Archive for the ‘cerpen’ Category

Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

I

“Pak, Jaka boleh kuliah gak?” Jaka merasa sudah waktunya pertanyaan itu disuarakan. Masa penghabisan di bangku SMA sudah di depan mata. Sedangkan pertanyaan itu sudah dirumuskan oleh hatinya yang tak pernah nyata bersuara.

“Percayakan sama bapakmu ini, Jaka. Kamu gak perlu khawatir. Kamu memang harus kuliah.” Kata bapaknya. Senyum di sela kata-katanya itu selalu bisa menentramkan hati Jaka yang gulana.

“Memangnya duit bapak cukup?”

“Kamu harus percaya, pasti ada jalan. Harta orang tua gak bakal habis jika dipakai untuk membiayai pendidikan anaknya.”

“Dani bahkan sudah siap-siap duit ratusan juta, pak. Dia merasa gak yakin dengan kemampuannya. Biar duit yang bekerja katanya.”

“Kamu gak perlu mikir duit. Biar bapak yang mikir. Kamu rajinkan lagi belajarmu ya. Percayakan pada otak. Jangan pada duit.”

“Tapi otak Jaka dan otak Dani sama, pak. Dari dulu rankingnya juga selalu atas bawah. Mending kalau atas bawahnya di lima besar. Bapak kan tahu ranking jaka terbaik cuma di peringkat 23.”

“Otak kamu belum telambat untuk dibikin lebih pandai kan? Masih ada waktu Jaka. Itulah senjatamu. Sudah sana, buka bukumu!”

Semangat Jaka kembali tersulut. Dia betekad untuk bisa berkuliah di tempat bapaknya itu bekerja. Bapaknya sudah belasan tahun bekerja sebagai tukang parkir di fakultas Teknik di sebuah Universitas Negeri ternama. Mimpi-mimpi bapaknya agar anaknya bisa menjadi mahasiswa telah tertanam sejak bapaknya bekerja di lingkungan kampus. Tempat para intelektual itu menuntut ilmu. Mimpi itu juga tumbuh di benak Jaka sejak kecil.

II

“Dapet berapa jadinya, Dan?”

“Tujuh ratus lima puluh pa. Ga bisa kurang lagi.” Jawab Dani.

“Udah naik lagi ya?”

“Iya pa. Makin gila-gilaan aja harganya. Tahun lalu, untuk fakultas Kedokteran, tujuh ratus lima puluh itu udah kisaran maksimal. Masih bisa turun. Tapi tahun ini, jumlah segitu udah minimalnya. Maksimalnya sampai delapan ratus.”

Papa Dani geleng-geleng kepala mencerna nominal sebanyak itu.

“Tapi dijamin aman kan?”

“Dijamin aman pa, DP nya bisa sepuluh persen dulu. Sisanya kalau udah diterima. Sistemnya juga aman kok pa. Berlapis gitu. Jadi Dani sendiri gak tahu siapa yang bakal jadi Joki ntar. Dani cuma ketemu sama makelarnya.”

“Ya sudah, pokoknya kamu atur sendiri. Jangan sampai kena tipu lho ya.”

“Beres, pa.”

Di mata Dani, sudah terbayang fakultas Kedokteran yang sudah dimimpikannya sejak sepuluh persen DP itu diserahkan. Mimpi yang menurut Dani harus dikejar meski hal itu berimbas pada papanya yang harus mengeluarkan dana tujuh ratus juta rupiah. Toh papanya juga gak sulit mengumpulkan uang sejumlah itu.

Sepuluh persennya sudah kepegang. Katanya dalam hati. Uang muka sepuluh persen dirasa sebagai cicilan nasib baik juga.

III

Ada  enam orang di ruangan tertutup itu. Si koordinator sudah memulai koordinasinya sejak lima belas menit yang lalu.

“Kita masih memakai sistem tahun lalu karena belum ada sistem yang lebih baik dari itu.” kata koordinator, “Jadi nanti ada lima master yang akan mendampingi pasien.”

Randa tahu betul istilah ‘master-pasien’ itu. Master adalah sebutan untuk joki dan pasien adalah sebutan untuk klien. Sudah tahun ketiga dia jadi ‘master’. Sudah tahu betul seperti apa ‘sistem tahun lalu’ yang dimaksud koordinator.

“Meski kalian sudah pada ngerti, pada hapal, saya perlu review lagi biar kalian tambah mantap.” Kata koordinator, “Terutama untuk Dado sama Tengku yang baru tahun lalu jadi master.”

Dua orang yang disebut namanya manggut-manggut. Yang lain tetap menyimak.

