi yang dipaku ke lantai dan dihadapannya membentang tembok yang di cat dengan warna merah. Benarkah ini adalah pesan yang ditinggalkan oleh korban menjelang kematian? Ataukah ada twist lain yang ternyata tidak sesederhana seperti yang diperkirakan semua orang? Di seri ini akan ada penyelesaian dari kasus tersebut. Triknya kompleks tapi tidak sulit dipahami. Penyelesaiannya cukup menarik dengan memanfaatkan tipu daya untuk memancing pelakunya.

Kasus kedua nampaknya akan diwarnai kisah cinta masa lalu yang bersemi kembali. Kali ini yang akan menjadi tokoh asmara sentralnya adalah detektif Shiratori.

Detektif Shiratori

Dikisahkan detektif Shiratori kembali terkenang akan kejadian di masa kecilnya ketika dia bertemu dengan seorang anak perempuan yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Namun karena terpisah, Shiratori tidak tahu lagi keberadaan dan identitas gadis kecil di masa lalunya itu. Di tengah kegalauannya, dia terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan yang akan berujung pada terbukanya kembali kenangan masa lalu yang menyebabkan perasaan dilematis ketika memecahkan kasus pembunuhan itu. Akankah Shiratori mampu menyelesaikan kasus itu dengan mengabaikan perasaannya? Jelas ending dari kasus ini akan berakhir mengejutkan. Hanya saja ada sedikit plot hole di kisah ini. Misalnya bagaimana sang pelaku memindahkan topi ke orang di sebelahnya tanpa ada seorangpun yang duduk di belakangnya menyadari hal itu?

Kasus ketiga adalah kasus yang melibatkan penyelidikan para detective boys (and girls) mengenai misteri gudang yang misterius. Salah seorang teman Mitsuhiko mengatakan bahwa dia menemukan sebuah gudang yang tadinya nampak berisi banyak sekali harta dan perabotan mewah. Dia melihatnya melalui jendela gudang yang letaknya di atas. Namun setelah diperiksa melalui pintu depan, ternyat gudang itu kosong. Menurut mitos, ada monster gudang rakus yang memakan seluruh harta yang di taruh di gudang itu. Penyelidikan ini akan seru karena conan akan bersaing dengan teman-temannya sendiri untuk memecahkan kasus itu. Analisisnya ternyata akan mengantarkannya pada kasus yang lebih besar daripada sekedar trik yang ada dalam gudang itu sendiri.

Detective Boys (and gilrs)

Kasus keempat akan kembali menyajikan sedikit kisah asmara. Kali ini yang diceritakan adalah kisah cinta Kazuha dan Hattori.

Hattori dan Kazuha

Kisahnya dimulai ketika Kazuha berusaha menemukan seorang pemain tenis yang memesan sebuah jimat kepada Kazuha. Karena Kazuha tidak bisa menyerahkan jimat yang sudah dibuat untuk petenis itu, Hattori yang mengambilkannya dari tas Kazuha. Namun ternyata Hattori salah mengambil. Yang diserahkan justru jimat milik Kazuha yang menyimpan sedikit kenangan romantis di antara keduanya. Terang saja Kazuha ingin jimat itu kembali. Pencariannya justru akan mengantarkannya pada kasus penganiayaan terhadap sang petenis itu. Di sini juga ada beberapa plot hole diantaranya adalah cara analisis untuk menyaring tersangka yang nampaknya kurang masuk akal. Twistnya juga agak terasa kurang. Dan kisah cintanya tidak berakhir dengan romantis.

Kasus kelima adalah kasus yang akan bersambung di seri selanjutnyai. Yaitu tentang pembunuhan seorang wanita yang memakai kostum goth-lili. Tadinya dia terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah restoran. Namun karena terlalu lama, wanita itu keluar untuk ke toilet. Ketika orang yang ditunggunya datang, wanita berpakaian goth-lili itu malah tidak kembali lagi. Dan belakangan mayatnya ditemukan di sebuah toilet umum. Mari kita tunggu kelanjutan ceritanya di seri berikutnya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Michel Hazanavicius

Writer: Michel Hazanavicius (scenario and dialogue)

Stars: Jean DujardinBérénice Bejo and John Goodman

Rated: PG-13 for a disturbing image and a crude gesture

Runtime: 100 min

Review

Film ini luar biasa percaya diri untuk hadir dalam jajaran film-film box office  di seluruh dunia. Pasalanya, di era persaingan film-film berbujet besar dan tata spesial efek yang didukung teknologi 3D nya, film ini justru menyajikan sebuah suasana retro di tahun 20-an. Tidak tanggung-tanggung, sineas Michel Hazanavicius nampaknya membuat suatu gebrakan besar dengan menyajikan film yang bersetting tahun 1927 yang sudah pasti film di era itu adalah film bisu. Maka film ini adalah nostalgia. Sensasinya sama ketika anda menonton film Charlie Chaplin atau film bisu klasik lainnya. Teknik pengambilan gambar, properti, make up, efek hitam putih, kecepatan jalannya scene dan plot ceritanya sangat sempurna untuk menggambarkan keadaan pada masa itu. Hanya saja anda tidak akan melihat gambar yang noise  atau tanda scratch di filmnya.

