Arsip untuk April, 2012

I

“Kayaknya aku mulai mencintai sosok yang aku tulis deh.” Kata Rana, seorang novelis kepada Safa, editornya.

“Itu gila Ra, simpan imajinasi gilamu untuk novel berikutnya aja yah.” Jawab Safa yang sedari tadi sibuk membaca sesuatu dari notebook-nya di seberang meja Rana.

“Nggak Fa, aku serius. Tokoh yang aku tulis ini begitu ideal. Lima bulan aku nyelesein novel ini, rasanya aku mulai cocok dengan dia.”

“Sinting. Tentu saja ideal, tokoh itu kamu yang bikin. Kamu yang mengaturnya untuk bisa jadi tokoh ideal. Kamu yang melahirkan. Kalau kamu jatuh cinta, lantas apa namanya? Dibilang cinlok juga bukan. Lebih cocok dibilang psikopat. Mana ada orang yang jatuh cinta pada hasil pemikirannya sendiri?”

“Entahlah, mungkin juga aku memuja daya khayalku sendiri. Tapi lihatlah, lima bulan aku membangun karakternya. Membangun kisah-kisahnya. Menciptakan pola berpikirnya. Aku beri dia konflik, intrik dan masalah. Kuciptakan juga jalan keluar dan solusi untuk itu semua. Aku buat dia bisa menyelesaikannya dengan bijak. Ya, itu memang jalan pikirku sendiri. Karangan fiktif dari kreativitas otakku sendiri. Tapi ada suatu chemistry jika melihat kembali dirinya sebagai sosok yang utuh. Setelah novel ini selesai, aku bukan lagi melihat sebagai lembaran-lembaran hasil penciptaan suatu ide. Tapi lebih dari itu, sosok itu menjelma menjadi individu. Menjadi seseorang yang utuh. Seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta.”

Sekilas  Safa melihat ada wajah serius di air muka Rana. Itu muka jatuh cinta, itu nada bahasa orang yang kasmaran. Kata-katanya serius dan itu cukup untuk membuat rikuh Safa yang hendak mengejeknya lagi.

“Ra, kamu lagi kangen sama Jo ya?” Safa teringat betapa Rana dan Jo adalah pasangan yang pernah telihat begitu serasi, begitu mesra dan sangat klop dalam segala hal. Namun tak ada yang mengerti alasan apa yang membuat Jo meninggalkan Rana begitu saja.

“Ngawur kamu Fa. Jangan sebut nama itu lagi deh.” Kata Rana sewot, “ Aku bukan mau cari pelarian atau pelampiasan. Toh aku juga belum mau nyari cowok lagi. Apalagi cowok yang nyata secara fisik. Kayaknya lebih enak kalau aku mencintai tokoh yang aku bikin sendiri.”

Aku makin ga memahamimu, Ra. Kata Safa dalam hati. Kayaknya kamu beneran lagi kangen sama Jo deh.

“Kamu pasti susah memahamiku Fa.” Sahut Rana.

Ups, segitu kerasnyakah kata hatiku barusan?

“Gini Fa, ibarat ada seseorang yang nge-fans sama tokoh kartun. Inget ga, bahkan waktu kamu kecil, jamannya masih suka lihat Sailormoon, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu naksir sama Mamoru Chiba si tuxedo bertopeng.”

“Ya ampun Ra, namanya juga masih anak-anak. Jangan samakan dong.”

“Oke…oke… mungkin kamu ga pernah tahu berapa banyak remaja-remaja yang masih suka lihat kartun. Banyak di antara mereka yang naksir sama tokoh-tokoh kartun, sebut saja Shinichi Kudo atau Ran Mouri. Bahkan kamu mungkin juga pernah dengar yang lebih umum lagi. Coba kamu lihat wanita-wanita paruh baya yang masih mengoleksi boneka Barbie. Beberapa di antara mereka malah naksir sama Ken. Yang lebih ga masuk akal lagi, ada segelintir orang yang terang-terangan naksir sama sosok piala Oscar yang katanya sangat tampan dan macho. Bahkan beberapa pria dewasa naksir sama patung Liberty.”

“Iya, mereka adalah kumpulan orang-orang psikopat jablay Ra. Tapi berjanjilah kamu mendadak segila itu sebelum kontrak PR novel trilogimu yang kurang 2 seri lagi itu selesai.” Otak Safa sudah makin berkabut dan makin sulit menangkap secercah cahaya dari penjelasan perasaan Rana. “Tapi menurutku mereka masih lebih waras dibanding kamu Ra.”

“Maksudmu?” Dahi Rana berkerut. Tanda bahwa gantian kepalanya yang berkabut.

“Mereka mencurahkan cintanya keluar Ra. Setidaknya mereka bisa menumpahkan cinta itu ke sesuatu. Sedangkan kamu, sama saja mencintai dirimu sendiri. Itu manifestasi paling parah dari penyakit narsis. Atau jangan-jangan kamu menderita gejala awal Schizophrenia.”

“Aku sudah menyelesaikan novelku. Awalnya di dalamnya adalah ide-ide kecil. Terpisah-pisah. Lalu aku susun ide itu untuk membentuk suatu karakter. Ibarat seorang guru yang mengajari muridnya yang tak tahu apa-apa. Si guru memasukkan ide-ide yang disebut ilmu kepada si murid. Membuat si murid menjadi ideal dalam takaran standar si guru. Akhirnya ketika si murid telah mencapai intelegensi ideal, si murid bukan lagi kumpulan ide-ide dari si guru melainkan sudah menjadi satu individu terpisah yang utuh. Di titik itulah orang akan memaklumi jika si guru mulai jatuh cinta pada sosok individu si murid yang kini telah ideal di matanya.”

“Oke, cukup dengan curhatan kisah cintamu yang abstrak itu. Seminggu lagi, taruh naskah novelmu itu di mejaku. Sementara aku mau konsentrasi untuk menyiapkan peluncuran Antologi Cerpenmu itu dulu. Udah di kejar deadline nih. Oiya, ingat, aku ga mau kisah novelmu itu berlebihan. Ngerti kan maksudku? Jangan sampai kamu memaksakan alur. Hanya gara-gara kamu jatuh cinta sama tokoh sentralnya, lantas kamu bikin nasibnya selalu beruntung. Itu ga realistis.”

“Tenang Fa, kamu ga perlu meragukan kemampuanku. Aku yakin kita masih bisa mencetak best seller lagi. Negara ini masih suka dengan format novel berseri. Toh aku jatuh cinta setelah novel itu selesai. Bukan saat ditengah aku menulis. Aku jamin ide cerita dan alurnya masih ori.”

II

“Fa, sebagai penulis aku mulai berpikir ni.”

“Sebentar, tentang apa ni? Bukan tentang kisah cinta Schizophrenic itu lagi kan?” muka Safa sudah skeptis.

“Ayolah Fa, dengarin aku dulu deh. Jangan pasang muka macam detektif ketemu penjahat gitu dong.” Rengek Rana.

“Baiklah, tapi biarkan otakku bekerja bebas ya. Kamu tahu aku lagi sibuk.” Sambil terus saja membaca setumpuk naskah Antologi Cerpen Rana.” Biarkan otakku menyeleksi mana yang masih bisa dicerna dan membuang bagian yang aku ga ngerti. Aku lagi males berpikir. Otakku lagi ga bisa dibilkin multitasking.

“Tenang Fa, aku tahu kok kemampuan otakmu. Aku usahakan menyusun bahasa yang paling sederhana.”

