Posts Tagged ‘cerpen’

Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Iklan

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

Ternyata mitos itu benar adanya. Setelah aku berhasil menangkap bunga yang dilempar pengantin itu, kini aku bisa menikah paling cepat di antara rekan-rekanku. Dan perempuan yang aku nikahi itu, adalah si gadis pelempar bunga.

[Cerpen] Rencana

Posted: Mei 13, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

“Fira, dia jadi bisa datang kan malam ini?” tanya mama sambil menyetrika gaun yang hendak dipakainya perdana malam nanti. “Soalnya mama udah reserve untuk lima orang. Papamu juga udah berhasil melobi rekannya. Mereka bisa menyediakan posisi yang enak buat kita berlima.”

“Jadi dong ma, kebetulan hari ini dia jaga shift siang kok. Malamnya udah free.” Jawab Fira sambil meraih handuk mandinya. “Hebat juga ya Papa, bisa punya koneksi orang dalam. Kok ga bilang dari dulu sih? Fira kan jadi ga perlu repot-repot ngantri kalau ada film bagus.”

“Ya ga enak juga dong Ra. Meski Pak Kusno itu sobat papa waktu kuliah, malu lah kalau telalu sering minta tolong. Kalau bukan untuk perayaan ulang tahun adikmu, ga mungkin lah papamu minta tolong sama Pak Kusno yang super sibuk itu.”

“Iya juga ya ma. Uda dikasi tempat aja uda spesial banget lho ma. Tau ga ma, film The Avengers yang mau kita tonton tu emang kelewat terkenal lho. Sejak dari pemutaran perdana, Fira nitip sama temen yang bisa ngantriin dari sebelum bioskop dibuka. Eh, tetep ga kebagian juga tiketnya.”

“Iya, mama tau itu film juga udah ditunggu-tunggu sama adikmu. Pokoknya mama sama papa udah nyiapin kejutan besar-besaran. Kita ga sekedar dapet tiket dan tempat duduk yang enak aja lho. Kabarnya Pak Kusno bahkan memberi kita tiket teater IMAX. Gratis.”

“Hah! Yang bener ma?” mata dan mulut Fira melebar tanda tak percaya. Fira tahu teater IMAX adalah teater dengan teknologi terbaru yang kualitas gambarnya di atas kualitas tiga dimensi biasa. Dan mereka akan menonton film terkenal itu ditempat duduk strategis, tanpa perlu mengantri dan tentu saja dengan kualitas teater IMAX yang belum seminggu dibangun. Ditambah satu kesempurnaan penutup: semuanya gratis!

“Wah…wah…Fira mendadak merasa dianaktirikan ma.”

“Ya nggak dong Fira sayang.” Kata mama sambil tesenyum. “ Ini sekaligus sebagai hadiah buat adikmu yang udah berhasil diterima di UGM tanpa jalur tes. Nanti papa mama juga mau kasih hadiah buat Fira kalau bisa lulus semester ini dengan IP di atas 3,5 ya.”

“Janji ya ma.”

Mama mengangguk masih dengan senyumnya.

“Terus, mama udah pesen tempat dinner dimana?”

“Lihat saja nanti ya Fira. Mama juga udah koordinasi sama yang punya restoran. Pokoknya bakal ada kejutan juga di sana. Dia teman mama waktu SMA. Kamu ingat sama tante Linda?”

“Oh, iya ma. Tante Linda yang nasi gorengnya bikin Fira ketagihan itu kan?”

“Iya, nanti kita dinner di salah satu restoran terbaik punya Tante Linda.”

“Restoran yang mana? Tante Linda kan punya banyak.”

“Lihat saja nanti Fira. Pokoknya kejutan spesial deh.”

“Kan bukan Fira yang harus dikejutkan ma. Yang ulang tahun kan bukan Fira…”

Samar-samar mereka mendengar pintu depan dibuka kemudian di tutup kembali.

“Sssst… itu adikmu udah pulang.” Kata mama sambil berbisik.  “Udah jangan dibahas lagi. Buruan mandi sana.”

Fira yang dari tadi telah memegang handuk segera bergegas ke kamar mandi.

“Mamaaaaa,,,,coba liat ini…hiiiiiii.” teriak Fatma, adik Fira, sambil menunjukkan kawat gigi barunya. “Fatma pilih warna karetnya hijau tosca ma, keren kan.”

“Kok adek pilih hijau? Kan jadi kayak ada bayam nyelip.” Ledek mama.

“Mana ada bayam warna hijau tosca ma. Tapi gigi Fatma uda mulai ngilu ni ma.”

“Ya sabar dong sayang, katanya mau giginya dirapiin sebelum masuk kuliah.”

“Iya ma, biar Fatma ga malu. Giginya ga boleh berantakan kalau mau kuliah di kedokteran gigi, hehehe.” Kata fatma sambil nyengir setengah sengaja menampakkan kawat giginya yang hijau tosca. “O iya ma, tadi biaya kawat giginya didiskon 50% lho. Kata dokter Rifqie, itu untuk hadiah ulang tahun Fatma.”

“Oya kah? Sudah bilang terima kasih ke dokter Rifqie?”

“Waduh, lupa ma. Lagian wajar aja dong ma kalau dokter Rifqie kasih diskon. Selain karena Fatma ulang tahun, Fatma kan calon adik iparnya, hehehe.”

“Fatma ga boleh gitu. Nanti dokter Rifqie kan diundang dinner juga, pokoknya nanti adek harus bilang terimakasih ke dia ya. Dokter Rifqie juga yang nanti bakal nemenin Fatma ke UGM untuk melihat-lihat calon kampus kamu itu.”

“Iya, nanti Fatma bilang terimakasih ke dokter Rifqie. Katanya dia bakal sampai sini jam enam. Oiya ma, sisa ongkos kawat giginya ga perlu dibalikin ke papa kan? Buat Fatma aja ya. Lumayan buat traktir temen-temen.”

