Archive for the ‘Karya Sendiri’ Category

Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

Ternyata mitos itu benar adanya. Setelah aku berhasil menangkap bunga yang dilempar pengantin itu, kini aku bisa menikah paling cepat di antara rekan-rekanku. Dan perempuan yang aku nikahi itu, adalah si gadis pelempar bunga.

I

“Pak, Jaka boleh kuliah gak?” Jaka merasa sudah waktunya pertanyaan itu disuarakan. Masa penghabisan di bangku SMA sudah di depan mata. Sedangkan pertanyaan itu sudah dirumuskan oleh hatinya yang tak pernah nyata bersuara.

“Percayakan sama bapakmu ini, Jaka. Kamu gak perlu khawatir. Kamu memang harus kuliah.” Kata bapaknya. Senyum di sela kata-katanya itu selalu bisa menentramkan hati Jaka yang gulana.

“Memangnya duit bapak cukup?”

“Kamu harus percaya, pasti ada jalan. Harta orang tua gak bakal habis jika dipakai untuk membiayai pendidikan anaknya.”

“Dani bahkan sudah siap-siap duit ratusan juta, pak. Dia merasa gak yakin dengan kemampuannya. Biar duit yang bekerja katanya.”

“Kamu gak perlu mikir duit. Biar bapak yang mikir. Kamu rajinkan lagi belajarmu ya. Percayakan pada otak. Jangan pada duit.”

“Tapi otak Jaka dan otak Dani sama, pak. Dari dulu rankingnya juga selalu atas bawah. Mending kalau atas bawahnya di lima besar. Bapak kan tahu ranking jaka terbaik cuma di peringkat 23.”

“Otak kamu belum telambat untuk dibikin lebih pandai kan? Masih ada waktu Jaka. Itulah senjatamu. Sudah sana, buka bukumu!”

Semangat Jaka kembali tersulut. Dia betekad untuk bisa berkuliah di tempat bapaknya itu bekerja. Bapaknya sudah belasan tahun bekerja sebagai tukang parkir di fakultas Teknik di sebuah Universitas Negeri ternama. Mimpi-mimpi bapaknya agar anaknya bisa menjadi mahasiswa telah tertanam sejak bapaknya bekerja di lingkungan kampus. Tempat para intelektual itu menuntut ilmu. Mimpi itu juga tumbuh di benak Jaka sejak kecil.

II

“Dapet berapa jadinya, Dan?”

“Tujuh ratus lima puluh pa. Ga bisa kurang lagi.” Jawab Dani.

“Udah naik lagi ya?”

“Iya pa. Makin gila-gilaan aja harganya. Tahun lalu, untuk fakultas Kedokteran, tujuh ratus lima puluh itu udah kisaran maksimal. Masih bisa turun. Tapi tahun ini, jumlah segitu udah minimalnya. Maksimalnya sampai delapan ratus.”

Papa Dani geleng-geleng kepala mencerna nominal sebanyak itu.

“Tapi dijamin aman kan?”

“Dijamin aman pa, DP nya bisa sepuluh persen dulu. Sisanya kalau udah diterima. Sistemnya juga aman kok pa. Berlapis gitu. Jadi Dani sendiri gak tahu siapa yang bakal jadi Joki ntar. Dani cuma ketemu sama makelarnya.”

“Ya sudah, pokoknya kamu atur sendiri. Jangan sampai kena tipu lho ya.”

“Beres, pa.”

Di mata Dani, sudah terbayang fakultas Kedokteran yang sudah dimimpikannya sejak sepuluh persen DP itu diserahkan. Mimpi yang menurut Dani harus dikejar meski hal itu berimbas pada papanya yang harus mengeluarkan dana tujuh ratus juta rupiah. Toh papanya juga gak sulit mengumpulkan uang sejumlah itu.

Sepuluh persennya sudah kepegang. Katanya dalam hati. Uang muka sepuluh persen dirasa sebagai cicilan nasib baik juga.

III

Ada  enam orang di ruangan tertutup itu. Si koordinator sudah memulai koordinasinya sejak lima belas menit yang lalu.

“Kita masih memakai sistem tahun lalu karena belum ada sistem yang lebih baik dari itu.” kata koordinator, “Jadi nanti ada lima master yang akan mendampingi pasien.”

Randa tahu betul istilah ‘master-pasien’ itu. Master adalah sebutan untuk joki dan pasien adalah sebutan untuk klien. Sudah tahun ketiga dia jadi ‘master’. Sudah tahu betul seperti apa ‘sistem tahun lalu’ yang dimaksud koordinator.

“Meski kalian sudah pada ngerti, pada hapal, saya perlu review lagi biar kalian tambah mantap.” Kata koordinator, “Terutama untuk Dado sama Tengku yang baru tahun lalu jadi master.”

Dua orang yang disebut namanya manggut-manggut. Yang lain tetap menyimak.