“Sialan!” Safa mulai sewot hingga pensil yang dipegangnya kini langsung melayang ke arah jidat Rana.

“Auw! Sialan kamu Fa, untung ga nancep. Bisa-bisa kamu kehilangan pekerjaan kalau aku kehilangan kemampuan berpikirku.”

“Udaaah buruan ceritanya.” Kata Safa ketus.

“Setelah aku pikir-pikir,” Rana mulai bercerita, “dengan latar belakangku sebagai penulis, aku sadar bahwa aku bisa membuat dunia sesukaku. Menciptakan tokoh dengan berbagai macam kisah di dalamnya dan aku memegang semua takdir-takdir mereka. Aku bisa membuat mereka saling jatuh cinta, patah hati, membenci atau bahkan bisa saling membunuh.” Rana berhenti sebentar agar Safa bisa mencerna dengan baik.

“ Oke, sejauh ini aku masih bisa memahami. Lalu apa yang kamu cemaskan?”

“Aku khawatir, dengan otoritas macam itu, kita ternyata hanyalah bagian kecil dari cerita fiksi. Apa kamu pernah berpikir seperti itu Fa? Bahwa kita hanyalah tokoh fiktif dari seorang penulis lain di luar dunia kita.”

Safa terdiam sepenuhnya dari aktivitasnya. Berpikir. Sedangkan Rana juga terdiam untuk memberi waktu agar ide yang baru saja dilontarkan itu mengendap dalam benak Safa.

“Dua tahun aku menghadapi ide-ide luar biasa lewat cerpen-cerpenmu membuatku tebiasa untuk menghadapi kegilaan apa yang akan kamu lontarkan selanjutnya.” Kata Safa. “Tapi pemikiranmu barusan jauh lebih gila dari biasanya. Karena kamu secara ga langsung juga mengusik keberadaanku. Duniaku. Jika kamu hanya wujud dari khayalan seorang penulis, itu artinya aku juga ga lebih dari sekedar tokoh pelengkap untuk kisahmu. Bukankah begitu?”

“Ah, jangan terlalu pesimis Fa. Belum tentu aku tokoh utamanya kan? Tapi melihat kedekatan kita, aku yakin jika tepaksanya aku menjadi tokoh sentral, kamu ga mungkin berstatus figuran.”

“Oke, nampaknya penjelasanmu itu masih bisa aku cerna. Otakku juga ga mual-mual amat untuk memuntahkan idemu barusan. Soalnya kalau kita memang sekedar tokoh kecil dari imajinasi seorang penulis, itu justru bisa menjelaskan keabstrakan jalan pikirmu dan alur hidupmu.”

“Maksudmu gimana Fa?” air muka Rana nampaknya bertambah antusias ketika Safa memberikan respon yang dia harapkan.

“Gini Ra, kalau memang benar kita ini hanya tokoh cerita khayalan, aku yakin kita sedang berada dalam suatu cerpen. Bukan novel. Aku yakin benar itu. Alasannya, balik lagi ke kisah cintamu yang absurd  itu Ra. Jo ninggalin kamu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kamu ga tahu alasannya, apalagi aku. Itu tandanya kita berada dalam kisah cerpen. Kalau novel, kamu pasti sudah tau alasannya dong Ra. Novel punya banyak ruang untuk menjelaskan secara detail. Tapi cerpen begitu pendek. Ga ada tempat untuk menceritakan detail kisah cintamu sama Jo.”

“Masuk akal Fa, kita ditulis sebagai cerpen Rana dan Safa oleh penulis yang mungkin saja begitu bodoh, kehabisan ide atau sedang malas untuk membelokkannya menjadi cerita novel. Terlebih lagi kamu dengan cepat bisa menyetujui ide gilaku ini kan? Tanpa konflik dan perlawanan sama sekali. Lalu pertanyaannya, siapakah yang menciptakan kisah kita Fa? Siapa yang mengarang cerpen Rana dan Safa sekaligus yang membuat aku tergila-gila sama tokoh karanganku sendiri? Karena itu juga termasuk pola pikir gila yang hanya bisa diciptakan oleh seorang penulis dengan otoritas penuh terhadap hidupku.”

Sesaat mereka terdiam, saling memandang. Berusaha menyelami pikiran masing-masing sekaligus menyelami pikiran satu sama lain. Ada suatu diskusi tak kasat mata di antara keduanya.

“Yang jelas si penulis ga mungkin jauh-jauh dari kehidupan kita Fa.” Kata Rana memecah keheningan yang singkat itu.

“Tapi ga mungkin kamu mencurigai diri sendiri, aku atau Jo. Karena kita berada dalam satu realitas cerita yang sama. Nampaknya kecurigaanku tinggal dia seorang deh.”

“Ha? Siapa Fa? Tumben otakmu cerdas kali ini. Buruan jelaskan.”

“Tentu saja Ra. Otakku nampaknya harus dibikin cerdas secepat ini karena kita di dalam cerpen. Nampaknya kita sudah di penghujung cerita. Oke, kalau gitu aku kasih tahu. Tapi ini baru kecurigaan. Belum tentu benar.”

“Iya, siapa?” Rana tak sabar.

“Tokoh karanganmu yang kamu cintai Ra.”

“Hah! Mana bisa? Jelas-jelas aku yang menciptakan dia.”

“Katamu si penulis itu punya otoritas penuh terhadap tokoh yang ditulisnya kan? Aku curiga, si penulis sengaja membuat kamu menulis tentang dirinya Ra. Bagimu itu hanya kisah fiktif. Tapi justru kamulah tokoh fiktif yang sedang menuliskan biografi tentang si penulis.”

“Hmmm.” Rana mengangguk-angguk. “Cukup membingungkan tapi masuk akal. Dialah satu-satunya yang berada di luar dunia kita. Bisa jadi dia yang menyamar. Itu artinya, si penulis kita ini narsis juga ya Fa. Dia menciptakan tokoh fiksi bernama Rana dan Safa untuk menuliskan kisah biografinya sekaligus membuatku jatuh cinta padanya. Padahal mungkin saja dialah yang mencintaiku. Bukankah begitu?”

“Hahaha nampaknya sang pencipta kita ini adalah penulis yang kesepian Ra. Tapi jangan Ge-Er dulu dong. Kita ga tahu apa isi di otaknya. Bisa jadi kita sepenuhnya fiktif. Maksudku, kita sama sekali bukan suatu proyeksi emosional dari sang penulis. Murni karangan. Dengan kata lain, kita bukan tokoh sentral Ra. Tapi hanya figuran alis pelengkap.”

“Malangnya nasib kita ini ya Fa, hahaha.” Sejenak mereka tertawa bersama melepaskan seluruh ide gila mereka.

“Lalu, apa yang mau kamu perbuat setelah tahu kalau kita hanya tokoh fiksi Ra?” tanya Safa.

“Yang jelas kita ga bisa berusaha melompat keluar kan. Hidup kita di sini. Di cerpen ini. Jika kita keluar, kita jadi ga berwujud. Mati.”

“Tapi kita juga akan lenyap begitu saja jika cerpen ini selesai kan?”

“Yah, semoga sang penulis tidak tiba-tiba amnesia atau semoga dia punya ide untuk menghidupkan kembali tokoh Rana dan Safa atau membelokkannya ke cerita bersambung atau novel agar umur kita lebih panjang.”