“Kalian berlima  nanti ikut masuk ke ruang ujian sebagai peserta ujian resmi. Alat komunikasi sudah siap terpasang rapi seperti saat technical meeting kemarin sore. Kalian kerjakan soal-soal itu sebaik-baiknya. Lalu kirimkan jawaban ke saya. Jawaban yang terkumpul di saya akan saya analisis. Kesamaan jawaban terbanyak saya anggap sebagai jawaban yang benar. Jawaban itulah yang akan saya kirimkan ke pasien. Tentu saja pasien juga telah dilengkapi alat komunikasi tersembunyi. Untuk mengantisipasi adanya perbedaan kode soal, tolong tuliskan juga kode soal yang kalian pegang. Jadi saat saya nanti tiba-tiba dihadapkan dengan lima jawaban yang seluruhnya berbeda, itu artinya kalian memegang lembar soal yang berbeda. Solusinya gini, nanti akan saya suruh si pasien menuliskan kode soal yang sesuai dengan kode soal salah satu master senior. Meskipun berbeda dengan soal yang dipegang pasien, itu gak masalah karena komputer hanya men-scan kode soal yang ditulis di lembar jawaban. Komputer tidak akan mencocokkan antara lembar jawaban dan lembar soal yang dibawa pasien. Beberapa tahun lalu saya pakai cara seperti itu dan berhasil. Hal itu boleh dilakukan daripada kita tidak profesional dengan memberikan jawaban yang asal atau perkiraan saja. Ada yang mau ditanyakan dulu?”

Tidak ada suara, satu dua menggelengkan kepala.

Koordinator melanjutkan, “Pasien kita tahun ini total tujuh orang. Untuk pembagian fee, meskipun sudah saya tegaskan di awal, sekedar mengingatkan lagi saja, bahwa lima puluh persen total uang yang masuk adalah bagian saya. Sedangkan lima puluh persen sisanya dibagi rata untuk kalian berlima. Bagian saya besar karena risiko yang saya tanggung juga besar. Saya ujung tombak. Saya orang yang langsung berhubungan dengan pasien. Mereka mengenal saya. Sedangkan kalian para master, tetap terjaga identitasnya karena mereka tidak akan pernah bertemu muka dengan kalian. Ada yang keberatan?”

Tidak ada suara. Air muka mereka menyetujui.

“Sedangkan bagian kalian berlima,” lanjut koordinator, “akan dibagi sama rata. Tidak peduli mana master senior mana yang junior. Sekian briefing dari saya. Sesi diskusi saya buka.”

Beberapa orang mulai diskusi dengan sesamanya. Randa tidak butuh lagi diskusi. Dia sudah meluluskan belasan pasien sepanjang kariernya. Dialah master senior.

IV

Seorang pria tambun berkacamata duduk di belakang meja kantor dengan papan nama yang berisi lebih banyak huruf titel dibandingkan dengan huruf namanya sendiri. Bardi namanya. Tanpa nama belakang. Titel itulah yang dipakai sebagai senjata pencalonannya menjadi dekan dua tahun yang lalu. Dan kini dia amat sangat menikmati singgasana tertinggi di lingkungan fakultas tesebut.

Namun hari itu, dahi Bardi berkerut. Hatinya abu-abu. Pikirannya juga sedang letih mengangkat beban masalah. Ditatapnya pesawat telepon di mejanya itu rapat-rapat. Perlu waktu lama bagi Bardi untuk memutuskan mengangkatnya dan menekan serangkaian nomor.

Nada sambung terputus oleh suara seorang pria di seberang sana.

“Ya, halo…” kata Bardi, “Ini saya, Pak Bardi dekan fakultas Teknik. Kalau kamu jadi mau diluluskan semester ini…” Nada kalimatnya semakin canggung.

“…bawakan saya lima puluh ya.” Lanjutnya.

Sesaat kerutan di dahinya mengendur saat Bardi meletakkan gagang telepon. Abu-abu di hatinya sedikit luruh. Dan beban pikiran yang berat itu mendadak sedikit ringan oleh kesepakatan lima puluh juta  pertamanya. Dicentangnya satu nama mahasiswa paling atas yang baru saja ditelpon. Masih ada empat belas lain yang nantinya bisa membantu mengangkat beban hatinya. Beban bernominal tujuh ratus lima puluh juta yang merupakan tiket untuk Dani, anaknya yang kepingin masuk fakultas Kedokteran.

V

Di seberang sana, orang yang ditelepon Bardi tersebut ingin mengumpat menghujat dekan korup itu tapi apalah daya jika dirinya sebenanrya juga hampir sama saja dengan Bardi. Di dunia ini yang terpenting adalah uang.

Untunglah fee DP dari koordinator sudah turun. Pikir Randa sambil menyisihkan lima puluh juta untuk dekan busuk itu. Akhirnya dia bisa lulus juga semester ini.

VI

“Halo, bisa bicara dengan Pak Bardi?” kata seorang pria paruh baya dari sebuah wartel.

“Oh, ini Pak Bardi ya?” lanjutnya ketika sudah mendengar jawaban orang yang diteleponnya, “Sebelumnya maafkan atas kelancangan saya, pak. Begini, saya ingin minta tolong dan minta kerjasamanya dari Pak Bardi…”

Pria itu diam sejenak. Berpikir untuk merangkai kata-kata yang layak.