“Kalian berlima  nanti ikut masuk ke ruang ujian sebagai peserta ujian resmi. Alat komunikasi sudah siap terpasang rapi seperti saat technical meeting kemarin sore. Kalian kerjakan soal-soal itu sebaik-baiknya. Lalu kirimkan jawaban ke saya. Jawaban yang terkumpul di saya akan saya analisis. Kesamaan jawaban terbanyak saya anggap sebagai jawaban yang benar. Jawaban itulah yang akan saya kirimkan ke pasien. Tentu saja pasien juga telah dilengkapi alat komunikasi tersembunyi. Untuk mengantisipasi adanya perbedaan kode soal, tolong tuliskan juga kode soal yang kalian pegang. Jadi saat saya nanti tiba-tiba dihadapkan dengan lima jawaban yang seluruhnya berbeda, itu artinya kalian memegang lembar soal yang berbeda. Solusinya gini, nanti akan saya suruh si pasien menuliskan kode soal yang sesuai dengan kode soal salah satu master senior. Meskipun berbeda dengan soal yang dipegang pasien, itu gak masalah karena komputer hanya men-scan kode soal yang ditulis di lembar jawaban. Komputer tidak akan mencocokkan antara lembar jawaban dan lembar soal yang dibawa pasien. Beberapa tahun lalu saya pakai cara seperti itu dan berhasil. Hal itu boleh dilakukan daripada kita tidak profesional dengan memberikan jawaban yang asal atau perkiraan saja. Ada yang mau ditanyakan dulu?”

Tidak ada suara, satu dua menggelengkan kepala.

Koordinator melanjutkan, “Pasien kita tahun ini total tujuh orang. Untuk pembagian fee, meskipun sudah saya tegaskan di awal, sekedar mengingatkan lagi saja, bahwa lima puluh persen total uang yang masuk adalah bagian saya. Sedangkan lima puluh persen sisanya dibagi rata untuk kalian berlima. Bagian saya besar karena risiko yang saya tanggung juga besar. Saya ujung tombak. Saya orang yang langsung berhubungan dengan pasien. Mereka mengenal saya. Sedangkan kalian para master, tetap terjaga identitasnya karena mereka tidak akan pernah bertemu muka dengan kalian. Ada yang keberatan?”

Tidak ada suara. Air muka mereka menyetujui.

“Sedangkan bagian kalian berlima,” lanjut koordinator, “akan dibagi sama rata. Tidak peduli mana master senior mana yang junior. Sekian briefing dari saya. Sesi diskusi saya buka.”

Beberapa orang mulai diskusi dengan sesamanya. Randa tidak butuh lagi diskusi. Dia sudah meluluskan belasan pasien sepanjang kariernya. Dialah master senior.

IV

Seorang pria tambun berkacamata duduk di belakang meja kantor dengan papan nama yang berisi lebih banyak huruf titel dibandingkan dengan huruf namanya sendiri. Bardi namanya. Tanpa nama belakang. Titel itulah yang dipakai sebagai senjata pencalonannya menjadi dekan dua tahun yang lalu. Dan kini dia amat sangat menikmati singgasana tertinggi di lingkungan fakultas tesebut.

Namun hari itu, dahi Bardi berkerut. Hatinya abu-abu. Pikirannya juga sedang letih mengangkat beban masalah. Ditatapnya pesawat telepon di mejanya itu rapat-rapat. Perlu waktu lama bagi Bardi untuk memutuskan mengangkatnya dan menekan serangkaian nomor.

Nada sambung terputus oleh suara seorang pria di seberang sana.

“Ya, halo…” kata Bardi, “Ini saya, Pak Bardi dekan fakultas Teknik. Kalau kamu jadi mau diluluskan semester ini…” Nada kalimatnya semakin canggung.

“…bawakan saya lima puluh ya.” Lanjutnya.

Sesaat kerutan di dahinya mengendur saat Bardi meletakkan gagang telepon. Abu-abu di hatinya sedikit luruh. Dan beban pikiran yang berat itu mendadak sedikit ringan oleh kesepakatan lima puluh juta  pertamanya. Dicentangnya satu nama mahasiswa paling atas yang baru saja ditelpon. Masih ada empat belas lain yang nantinya bisa membantu mengangkat beban hatinya. Beban bernominal tujuh ratus lima puluh juta yang merupakan tiket untuk Dani, anaknya yang kepingin masuk fakultas Kedokteran.

V

Di seberang sana, orang yang ditelepon Bardi tersebut ingin mengumpat menghujat dekan korup itu tapi apalah daya jika dirinya sebenanrya juga hampir sama saja dengan Bardi. Di dunia ini yang terpenting adalah uang.

Untunglah fee DP dari koordinator sudah turun. Pikir Randa sambil menyisihkan lima puluh juta untuk dekan busuk itu. Akhirnya dia bisa lulus juga semester ini.

VI

“Halo, bisa bicara dengan Pak Bardi?” kata seorang pria paruh baya dari sebuah wartel.

“Oh, ini Pak Bardi ya?” lanjutnya ketika sudah mendengar jawaban orang yang diteleponnya, “Sebelumnya maafkan atas kelancangan saya, pak. Begini, saya ingin minta tolong dan minta kerjasamanya dari Pak Bardi…”

Pria itu diam sejenak. Berpikir untuk merangkai kata-kata yang layak.

“Pak, saya tahu betul siapa anda… Saya juga sudah tahu kebusukan Bapak. Saya ada buktinya. Saksinya juga banyak. Mahasiswa-mahasiswa itu cerita semuanya ke saya. Bapak gak punya pilihan lain selain membantu saya. Kalau tidak, saya akan perkarakan kasus Bapak.”

Terdengar suara mencak-mencak di lubang dengar gagang telepon.

“Permintaan saya sederhana Pak. Tidak sebanding dengan pertaruhan nama baik Bapak.”