“Yup, kita memang ga punya otoritas penuh terhadap keberadaan kita. Kalau beneran sang penulis itu adalah tokoh yang kamu tulis, coba ceritakan, siapa si dia itu? Aku ga sabar juga kalau harus nunggu seminggu untuk baca novelmu secara keseluruhan. Kasih tahu aku sinopsisnya sekarang Ra.”

“Sabar dong Fa, tunggu seminggu lagi aja ya. Bahkan sinopsisnya juga ga bakal aku ceritakan dulu biar kamu penasaran.”

“Ah, dasar. Ya sudahlah, setidaknya kasih tau aku siapa namanya.”

“Oke-oke, namanya Rifqie. Lengkapnya Rifqie Al Haris. Seorang dokter gigi. Dialah tokoh utama di novelku yang membuatku jatuh cinta.”

“Dan bisa jadi dialah sang penulis yang menciptakan kita kan?” tambah Safa.

Senang bisa berkenalan dengan anda wahai Tuan Penulis. Tetaplah menulis tentang kami ya. Jadikan kami sebagai tokoh dalam novel berseri. Karena kami ingin hidup lebih lama. Kata Safa dalam hati.

Ygyakarta, 28 April 2012

Rifqie Al Haris

Supernova: Partikel by Dee

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 508 pages
Published April 13th 2012 by Bentang Pustaka (first published April 1st 2012)
ISBN13: 9786028811743
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Partikel (Supernova #4)

Sinopsis

Zarah adalah anak dari seorang dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Karena idealisme sang ayah, Zarah tidak bersekolah di sekolahan konvensional sebagaimana anak-anak lain. Firas mendidiknya dengan caranya sendiri dan tentu saja keputusan yang diambil Firas mendapat pertentangan dari anggota keluarga yang lain.

Dari metode yang diajarkan ayahnya, Zarah menjadi anak yang cerdas. Namun satu hal yag tidak diajarkanayahnya adalah pendidikan agama. Ayahnya sendiri terobsesi dengan jamur. Dari situlah ayahnya memperoleh rahasia alam yang tidak mudah dipahami bahkan oleh anggota keluarganya sendiri yang menganggapnya sudah sinting. Ayahnya menjadi semakin aneh ketika dia kedapatan sering mengunjungi tempat angker yang ditakuti warga kampung. Disusul kemudian tragedi-tragedi yang menimpa keluarganya yang semakin membuat ayahnya dianggap sebagai biang keladi segala kutukan itu. Hingga puncaknya, ayahnya pun menghilang.

Pencarian Zarah terhadap ayahnya membuat Zarah dibawa nasib berkeliling dunia. Berawal dari jurnal peninggalan ayahnya, Zarah tahu ada suatu misteri besar yang diketahui ayahnya demikian juga harapannya yang bertumbuh bahwa ayahnya bisa saja masih hidup. Sebuah kiriman kamera dari orang tak dikenal adalah tiketnya untuk mengembara. Awalnya hanya karena fotonya mendapatkan juara yang hadiahnya berupa wisata gratis ke konservasi orangutan Tanjung Puting. Bakat fotografi dan nalurinya justru membuatnya betah tinggal di sana dan mengabaikan jadwal kepulangannya ketika agenda wisata gratis itu sudah habis. Hingga talentanya itu kembali mengantarkannya lagi untuk menjelajah lebih jauh, mulai dari London, Kenya dan Bolivia. Zarah merasa bahwa petualangan itu akan membawanya kepada jawaban mengenai ayahnya. Hingga akhirnya tibalah di Glastonbury dan dia bertemu dengan seseorang yang menjadi kunci yang bisa membantu menemukan ayahnya.

Terlepas dari kisah Zarah, di Keping terakhir, akan diceritakan pertemuan Elektra dan Bodhi yang akan mengikat simpul kecil misteri kisah mereka.

Did You Know?

Dee (Dewi Lestari)

Seri Supernova berikutnya dikabarkan akan berjudul Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi.

Jika anda bertanya-tanya kenapa seri ke-4 ini berjarak 8 tahun dari seri sebelumnya, maka jawabannya ada di bagian akhir buku ini. Dee menjelaskan kenapa dirinya begitu lama menyusun seri Partikel ini.

Logo cover depan adalah simbol “bumi”.

Opini

Opini yang sudah bisa ditebak bagi pecinta seri Supernova ini pastilah: kita terlalu lama menunggu seri ini keluar sampai-sampai cerita seri-seri sebelumnya sudah terlupakan. Tapi setelah kita baca, nampaknya hal itu bisa dimaklumi karena data-data yang disajikan di kisah ini begitu kompleks dan pastinya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendalami segala sesuatunya.

Seri ini kembali menghadirkan kisah manusia dengan pengalaman ajaib. Tokoh sentral itu bernama Zarah. Pengalamannya adalah pengalaman spiritual, gaib dan selalu berurusan dengan rahasia semesta tanpa ada unsur religi sama sekali karena dia sama sekali tidak mendapatkan pendidikan itu sejak kecil. Dee menjadikan tema yang oleh beberapa orang masuk ranah klenik dan perdukunan ini menjadi seolah bagian dari kehidupan nyata. Secara garis besar, kesemuanya akan berujung pada pesan agar manusia lebih menghormati bumi. Namun bagi orang yang tidak suka hal-hal spritual, gaib dan perdukunan, bisa jadi tidak akan suka dengan kisah ini. Terlebih lagi tokoh utamanya yang sangat jauh dari sentuhan agama membuat kisah ini cenderung panteisme (menyembah alam).

Beberapa fenomena alam termasuk eksistensi mahluk luar angkasa dan aktivitasnya di bumi disajikan sebagai unsur yang dominan. Namun bagi orang yang mengharapakan adanya penjelasan empiris dan logis, bisa jadi mereka kecewa karena tidak menemukannya sampai akhir kisah ini. Dari awal plotnya memang diarahkan ke suasana spiritual, jadi Dee tidak akan memasukkan logika Dimas dan Reuben di situ. Sudah bisa diduga juga, mereka tidak hadir di seri ini.

Setiap menyelesaikan seri-seri Supenova saya selalu bertanya-tanya, dimanakah mereka semua akan dipertemukan. Selalu saja ada tokoh baru dengan permasalahan baru yang selalu saja meninggalkan teka-teki besar di akhir cerita. Meskipun beberapa kisah kecil mulai terhubung satu sama lain, halk itu tidak sebanding dengan teka-teki baru yang lebih besar. Misalnya, satu orang menghilang dan belum ditemukan (Diva), sekarang harus dihadapkan pada orang hilang lainnya (ayah Zarah).
Semoga saja seri berikutnya tidak perlu menunggu lama untuk terbit melanjutkan kisahnya.

Favorite Quotes

“…manusia telahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur ke luar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta.” (hal. 8)

“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.” (hal. 69)

“Kita, manusia, adalah virus terjahat yang pernah ada di muka bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan berusaha mayakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah besar. Kita adalah kutukan bagi bumi ini. Bukan karena manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir semua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka.” (hal.71)

“…alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan atau tanpa kita.” (hal. 190)

“Manusia berbagi 63% kesamaan gen dengan potozoa, 66% kesamaan gen dengan jagung, 75% dengan cacing. Dengan sesama kera-kera besar, perbedaan kita tidak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orang utan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.” (hal. 227)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Supernova #3 : Petir by Dee

My rating: 4 of 5 stars

Detail Info:

Paperback, 286 pages
Published April 2012 by Bentang Pustaka (first published 2004)
ISBN13: 9786028811736
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Petir

Sinopsis

Buku ini terdiri dari tiga Keping yang merupakan kepingan lanjutan dari dua seri sebelumnya. Keping 37 akan menghadirkan kembali tokoh Dimas-Reuben yang keduanya akan berurusan dengan kiriman e-mail Gio yang mengatakan bahwa Gio sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Keping 38 adalah inti cerita keseluruhan dari buku ini. Menceritakan tentang kehidupan Elektra, seorang Cina yang dipaksa bertahan hidup dengan sisa-sisa peninggalan Ayah yang telah meninggal. Elektra hidup sendiri setelah kakaknya, Watti, memutuskan tinggal bersama suaminya di Freeport.