“Pak, saya tahu betul siapa anda… Saya juga sudah tahu kebusukan Bapak. Saya ada buktinya. Saksinya juga banyak. Mahasiswa-mahasiswa itu cerita semuanya ke saya. Bapak gak punya pilihan lain selain membantu saya. Kalau tidak, saya akan perkarakan kasus Bapak.”

Terdengar suara mencak-mencak di lubang dengar gagang telepon.

“Permintaan saya sederhana Pak. Tidak sebanding dengan pertaruhan nama baik Bapak.”

Vokal yang meninggi dan alunan umpatan kembali meluncur dari lubang dengar. Kemudian terdiam. Tanda kesepakatan tak tertulis telah disetujui dengan terpaksa.

“Loloskan anak saya Pak. Buat dia diterima di fakultas Bapak. Bebaskan dia dari semua biaya pendidikan. Saya rasa itu hal sepele jika dibandingkan dengan kebusukan Bapak.”

Suara di seberang kembali angkat bicara tanda menyetujui. Sekali lagi dengan tepaksa tentunya.

Pria penelepon yang berprofesi sebagai tukang parkir di fakultas Teknik itu mengakhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Senyumnya terkembang membayangkan Jaka, anaknya, kelak bisa berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Negeri ternama di kota itu. 

[Cerpen] Rencana

Posted: Mei 13, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

“Fira, dia jadi bisa datang kan malam ini?” tanya mama sambil menyetrika gaun yang hendak dipakainya perdana malam nanti. “Soalnya mama udah reserve untuk lima orang. Papamu juga udah berhasil melobi rekannya. Mereka bisa menyediakan posisi yang enak buat kita berlima.”

“Jadi dong ma, kebetulan hari ini dia jaga shift siang kok. Malamnya udah free.” Jawab Fira sambil meraih handuk mandinya. “Hebat juga ya Papa, bisa punya koneksi orang dalam. Kok ga bilang dari dulu sih? Fira kan jadi ga perlu repot-repot ngantri kalau ada film bagus.”

“Ya ga enak juga dong Ra. Meski Pak Kusno itu sobat papa waktu kuliah, malu lah kalau telalu sering minta tolong. Kalau bukan untuk perayaan ulang tahun adikmu, ga mungkin lah papamu minta tolong sama Pak Kusno yang super sibuk itu.”

“Iya juga ya ma. Uda dikasi tempat aja uda spesial banget lho ma. Tau ga ma, film The Avengers yang mau kita tonton tu emang kelewat terkenal lho. Sejak dari pemutaran perdana, Fira nitip sama temen yang bisa ngantriin dari sebelum bioskop dibuka. Eh, tetep ga kebagian juga tiketnya.”

“Iya, mama tau itu film juga udah ditunggu-tunggu sama adikmu. Pokoknya mama sama papa udah nyiapin kejutan besar-besaran. Kita ga sekedar dapet tiket dan tempat duduk yang enak aja lho. Kabarnya Pak Kusno bahkan memberi kita tiket teater IMAX. Gratis.”

“Hah! Yang bener ma?” mata dan mulut Fira melebar tanda tak percaya. Fira tahu teater IMAX adalah teater dengan teknologi terbaru yang kualitas gambarnya di atas kualitas tiga dimensi biasa. Dan mereka akan menonton film terkenal itu ditempat duduk strategis, tanpa perlu mengantri dan tentu saja dengan kualitas teater IMAX yang belum seminggu dibangun. Ditambah satu kesempurnaan penutup: semuanya gratis!

“Wah…wah…Fira mendadak merasa dianaktirikan ma.”

“Ya nggak dong Fira sayang.” Kata mama sambil tesenyum. “ Ini sekaligus sebagai hadiah buat adikmu yang udah berhasil diterima di UGM tanpa jalur tes. Nanti papa mama juga mau kasih hadiah buat Fira kalau bisa lulus semester ini dengan IP di atas 3,5 ya.”

“Janji ya ma.”

Mama mengangguk masih dengan senyumnya.

“Terus, mama udah pesen tempat dinner dimana?”

“Lihat saja nanti ya Fira. Mama juga udah koordinasi sama yang punya restoran. Pokoknya bakal ada kejutan juga di sana. Dia teman mama waktu SMA. Kamu ingat sama tante Linda?”

“Oh, iya ma. Tante Linda yang nasi gorengnya bikin Fira ketagihan itu kan?”

“Iya, nanti kita dinner di salah satu restoran terbaik punya Tante Linda.”

“Restoran yang mana? Tante Linda kan punya banyak.”

“Lihat saja nanti Fira. Pokoknya kejutan spesial deh.”

“Kan bukan Fira yang harus dikejutkan ma. Yang ulang tahun kan bukan Fira…”

Samar-samar mereka mendengar pintu depan dibuka kemudian di tutup kembali.