Vokal yang meninggi dan alunan umpatan kembali meluncur dari lubang dengar. Kemudian terdiam. Tanda kesepakatan tak tertulis telah disetujui dengan terpaksa.

“Loloskan anak saya Pak. Buat dia diterima di fakultas Bapak. Bebaskan dia dari semua biaya pendidikan. Saya rasa itu hal sepele jika dibandingkan dengan kebusukan Bapak.”

Suara di seberang kembali angkat bicara tanda menyetujui. Sekali lagi dengan tepaksa tentunya.

Pria penelepon yang berprofesi sebagai tukang parkir di fakultas Teknik itu mengakhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Senyumnya terkembang membayangkan Jaka, anaknya, kelak bisa berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Negeri ternama di kota itu. 

Follow my other blog:

klik di sini: PERI GIGI BERBAGI

Tentang apa blog ini?

Blog ini berisi tentang artikel-artikel kesehatan gigi populer. Diambil dari penelitian-penelitian ilmiah dan disajikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin hingga bisa dipahami oleh semua kalangan.

Di sini kawan-kawan juga bisa sharing dan konsultasi gratis langsung diasuh oleh drg Rifqie Al Haris. Untuk tetap mendapatkan update artikel-artikelnya, jangan lupa follow blognya atau:

follow twitternya: @PeriGigiBerbagi

“like” fb nya: Konsultasi Kesehatan Gigi Online

seperti apa artikel2nya?

Preview artikel 1

preview artikel 2

Preview artikel 3

Preview artikel 4

Pengen mbaca ulasan lengkapnya?
Silakan kunjungi blog Peri Gigi Berbagi

[Cerpen] Rencana

Posted: Mei 13, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

“Fira, dia jadi bisa datang kan malam ini?” tanya mama sambil menyetrika gaun yang hendak dipakainya perdana malam nanti. “Soalnya mama udah reserve untuk lima orang. Papamu juga udah berhasil melobi rekannya. Mereka bisa menyediakan posisi yang enak buat kita berlima.”

“Jadi dong ma, kebetulan hari ini dia jaga shift siang kok. Malamnya udah free.” Jawab Fira sambil meraih handuk mandinya. “Hebat juga ya Papa, bisa punya koneksi orang dalam. Kok ga bilang dari dulu sih? Fira kan jadi ga perlu repot-repot ngantri kalau ada film bagus.”

“Ya ga enak juga dong Ra. Meski Pak Kusno itu sobat papa waktu kuliah, malu lah kalau telalu sering minta tolong. Kalau bukan untuk perayaan ulang tahun adikmu, ga mungkin lah papamu minta tolong sama Pak Kusno yang super sibuk itu.”

“Iya juga ya ma. Uda dikasi tempat aja uda spesial banget lho ma. Tau ga ma, film The Avengers yang mau kita tonton tu emang kelewat terkenal lho. Sejak dari pemutaran perdana, Fira nitip sama temen yang bisa ngantriin dari sebelum bioskop dibuka. Eh, tetep ga kebagian juga tiketnya.”

“Iya, mama tau itu film juga udah ditunggu-tunggu sama adikmu. Pokoknya mama sama papa udah nyiapin kejutan besar-besaran. Kita ga sekedar dapet tiket dan tempat duduk yang enak aja lho. Kabarnya Pak Kusno bahkan memberi kita tiket teater IMAX. Gratis.”

“Hah! Yang bener ma?” mata dan mulut Fira melebar tanda tak percaya. Fira tahu teater IMAX adalah teater dengan teknologi terbaru yang kualitas gambarnya di atas kualitas tiga dimensi biasa. Dan mereka akan menonton film terkenal itu ditempat duduk strategis, tanpa perlu mengantri dan tentu saja dengan kualitas teater IMAX yang belum seminggu dibangun. Ditambah satu kesempurnaan penutup: semuanya gratis!

“Wah…wah…Fira mendadak merasa dianaktirikan ma.”

“Ya nggak dong Fira sayang.” Kata mama sambil tesenyum. “ Ini sekaligus sebagai hadiah buat adikmu yang udah berhasil diterima di UGM tanpa jalur tes. Nanti papa mama juga mau kasih hadiah buat Fira kalau bisa lulus semester ini dengan IP di atas 3,5 ya.”

“Janji ya ma.”

Mama mengangguk masih dengan senyumnya.

“Terus, mama udah pesen tempat dinner dimana?”

“Lihat saja nanti ya Fira. Mama juga udah koordinasi sama yang punya restoran. Pokoknya bakal ada kejutan juga di sana. Dia teman mama waktu SMA. Kamu ingat sama tante Linda?”

“Oh, iya ma. Tante Linda yang nasi gorengnya bikin Fira ketagihan itu kan?”

“Iya, nanti kita dinner di salah satu restoran terbaik punya Tante Linda.”

“Restoran yang mana? Tante Linda kan punya banyak.”

“Lihat saja nanti Fira. Pokoknya kejutan spesial deh.”

“Kan bukan Fira yang harus dikejutkan ma. Yang ulang tahun kan bukan Fira…”

Samar-samar mereka mendengar pintu depan dibuka kemudian di tutup kembali.

“Sssst… itu adikmu udah pulang.” Kata mama sambil berbisik.  “Udah jangan dibahas lagi. Buruan mandi sana.”

Fira yang dari tadi telah memegang handuk segera bergegas ke kamar mandi.