Elektra yang memiliki kebiasaan malas-malasan dan kerjaannya hanya tidur siang jelas tidak siap menghadapi hidupnya yang menuntut untuk mandiri. Sarjananya sudah lama didapat, tapi dia tidak memiliki ketrampilan bekerja. Beberapa peluang pekerjaan dicobanya. Dari bisnis MLM hingga memenuhi panggilan kerja untuk menjadi asisten dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Gain Nasional yang belakangan baru diketahui bahwa surat panggilan itu ternyata hanyalah kerjaan orang iseng. Namun justru karena surat itulah Elektra akan menemukan gerbang metamorfosis dirinya. Untuk melengkapi syarat-syarat penggilan kerja itu, Elektra membeli perlengkapan klenik di sebuah warung yang memang dikhususkan menjual perlengkapan perdukunan macam itu. Di situlah akhirnya Elektra mengenal sosok Ibu Sati yang merupakan pemilik dari warung tersebut. Ibu Sati dijadikannya sebagai guru spiritual yang nantinya akan menginspirasi bisnis usaha Elektra sekaligus seseorang yang mampu menggali bakat ajaib Elektra yang berhubungan dengan listrik yang ada di tubuhnya.

Usaha Elektra menjadi berkembang pesat karena bantuan entrepreneur muda bernama Toni alias Mpret. Belakangan Toni akan menjadi penghubung antara kisah Elektra dengan Bodhi lewat sepupu Toni yang bernama Bong (tokoh Bong dan Bodhi di kisahkan di seri sebelumnya, Akar). Kisah yang diceritakan di Keping 39 ini akan menjadi sebuah awal untuk menjembatani kisah di seri berikutnya.

Opini

Buku ini masih mempertahankan konsep bab-babnya dalam bentuk “Keping” yang angkanya masih saja bersambung dari seri-seri sebelumnya. Di buku ini kepingan kisahnya akan melewati keping 37, 38 dan 39. Masih mempertahankan formasi 3 Keping, sama seperti seri sebelumnya, Akar.
Berbeda dengan Akar yang menghadirkan petualangan yang mendebarkan dan cukup serius, seri Petir ini justru menghadirkan kisah hidup yang sedikit santai dan bertaburan kekonyolan yang cerdas di beberapa bagian plotnya.

Pada keping awal kita kembali disajikan dengan pasangan homo Dimas dan Reuben yang sempat menghilang di seri Akar. Di sini mereka diceritakan sedang memperingati usia hubungan mereka yang telah berjalan 12 tahun. Nampaknya posisi mereka menjadi simpul yang mengikat di kedua seri sebelumnya setelah di akhir Keping 37 mereka mendapatkan kiriman e-mail dari Gio yang mengatakan bahwa dirinya sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva ini makin misterius saja. Ketika di seri pertama (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh) kita disajikan sebuah kisah yang seolah kisah Gio-Diva adalah kisah karangan Dimas-Reuben semata. Namun teka-teki ini semakin terangkat ke permukaan saat kita amati bahwa di seri pertama, Dimas-Reuben tidak pernah menyebutkan nama Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin dan tokoh-tokoh di lingkungan kisah hidup mereka untuk tokoh karangannya. Mereka hanya menyebutknya sebagai: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Mungkinkah kisah yang paralel ini ternyata benar-benar berjalan beriringan yang jika dipikir-pikir, mungkin saja kisah Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin ini hanya kebetulan saja sama dengan kisah Ksatria-Putri-Bintang Jatuh karangan Dimas-Reuben. Kecerdasan Dee sebagai penulis saja yang menempatkannya seolah kedua kehidupan itu adalah realitas bertingkat antara dua orang penulis homo dan kehidupan tokoh yang ditulisnya. Padahal sebenarnya ada kehidupan yang lain yang sama-sama nyata dan kebetulan kisah hidupnya sama dengan kisah hidup tokoh karangan mereka. Inilah yang masih menjadi teka-teki dan nampaknya masih perlu beberapa seri lanjutan untuk menghubungkan teka-teki itu.

Seri Petir ini menghadirkan sebuah kehidupan tokoh baru bernama Elektra. Dengan segala kemampuan dan metamorfosis kehidupannya yang ajaib, tokoh ini akan dipertemukan dengan tokoh Bodhi di seri Akar. Lantas apa hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva dengan Elektra-Bodhi? Ini yang masih teka-teki.

Favorite Quotes

“…kursi itu berguncang hebat pada akhirnya. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk Cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.” (hal 33)

“Air bisa menjawab dirinya ‘air sungai’ atau ‘air laut’. Tapi, kalau ia memilih menjawab ‘air’ saja, itu juga tidak salah, kan?” (hal 112)

“Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban.” (hal 229)

“…bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik, melainkan dari apa yang kamu lakukan.” (hal 248)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Supernova: Akar by Dee

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 202 pages
Published 2012 by Penerbit Bentang (first published 2002by Truedee Books )
ISBN: 9799625726
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Akar
series: Supernova #2

Sinopsis

Novel ini terdiri dari 3 keping (bab) Keping pertama adalah jembatan antara buku pertama: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh dan buku kedua ini. Di sini kisah Gio akan berlanjut. Tapi kisahnya tidak begitu menyenangkan karena mendapatkan kabar bahwa Diva menghilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Keping 34 yang merupakan awal dari novel “Akar” ini cukup singkat dan berakhir di keputusan Gio untuk mencari Diva.

Keping 35 adalah inti dari novel ini karena disinilah “Akar” itu akan diceritakan dengan proporsi paling banyak. Keping ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Bodhi yang mempunyai kisah masa lalu yang sangat unik dan ajaib. Bodhi pada awalnya tinggal di wihara dan dibesarkan oleh Guru Liong. Akhirnya nasib menggiringnya untuk berpetualang meningalkan wihara tersebut.

Awal dari penjelajahan Bodhi di awali di Bangkok kemudian ke Laos, kembali lagi ke Bangkok dan akhirnya ke Kamboja dengan petualangan yang makin seru karena Kamboja adalah area konflik para pasukan pemberontak. Dalam petualangannya itu, Bodhi bertemu dengan orang-orang hebat yang mengubah nasibnya. Pelajaran hidup akan selalu didapat dimanapun dia berada. Kadangkala seseorang yang ditemui di suatu tempat akan bertemu lagi di tempat lain dengan suasana yang benar-benar ajaib dan berbeda seolah melengkapi nasib diantara keduanya.

Hingga akhirnya kisah Bodhi di buku ini akan berakhir di Keping 36 yang nampaknya akan menjadi sebuah jembatan kisah yang akan menghubungkan kisah di buku ketiga.