“Iya, boleh. Papa kan udah kasi duit itu sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi terserah Fatma mau dipakai untuk apa.”

“Horeee… jadi ga sabar pengen nunjukin gigi Fatma ke papa. Jam berapa papa pulang ma?”

“Sekarang papa masih di Jakarta. Nanti jam empat papa telepon kalau udah mau pulang.”

Fatma menengok ke jam dinding. Jam tiga lebih sepuluh. Masih lama. Pikirnya.

“Fatma nyicil packing barang bawaan yang mau dibawa ke Jogja aja sana. Kita besok berangkat naik pesawat pagi-pagi. Biar ga buru-buru. Agenda kita hari ini sampai malam soalnya.”

“Oke ma.” Fatma ngeloyor ke kamar dan berkutat dengan beberapa pakaian dan tas ranselnya.

Mama tersenyum melihat anaknya yang kini sedang bertambah umurnya. Kebanggaannya juga berlipat ketika mendapatkan kabar bahwa Fatma diterima di FKG UGM. Tangannya sudah berhenti memainkan setrikaan sekarang. Gaun biru itu sudah licin dan tergantung anggun di hanger. Mama memandangi dengan tersenyum. Membayangkan dirinya berada di dalam balutan gaun itu nanti malam.

Untuk urusan perencanaan, mama nampaknya sudah mantap. Rencana itu sudah dipikirkannya dengan papa sejak seminggu yang lalu. Mama mengingat-ingat daftar agenda yang tersusun rapi di pikirannya. Mencoba mendata kembali dan mencari apa saja yang kurang. Mama mulai dengan agenda tedekat. Suaminya dipastikan akan menelepon jam empat. Biar Fatma yang mengangkatnya. Dibuat seolah menelepon dari Jakarta padahal sebenarnya  sudah ada di depan rumah untuk memberikan kejutan buat Fatma. Suaminya juga sudah menyiapkan kejutan sendiri yaitu replika Captain America yang sudah beberapa bulan yang lalu diidamkan Fatma. Suaminya sampai harus order ke luar negeri untuk mendapatkan replika yang Fatma mau. Kemudian jam enam, sudah dipastikan pacar Fira, dokter Rifqie, bisa datang. Artinya restoran dan bioskop yang di booking untuk lima orang bisa terisi lengkap. Kemudian Tante Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Konfirmasi terakhir sudah dilakukan mama sejak tadi siang dan Tante Linda bilang kue ulang tahun dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Kata Tante Linda lagi, ga cuma Fatma yang akan terkejut, pasti yang lain juga bakal terkejut karena Tante Linda juga mempersiapkan kejutan kecil lainnya. Dinner spesial ini juga nantinya akan dipakai untuk lebih mengenal dokter Rifqie. Prosedur standar untuk lebih mengenal calon menantu. Selesai dinner agenda selanjutnya adalah nonton The Avenger. Film yang sangat dinantikan Fatma sejak pemutarannya perdana empat hari yang lalu namun tidak pernah kebagian tiketnya. Pak Kusno sudah mengirimkan kartu free pass via pos yang tiba di rumah kemarin siang. Mama maklum karena Pak Kusno tidak mungkin punya waktu untuk menyerahkannya sendiri.

Semua sudah beres. Pikir mama sambil senyum-senyum sendiri. Mama tersenyum meskipun tahu bahwa agenda malam ini akan membuat mereka semua kecapekan. Dan besok pagi, masih ada agenda lain yaitu berangkat ke Jogja untuk melihat-lihat kampus Fatma sekaligus mencari info kos-kosan.

Lamunan mama teputus oleh dering telepon di ruang tengah.

“Biar Fatma yang angkat ma.” Teriak Fatma sambil berlari ke ruang tengah. “Itu pasti papa.”

Mama melihat jam dinding. Masih jam setengah empat. Baguslah kalau suaminya bisa pulang lebih awal.

“Maaa… dicari pak Suryo.” Teriak Fatma dari uang tengah. Mukanya agak kecewa karena orang yang menelepon bukan papa.

Pak Suryo adalah atasan suaminya di kantor. Haduh, jangan-jangan papa harus pulang telat. Keluh mama dalam hati.

“Halo, selamat sore Pak Suryo.” Kata mama mengambil alih gagang telepon.

“Sore, bu.” Kata Pak Suryo di seberang sana.

“Iya, ada apa pak?”

“Begini bu, saya mau memberitahukan, bahwa…pesawat yang ditumpangi suami anda…hilang kontak sejak satu jam yang lalu. Mohon ibu bersabar dan tetap berdoa…”

Kata-kata Pak Suryo berikutnya sudah tidak dapat dicerna oleh akal sehatnya lagi. Tiba-tiba rasa sesak itu melanda hati mama. Pikirannya tak lagi terorganisir. Dan matanya, begitu kabur karena membendung air mata

Tanggal 9 Mei 2012. Ternyata Tuhan telah memiliki serangkaian rencananya sendiri sejak pukul 14.33.

Jogjakarta, 13 Mei 2012

Rifqie Al Haris

*Mengenang kembali peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Supejet 100 di Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012. Pesawat tersebut terbang pukul 14.12 dan hilang kontak pukul 14.33. Turut berduka bagi mereka dan kerabat-kerabat mereka yang harus rela menangguhkan rencana-rencana hidupnya untuk tunduk pada rencana Tuhan.

Cemburu itu Peluru by  Andy Tantono, Erdian Aji, Novita Poerwanto, Oddie Frente, Kika Dhersy Putri

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 160 pages
Published March 2011 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9789792268683
edition language: Indonesian

Sinopsis

Berawal dari gagasan 140 karakter di Twitter, 5 orang (Erdian Aji, Novita Poerwanto, Kika Dhersy Putri, Andy Tantono, dan Oddie Frente) yang berbeda latar belakang mengembangkannya menjadi cerita superpendek yang disebut fiksimini. Dengan batasan tema cinta dan cemburu (sesuai judulnya: Cemburu Itu Peluru, yang diambil dari salah satu judul fiksimini dalam buku ini), kelimanya menyajikan kisah-kisah mini yang memiliki perspektif cukup luas seluas arti cinta itu sendiri.