“Mamaaaaa,,,,coba liat ini…hiiiiiii.” teriak Fatma, adik Fira, sambil menunjukkan kawat gigi barunya. “Fatma pilih warna karetnya hijau tosca ma, keren kan.”

“Kok adek pilih hijau? Kan jadi kayak ada bayam nyelip.” Ledek mama.

“Mana ada bayam warna hijau tosca ma. Tapi gigi Fatma uda mulai ngilu ni ma.”

“Ya sabar dong sayang, katanya mau giginya dirapiin sebelum masuk kuliah.”

“Iya ma, biar Fatma ga malu. Giginya ga boleh berantakan kalau mau kuliah di kedokteran gigi, hehehe.” Kata fatma sambil nyengir setengah sengaja menampakkan kawat giginya yang hijau tosca. “O iya ma, tadi biaya kawat giginya didiskon 50% lho. Kata dokter Rifqie, itu untuk hadiah ulang tahun Fatma.”

“Oya kah? Sudah bilang terima kasih ke dokter Rifqie?”

“Waduh, lupa ma. Lagian wajar aja dong ma kalau dokter Rifqie kasih diskon. Selain karena Fatma ulang tahun, Fatma kan calon adik iparnya, hehehe.”

“Fatma ga boleh gitu. Nanti dokter Rifqie kan diundang dinner juga, pokoknya nanti adek harus bilang terimakasih ke dia ya. Dokter Rifqie juga yang nanti bakal nemenin Fatma ke UGM untuk melihat-lihat calon kampus kamu itu.”

“Iya, nanti Fatma bilang terimakasih ke dokter Rifqie. Katanya dia bakal sampai sini jam enam. Oiya ma, sisa ongkos kawat giginya ga perlu dibalikin ke papa kan? Buat Fatma aja ya. Lumayan buat traktir temen-temen.”

“Iya, boleh. Papa kan udah kasi duit itu sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi terserah Fatma mau dipakai untuk apa.”

“Horeee… jadi ga sabar pengen nunjukin gigi Fatma ke papa. Jam berapa papa pulang ma?”

“Sekarang papa masih di Jakarta. Nanti jam empat papa telepon kalau udah mau pulang.”

Fatma menengok ke jam dinding. Jam tiga lebih sepuluh. Masih lama. Pikirnya.

“Fatma nyicil packing barang bawaan yang mau dibawa ke Jogja aja sana. Kita besok berangkat naik pesawat pagi-pagi. Biar ga buru-buru. Agenda kita hari ini sampai malam soalnya.”

“Oke ma.” Fatma ngeloyor ke kamar dan berkutat dengan beberapa pakaian dan tas ranselnya.

Mama tersenyum melihat anaknya yang kini sedang bertambah umurnya. Kebanggaannya juga berlipat ketika mendapatkan kabar bahwa Fatma diterima di FKG UGM. Tangannya sudah berhenti memainkan setrikaan sekarang. Gaun biru itu sudah licin dan tergantung anggun di hanger. Mama memandangi dengan tersenyum. Membayangkan dirinya berada di dalam balutan gaun itu nanti malam.

Untuk urusan perencanaan, mama nampaknya sudah mantap. Rencana itu sudah dipikirkannya dengan papa sejak seminggu yang lalu. Mama mengingat-ingat daftar agenda yang tersusun rapi di pikirannya. Mencoba mendata kembali dan mencari apa saja yang kurang. Mama mulai dengan agenda tedekat. Suaminya dipastikan akan menelepon jam empat. Biar Fatma yang mengangkatnya. Dibuat seolah menelepon dari Jakarta padahal sebenarnya  sudah ada di depan rumah untuk memberikan kejutan buat Fatma. Suaminya juga sudah menyiapkan kejutan sendiri yaitu replika Captain America yang sudah beberapa bulan yang lalu diidamkan Fatma. Suaminya sampai harus order ke luar negeri untuk mendapatkan replika yang Fatma mau. Kemudian jam enam, sudah dipastikan pacar Fira, dokter Rifqie, bisa datang. Artinya restoran dan bioskop yang di booking untuk lima orang bisa terisi lengkap. Kemudian Tante Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Konfirmasi terakhir sudah dilakukan mama sejak tadi siang dan Tante Linda bilang kue ulang tahun dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Kata Tante Linda lagi, ga cuma Fatma yang akan terkejut, pasti yang lain juga bakal terkejut karena Tante Linda juga mempersiapkan kejutan kecil lainnya. Dinner spesial ini juga nantinya akan dipakai untuk lebih mengenal dokter Rifqie. Prosedur standar untuk lebih mengenal calon menantu. Selesai dinner agenda selanjutnya adalah nonton The Avenger. Film yang sangat dinantikan Fatma sejak pemutarannya perdana empat hari yang lalu namun tidak pernah kebagian tiketnya. Pak Kusno sudah mengirimkan kartu free pass via pos yang tiba di rumah kemarin siang. Mama maklum karena Pak Kusno tidak mungkin punya waktu untuk menyerahkannya sendiri.

Semua sudah beres. Pikir mama sambil senyum-senyum sendiri. Mama tersenyum meskipun tahu bahwa agenda malam ini akan membuat mereka semua kecapekan. Dan besok pagi, masih ada agenda lain yaitu berangkat ke Jogja untuk melihat-lihat kampus Fatma sekaligus mencari info kos-kosan.