Opini

Di buku ini saya sempat sedikit berharap sajian kisahnya hampir sama dengan buku pertama: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, yaitu banyak menyajikan aspek filsafat postmodern, psikologi, fisika kuantum dan beberapa tinjauan sains. Namun ternyata buku kedua ini hanya cerita novel yang biasa. Mungkin hanya tokoh Reuben dan Dimas yang cocok dengan pembahasan-pembahasan macam itu sedangkan di buku kedua ini mereka sama sekali tidak ada.

Buku kedua ini masih setia dengan istilah “Keping” untuk menggantikan fungsi dari “Bab”. Di buku ini terdapat tiga keping yang angkanya adalah lanjutan dari buku pertama sehingga di sini tiga keping itu dinomori 34, 35 dan 36.

Cerita di novel ini cukup seru karena Dee nampaknya memahami betul tentang banyak tempat di beberapa negara di Asia sekaligus bahasa-bahasanya. Hal ini enjadikan novel “Akar” ini sedikit bisa menjadi semacam catatan travelling backpacker.

Did You Know?

Supernova seri dua yang berjudul “Akar” ini dirilis pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Dewi Lestari (Dee)

Simbol Omkara/Aum

Sampul buku cetakan pertama yang dikritik

Favorite Quotes

“Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata.”
“Jangan takut. Jangan menyerah. Hidup ini sebenarnya indah.”
“Art partly completes what nature cannot bring to a finish. Art carries out Nature’s unrealized ends.”
“Life is all about how to control our minds, and how to make use of our limited knowledge.”

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh by Dee

My rating: 5 of 5 stars

detail info:

 

Paperback, 321 pages
Published 2001 by Truedee Books
ISBN: 979962570X (ISBN13: 9789799625700)
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
series: Supernova #1
setting: Indonesia

Sinopsis

Dimas dan Reuben adalah pasangan homo yang berikrar akan membuat sebuah karya tulis yang menjembatani semua percabangan sains dalam waktu sepuluh tahun. Karya tersebut disepakati akan dikemas secara populis dan bernuansa roman sains, romantis sekaligus puitis.

Maka setelah sepuluh tahun, terpenuhilah ikrar tersebut dengan disusunnya sebuah kisah yang menceritakan tentang Kesatria, Putri dan Bintang jatuh. Kisah yang disusun Ruben dan Dimas itu menjadi kisah paralel dengan kisah Reuben dan Dimas sendiri. Kisah tersebut menghadirkan dinamika kisah cinta antara Ferre dengan Rana. Kisah cinta itu dibikin begitu kompleks karena Ferre yang begitu sempurna dan menjadi sosok yang diidolakan banyak wanita justru jatuh cinta pada Rana yang telah memiliki suami. Arwin nama suaminya itu. Masih dalam dunia yang diciptakan Ruben dan Dimas, ada satu tokoh yang dihadirkan memiliki alur kisah sendiri yaitu seorang supermodel yang sekaligus menjadi wanita bayaran berkelas dengan tarif ribuan dolar, akan menjalani kisahnya dan akan menjadi bagian dari kisah cinta Ferre dan Rana. Juga ada satu tokoh misterius yang disebut sebagai Supernova akan menghadirkan twist yang unik mengenai hubungan yang nyata antara dimmensi kehidupan Reuben dan DImas sebagai si penulis dan dunia kisah yang ditulisnya.

Opini

Ini adalah novel yang sangat brilian. Dengan menggabungkan antara sains, filsafat, psikologi dan sedikit biologi dengan suatu kehidupan roman kisah cinta yang kompleks Dee telah menyajikan suatu penjelasan empiris tentang bagaimana pola pikir manusia ketika menghadapi kompleksnya perasaan cinta. Lewat tokoh Reuben dan Dimas, kisah cinta yang mereka tulis akan dikupas juga secara berbagai sudut pandang keilmuan. Inilah yang menjadikan novel cinta ini bukan novel yang biasa.

Twist dalam novel ini adalah ketika kita menyadari bahwa ada beberapa realita dan dimensi dalam novel ini. Yaitu Dee sebagai penulis novel menceritakan tentang Dimas dan Reuben yang juga menciptakan tokoh fiktif bertokoh sentral Ferre kemudian oleh Dee, Dimas dan Reuben dibuat sadar jika mereka ternyata adalah dalang tempelan yang secara sengaja dibuat untuk menuliskan sebuah cerita yang lain. Sedangkan cerita yang lain itu ternyata ada dalam satu dimensi yang sama dengan sang penulis yang menulis cerita. Ini akan sedikit membingungkan. Namun jika pembaca memahami baik-baik, maka akan sama ketika kita menonton film Inception.

Kata-kata asing dan terlihat begitu sulit akan dijelaskan melalui footnote dengn bahasa yang umum. Sehingga orang awampun akan memahami jika mau membaca dengan sedikit bersabar. Inilah karya terbaik Dee yang menghadirkan wawasan yang sangat luas dan permainan psikologis dan twist yang menarik.

Did You Know?

Novel ini dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan edisi Inggris untuk menembus pasar internasional bekerja sama dengan Harry Aveling sebagai penerjemah ke bahasa Inggris.Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

Dewil Lestari (Dee)

Favorite Quotes

“Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.”

“Kamu benar, Puteri. Perasan itu sudah mengkristal.
Dan akan kusimpan. Selamanya.”

“Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina?”

“… karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastiaan manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi”

“Kau hadir dalam ketiadaan,
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti,
Namun aku selalu disini,
Menantimu..
Entah mengapa..

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu DekadeFilosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade by Dee

My rating: 4 of 5 stars

aperback, 134 pages
Published 2007 by Truedee Books & Gagas Media (first published 2006)
ISBN: 9799625734
edition language Indonesian

Paperback, 134 pages
Published 2007 by Truedee Books & Gagas Media (first published 2006)
ISBN: 9799625734
original title Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

RESENSI

Delapan Belas cerita pendek yang dibuat dalam rentang waktu tahun 1995-2005 tersusun dalam buku yang berjudul Filosofi Kopi. Masih sejenis dengan kumpulan cerita pendek dan prosa Madre, Dewi Lestari mengumpulkan cerpen-cerpen dan prosa itu dan meberi judul buku kumpulan itu dari judul cerita pendek pertama yaitu “Filosofi Kopi”. Untuk lebih menonjolkan kemasannya maka ditambahkan subjudul: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade. Hal ini tentu saja akan sedikit memberikan gambaran mengenai kronologis titian karir menulisnya Dewi Lestari.

Cerita “filosofi Kopi”, yang menjadi cerita unggulan di buku ini, menceritakan tentang usaha kedai kopi kerja sama antara Ben dan Jody yang menonjolkan tentang bagaimana arti filosofis dari setiap jenis kopi. Ketika kesuksesan kedai kopi itu sedang melonjak karena konsep kedainya yang menarik, seseorang pembeli menantang mereka untuk membuat suatu formula kopi yang memiliki kenikmatan yang sempurna. Perjuangan membuat kopi terenak dan pelajaran hakikat kehidupan akan mengambil alih sampai di akhir cerita.

Cerita pendek selanjutnya masih tetap mengusung tema cinta. Beberapa berbentuk prosa cerita pendek dengan kisah yang cukup variatif. Bahkan Dewi Lesatari menyajikan sebuah kisah dari sudut pandang kecoak (di cerpen Rico de Coro)

OPINI

Buku ini masih berformat seperti “Madre” yang merupakan kumpulan cerita pendek dan prosa. Delapan belas kisahnya cukup menarik di beberapa judul, namun cukup berat dipahami juga di beberapa judul terutama jika Dewi Lestari mulai memasukkan unsur filsafat dan hakikat hidup dengan objek dan subjek yang diatur secara konotatif

DID YOU KNOW ?

Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Sedngakan “Rico the Coro” adalah cerita bersambung yang dimuat di majalah Mode.

QUOTES
Beberapa quotes yang ada dalam kumpulan cerpen ini:

—“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?” (Spasi)

—“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Filosofi Kopi)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

View all my reviews

T(w)ITIT! by Djenar Maesa Ayu

My rating: 4 of 5 stars

Detail info:
Mass Market Paperback, 106 pages
Published: January 2012 by Gramedia Pustaka Utama

Sebelas twit yang menjelma menjadi sebelas cerita pendek yang menarik yang selalu saja ditokohi oleh seorang perempuan bernama Nayla. Hanya saja setiap cerita pendek nampaknya menyajikan Nayla dengan latar belakang dan nasib yang berbeda-beda. Nayla adalah gambaran sosok perempuan yang dihadapkan masalah-masalah yang cukup mengusik dari segi gender. Dari mulai keluarga, kehidupan sosial, dan seksualitas dengan segala macam tempaan yang begitu menyakitkan. Nayla yang di sebelas cerita akan menjelma menjadi sosok anak-anak, sosok remaja, sosok Ibu dan sosok janda akan menghadapi relita kehidupan yang cukup keras yang membuatnya menjadi sosok yang tangguh.

OPINI

Jika kita menyandingkan buku “Kicau Kacau” nya Indra Herlambang dengan buku ini tentu saja satu persamaan mendasar adalah bahwa kedua buku tersebut adalah pengembangan sttus Twitter menjadi sebuah cerita pendek. Tapi di sisi lain perbedaannya pun sangat signifikan jika kit telah membaca keduanya. Tulisan Indra lebih pop, ringan, cenderung ke komedi dan motivatif. Sedangkan Djenar menyajikannya dalam cerita yang gaya bahasanya cukup serius.

Djenar Maesa Ayu

Masih dengan tema yang menjadi ciri khas Djenar, cerpen-cerpen di buku ini masih kental dengan bahasa vulgar yang jujur, mengalir dan dahsyat dalam menuturkan sebuah kisah. Memang secara keseluruhan kisah yang disajikan di sini cukup “gelap”. Tapi dengan membacanya kita akan dihadapkan sebuah realita yang akan selalu ada dalam masyarakat.

Dalam memilih tema dan kata-kata yang vulgar, Djenar bisa disandingkan dengan Ayu Utami. Hanya saja Djenar nampaknya lebih banyak memasukkan gaya bahasa prosa di tulisannya. Kalau kita amati, setiap paragraf demi paragraf, Djenar menyusunnya sedemikian rupa dan memilih kata-katanya hingga selalu saja terbentuk rima bak puisi. Menjadikan sebuah kekuatan tersendiri ketika kita membacanya.

DID YOU KNOW?

Buku ini adalah buku keenam yang ditulis Djenar Maesa Ayu. Djenar menyelesaikan 10 dari 11 cerita dalam 10 hari saja. ”Satu cerpen saya tulis di bulan September, sisanya baru saya tulis sejak 23 Desember. Buku ini gila,” ujarnya.

Buku ini dirilis bertepatan dengan ulang tahun Djenar genap berusia 39 tahun pada 14 Januari 2012. Tulisan ini adalah sebuah cerita yang dikembangkan dari twit Djenar. Dari sebelas twit yang dipilih, jadilah sebelas cerita pendek yang mengagumkan khas Djenar.

Tentang makna judul “T(w)ittit!” Djenar mengaskan, “Judul T(w)ITIT! sendiri sebenarnya juga upaya mengaduk imajinasi. Pembaca bisa menghubungkannya dengan twitter, atau langsung menghubungkannya dengan twitter minus huruf w.”

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Michael Sucsy

Writers: Jason KatimsAbby Kohn (screenplay), Stuart Sender (story), Marc Silverstein (screenplay)

Stars: Rachel McAdamsChanning Tatum and Sam Neill

Rated: PG-13 for an accident scene, sexual content, partial nudity and some language

Runtime: 104 min

Review

Kehidupan bahagia romantis dan manis yang dialami Leo (Channing Tatum) dan Paige (Rachel McAdams) tanpa diduga berakhir begitu saja ketika sebuah kecelakaan membuat memori Paige hilang. Kehilangan memori ini menyebabkan Paige tidak mengingat lagi kehidupan pasca perkawinan mereka. Hal ini meyebabkan Paige mengenal Leo sebagai orang asing.

Pernikahan Leo dan Paige yang begitu bahagia

Dengan beban berat ini Leo berusaha membangun kembali memori Paige. Paige sendiri tidak ingat tentang seluruh latar belakang hidupnya yang telah sukses sebagai seorang seniman. Ingatan terakhirnya adalah ketika dia bercita-cita kuliah di jurusan hukum. Tantangan Leo semakin berat ketika orang tua Paige, Rita Thornton (Jessica Lange) dan Bill Thornton (Sam Neill), berusaha membujuk Paige berkumpul kembali bersama mereka. Tentu saja ingatan Paige terhadap keluarganya tidak hilang. Ini berarti kesempatan Leo untuk membangun cintanya kembali akan mengalami kendala jika Paige tinggal bersama orang tuanya.

Paige berusaha membangun kembali memorinya yang hilang dari kumpulan foto-fotonya

Kisah cintanya juga bercabang karena ingatan terakhir Paige ketika dia sedang jatuh cinta pada Jeremy (Scott Speedman) bahkan sempat bertunangan. Tapi Paige tidak ingat kenapa mereka membatalkan pertunangan itu sehingga hilangnya memori ini justru menumbuhkan lagi cinta lamanya itu.

Usaha Leo untuk membuat Paige kembali kepadanya tidak pernah berhenti. Bahkan Paige akhirnya akan menemukan satu demi satu missing link yang membuat semua keputusan manuver hidupnya masuk akal. Tapi mampukah janji setia pernikahan itu akan terpenuhi kembali?

Opini

Sungguh tepat jika film ini dirilis bulan Februari 2012 yang tentu saja dengan tema drama romantis akan menjadi nilai jual jika diputar di suasana hari valentine. Dilihat dari tema ceritanya sendiri model plot macam ini bukan tema yang baru. Tentu saja sudah banyak film terkenal yang mengusung tema hilang memori macam ini. Sebut saja The Notebook, A Moment to Remember, dan 50 First Date. Tapi yang menjadi daya tarik di  kisah ini adalah bahwa kisah di film ini diinspirasi dari kisah nyata.

Memang pelik jika membayangkan masalah yang ada di film ini. Coba bayangkan jika semua memori romansa itu hilang dan orang yang paling dicintai tak lebih hanya orang asing. Yag perlu dipandang cukup serius adalah di titik manakah memori itu hilang. Jika selama ini seseorang mengambil keputusan untuk mengambil manuver pola hidup dan berusaha menghindari suatu lingkungan hidup tertentu yang berusaha dilupakan dan dijauhi, maka ketika kealpaan itu terjadi di titik sebelum keputusan itu dibuat, maka apa yang telah diputuskan itu akan hilang tak berbekas dari ingatan. Yang artinya, seseorang itu akan kembali terjebak di kehidupan lamanya tanpa mengingat alasan untuk menjalani manuver hidup. Tidak peduli apaah alasan itu sanagat signifikan atau tidak. Bisa jadi pihak-pihak tertentu akan memanfaatkan keadaan ini karena orang yang kehilangan sebagian memori sama saja dengan orang yang telah dicuci otaknya.