Bahkan dengan sebuah cerita superpendek itu, mereka mampu mengembangkannya lebih jauh menjadi film pendek yang tentunya disertakan juga di buku ini dalam bentuk DVD. Maka dengan disatukannya minat kelima penulis yang berbeda latar belakang itu dalam sebuah komunitas @fiksimini hingga menjadi sebuah buku, terciptalah sebuah bentuk sastra modern yang terdiri dari 97 cerita superpendek dan 1 DVD yang berisi 9 film pendek yang cukup menarik.

Endorsement

“Kata demi kata yang terangkai (dalam fiksimini) menjadi kumpulan cerita superpendek dijamin bikin anda senyum-senyum sendiri atau malah bergidik ngeri. Beberapa bahkan menyisakan tanda tanya dan rasa penasaran sepanjang hari. Singkat, namun membekas.” (Femina)

“Fiksimini di Twitter memang menyusupkan kesegaran di tengah dunia sastra Indonesia yang nyaris kehilangan gagasan.” (Kompas)

 

Opini

Bukan pertamakalinya status Twitter dibukukan. Mari kita lihat lagi T[w]ittit! (Djenar Maesa Ayu) dan Kicau Kacau (Reza Herlambang). Keduanya juga merupakan kumpulan cerita pengembangan dari status 140 karakter itu. Namun di buku ini, saya melihat perbedaan yang sangat kontras dengan kedua buku di atas, yaitu format pengembangan ceritanya tidak berupa cerpen melainkan fiksimini (flash fiction).

Fiksimini adalah cerita yang superpendek dan lebih pendek dari cerpen. Jika dikemas dengan bagus, maka kisah-kisah fiksimini akan menimbulkan kesan yang sangat kuat karena jika cerita itu memiliki kejutan di akhir cerita, kejutan itu datang dengan begitu cepat sebelum pembaca bisa menebaknya. Inilah menarikanya buku ini, karena cerita-cerita di dalamanya bisa membuat kita mendadak terkejut, tersenyum, sedih, merenung bahkan bertanya-tanya.

Kelima penulis dengan latar belakang yang berbeda itu mengembangkan 140 karakter itu menjadi fiksimini dengan ciri khasnya masing-masing. Saya paling menyukai karya-karya Oddie Frente yang sebagian besar fiksimininya cukup mnearik dengan ending yang mengejutkan. Judul yang paling saya suka dari masing-masing penulis adalah: Istriku si Mesin Tanya (Oddie Frente), Susi yang tak Susi (Kika Dhersy Putri), Di Doa Ibuku (Andy Tantono), Dim Sum Bersama Suamiku (Novita Poerwanto), Rindu di Oktober (Erdian Aji).

Buku ini dilengkapi dengan DVD yang berisi 9 film pendek. Diantara film-film itu adalah visualisasi dari ceita di bukunya. Sehingga akan lebih memperjelas kisah-kisah yang masih membingungkan dan ambiguitas yang abu-abu. Filmnya sendiri dibuat dengan sangat sederhana. Dan rasa-rasanya kualitas dari filmnya sendiri tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Terkesan tidak rapi jika dilihat secara keseluruhan. Akan sangat bagus jika filmnya dibikin lebih rapi dan lebih berkualitas.

Secara keseluruhan, inilah bentuk sastra modern yang paling saya suka. Begitu singkat dan sangat kuat.

Favorite Quotes

“Memori. Kubuang semua yang telah usang membusuk. Aku malu terbaca oleh Tuhan saat mati.” (hal. 47)

“Jangan tanya apa saja yang kuingat. Coba ingat apa saja yang kau rasa.” (hal. 119)

“Satu kalimat sederhana yang tidak sederhana. Kamu luar biasa!” (Hal. 142)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Aku pesan kebaya spesial ini, aku pakai untuk kali pertama, di hari pernikahanmu, sayang.

Aku cantik sekarang. Aku begitu perempuan dengan balutan kebaya ini sekarang. Namun balutannya tak mampu membalut hatiku yang meretak saat mata ini harus melihatmu berdiri di pelaminan dengan wanita yang kau pilih.

Kau memilihnya, sayang. Tak apa, itu keputusanmu. Kamu tahu yang terbaik untuk dirimu meski hal itu menjadikan hal yang terburuk bagiku. Lima tahun kita pacaran adalah anugerah untukku, sedangkan kamu menginginkan anugerah itu terhentikan sebulan yang lalu. Dengan luka, aku merelakanmu meski aku telah mengorbankan kehormatanku untukmu.

Aku tahu kau butuh wanita yang lebih sempurna. Tidak seperti diriku, yang baru setahun yang lalu kudapatkan kewanitaan itu. Itupun demi kamu.

I

“Kayaknya aku mulai mencintai sosok yang aku tulis deh.” Kata Rana, seorang novelis kepada Safa, editornya.

“Itu gila Ra, simpan imajinasi gilamu untuk novel berikutnya aja yah.” Jawab Safa yang sedari tadi sibuk membaca sesuatu dari notebook-nya di seberang meja Rana.

“Nggak Fa, aku serius. Tokoh yang aku tulis ini begitu ideal. Lima bulan aku nyelesein novel ini, rasanya aku mulai cocok dengan dia.”

“Sinting. Tentu saja ideal, tokoh itu kamu yang bikin. Kamu yang mengaturnya untuk bisa jadi tokoh ideal. Kamu yang melahirkan. Kalau kamu jatuh cinta, lantas apa namanya? Dibilang cinlok juga bukan. Lebih cocok dibilang psikopat. Mana ada orang yang jatuh cinta pada hasil pemikirannya sendiri?”