Lamunan mama teputus oleh dering telepon di ruang tengah.

“Biar Fatma yang angkat ma.” Teriak Fatma sambil berlari ke ruang tengah. “Itu pasti papa.”

Mama melihat jam dinding. Masih jam setengah empat. Baguslah kalau suaminya bisa pulang lebih awal.

“Maaa… dicari pak Suryo.” Teriak Fatma dari uang tengah. Mukanya agak kecewa karena orang yang menelepon bukan papa.

Pak Suryo adalah atasan suaminya di kantor. Haduh, jangan-jangan papa harus pulang telat. Keluh mama dalam hati.

“Halo, selamat sore Pak Suryo.” Kata mama mengambil alih gagang telepon.

“Sore, bu.” Kata Pak Suryo di seberang sana.

“Iya, ada apa pak?”

“Begini bu, saya mau memberitahukan, bahwa…pesawat yang ditumpangi suami anda…hilang kontak sejak satu jam yang lalu. Mohon ibu bersabar dan tetap berdoa…”

Kata-kata Pak Suryo berikutnya sudah tidak dapat dicerna oleh akal sehatnya lagi. Tiba-tiba rasa sesak itu melanda hati mama. Pikirannya tak lagi terorganisir. Dan matanya, begitu kabur karena membendung air mata

Tanggal 9 Mei 2012. Ternyata Tuhan telah memiliki serangkaian rencananya sendiri sejak pukul 14.33.

Jogjakarta, 13 Mei 2012

Rifqie Al Haris

*Mengenang kembali peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Supejet 100 di Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012. Pesawat tersebut terbang pukul 14.12 dan hilang kontak pukul 14.33. Turut berduka bagi mereka dan kerabat-kerabat mereka yang harus rela menangguhkan rencana-rencana hidupnya untuk tunduk pada rencana Tuhan.

Aku pesan kebaya spesial ini, aku pakai untuk kali pertama, di hari pernikahanmu, sayang.

Aku cantik sekarang. Aku begitu perempuan dengan balutan kebaya ini sekarang. Namun balutannya tak mampu membalut hatiku yang meretak saat mata ini harus melihatmu berdiri di pelaminan dengan wanita yang kau pilih.

Kau memilihnya, sayang. Tak apa, itu keputusanmu. Kamu tahu yang terbaik untuk dirimu meski hal itu menjadikan hal yang terburuk bagiku. Lima tahun kita pacaran adalah anugerah untukku, sedangkan kamu menginginkan anugerah itu terhentikan sebulan yang lalu. Dengan luka, aku merelakanmu meski aku telah mengorbankan kehormatanku untukmu.

Aku tahu kau butuh wanita yang lebih sempurna. Tidak seperti diriku, yang baru setahun yang lalu kudapatkan kewanitaan itu. Itupun demi kamu.

I

“Kayaknya aku mulai mencintai sosok yang aku tulis deh.” Kata Rana, seorang novelis kepada Safa, editornya.

“Itu gila Ra, simpan imajinasi gilamu untuk novel berikutnya aja yah.” Jawab Safa yang sedari tadi sibuk membaca sesuatu dari notebook-nya di seberang meja Rana.

“Nggak Fa, aku serius. Tokoh yang aku tulis ini begitu ideal. Lima bulan aku nyelesein novel ini, rasanya aku mulai cocok dengan dia.”

“Sinting. Tentu saja ideal, tokoh itu kamu yang bikin. Kamu yang mengaturnya untuk bisa jadi tokoh ideal. Kamu yang melahirkan. Kalau kamu jatuh cinta, lantas apa namanya? Dibilang cinlok juga bukan. Lebih cocok dibilang psikopat. Mana ada orang yang jatuh cinta pada hasil pemikirannya sendiri?”

“Entahlah, mungkin juga aku memuja daya khayalku sendiri. Tapi lihatlah, lima bulan aku membangun karakternya. Membangun kisah-kisahnya. Menciptakan pola berpikirnya. Aku beri dia konflik, intrik dan masalah. Kuciptakan juga jalan keluar dan solusi untuk itu semua. Aku buat dia bisa menyelesaikannya dengan bijak. Ya, itu memang jalan pikirku sendiri. Karangan fiktif dari kreativitas otakku sendiri. Tapi ada suatu chemistry jika melihat kembali dirinya sebagai sosok yang utuh. Setelah novel ini selesai, aku bukan lagi melihat sebagai lembaran-lembaran hasil penciptaan suatu ide. Tapi lebih dari itu, sosok itu menjelma menjadi individu. Menjadi seseorang yang utuh. Seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta.”

Sekilas  Safa melihat ada wajah serius di air muka Rana. Itu muka jatuh cinta, itu nada bahasa orang yang kasmaran. Kata-katanya serius dan itu cukup untuk membuat rikuh Safa yang hendak mengejeknya lagi.

“Ra, kamu lagi kangen sama Jo ya?” Safa teringat betapa Rana dan Jo adalah pasangan yang pernah telihat begitu serasi, begitu mesra dan sangat klop dalam segala hal. Namun tak ada yang mengerti alasan apa yang membuat Jo meninggalkan Rana begitu saja.

“Ngawur kamu Fa. Jangan sebut nama itu lagi deh.” Kata Rana sewot, “ Aku bukan mau cari pelarian atau pelampiasan. Toh aku juga belum mau nyari cowok lagi. Apalagi cowok yang nyata secara fisik. Kayaknya lebih enak kalau aku mencintai tokoh yang aku bikin sendiri.”