“Sssst… itu adikmu udah pulang.” Kata mama sambil berbisik.  “Udah jangan dibahas lagi. Buruan mandi sana.”

Fira yang dari tadi telah memegang handuk segera bergegas ke kamar mandi.

“Mamaaaaa,,,,coba liat ini…hiiiiiii.” teriak Fatma, adik Fira, sambil menunjukkan kawat gigi barunya. “Fatma pilih warna karetnya hijau tosca ma, keren kan.”

“Kok adek pilih hijau? Kan jadi kayak ada bayam nyelip.” Ledek mama.

“Mana ada bayam warna hijau tosca ma. Tapi gigi Fatma uda mulai ngilu ni ma.”

“Ya sabar dong sayang, katanya mau giginya dirapiin sebelum masuk kuliah.”

“Iya ma, biar Fatma ga malu. Giginya ga boleh berantakan kalau mau kuliah di kedokteran gigi, hehehe.” Kata fatma sambil nyengir setengah sengaja menampakkan kawat giginya yang hijau tosca. “O iya ma, tadi biaya kawat giginya didiskon 50% lho. Kata dokter Rifqie, itu untuk hadiah ulang tahun Fatma.”

“Oya kah? Sudah bilang terima kasih ke dokter Rifqie?”

“Waduh, lupa ma. Lagian wajar aja dong ma kalau dokter Rifqie kasih diskon. Selain karena Fatma ulang tahun, Fatma kan calon adik iparnya, hehehe.”

“Fatma ga boleh gitu. Nanti dokter Rifqie kan diundang dinner juga, pokoknya nanti adek harus bilang terimakasih ke dia ya. Dokter Rifqie juga yang nanti bakal nemenin Fatma ke UGM untuk melihat-lihat calon kampus kamu itu.”

“Iya, nanti Fatma bilang terimakasih ke dokter Rifqie. Katanya dia bakal sampai sini jam enam. Oiya ma, sisa ongkos kawat giginya ga perlu dibalikin ke papa kan? Buat Fatma aja ya. Lumayan buat traktir temen-temen.”

“Iya, boleh. Papa kan udah kasi duit itu sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi terserah Fatma mau dipakai untuk apa.”

“Horeee… jadi ga sabar pengen nunjukin gigi Fatma ke papa. Jam berapa papa pulang ma?”

“Sekarang papa masih di Jakarta. Nanti jam empat papa telepon kalau udah mau pulang.”

Fatma menengok ke jam dinding. Jam tiga lebih sepuluh. Masih lama. Pikirnya.

“Fatma nyicil packing barang bawaan yang mau dibawa ke Jogja aja sana. Kita besok berangkat naik pesawat pagi-pagi. Biar ga buru-buru. Agenda kita hari ini sampai malam soalnya.”

“Oke ma.” Fatma ngeloyor ke kamar dan berkutat dengan beberapa pakaian dan tas ranselnya.

Mama tersenyum melihat anaknya yang kini sedang bertambah umurnya. Kebanggaannya juga berlipat ketika mendapatkan kabar bahwa Fatma diterima di FKG UGM. Tangannya sudah berhenti memainkan setrikaan sekarang. Gaun biru itu sudah licin dan tergantung anggun di hanger. Mama memandangi dengan tersenyum. Membayangkan dirinya berada di dalam balutan gaun itu nanti malam.

Untuk urusan perencanaan, mama nampaknya sudah mantap. Rencana itu sudah dipikirkannya dengan papa sejak seminggu yang lalu. Mama mengingat-ingat daftar agenda yang tersusun rapi di pikirannya. Mencoba mendata kembali dan mencari apa saja yang kurang. Mama mulai dengan agenda tedekat. Suaminya dipastikan akan menelepon jam empat. Biar Fatma yang mengangkatnya. Dibuat seolah menelepon dari Jakarta padahal sebenarnya  sudah ada di depan rumah untuk memberikan kejutan buat Fatma. Suaminya juga sudah menyiapkan kejutan sendiri yaitu replika Captain America yang sudah beberapa bulan yang lalu diidamkan Fatma. Suaminya sampai harus order ke luar negeri untuk mendapatkan replika yang Fatma mau. Kemudian jam enam, sudah dipastikan pacar Fira, dokter Rifqie, bisa datang. Artinya restoran dan bioskop yang di booking untuk lima orang bisa terisi lengkap. Kemudian Tante Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Konfirmasi terakhir sudah dilakukan mama sejak tadi siang dan Tante Linda bilang kue ulang tahun dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Kata Tante Linda lagi, ga cuma Fatma yang akan terkejut, pasti yang lain juga bakal terkejut karena Tante Linda juga mempersiapkan kejutan kecil lainnya. Dinner spesial ini juga nantinya akan dipakai untuk lebih mengenal dokter Rifqie. Prosedur standar untuk lebih mengenal calon menantu. Selesai dinner agenda selanjutnya adalah nonton The Avenger. Film yang sangat dinantikan Fatma sejak pemutarannya perdana empat hari yang lalu namun tidak pernah kebagian tiketnya. Pak Kusno sudah mengirimkan kartu free pass via pos yang tiba di rumah kemarin siang. Mama maklum karena Pak Kusno tidak mungkin punya waktu untuk menyerahkannya sendiri.