“Entahlah, mungkin juga aku memuja daya khayalku sendiri. Tapi lihatlah, lima bulan aku membangun karakternya. Membangun kisah-kisahnya. Menciptakan pola berpikirnya. Aku beri dia konflik, intrik dan masalah. Kuciptakan juga jalan keluar dan solusi untuk itu semua. Aku buat dia bisa menyelesaikannya dengan bijak. Ya, itu memang jalan pikirku sendiri. Karangan fiktif dari kreativitas otakku sendiri. Tapi ada suatu chemistry jika melihat kembali dirinya sebagai sosok yang utuh. Setelah novel ini selesai, aku bukan lagi melihat sebagai lembaran-lembaran hasil penciptaan suatu ide. Tapi lebih dari itu, sosok itu menjelma menjadi individu. Menjadi seseorang yang utuh. Seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta.”

Sekilas  Safa melihat ada wajah serius di air muka Rana. Itu muka jatuh cinta, itu nada bahasa orang yang kasmaran. Kata-katanya serius dan itu cukup untuk membuat rikuh Safa yang hendak mengejeknya lagi.

“Ra, kamu lagi kangen sama Jo ya?” Safa teringat betapa Rana dan Jo adalah pasangan yang pernah telihat begitu serasi, begitu mesra dan sangat klop dalam segala hal. Namun tak ada yang mengerti alasan apa yang membuat Jo meninggalkan Rana begitu saja.

“Ngawur kamu Fa. Jangan sebut nama itu lagi deh.” Kata Rana sewot, “ Aku bukan mau cari pelarian atau pelampiasan. Toh aku juga belum mau nyari cowok lagi. Apalagi cowok yang nyata secara fisik. Kayaknya lebih enak kalau aku mencintai tokoh yang aku bikin sendiri.”

Aku makin ga memahamimu, Ra. Kata Safa dalam hati. Kayaknya kamu beneran lagi kangen sama Jo deh.

“Kamu pasti susah memahamiku Fa.” Sahut Rana.

Ups, segitu kerasnyakah kata hatiku barusan?

“Gini Fa, ibarat ada seseorang yang nge-fans sama tokoh kartun. Inget ga, bahkan waktu kamu kecil, jamannya masih suka lihat Sailormoon, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu naksir sama Mamoru Chiba si tuxedo bertopeng.”

“Ya ampun Ra, namanya juga masih anak-anak. Jangan samakan dong.”

“Oke…oke… mungkin kamu ga pernah tahu berapa banyak remaja-remaja yang masih suka lihat kartun. Banyak di antara mereka yang naksir sama tokoh-tokoh kartun, sebut saja Shinichi Kudo atau Ran Mouri. Bahkan kamu mungkin juga pernah dengar yang lebih umum lagi. Coba kamu lihat wanita-wanita paruh baya yang masih mengoleksi boneka Barbie. Beberapa di antara mereka malah naksir sama Ken. Yang lebih ga masuk akal lagi, ada segelintir orang yang terang-terangan naksir sama sosok piala Oscar yang katanya sangat tampan dan macho. Bahkan beberapa pria dewasa naksir sama patung Liberty.”

“Iya, mereka adalah kumpulan orang-orang psikopat jablay Ra. Tapi berjanjilah kamu mendadak segila itu sebelum kontrak PR novel trilogimu yang kurang 2 seri lagi itu selesai.” Otak Safa sudah makin berkabut dan makin sulit menangkap secercah cahaya dari penjelasan perasaan Rana. “Tapi menurutku mereka masih lebih waras dibanding kamu Ra.”

“Maksudmu?” Dahi Rana berkerut. Tanda bahwa gantian kepalanya yang berkabut.

“Mereka mencurahkan cintanya keluar Ra. Setidaknya mereka bisa menumpahkan cinta itu ke sesuatu. Sedangkan kamu, sama saja mencintai dirimu sendiri. Itu manifestasi paling parah dari penyakit narsis. Atau jangan-jangan kamu menderita gejala awal Schizophrenia.”

“Aku sudah menyelesaikan novelku. Awalnya di dalamnya adalah ide-ide kecil. Terpisah-pisah. Lalu aku susun ide itu untuk membentuk suatu karakter. Ibarat seorang guru yang mengajari muridnya yang tak tahu apa-apa. Si guru memasukkan ide-ide yang disebut ilmu kepada si murid. Membuat si murid menjadi ideal dalam takaran standar si guru. Akhirnya ketika si murid telah mencapai intelegensi ideal, si murid bukan lagi kumpulan ide-ide dari si guru melainkan sudah menjadi satu individu terpisah yang utuh. Di titik itulah orang akan memaklumi jika si guru mulai jatuh cinta pada sosok individu si murid yang kini telah ideal di matanya.”

“Oke, cukup dengan curhatan kisah cintamu yang abstrak itu. Seminggu lagi, taruh naskah novelmu itu di mejaku. Sementara aku mau konsentrasi untuk menyiapkan peluncuran Antologi Cerpenmu itu dulu. Udah di kejar deadline nih. Oiya, ingat, aku ga mau kisah novelmu itu berlebihan. Ngerti kan maksudku? Jangan sampai kamu memaksakan alur. Hanya gara-gara kamu jatuh cinta sama tokoh sentralnya, lantas kamu bikin nasibnya selalu beruntung. Itu ga realistis.”

“Tenang Fa, kamu ga perlu meragukan kemampuanku. Aku yakin kita masih bisa mencetak best seller lagi. Negara ini masih suka dengan format novel berseri. Toh aku jatuh cinta setelah novel itu selesai. Bukan saat ditengah aku menulis. Aku jamin ide cerita dan alurnya masih ori.”