Aku makin ga memahamimu, Ra. Kata Safa dalam hati. Kayaknya kamu beneran lagi kangen sama Jo deh.

“Kamu pasti susah memahamiku Fa.” Sahut Rana.

Ups, segitu kerasnyakah kata hatiku barusan?

“Gini Fa, ibarat ada seseorang yang nge-fans sama tokoh kartun. Inget ga, bahkan waktu kamu kecil, jamannya masih suka lihat Sailormoon, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu naksir sama Mamoru Chiba si tuxedo bertopeng.”

“Ya ampun Ra, namanya juga masih anak-anak. Jangan samakan dong.”

“Oke…oke… mungkin kamu ga pernah tahu berapa banyak remaja-remaja yang masih suka lihat kartun. Banyak di antara mereka yang naksir sama tokoh-tokoh kartun, sebut saja Shinichi Kudo atau Ran Mouri. Bahkan kamu mungkin juga pernah dengar yang lebih umum lagi. Coba kamu lihat wanita-wanita paruh baya yang masih mengoleksi boneka Barbie. Beberapa di antara mereka malah naksir sama Ken. Yang lebih ga masuk akal lagi, ada segelintir orang yang terang-terangan naksir sama sosok piala Oscar yang katanya sangat tampan dan macho. Bahkan beberapa pria dewasa naksir sama patung Liberty.”

“Iya, mereka adalah kumpulan orang-orang psikopat jablay Ra. Tapi berjanjilah kamu mendadak segila itu sebelum kontrak PR novel trilogimu yang kurang 2 seri lagi itu selesai.” Otak Safa sudah makin berkabut dan makin sulit menangkap secercah cahaya dari penjelasan perasaan Rana. “Tapi menurutku mereka masih lebih waras dibanding kamu Ra.”

“Maksudmu?” Dahi Rana berkerut. Tanda bahwa gantian kepalanya yang berkabut.

“Mereka mencurahkan cintanya keluar Ra. Setidaknya mereka bisa menumpahkan cinta itu ke sesuatu. Sedangkan kamu, sama saja mencintai dirimu sendiri. Itu manifestasi paling parah dari penyakit narsis. Atau jangan-jangan kamu menderita gejala awal Schizophrenia.”

“Aku sudah menyelesaikan novelku. Awalnya di dalamnya adalah ide-ide kecil. Terpisah-pisah. Lalu aku susun ide itu untuk membentuk suatu karakter. Ibarat seorang guru yang mengajari muridnya yang tak tahu apa-apa. Si guru memasukkan ide-ide yang disebut ilmu kepada si murid. Membuat si murid menjadi ideal dalam takaran standar si guru. Akhirnya ketika si murid telah mencapai intelegensi ideal, si murid bukan lagi kumpulan ide-ide dari si guru melainkan sudah menjadi satu individu terpisah yang utuh. Di titik itulah orang akan memaklumi jika si guru mulai jatuh cinta pada sosok individu si murid yang kini telah ideal di matanya.”

“Oke, cukup dengan curhatan kisah cintamu yang abstrak itu. Seminggu lagi, taruh naskah novelmu itu di mejaku. Sementara aku mau konsentrasi untuk menyiapkan peluncuran Antologi Cerpenmu itu dulu. Udah di kejar deadline nih. Oiya, ingat, aku ga mau kisah novelmu itu berlebihan. Ngerti kan maksudku? Jangan sampai kamu memaksakan alur. Hanya gara-gara kamu jatuh cinta sama tokoh sentralnya, lantas kamu bikin nasibnya selalu beruntung. Itu ga realistis.”

“Tenang Fa, kamu ga perlu meragukan kemampuanku. Aku yakin kita masih bisa mencetak best seller lagi. Negara ini masih suka dengan format novel berseri. Toh aku jatuh cinta setelah novel itu selesai. Bukan saat ditengah aku menulis. Aku jamin ide cerita dan alurnya masih ori.”

II

“Fa, sebagai penulis aku mulai berpikir ni.”

“Sebentar, tentang apa ni? Bukan tentang kisah cinta Schizophrenic itu lagi kan?” muka Safa sudah skeptis.

“Ayolah Fa, dengarin aku dulu deh. Jangan pasang muka macam detektif ketemu penjahat gitu dong.” Rengek Rana.

“Baiklah, tapi biarkan otakku bekerja bebas ya. Kamu tahu aku lagi sibuk.” Sambil terus saja membaca setumpuk naskah Antologi Cerpen Rana.” Biarkan otakku menyeleksi mana yang masih bisa dicerna dan membuang bagian yang aku ga ngerti. Aku lagi males berpikir. Otakku lagi ga bisa dibilkin multitasking.

“Tenang Fa, aku tahu kok kemampuan otakmu. Aku usahakan menyusun bahasa yang paling sederhana.”

“Sialan!” Safa mulai sewot hingga pensil yang dipegangnya kini langsung melayang ke arah jidat Rana.

“Auw! Sialan kamu Fa, untung ga nancep. Bisa-bisa kamu kehilangan pekerjaan kalau aku kehilangan kemampuan berpikirku.”

“Udaaah buruan ceritanya.” Kata Safa ketus.