Film ini memiliki twist yang sederhana, halus dan sangat ringan. Romansanya sendiri cukup manis. Di beberapa titik penonton akan merasakan sesuatu yang menjengkelkan ketika Paige tidak bisa mengingat kenangan paling manis sekalipun. Sekaligus akan ada perasaan iba dan sedikit konyol di sana.

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh Michael Sucsy yang sukses sebagai sutradara film televisi berjudul Grey Gardens (2009). Dalam film ini Sucsy untuk kedua kalinya bekerja sama dengan aktris Jessica Lange (pemeran Rita Thornton) yang sebelumnya bertemu di Grey Gardens.

Sutradara Michael Sucsy

Pengambilan gambar dimulai bulan Agustus 2010 dan selesai di bulan November. Lokasi syutingnya di Chicago dan Toronto dengan bujet $30 juta.

Did You Know?

Film ini diinspirasi dari buku dengan judul sama yang mengisahkan Kim dan Krickitt Carpenter. Dalam buku yang ditulis oleh Kim diceritakan tentang kecelakaan mobil yang terjadi di 10 minggu setelah pernikahan mereka (18 September 1993). Kecelakaan ini menyebabkan Krickitt mengalami trauma otak sehingga membuat memori romansanya terhapus. Kim tetap mencintai meskipun Krickitt menganggap Kim sebagai orang asing setelah kejadian kecelakaan itu. Tapi karena ikatan janji dan kepercayaan yang tiggi kepada Tuhan, mereka bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh meski Krickitt tidak akan pernah mendapatkan memorinya kembali.

Kim dan Krickitt Carpenter beserta anak-anaknya

Buku karangan Kim dan Krickitt Carpenter

Quotes

Paige: I vow to help you love life, to always hold you with tenderness and to have the patience that love demands, to speak when words are needed and to share the silence when they are not and to live within the warmth of your heart and always call it home.
Leo: I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love.

————————————————————–

Leo: Life’s all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?

————————————————————–

Paige: I hope that one day I can love you the way you love me.
Leo: You figured it out once. You’ll do it again.

————————————————————–

Leo: I vow to love you, and no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other.

Director: Gareth Evans

Writer: Gareth Evans

Motion Picture Rating (MPAA): Rated R for strong brutal bloody violence throughout, and language

Runtime: 101 min

“1 Ruthless Crime Lord, 20 Elite Cops, 30 Floors of Hell”

Review

Bersettingkan di kota Jakarta, sekumpulan penjahat kelas berat menghuni di sebuah apartemen yang sudah terkenal sangat sulit untuk dilumpuhkan. Apartemen itu merupakan perlindungan bagi kriminal kelas kakap seperti pembunuh, gangster dan pengedar obat terlarang. Pasalanya pimpinan yang merajai apartemen ini nampaknya memiliki kuasa untuk  membeli para penguasa dan penegak hukum.

Dua puluh tim elit pimpinan Sersan Jaka (Joe Taslim) mengatur strategi untuk melumpuhkan apartemen itu. Rama (Iko Uwais), sang tokoh sentral, adalah salah seorang anggota baru di kesatuan itu. Kedua puluh anggota pasukan itu tiba di apartemen tersebut dan telah ada Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang telah menunggu di sana. Bersama Letnan Wahyu, pasukan elit itu menyusun sebuah strategi penyergapan pimpinan gembong penguasa apartemen yang bernama Tama (Ray Sahetapy).

Sersan Jaka (depan) dan Letnan Wahyu (nomor 2 dari depan) mengintai apartemen sasaran

Rama, anggota baru tim Polisi elit penyerbu

Tama Riyadi, gembong narkotik kejam, penguasa gedung apartemen dan antagonis utama

Pada awalnya penyusupan pasukan berjalan lancar, namun seorang anak kecil yang merupakan mata-mata penjaga apartemen mengetahui kedatangan pasukan ini. Dari sinilah aksi menegangkan akan dimulai. Tama mengerahkan seluruh penghuni aprtemen untuk memburu semua pasukan elit yang sudah terlanjur terjebak di dalam apartemen itu. Mau tak mau para pasukan elit yang tidak bisa keluar lagi dari apartemen itu harus bertahan melawan sekumpulan penjahat kelas berat yang sangat mematikan.

Di lain pihak satu hal yang membuat perkara penyerbuan ini menjadi jauh lebih sulit adalah ketika belakangan diketahui bahwa operasi ini tidak didukung oleh instruksi resmi dari atasan. Melainkan hanya koordinasi dari Letnan Wahyu sendiri. Artinya, tidak akan bisa memanggil bala bantuan.

Aksi tembak-tembakan tak terhindarkan. Jumlah para penjahat itu jauh lebih banyak. Tama juga dikelilingi oleh orang-orang ‘gila’ dengan kemampuan beladiri yang hebat seperti Mad Dog (Yayan Ruhian), dan tangan kanan Tama, Andi (Doni Alamsyah). Ditambah lagi para kriminal penghuni apartemen yang telah menyiapkan senjata lengkap dan tak kalah ‘gila’-nya.

Mad Dog, tangan kanan dan tukang pukul Tama yang berkeahlian silat tinggi

Opini

Indonesia patut berbangga memiliki karya film seperti ini. Tidak melulu memproduksi film drama, komedi, misteri dan jika kehabisan ide cerita yang bagus senjata terakhir pastilah dengan jalan memasang tema sex, memasang artis bokep atau artis-artis yang sudah memiliki predikat seksi. Inilah film yang bisa disandingkan dengan film beladiri action  di jajaran film-film internasional. Bahkan film ini dirilis di Amerika Utara oleh Sony Pictures dengan judul The Raid: Redemption. Sony Pictures meminta Mike Shinoda (anggota Linkin Park) bersama Joseph Trapanese untuk menciptakan musik latar bagi film versi mereka ini.

mike shinoda, gareth evans, joe trapanese

Dari menit-menit awal, film ini langsung menghadirkan aksi-aksi brutal tembak-tembakan, ledakan dan pertarungan jarak dekat dengan koreografi yang memukau. Jika melihat adegan beladirinya sedikit mengingatkan pada film Ong Bak. Penonton akan diajak dengan adegan yang selalu progresif sejak dari menit-menit awal. Membuat jantung selalu berdetak cepat hingga akhir film. Banyak cipratan darah, ledakan bertubi-tubi, perkelahian yang sangat keras dan adegan-adegan yang bikin penonton miris seolah ikut menahan rasa sakit ketika melihatnya. Efeknya luar biasa dan koreografi beladirinya tidak hanya membuat adegan perkelahian menjadi sangat keras tapi juga gerakannya sangat cantik seperti akrobat free style.

Namun beberapa hal yang cukup mengganggu adalah dialog yang kesannya sangat kaku karena memakai bahasa Indonesia yang terlalu baku. Beberapa dialog juga terdengar tidak jelas. Beberapa pemain figuran aktingnya juga masih kaku. Tapi tentu saja kekurangan-kekurangan ini akan tertutupi oleh keseluruhan aksinya yang sangat memukau. Ada beberapa twist kecil di film ini namun tidak terlalu banyak memberikan kejutan. Mungkin jika dihadirkan twist yang lebih kompleks, film ini akan lebih berbobot.