II

“Fa, sebagai penulis aku mulai berpikir ni.”

“Sebentar, tentang apa ni? Bukan tentang kisah cinta Schizophrenic itu lagi kan?” muka Safa sudah skeptis.

“Ayolah Fa, dengarin aku dulu deh. Jangan pasang muka macam detektif ketemu penjahat gitu dong.” Rengek Rana.

“Baiklah, tapi biarkan otakku bekerja bebas ya. Kamu tahu aku lagi sibuk.” Sambil terus saja membaca setumpuk naskah Antologi Cerpen Rana.” Biarkan otakku menyeleksi mana yang masih bisa dicerna dan membuang bagian yang aku ga ngerti. Aku lagi males berpikir. Otakku lagi ga bisa dibilkin multitasking.

“Tenang Fa, aku tahu kok kemampuan otakmu. Aku usahakan menyusun bahasa yang paling sederhana.”

“Sialan!” Safa mulai sewot hingga pensil yang dipegangnya kini langsung melayang ke arah jidat Rana.

“Auw! Sialan kamu Fa, untung ga nancep. Bisa-bisa kamu kehilangan pekerjaan kalau aku kehilangan kemampuan berpikirku.”

“Udaaah buruan ceritanya.” Kata Safa ketus.

“Setelah aku pikir-pikir,” Rana mulai bercerita, “dengan latar belakangku sebagai penulis, aku sadar bahwa aku bisa membuat dunia sesukaku. Menciptakan tokoh dengan berbagai macam kisah di dalamnya dan aku memegang semua takdir-takdir mereka. Aku bisa membuat mereka saling jatuh cinta, patah hati, membenci atau bahkan bisa saling membunuh.” Rana berhenti sebentar agar Safa bisa mencerna dengan baik.

“ Oke, sejauh ini aku masih bisa memahami. Lalu apa yang kamu cemaskan?”

“Aku khawatir, dengan otoritas macam itu, kita ternyata hanyalah bagian kecil dari cerita fiksi. Apa kamu pernah berpikir seperti itu Fa? Bahwa kita hanyalah tokoh fiktif dari seorang penulis lain di luar dunia kita.”

Safa terdiam sepenuhnya dari aktivitasnya. Berpikir. Sedangkan Rana juga terdiam untuk memberi waktu agar ide yang baru saja dilontarkan itu mengendap dalam benak Safa.

“Dua tahun aku menghadapi ide-ide luar biasa lewat cerpen-cerpenmu membuatku tebiasa untuk menghadapi kegilaan apa yang akan kamu lontarkan selanjutnya.” Kata Safa. “Tapi pemikiranmu barusan jauh lebih gila dari biasanya. Karena kamu secara ga langsung juga mengusik keberadaanku. Duniaku. Jika kamu hanya wujud dari khayalan seorang penulis, itu artinya aku juga ga lebih dari sekedar tokoh pelengkap untuk kisahmu. Bukankah begitu?”

“Ah, jangan terlalu pesimis Fa. Belum tentu aku tokoh utamanya kan? Tapi melihat kedekatan kita, aku yakin jika tepaksanya aku menjadi tokoh sentral, kamu ga mungkin berstatus figuran.”

“Oke, nampaknya penjelasanmu itu masih bisa aku cerna. Otakku juga ga mual-mual amat untuk memuntahkan idemu barusan. Soalnya kalau kita memang sekedar tokoh kecil dari imajinasi seorang penulis, itu justru bisa menjelaskan keabstrakan jalan pikirmu dan alur hidupmu.”

“Maksudmu gimana Fa?” air muka Rana nampaknya bertambah antusias ketika Safa memberikan respon yang dia harapkan.

“Gini Ra, kalau memang benar kita ini hanya tokoh cerita khayalan, aku yakin kita sedang berada dalam suatu cerpen. Bukan novel. Aku yakin benar itu. Alasannya, balik lagi ke kisah cintamu yang absurd  itu Ra. Jo ninggalin kamu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kamu ga tahu alasannya, apalagi aku. Itu tandanya kita berada dalam kisah cerpen. Kalau novel, kamu pasti sudah tau alasannya dong Ra. Novel punya banyak ruang untuk menjelaskan secara detail. Tapi cerpen begitu pendek. Ga ada tempat untuk menceritakan detail kisah cintamu sama Jo.”

“Masuk akal Fa, kita ditulis sebagai cerpen Rana dan Safa oleh penulis yang mungkin saja begitu bodoh, kehabisan ide atau sedang malas untuk membelokkannya menjadi cerita novel. Terlebih lagi kamu dengan cepat bisa menyetujui ide gilaku ini kan? Tanpa konflik dan perlawanan sama sekali. Lalu pertanyaannya, siapakah yang menciptakan kisah kita Fa? Siapa yang mengarang cerpen Rana dan Safa sekaligus yang membuat aku tergila-gila sama tokoh karanganku sendiri? Karena itu juga termasuk pola pikir gila yang hanya bisa diciptakan oleh seorang penulis dengan otoritas penuh terhadap hidupku.”

Sesaat mereka terdiam, saling memandang. Berusaha menyelami pikiran masing-masing sekaligus menyelami pikiran satu sama lain. Ada suatu diskusi tak kasat mata di antara keduanya.

“Yang jelas si penulis ga mungkin jauh-jauh dari kehidupan kita Fa.” Kata Rana memecah keheningan yang singkat itu.

“Tapi ga mungkin kamu mencurigai diri sendiri, aku atau Jo. Karena kita berada dalam satu realitas cerita yang sama. Nampaknya kecurigaanku tinggal dia seorang deh.”

“Ha? Siapa Fa? Tumben otakmu cerdas kali ini. Buruan jelaskan.”

“Tentu saja Ra. Otakku nampaknya harus dibikin cerdas secepat ini karena kita di dalam cerpen. Nampaknya kita sudah di penghujung cerita. Oke, kalau gitu aku kasih tahu. Tapi ini baru kecurigaan. Belum tentu benar.”