“Setelah aku pikir-pikir,” Rana mulai bercerita, “dengan latar belakangku sebagai penulis, aku sadar bahwa aku bisa membuat dunia sesukaku. Menciptakan tokoh dengan berbagai macam kisah di dalamnya dan aku memegang semua takdir-takdir mereka. Aku bisa membuat mereka saling jatuh cinta, patah hati, membenci atau bahkan bisa saling membunuh.” Rana berhenti sebentar agar Safa bisa mencerna dengan baik.

“ Oke, sejauh ini aku masih bisa memahami. Lalu apa yang kamu cemaskan?”

“Aku khawatir, dengan otoritas macam itu, kita ternyata hanyalah bagian kecil dari cerita fiksi. Apa kamu pernah berpikir seperti itu Fa? Bahwa kita hanyalah tokoh fiktif dari seorang penulis lain di luar dunia kita.”

Safa terdiam sepenuhnya dari aktivitasnya. Berpikir. Sedangkan Rana juga terdiam untuk memberi waktu agar ide yang baru saja dilontarkan itu mengendap dalam benak Safa.

“Dua tahun aku menghadapi ide-ide luar biasa lewat cerpen-cerpenmu membuatku tebiasa untuk menghadapi kegilaan apa yang akan kamu lontarkan selanjutnya.” Kata Safa. “Tapi pemikiranmu barusan jauh lebih gila dari biasanya. Karena kamu secara ga langsung juga mengusik keberadaanku. Duniaku. Jika kamu hanya wujud dari khayalan seorang penulis, itu artinya aku juga ga lebih dari sekedar tokoh pelengkap untuk kisahmu. Bukankah begitu?”

“Ah, jangan terlalu pesimis Fa. Belum tentu aku tokoh utamanya kan? Tapi melihat kedekatan kita, aku yakin jika tepaksanya aku menjadi tokoh sentral, kamu ga mungkin berstatus figuran.”

“Oke, nampaknya penjelasanmu itu masih bisa aku cerna. Otakku juga ga mual-mual amat untuk memuntahkan idemu barusan. Soalnya kalau kita memang sekedar tokoh kecil dari imajinasi seorang penulis, itu justru bisa menjelaskan keabstrakan jalan pikirmu dan alur hidupmu.”

“Maksudmu gimana Fa?” air muka Rana nampaknya bertambah antusias ketika Safa memberikan respon yang dia harapkan.

“Gini Ra, kalau memang benar kita ini hanya tokoh cerita khayalan, aku yakin kita sedang berada dalam suatu cerpen. Bukan novel. Aku yakin benar itu. Alasannya, balik lagi ke kisah cintamu yang absurd  itu Ra. Jo ninggalin kamu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kamu ga tahu alasannya, apalagi aku. Itu tandanya kita berada dalam kisah cerpen. Kalau novel, kamu pasti sudah tau alasannya dong Ra. Novel punya banyak ruang untuk menjelaskan secara detail. Tapi cerpen begitu pendek. Ga ada tempat untuk menceritakan detail kisah cintamu sama Jo.”

“Masuk akal Fa, kita ditulis sebagai cerpen Rana dan Safa oleh penulis yang mungkin saja begitu bodoh, kehabisan ide atau sedang malas untuk membelokkannya menjadi cerita novel. Terlebih lagi kamu dengan cepat bisa menyetujui ide gilaku ini kan? Tanpa konflik dan perlawanan sama sekali. Lalu pertanyaannya, siapakah yang menciptakan kisah kita Fa? Siapa yang mengarang cerpen Rana dan Safa sekaligus yang membuat aku tergila-gila sama tokoh karanganku sendiri? Karena itu juga termasuk pola pikir gila yang hanya bisa diciptakan oleh seorang penulis dengan otoritas penuh terhadap hidupku.”

Sesaat mereka terdiam, saling memandang. Berusaha menyelami pikiran masing-masing sekaligus menyelami pikiran satu sama lain. Ada suatu diskusi tak kasat mata di antara keduanya.

“Yang jelas si penulis ga mungkin jauh-jauh dari kehidupan kita Fa.” Kata Rana memecah keheningan yang singkat itu.

“Tapi ga mungkin kamu mencurigai diri sendiri, aku atau Jo. Karena kita berada dalam satu realitas cerita yang sama. Nampaknya kecurigaanku tinggal dia seorang deh.”

“Ha? Siapa Fa? Tumben otakmu cerdas kali ini. Buruan jelaskan.”

“Tentu saja Ra. Otakku nampaknya harus dibikin cerdas secepat ini karena kita di dalam cerpen. Nampaknya kita sudah di penghujung cerita. Oke, kalau gitu aku kasih tahu. Tapi ini baru kecurigaan. Belum tentu benar.”

“Iya, siapa?” Rana tak sabar.

“Tokoh karanganmu yang kamu cintai Ra.”

“Hah! Mana bisa? Jelas-jelas aku yang menciptakan dia.”

“Katamu si penulis itu punya otoritas penuh terhadap tokoh yang ditulisnya kan? Aku curiga, si penulis sengaja membuat kamu menulis tentang dirinya Ra. Bagimu itu hanya kisah fiktif. Tapi justru kamulah tokoh fiktif yang sedang menuliskan biografi tentang si penulis.”