Semua sudah beres. Pikir mama sambil senyum-senyum sendiri. Mama tersenyum meskipun tahu bahwa agenda malam ini akan membuat mereka semua kecapekan. Dan besok pagi, masih ada agenda lain yaitu berangkat ke Jogja untuk melihat-lihat kampus Fatma sekaligus mencari info kos-kosan.

Lamunan mama teputus oleh dering telepon di ruang tengah.

“Biar Fatma yang angkat ma.” Teriak Fatma sambil berlari ke ruang tengah. “Itu pasti papa.”

Mama melihat jam dinding. Masih jam setengah empat. Baguslah kalau suaminya bisa pulang lebih awal.

“Maaa… dicari pak Suryo.” Teriak Fatma dari uang tengah. Mukanya agak kecewa karena orang yang menelepon bukan papa.

Pak Suryo adalah atasan suaminya di kantor. Haduh, jangan-jangan papa harus pulang telat. Keluh mama dalam hati.

“Halo, selamat sore Pak Suryo.” Kata mama mengambil alih gagang telepon.

“Sore, bu.” Kata Pak Suryo di seberang sana.

“Iya, ada apa pak?”

“Begini bu, saya mau memberitahukan, bahwa…pesawat yang ditumpangi suami anda…hilang kontak sejak satu jam yang lalu. Mohon ibu bersabar dan tetap berdoa…”

Kata-kata Pak Suryo berikutnya sudah tidak dapat dicerna oleh akal sehatnya lagi. Tiba-tiba rasa sesak itu melanda hati mama. Pikirannya tak lagi terorganisir. Dan matanya, begitu kabur karena membendung air mata

Tanggal 9 Mei 2012. Ternyata Tuhan telah memiliki serangkaian rencananya sendiri sejak pukul 14.33.

Jogjakarta, 13 Mei 2012

Rifqie Al Haris

*Mengenang kembali peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Supejet 100 di Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012. Pesawat tersebut terbang pukul 14.12 dan hilang kontak pukul 14.33. Turut berduka bagi mereka dan kerabat-kerabat mereka yang harus rela menangguhkan rencana-rencana hidupnya untuk tunduk pada rencana Tuhan.

I

“Kayaknya aku mulai mencintai sosok yang aku tulis deh.” Kata Rana, seorang novelis kepada Safa, editornya.

“Itu gila Ra, simpan imajinasi gilamu untuk novel berikutnya aja yah.” Jawab Safa yang sedari tadi sibuk membaca sesuatu dari notebook-nya di seberang meja Rana.

“Nggak Fa, aku serius. Tokoh yang aku tulis ini begitu ideal. Lima bulan aku nyelesein novel ini, rasanya aku mulai cocok dengan dia.”

“Sinting. Tentu saja ideal, tokoh itu kamu yang bikin. Kamu yang mengaturnya untuk bisa jadi tokoh ideal. Kamu yang melahirkan. Kalau kamu jatuh cinta, lantas apa namanya? Dibilang cinlok juga bukan. Lebih cocok dibilang psikopat. Mana ada orang yang jatuh cinta pada hasil pemikirannya sendiri?”

“Entahlah, mungkin juga aku memuja daya khayalku sendiri. Tapi lihatlah, lima bulan aku membangun karakternya. Membangun kisah-kisahnya. Menciptakan pola berpikirnya. Aku beri dia konflik, intrik dan masalah. Kuciptakan juga jalan keluar dan solusi untuk itu semua. Aku buat dia bisa menyelesaikannya dengan bijak. Ya, itu memang jalan pikirku sendiri. Karangan fiktif dari kreativitas otakku sendiri. Tapi ada suatu chemistry jika melihat kembali dirinya sebagai sosok yang utuh. Setelah novel ini selesai, aku bukan lagi melihat sebagai lembaran-lembaran hasil penciptaan suatu ide. Tapi lebih dari itu, sosok itu menjelma menjadi individu. Menjadi seseorang yang utuh. Seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta.”

Sekilas  Safa melihat ada wajah serius di air muka Rana. Itu muka jatuh cinta, itu nada bahasa orang yang kasmaran. Kata-katanya serius dan itu cukup untuk membuat rikuh Safa yang hendak mengejeknya lagi.

“Ra, kamu lagi kangen sama Jo ya?” Safa teringat betapa Rana dan Jo adalah pasangan yang pernah telihat begitu serasi, begitu mesra dan sangat klop dalam segala hal. Namun tak ada yang mengerti alasan apa yang membuat Jo meninggalkan Rana begitu saja.