“Iya, siapa?” Rana tak sabar.

“Tokoh karanganmu yang kamu cintai Ra.”

“Hah! Mana bisa? Jelas-jelas aku yang menciptakan dia.”

“Katamu si penulis itu punya otoritas penuh terhadap tokoh yang ditulisnya kan? Aku curiga, si penulis sengaja membuat kamu menulis tentang dirinya Ra. Bagimu itu hanya kisah fiktif. Tapi justru kamulah tokoh fiktif yang sedang menuliskan biografi tentang si penulis.”

“Hmmm.” Rana mengangguk-angguk. “Cukup membingungkan tapi masuk akal. Dialah satu-satunya yang berada di luar dunia kita. Bisa jadi dia yang menyamar. Itu artinya, si penulis kita ini narsis juga ya Fa. Dia menciptakan tokoh fiksi bernama Rana dan Safa untuk menuliskan kisah biografinya sekaligus membuatku jatuh cinta padanya. Padahal mungkin saja dialah yang mencintaiku. Bukankah begitu?”

“Hahaha nampaknya sang pencipta kita ini adalah penulis yang kesepian Ra. Tapi jangan Ge-Er dulu dong. Kita ga tahu apa isi di otaknya. Bisa jadi kita sepenuhnya fiktif. Maksudku, kita sama sekali bukan suatu proyeksi emosional dari sang penulis. Murni karangan. Dengan kata lain, kita bukan tokoh sentral Ra. Tapi hanya figuran alis pelengkap.”

“Malangnya nasib kita ini ya Fa, hahaha.” Sejenak mereka tertawa bersama melepaskan seluruh ide gila mereka.

“Lalu, apa yang mau kamu perbuat setelah tahu kalau kita hanya tokoh fiksi Ra?” tanya Safa.

“Yang jelas kita ga bisa berusaha melompat keluar kan. Hidup kita di sini. Di cerpen ini. Jika kita keluar, kita jadi ga berwujud. Mati.”

“Tapi kita juga akan lenyap begitu saja jika cerpen ini selesai kan?”

“Yah, semoga sang penulis tidak tiba-tiba amnesia atau semoga dia punya ide untuk menghidupkan kembali tokoh Rana dan Safa atau membelokkannya ke cerita bersambung atau novel agar umur kita lebih panjang.”

“Yup, kita memang ga punya otoritas penuh terhadap keberadaan kita. Kalau beneran sang penulis itu adalah tokoh yang kamu tulis, coba ceritakan, siapa si dia itu? Aku ga sabar juga kalau harus nunggu seminggu untuk baca novelmu secara keseluruhan. Kasih tahu aku sinopsisnya sekarang Ra.”

“Sabar dong Fa, tunggu seminggu lagi aja ya. Bahkan sinopsisnya juga ga bakal aku ceritakan dulu biar kamu penasaran.”

“Ah, dasar. Ya sudahlah, setidaknya kasih tau aku siapa namanya.”

“Oke-oke, namanya Rifqie. Lengkapnya Rifqie Al Haris. Seorang dokter gigi. Dialah tokoh utama di novelku yang membuatku jatuh cinta.”

“Dan bisa jadi dialah sang penulis yang menciptakan kita kan?” tambah Safa.

Senang bisa berkenalan dengan anda wahai Tuan Penulis. Tetaplah menulis tentang kami ya. Jadikan kami sebagai tokoh dalam novel berseri. Karena kami ingin hidup lebih lama. Kata Safa dalam hati.

Ygyakarta, 28 April 2012

Rifqie Al Haris

Tiada yang mengalahkan kesegaran mandi sore seperti yang aku alami sekarang ini. Setelah sejak pagi bersuka cita berenang dan berendam di sungai belakang rumah, sekarang aku merasakan guyuran air rumah yang bersih dan segar untuk menetralkan air sungai yang kotor itu. Lihatlah, kesegaran ini sempurna betul ketika guyuran itu tercipta karena tangan-tangan kedua orang tuaku yang nampak benar  perhatiannya berlebih.

Aku memang masih pantas dimandikan. Setahun yang lalu aku juga dimandikan ketika aku ketahuan mandi di sungai. Aku diguyur dan diomeli. Wejangan yang berbalut vokal yang meninggi dari mamak dan cubitan yang berbekas kebiruan dari jari kasar bapak justru terasa lebih menciutkan daripada ancaman akibat buruk mandi dengan air sungai seperti kulit borokan misalnya. Namun nampaknya usiaku sekarang sudah cukup umur untuk mandi di sungai. Buktinya mamak tidak marah dan bapak tidak mencetot pantatku lagi. Aku dibiarkan mandi di sungai seperti bapak yang selalu berendam menambang pasir di sungai yang sama dengan sungai tempatku bersenang-senang. Barangkali bapak juga telah mempersiapkanku untuk mengembangkan kemampuan pengerukan pasir konvensional itu. Agar bisa melanjutkan profesinya kelak.

Maka inilah pertama kalinya aku diguyur dimandikan dengan suasana yang damai. Aku menikmatinya. Bahkan percikan airnya membentuk pelangi kecil ketika berpadu dengan sinar mentari sore. Membuat suasana ini begitu sempurna.  Lihatlah mata orang tuaku yang mulai menua itu. Ada kasih yang tak terbayar oleh materi. Usiaku enam tahun sekarang. Namun aku tak malu-malu seperti ini jika rasa kekeluargaan ternyata jauh lebih besar dari malu itu sendiri. Buat apa malu jika aku merasa luar biasa nyaman? Bahkan ketika beberapa kerabat tiba-tiba berkunjung ke rumah saat aku masih bugil dan basah, aku tidak merasa malu. Atau mungkin saja belum. Karena bapak segera menyudahi guyuran segar itu dan dengan cekatan mengambilkanku selembar pakaian.