Film ini menceritakan tentang seorang aktor yang sangat terkenal di masanya yang bernama George Valentine (Jean Dujardin). Karirnya sedang berada di puncak. Ketika dia menghadiri pemutaran film terbarunya, dia bertemu dengan wanita yang juga menjadi fansnya. Wanita itu bernama Peppy Miller (Bérénice Bejo). Sejak pertemuan itu, Miller menjadi bersemangat untuk mengikuti audisi di studio Kinograph, studio yang sama dengan tempat syuting Valentine. Usahanya tidak sia-sia. Miller diterima sebagai pemain figuran. Di situlah dia bertemu dengan Valentine yang akhirnya saling jatuh cinta. Miller dengan bimbingan Valentine ternyata sedikit demi sedikit mulai menunjukkan karir yang mulai naik. Dari hanya sekedar pemain figuran, naik ke peran-peran yang lebih utama.

Pertama kalinya Valentine bertemu dengan Miller

Konflik terjadi ketika dua tahun kemudian, industri film mulai menampakkan perkembangan ke arah modern yaitu mulai ditemukannya teknologi untuk membuat film bersuara. Maka pimpinan studio Al Zimmer (John Goodman) berniat untuk menghentikan produksi film bisu dan beralih ke film bersuara. Di sinilah kerir Valentine yang menjaga idealismenya sebagai aktor film bisu mulai terancam. Bahkan Valentine ingin membuktikan bahwa film bisu masih berjaya dengan mencoba membuat film bisu sendiri. Namun sayang, filmnya kalah bersaing dengan film bersuara yang ironisnya dibintangi oleh sang kekasih Peppy Miller. Keadaan diperburuk dengan ambruknya perekonomian negara.

Valentine mencoba membuat film sendiri

Di lain pihak, popularitas Miller justru semakin melambung membintangi film bersuara

Behind The Scene

Film ini dibuat hanya dengan bujet $12 juta. Sebuah ngka yang sangat kecil dibandingkan dengan film lain berteknologi tinggi yang bisa mencapai ratusan juta dolar. Film ini memang penuh kesederhanaan. Namun dilain pihak, Michel Hazanavicius benar-benar membuatnya dengan perencanaan sedetail mungkin. Dalam film berdurasi 100 menit ini, sama sekali minim dialog. Dialog-dialog pentingnya menggunakan tulisan yang ditampilkan di antara scene. Tapi film tidaklah sunyi karena Ludovic Bource berhasil menyajikan score yang bisa dibilang pemegang peranan penting dalam menghadirkan mood  dan suasana film. Dengan musik aransemennya, penonton mampu digiring ke emosi yang sama dengan apa yang di-plotkan di filmnya.

Sutradara Michel Hazanavicius

Michel Hazanavicius  memang memilih genre melodrama karena menurut riset, kebanyakan film Hollywood yang diproduksi di era tahun 20-an bergenre film melodrama.

Behind The Scene

Did You Know?

Tidak ada gambar yang di zoom di film ini. Karena jaman di mana cerita film ini terjadi belum ditemukan teknologi tersebut.

Sebenarnya film ini di shoot dengan gambar berwarna. Gambar hitam putih di dapat dari teknik editing.

Ketika Jean Dujardin diwawancarai saat berada di Red Carpet  acara penghargan BAFTA 2012, dia berkat abahwa syuting film ini hanya memakan waktu 35 hari.

Adegan tari yang dilakukan aktornya tidak menggunakan peran pengganti. Karena mereka telah dilatih dengan sangat berat selama pembuatan filmnya.

Film ini mendapatkan 5 penghargaan Oscar 2012 yaitu:

Best Picture

Best Director: Michel Hazanavicius

Best Actor: Jean Dujardin

Best Costume Design: Mark Bridges

Best Original Score: Ludovic Bource

Penghargaan Oscar 2012 untuk best actor: Jean Dujardin