“Ngawur kamu Fa. Jangan sebut nama itu lagi deh.” Kata Rana sewot, “ Aku bukan mau cari pelarian atau pelampiasan. Toh aku juga belum mau nyari cowok lagi. Apalagi cowok yang nyata secara fisik. Kayaknya lebih enak kalau aku mencintai tokoh yang aku bikin sendiri.”

Aku makin ga memahamimu, Ra. Kata Safa dalam hati. Kayaknya kamu beneran lagi kangen sama Jo deh.

“Kamu pasti susah memahamiku Fa.” Sahut Rana.

Ups, segitu kerasnyakah kata hatiku barusan?

“Gini Fa, ibarat ada seseorang yang nge-fans sama tokoh kartun. Inget ga, bahkan waktu kamu kecil, jamannya masih suka lihat Sailormoon, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu naksir sama Mamoru Chiba si tuxedo bertopeng.”

“Ya ampun Ra, namanya juga masih anak-anak. Jangan samakan dong.”

“Oke…oke… mungkin kamu ga pernah tahu berapa banyak remaja-remaja yang masih suka lihat kartun. Banyak di antara mereka yang naksir sama tokoh-tokoh kartun, sebut saja Shinichi Kudo atau Ran Mouri. Bahkan kamu mungkin juga pernah dengar yang lebih umum lagi. Coba kamu lihat wanita-wanita paruh baya yang masih mengoleksi boneka Barbie. Beberapa di antara mereka malah naksir sama Ken. Yang lebih ga masuk akal lagi, ada segelintir orang yang terang-terangan naksir sama sosok piala Oscar yang katanya sangat tampan dan macho. Bahkan beberapa pria dewasa naksir sama patung Liberty.”

“Iya, mereka adalah kumpulan orang-orang psikopat jablay Ra. Tapi berjanjilah kamu mendadak segila itu sebelum kontrak PR novel trilogimu yang kurang 2 seri lagi itu selesai.” Otak Safa sudah makin berkabut dan makin sulit menangkap secercah cahaya dari penjelasan perasaan Rana. “Tapi menurutku mereka masih lebih waras dibanding kamu Ra.”

“Maksudmu?” Dahi Rana berkerut. Tanda bahwa gantian kepalanya yang berkabut.

“Mereka mencurahkan cintanya keluar Ra. Setidaknya mereka bisa menumpahkan cinta itu ke sesuatu. Sedangkan kamu, sama saja mencintai dirimu sendiri. Itu manifestasi paling parah dari penyakit narsis. Atau jangan-jangan kamu menderita gejala awal Schizophrenia.”

“Aku sudah menyelesaikan novelku. Awalnya di dalamnya adalah ide-ide kecil. Terpisah-pisah. Lalu aku susun ide itu untuk membentuk suatu karakter. Ibarat seorang guru yang mengajari muridnya yang tak tahu apa-apa. Si guru memasukkan ide-ide yang disebut ilmu kepada si murid. Membuat si murid menjadi ideal dalam takaran standar si guru. Akhirnya ketika si murid telah mencapai intelegensi ideal, si murid bukan lagi kumpulan ide-ide dari si guru melainkan sudah menjadi satu individu terpisah yang utuh. Di titik itulah orang akan memaklumi jika si guru mulai jatuh cinta pada sosok individu si murid yang kini telah ideal di matanya.”

“Oke, cukup dengan curhatan kisah cintamu yang abstrak itu. Seminggu lagi, taruh naskah novelmu itu di mejaku. Sementara aku mau konsentrasi untuk menyiapkan peluncuran Antologi Cerpenmu itu dulu. Udah di kejar deadline nih. Oiya, ingat, aku ga mau kisah novelmu itu berlebihan. Ngerti kan maksudku? Jangan sampai kamu memaksakan alur. Hanya gara-gara kamu jatuh cinta sama tokoh sentralnya, lantas kamu bikin nasibnya selalu beruntung. Itu ga realistis.”

“Tenang Fa, kamu ga perlu meragukan kemampuanku. Aku yakin kita masih bisa mencetak best seller lagi. Negara ini masih suka dengan format novel berseri. Toh aku jatuh cinta setelah novel itu selesai. Bukan saat ditengah aku menulis. Aku jamin ide cerita dan alurnya masih ori.”

II

“Fa, sebagai penulis aku mulai berpikir ni.”

“Sebentar, tentang apa ni? Bukan tentang kisah cinta Schizophrenic itu lagi kan?” muka Safa sudah skeptis.

“Ayolah Fa, dengarin aku dulu deh. Jangan pasang muka macam detektif ketemu penjahat gitu dong.” Rengek Rana.