Saat itulah aku mendengar para kerabat berkata, “Innalillahi wa innailaihi roji’un.” Ketika mereka melihat jasad bugilku selesai dimandikan.

Dan aku merasa melesat bersama kalimat itu.

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.

Urusan gigi palsu itu sudah banyak yang tahu. Gigi palsu eyang Suro yang bertuah katanya. Semua warga di sini juga tahu. Eyang Suro memang sudah belasan tahun meninggal. Tapi lihatlah usaha mi ayam Suronya itu makin berjaya saja rupanya. Kini sudah diambil alih sepenuhnya oleh salah satu anaknya. Lihatlah cabangnya juga sudah tersebar di tiga kota sebelah dan sebentar lagi pulau seberang juga hendak diresmikan. Tentu saja tanpa gigi palsu bertuah itu, keturunan eyang Suro tidak akan menikmati warisannya yang bercabang-cabang itu hingga sekarang.

Aku adalah cucu eyang Suro. Akankah pamor keberkahan gigi palsu itu sampai padaku? Nampaknya tidak. Karena bapak selalu menghidari berurusan dengan perkara itu.

“Hanya bapak yang tidak mendapatkan apa dulu yang diperebutkan paklik-paklikmu itu Ganjar.” Katanya pada suatu waktu.

Ya, aku tahu cerita tentang asal-usul dan nasib gigi palsu eyang Suro. Dahulu eyang orang melarat. Tidak punya apa-apa. Hartanya sudah habis dijual ketika istrinya, eyang putri, melahirkan Paklik Somad saudara bapak yang paling muda. Eyang sudah menghabiskan hartanya untuk membesarkan bapak dan kedua adiknya. Dan masih saja membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak terakhirnya.  Maka, praktis seluruh harta benda eyang ludes tergadaikan.

“Eyangmu pergi mencari pesugihan.” Kata-kata bapak bagian itu terus saja aku ingat sampai sekarang. Pesugihan. Betapa rendahnya riwayat moyangku, pikirku.

“Eyang ketemu orang pintar yang bisa menjamin lancarnya berkah. Mbah dukun dari seberang yang sudah terkenal ampuhnya. Mbah dukun itu bisa mengisi benda-benda semacam keris dan pusaka agar pemiliknya diberi keberkahan. Sayang eyangmu tidak punya lagi benda-benda yang bisa diisi. Sudah habis dijual dan digadaikan. Hanya gigi palsu yang dia punya.”

Maka itulah awal dari kisah gigi palsu bertuah itu. Dukun itu benar-benar hebat. Tak ada benda pusaka, gigi palsupun jadi. Keberkahan dan rejekipun melimpahi orang yang memakainya. Eyang mendadak bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bicaranya jadi bertuah. Pesan dan sarannya juga bertuah. Wajar saja karena suara itu keluar dari rongga mulut yang di situ terdapat benda yang diberkahi. Maka tak heran jika rejeki juga mengikuti.

Gaya bicara eyang mendadak kharismatik dan mampu meluluhkan orang-orang kaya yang mau memberi pinjaman modal untuk usaha eyang waktu itu. Gigi palsu bertuah itu tidak sedikitpun menunjukkan penyusutan pamornya seiring waktu. Mungkin saja sang dukun memberinya isian yang bersifat permanen.

“Ada tiga cara pengisian.” Bapak menjelaskan kepadaku. “ Pertama, dengan berkah ilahi. Si dukun akan berdoa kepada Tuhan agar benda yang diisi diberi keberkahan. Cara kedua dengan pengisian yoni atau makhluk halus yang diisikan kedalamnya. Ketiga dengan induksi atau penyaluran, yaitu si dukun akan menyalurkan energinya sehingga benda tersebut mempunyai berkah. Cara yang pertama akan memberikan efek yang permanen sedangkan yang kedua dan ketiga bersifat sementara.”

Ya, aku menganggapnya isian yang pertamalah yang membuat rejeki eyang tidak pernah menyusut. Tapi belakangan aku sedikit sangsi. Bisa jadi itu hanya anggapanku saja yang berusaha melarikan diri dari jeratan vonis kemusyrikan karena jelas cara yang petama lebih agamis dibading yang lain. Meskipun aku tahu segala jenis pesugihan tidaklah bisa dibenarkan.

“Hanya bapak yang tidak mendapatkan apa dulu yang diperebutkan paklik-paklikmu itu Ganjar.” Kata-kata itulah yang akhirnya mampu menenangkan jiwaku.

Beberapa bulan setelah eyang meninggal, gigi palsu bertuah itu menjadi rebutan diantara saudara-saudara bapak. Mereka serakah. Pamor gigi palsu itu sudah bukan rahasia lagi diantara mereka dan diantara warga sekitar. Maka wajarlah jika tidak hanya mereka yang memperebutkan. Tak heran juga kalau salah satu dari dua rahang gigi palsu itu dicuri orang. Rahang bawah yang hilang. Alhasil, makin gila pulalah ketiga saudara bapak memperebutkan benda yang tinggal satu itu.

Maka dengan kesepakatan bersama, gigi palsu rahang atas itu dipecah menjadi tiga sama besar. Paklik Somad mendapatkan bagian gigi depan. Paklik Tarjo adik pertama bapak mendapatkan bagian gigi-gigi belakang sebelah kanan dan paklik Priyo adik kedua bapak mendapatkan gigi-gigi belakang sebelah kiri. Adillah sudah sekarang.

“Untung kamu tidak tertarik kang.” Kata paklik Tarjo pada bapak. “Kalau kamu ikut nagih jatah, bakal susah membaginya sama besar.”

“Aku tidak mau makan dari hasil yang haram.”

“Jangan berlebihan kang.” Sahut paklik Priyo. “ Dari dulu kamu juga makan dari uang bapak. Jangan sok suci.”