Behind the Scene

Film ini disutradarai oleh Gareth Evans yang sebelumnya juga bekerja sama dengan aktor Iko Uwais dalam film Merantau. Film ini diberi judul Serbuan Maut (kemudian dirilis dengan judul internasional “The Raid“), yang mulai syuting pada pertengahan Maret 2011 dan dirilis secara internasional, yaitu pada tanggal 22 Maret 2012 di Australia dan Selandia Baru; 23 Maret 2012 di Indonesia dan Amerika Utara dan 18 Mei 2012 di Inggris.

Sutradara Gareth Evans

Proses syuting

Proses syuting

 

Hak pendistribusian untuk negara-negara lainnya juga telah dijual kepada Alliance (untuk Kanada), Momentum (Inggris), Madman (Australia dan Selandia Baru), SND (kawasan berbahasa Prancis), Kadokawa (Jepang), Koch (kawasan berbahasa Jerman), HGC (Cina), dan Calinos (Turki). Kesepakatan juga telah dibuat dengan para distributor dari Russia,Skandinavia, Benelux, Islandia, Italia, Amerika Latin, Korea Selatan, dan India ketika film ini sedang dipertunjukkan pada Festival Film Internasional Toronto (TIFF), Toronto, Kanada pada September 2011.

Sang aktor, Iko Uwais dan Yayan Ruhian menjadi fight choreographer dalam film ini.

Aktor sekaligus koreografer Iko Uwais

Aktor sekaligus koreografer Yayan Ruhian

Did You Know?

Sebelum memulai karirnya di dunia perfilman, Iko Uwais adalah seorang driver truk. Pertemuannya dengan sutradara Gareth Evans pertama kali pada tahun 2007, ketika sang sutradara sedang melaksanakan proses syuting untuk sebuah film dokumenter tentang Silat di sekolah Silat Iko. Bakat Iko akhirnya membuat tertarik sang sineas yang mengontraknya selama 5 tahun. Film pertamanya adalah Merantau.

Di ajang Pencak Silat, Iko pernah meraih Juara III, Kejuaraan Daerah Antar Perguruan DKI Jakarta tahun 2003, dan sebagai Penampilan Terbaik Kategori Dewasa Tunggal pada Festival Pencak Silat Cibubur tahun 2005.

Penghargaan untuk film ini adalah:

  • The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award, TIFF 2011
  • Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam Festival Film Sundance 2012
  • Terpilih menjadi penutup sesi FrightFest dalam Festival Film Glasgow 2012
  • Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam Festival Film Internasional Dublin Jameson 2012.

Cerita Cinta EnricoCerita Cinta Enrico by Ayu Utami

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 244 pages
Published: February 1st 2012 by KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
ISBN13: 9789799104137

REVIEW

Buku ini menceritakan tentang kisah nyata tokoh bernama Enrico yang lahir bertepatan dengan Pemberontakan PRRI. Jalan hidupnya menuju dewasa diceritakan dalam 3 bab: “Cinta Pertama”, “Patah Hati” dan “Cinta Terakhir?”

Dalam bab pertama, Enrico kecil diceritakan sebagai anak yang sangat mencintai ibunya. Di mata Enrico, ibunya adalah sosok perempuan yang berbeda dengan perempuan lain yang ada di lingkungannya. Ibunya lebih terpelajar, lebih cantik, modis dan modern. Inilah alasan Enrico untuk menjadikan ibunya sebagai cinta pertama. Enrico kecil rela melakukan apa saja hanya karena dia begitu cinta dan begitu mengagungkan sang ibu.

Namun seiring dengan tumbuhnya sosok Enrico dan ditambah lagi beberapa kejadian yang mereka alami, cinta itu akhirnya mulai pudar. Bahkan dia membeci ibunya atas dasar kebebasan. Dalam bab kedua (Patah Hati),Enrico banyak bercerita mengenai cintanya ibunya yang dirasa mulai pudar. Ibunya mulai membenci Enrico yang semakin besar malah semakin berulah. Dari sudut pandang Enrico sendiri, ibunya sudah jarang sekali memujinya. Bahkan ibunya sudah memiliki dunia baru bersamaan dengan hadirnya ajaran religi yang dirasa tepat dan dibutuhkannya. Enrico merasa ibunya sudah tidak menganggap dirinya spesial lagi. Di sisi lain, ibunya juga telah merenggut kebebasannya dengan memaksanya mengikuti ajaran agama seperti yang didapatkan ibunya itu. Di titik inilah Enrico mulai mencintai ayahnya.

Kebebasannya akhirnya menemukan jalan juga ketika Enrico diterima kuliah di ITB. Kisah ini akan tersusun di bab ke-3: “Cinta Terakhir?”. Enrico menjelma menjadi sosok yang sangat merdeka, bebas dan bersemangat. Termasuk dalam kisah petualangan cinta yang begitu lepas bebas tanpa ikatan. Namun di balik itu semua, Enrico justru merindukan sosok ibunya. Maka dia mulai mencari satu cinta itu.

OPINI

Lagi-lagi Ayu Utami mampu menempatkan diri pada sudut padang tokoh utamanya yang seorang laki-laki. Ini menarik bagi saya ketika dia berhasil menyajikan pola pikir dan sudut pandang yang begitu maskulin dan jujur. Gaya bahasa penuturan dalam novel ini masih saja dengan ciri khas Ayu Utami: vulgar, berani dan jujur. Sangat realis, kadang sadis dan juga miris.

Jika membaca bab terakhirnya, sepintas penyajian plot yang kental akan filsafat kehidupannya agak mirip dengan gaya tulis Dee (Dewi Lestari). Namun Ayu Utami nampaknya masih berada di jalur khasnya yang senang menyajikan sejarah-sejarah masa lalu bangsa Indonesia.

Buku ini dibagi menjadi tiga bab. Ini sangat pintar. Terlebih novel ini ditulis bukan berdasarkan kronologis waktu tapi dikelompokkan berdasarkan kesesuaian dengan bab yang sudah dibagi itu. Sehingga kita kadang membaca satu kejadian di bab yang satu, kemudian kita disajikan lagi kejadian yang sama di bab yang lain yang tentu saja kejadian itu disajikan lebih lengkap dan menjadi jawaban atas cerita di bab sebelumnya. Sehiningga wajarlah kalau alurnya melompat-lompat maju mundur.

Novel ini bagian non fiksinya jauh lebih banyak daripada bagian yang fiksi. Jadi ketika membaca buku ini, kita merasa sedang membaca buku harian atau biografi dari tokoh yang bernama Enrico. Dan kita diajak memahami kisah hidpunya dari lahir sampai berusia 50-an.

Novel ini secara kesulurahan menarik jika anda tidak terganggu dengan gaya bahasa yang sangat eksplisit Ayu Utami. Mungkin juga perlu pikiran yang terbuka untuk mencerna prinsip-prinsip yang dirasa sangat rentan akan perlawanan dan mungkin dirasa sangat kontroversial terlebih novel ini memasukkan unsur nonfiksi yang dominan.

DID YOU KNOW?

Novel Ayu Utami memiliki ciri khas yaitu: selalu memasukkan tokoh tentara dan tokoh utamanya adalah seorang laki-laki.

Disain sampul dibuat oleh Ayu Utami sendiri setelah sebelumnya seseorang telah membuatkan disainnya namun dirasa terlalu kelam. Maka Ayu Utami membuatnya sendiri dengan nuansa lebih ceria.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html