“Baiklah, tapi biarkan otakku bekerja bebas ya. Kamu tahu aku lagi sibuk.” Sambil terus saja membaca setumpuk naskah Antologi Cerpen Rana.” Biarkan otakku menyeleksi mana yang masih bisa dicerna dan membuang bagian yang aku ga ngerti. Aku lagi males berpikir. Otakku lagi ga bisa dibilkin multitasking.

“Tenang Fa, aku tahu kok kemampuan otakmu. Aku usahakan menyusun bahasa yang paling sederhana.”

“Sialan!” Safa mulai sewot hingga pensil yang dipegangnya kini langsung melayang ke arah jidat Rana.

“Auw! Sialan kamu Fa, untung ga nancep. Bisa-bisa kamu kehilangan pekerjaan kalau aku kehilangan kemampuan berpikirku.”

“Udaaah buruan ceritanya.” Kata Safa ketus.

“Setelah aku pikir-pikir,” Rana mulai bercerita, “dengan latar belakangku sebagai penulis, aku sadar bahwa aku bisa membuat dunia sesukaku. Menciptakan tokoh dengan berbagai macam kisah di dalamnya dan aku memegang semua takdir-takdir mereka. Aku bisa membuat mereka saling jatuh cinta, patah hati, membenci atau bahkan bisa saling membunuh.” Rana berhenti sebentar agar Safa bisa mencerna dengan baik.

“ Oke, sejauh ini aku masih bisa memahami. Lalu apa yang kamu cemaskan?”

“Aku khawatir, dengan otoritas macam itu, kita ternyata hanyalah bagian kecil dari cerita fiksi. Apa kamu pernah berpikir seperti itu Fa? Bahwa kita hanyalah tokoh fiktif dari seorang penulis lain di luar dunia kita.”

Safa terdiam sepenuhnya dari aktivitasnya. Berpikir. Sedangkan Rana juga terdiam untuk memberi waktu agar ide yang baru saja dilontarkan itu mengendap dalam benak Safa.

“Dua tahun aku menghadapi ide-ide luar biasa lewat cerpen-cerpenmu membuatku tebiasa untuk menghadapi kegilaan apa yang akan kamu lontarkan selanjutnya.” Kata Safa. “Tapi pemikiranmu barusan jauh lebih gila dari biasanya. Karena kamu secara ga langsung juga mengusik keberadaanku. Duniaku. Jika kamu hanya wujud dari khayalan seorang penulis, itu artinya aku juga ga lebih dari sekedar tokoh pelengkap untuk kisahmu. Bukankah begitu?”

“Ah, jangan terlalu pesimis Fa. Belum tentu aku tokoh utamanya kan? Tapi melihat kedekatan kita, aku yakin jika tepaksanya aku menjadi tokoh sentral, kamu ga mungkin berstatus figuran.”

“Oke, nampaknya penjelasanmu itu masih bisa aku cerna. Otakku juga ga mual-mual amat untuk memuntahkan idemu barusan. Soalnya kalau kita memang sekedar tokoh kecil dari imajinasi seorang penulis, itu justru bisa menjelaskan keabstrakan jalan pikirmu dan alur hidupmu.”

“Maksudmu gimana Fa?” air muka Rana nampaknya bertambah antusias ketika Safa memberikan respon yang dia harapkan.

“Gini Ra, kalau memang benar kita ini hanya tokoh cerita khayalan, aku yakin kita sedang berada dalam suatu cerpen. Bukan novel. Aku yakin benar itu. Alasannya, balik lagi ke kisah cintamu yang absurd  itu Ra. Jo ninggalin kamu begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kamu ga tahu alasannya, apalagi aku. Itu tandanya kita berada dalam kisah cerpen. Kalau novel, kamu pasti sudah tau alasannya dong Ra. Novel punya banyak ruang untuk menjelaskan secara detail. Tapi cerpen begitu pendek. Ga ada tempat untuk menceritakan detail kisah cintamu sama Jo.”

“Masuk akal Fa, kita ditulis sebagai cerpen Rana dan Safa oleh penulis yang mungkin saja begitu bodoh, kehabisan ide atau sedang malas untuk membelokkannya menjadi cerita novel. Terlebih lagi kamu dengan cepat bisa menyetujui ide gilaku ini kan? Tanpa konflik dan perlawanan sama sekali. Lalu pertanyaannya, siapakah yang menciptakan kisah kita Fa? Siapa yang mengarang cerpen Rana dan Safa sekaligus yang membuat aku tergila-gila sama tokoh karanganku sendiri? Karena itu juga termasuk pola pikir gila yang hanya bisa diciptakan oleh seorang penulis dengan otoritas penuh terhadap hidupku.”

Sesaat mereka terdiam, saling memandang. Berusaha menyelami pikiran masing-masing sekaligus menyelami pikiran satu sama lain. Ada suatu diskusi tak kasat mata di antara keduanya.

“Yang jelas si penulis ga mungkin jauh-jauh dari kehidupan kita Fa.” Kata Rana memecah keheningan yang singkat itu.