“Kalau begitu aku mau mulai mensucikan darahku yang dari dulu terkena makanan haram dari duit haram. Ini sisi baik dari meninggalnya bapak. Sisi baik juga satu rahangnya hilang dicuri orang”

“Terserahlah. Hidup itu sulit kang. Ingat itu.” paklik Priyo menutup pembicaraan itu dengan malas dan segera pergi dari situ.

Mereka melakukan cara yang gila untuk menjaga jimat mereka masing-masing. Belajar dari kelalaian mereka dan kegagalan menjaga rahang bawah yang akhirnya kecurian itu, mereka serentak memaksakan memakai gigi palsu itu kedalam mulut mereka masing-masing. Betapa menjijikannya membayangkan mereka harus ngemut gigi palsu busuk berwarana kecoklatan dan bercak karang gigi yang telah mengalami pengendapan selama puluhan tahun di dalam mulut eyang itu. Paklik Somad yang mendapatkan jatah gigi depannya akhirnya rela mencabutkan gigi aslinya yang masih sehat hanya untuk memberi ruang agar gigi palsu eyang bisa direkatkan di rahangnya. Lihatlah gigi depan palsu milik eyang yang dipaksakan terpasang di situ nampak benar tidak sesuai baik dari segi ukuran dan warnanya yang jauh lebih coklat dan kotor daripada gigi asli di samping-sampingnya. Paklik Tarjo yang memegang gigi palsu bagian belakang kanan sedikit lebih mujur. Gigi belakang kanannya memang sudah membusuk. Kini tinggal akar gigi yang mencuat di gusinya. Dengan palu, tatah dan selembar ampelas kasar dia berhasil membuat sisa-sisa reruntuhan giginya itu rata dengan gusi. Menjadikan tempat yang lapang untuk potongan gigi palsu bertuah itu. Makanya tidak perlu repot-repot mencabutkan giginya. Tapi tak ada yang lebih mujur dibanding paklik Priyo, si pemegang bagian gigi palsu sebelah belakang kiri. Memang gusi belakang kiri paklik Priyo sudah lama gundul karena sering dicabut. Dulu sering bikin bengkak katanya. Makanya tanpa usaha sedikitpun, gigi palsu eyang dengan mudahnya menghuni gusi kosongnya itu.

Tentu saja urusan pasang memasang itu diserahkan pada mantri gigi di kota sebelah agar menjamin sang mantri tidak pernah mendengar kabar tentang gigi palsu bertuah itu. Tentu saja sang mantri heran dengan perilaku ketiga bersaudara itu yang memaksa memasang gigi palsu busuk itu di mulut mereka. Tapi dengan sedikit melebihkan tarif pembayaran, sang mantri dengan senang hati tidak banyak bertanya. Dan gigi palsu butut itu sudah merekat permanen di mulut mereka masing-masing. Merekapun bangga, jimat yang akan memberinya keberkahan itu melekat erat dimulut mereka. Tidak mungkin lagi dicuri orang, pikir mereka.

Maka seperti yang telah dirumuskan, kehidupan ketiga saudara bapak meroket dengan singkat. Lihatlah Paklik Somad yang memegang kendali usaha mi ayam eyang kini sudah mengepalai puluhan cabang di tiga kota sebelah dan sebentar lagi satu cabang di pulau seberang juga hendak diresmikan. Paklik Tarjo yang mendapat bagian sawah yang berhektar-hektar peninggalan eyang itu semakin saja berjaya dengan beras kualitas ekspornya dan mengatarkannya pada perluasan usaha ekspor impor bidang lain juga. Paklik Priyo yang mendapatkan bagian lain dari tanah warisan nampaknya mampu mengelola dengan baik. Digadaikannya sebidang tanah di desa itu untuk membeli tanah di kota. Tapi perhitungannya tidak meleset. Tanah di kota itu sangat strategis. Dibangunnya kontrakan dan kos-kosan untuk para mahasiswa yang kuliah di universitas dekat situ. Dengan penghasilan yang melimpah, tanah di desa mampu ditebusnya kembali.

Sedangkan bapak, telah menjual tanah perkebunan hasil warisan itu untuk membayar biaya kuliah tiga semester awal. Malangnya keluarga kami yang hidup dengan lurus. Namun siapa bilang usaha kami tidak menampakkan hasil? Semenjak semester keempat aku bisa mengajukan beasiswa dari daerah. Bapak Bupati yang baru dilantik waktu itu mengadakan program beasiswa untuk putra daerah yang berprestasi. Aku berhasil memperpanjang beasiswa itu dari semester ke semester hingga saat ini.

Semester kali ini tidak seperti semester-semester sebelumnya. Ini lima kalinya aku berhasil memperpanjang beasiswaku. Kali ini akau akan bersalaman dengan Pak Bupati. Acara penyerahan beasiswa kali ini akan lebih meriah dari sebelumnya. Tentu saja pengambilan beasiswa sebelumnya hanya lewat kantor keuangan. Tinggal tanda tangan, petugas loket akan memberikan uangnya. Tapi kali ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun kabupaten. Maka wajarlah kalau penyerahan kali ini dibarengkan dengan perayaan itu.

Inilah dia Bapak Bupati yang aku nantikan.

“Nak Ganjar.” Katanya sambil menyalamiku. ”Pertahankan prestasimu ya. Selamat.” Senyumnya mengembang.

Namun senyumku malah merapat.

Deretan gigi bawah Pak Bupati tidak cocok dibanding dengan yang atas. Terlalu jelek, kotor dan tidak pas ditempatnya. Dan aku kenal betul siapa yang pernah memakai gigi bawah itu sebelumya.

Ternyata efek dari berkah haram gigi palsu itu belum juga berhenti. Barangkali memang permanen, pikirku.

 

Kunjungi cerpen saya lang lain: klik di sini