“Hmmm.” Rana mengangguk-angguk. “Cukup membingungkan tapi masuk akal. Dialah satu-satunya yang berada di luar dunia kita. Bisa jadi dia yang menyamar. Itu artinya, si penulis kita ini narsis juga ya Fa. Dia menciptakan tokoh fiksi bernama Rana dan Safa untuk menuliskan kisah biografinya sekaligus membuatku jatuh cinta padanya. Padahal mungkin saja dialah yang mencintaiku. Bukankah begitu?”

“Hahaha nampaknya sang pencipta kita ini adalah penulis yang kesepian Ra. Tapi jangan Ge-Er dulu dong. Kita ga tahu apa isi di otaknya. Bisa jadi kita sepenuhnya fiktif. Maksudku, kita sama sekali bukan suatu proyeksi emosional dari sang penulis. Murni karangan. Dengan kata lain, kita bukan tokoh sentral Ra. Tapi hanya figuran alis pelengkap.”

“Malangnya nasib kita ini ya Fa, hahaha.” Sejenak mereka tertawa bersama melepaskan seluruh ide gila mereka.

“Lalu, apa yang mau kamu perbuat setelah tahu kalau kita hanya tokoh fiksi Ra?” tanya Safa.

“Yang jelas kita ga bisa berusaha melompat keluar kan. Hidup kita di sini. Di cerpen ini. Jika kita keluar, kita jadi ga berwujud. Mati.”

“Tapi kita juga akan lenyap begitu saja jika cerpen ini selesai kan?”

“Yah, semoga sang penulis tidak tiba-tiba amnesia atau semoga dia punya ide untuk menghidupkan kembali tokoh Rana dan Safa atau membelokkannya ke cerita bersambung atau novel agar umur kita lebih panjang.”

“Yup, kita memang ga punya otoritas penuh terhadap keberadaan kita. Kalau beneran sang penulis itu adalah tokoh yang kamu tulis, coba ceritakan, siapa si dia itu? Aku ga sabar juga kalau harus nunggu seminggu untuk baca novelmu secara keseluruhan. Kasih tahu aku sinopsisnya sekarang Ra.”

“Sabar dong Fa, tunggu seminggu lagi aja ya. Bahkan sinopsisnya juga ga bakal aku ceritakan dulu biar kamu penasaran.”

“Ah, dasar. Ya sudahlah, setidaknya kasih tau aku siapa namanya.”

“Oke-oke, namanya Rifqie. Lengkapnya Rifqie Al Haris. Seorang dokter gigi. Dialah tokoh utama di novelku yang membuatku jatuh cinta.”

“Dan bisa jadi dialah sang penulis yang menciptakan kita kan?” tambah Safa.

Senang bisa berkenalan dengan anda wahai Tuan Penulis. Tetaplah menulis tentang kami ya. Jadikan kami sebagai tokoh dalam novel berseri. Karena kami ingin hidup lebih lama. Kata Safa dalam hati.

Ygyakarta, 28 April 2012

Rifqie Al Haris

Tiada yang mengalahkan kesegaran mandi sore seperti yang aku alami sekarang ini. Setelah sejak pagi bersuka cita berenang dan berendam di sungai belakang rumah, sekarang aku merasakan guyuran air rumah yang bersih dan segar untuk menetralkan air sungai yang kotor itu. Lihatlah, kesegaran ini sempurna betul ketika guyuran itu tercipta karena tangan-tangan kedua orang tuaku yang nampak benar  perhatiannya berlebih.

Aku memang masih pantas dimandikan. Setahun yang lalu aku juga dimandikan ketika aku ketahuan mandi di sungai. Aku diguyur dan diomeli. Wejangan yang berbalut vokal yang meninggi dari mamak dan cubitan yang berbekas kebiruan dari jari kasar bapak justru terasa lebih menciutkan daripada ancaman akibat buruk mandi dengan air sungai seperti kulit borokan misalnya. Namun nampaknya usiaku sekarang sudah cukup umur untuk mandi di sungai. Buktinya mamak tidak marah dan bapak tidak mencetot pantatku lagi. Aku dibiarkan mandi di sungai seperti bapak yang selalu berendam menambang pasir di sungai yang sama dengan sungai tempatku bersenang-senang. Barangkali bapak juga telah mempersiapkanku untuk mengembangkan kemampuan pengerukan pasir konvensional itu. Agar bisa melanjutkan profesinya kelak.

Maka inilah pertama kalinya aku diguyur dimandikan dengan suasana yang damai. Aku menikmatinya. Bahkan percikan airnya membentuk pelangi kecil ketika berpadu dengan sinar mentari sore. Membuat suasana ini begitu sempurna.  Lihatlah mata orang tuaku yang mulai menua itu. Ada kasih yang tak terbayar oleh materi. Usiaku enam tahun sekarang. Namun aku tak malu-malu seperti ini jika rasa kekeluargaan ternyata jauh lebih besar dari malu itu sendiri. Buat apa malu jika aku merasa luar biasa nyaman? Bahkan ketika beberapa kerabat tiba-tiba berkunjung ke rumah saat aku masih bugil dan basah, aku tidak merasa malu. Atau mungkin saja belum. Karena bapak segera menyudahi guyuran segar itu dan dengan cekatan mengambilkanku selembar pakaian.

Saat itulah aku mendengar para kerabat berkata, “Innalillahi wa innailaihi roji’un.” Ketika mereka melihat jasad bugilku selesai dimandikan.

Dan aku merasa melesat bersama kalimat itu.

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.