“Tapi ga mungkin kamu mencurigai diri sendiri, aku atau Jo. Karena kita berada dalam satu realitas cerita yang sama. Nampaknya kecurigaanku tinggal dia seorang deh.”

“Ha? Siapa Fa? Tumben otakmu cerdas kali ini. Buruan jelaskan.”

“Tentu saja Ra. Otakku nampaknya harus dibikin cerdas secepat ini karena kita di dalam cerpen. Nampaknya kita sudah di penghujung cerita. Oke, kalau gitu aku kasih tahu. Tapi ini baru kecurigaan. Belum tentu benar.”

“Iya, siapa?” Rana tak sabar.

“Tokoh karanganmu yang kamu cintai Ra.”

“Hah! Mana bisa? Jelas-jelas aku yang menciptakan dia.”

“Katamu si penulis itu punya otoritas penuh terhadap tokoh yang ditulisnya kan? Aku curiga, si penulis sengaja membuat kamu menulis tentang dirinya Ra. Bagimu itu hanya kisah fiktif. Tapi justru kamulah tokoh fiktif yang sedang menuliskan biografi tentang si penulis.”

“Hmmm.” Rana mengangguk-angguk. “Cukup membingungkan tapi masuk akal. Dialah satu-satunya yang berada di luar dunia kita. Bisa jadi dia yang menyamar. Itu artinya, si penulis kita ini narsis juga ya Fa. Dia menciptakan tokoh fiksi bernama Rana dan Safa untuk menuliskan kisah biografinya sekaligus membuatku jatuh cinta padanya. Padahal mungkin saja dialah yang mencintaiku. Bukankah begitu?”

“Hahaha nampaknya sang pencipta kita ini adalah penulis yang kesepian Ra. Tapi jangan Ge-Er dulu dong. Kita ga tahu apa isi di otaknya. Bisa jadi kita sepenuhnya fiktif. Maksudku, kita sama sekali bukan suatu proyeksi emosional dari sang penulis. Murni karangan. Dengan kata lain, kita bukan tokoh sentral Ra. Tapi hanya figuran alis pelengkap.”

“Malangnya nasib kita ini ya Fa, hahaha.” Sejenak mereka tertawa bersama melepaskan seluruh ide gila mereka.

“Lalu, apa yang mau kamu perbuat setelah tahu kalau kita hanya tokoh fiksi Ra?” tanya Safa.

“Yang jelas kita ga bisa berusaha melompat keluar kan. Hidup kita di sini. Di cerpen ini. Jika kita keluar, kita jadi ga berwujud. Mati.”

“Tapi kita juga akan lenyap begitu saja jika cerpen ini selesai kan?”

“Yah, semoga sang penulis tidak tiba-tiba amnesia atau semoga dia punya ide untuk menghidupkan kembali tokoh Rana dan Safa atau membelokkannya ke cerita bersambung atau novel agar umur kita lebih panjang.”

“Yup, kita memang ga punya otoritas penuh terhadap keberadaan kita. Kalau beneran sang penulis itu adalah tokoh yang kamu tulis, coba ceritakan, siapa si dia itu? Aku ga sabar juga kalau harus nunggu seminggu untuk baca novelmu secara keseluruhan. Kasih tahu aku sinopsisnya sekarang Ra.”

“Sabar dong Fa, tunggu seminggu lagi aja ya. Bahkan sinopsisnya juga ga bakal aku ceritakan dulu biar kamu penasaran.”

“Ah, dasar. Ya sudahlah, setidaknya kasih tau aku siapa namanya.”

“Oke-oke, namanya Rifqie. Lengkapnya Rifqie Al Haris. Seorang dokter gigi. Dialah tokoh utama di novelku yang membuatku jatuh cinta.”

“Dan bisa jadi dialah sang penulis yang menciptakan kita kan?” tambah Safa.

Senang bisa berkenalan dengan anda wahai Tuan Penulis. Tetaplah menulis tentang kami ya. Jadikan kami sebagai tokoh dalam novel berseri. Karena kami ingin hidup lebih lama. Kata Safa dalam hati.

Ygyakarta, 28 April 2012

Rifqie Al Haris

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.

Urusan gigi palsu itu sudah banyak yang tahu. Gigi palsu eyang Suro yang bertuah katanya. Semua warga di sini juga tahu. Eyang Suro memang sudah belasan tahun meninggal. Tapi lihatlah usaha mi ayam Suronya itu makin berjaya saja rupanya. Kini sudah diambil alih sepenuhnya oleh salah satu anaknya. Lihatlah cabangnya juga sudah tersebar di tiga kota sebelah dan sebentar lagi pulau seberang juga hendak diresmikan. Tentu saja tanpa gigi palsu bertuah itu, keturunan eyang Suro tidak akan menikmati warisannya yang bercabang-cabang itu hingga sekarang.

Aku adalah cucu eyang Suro. Akankah pamor keberkahan gigi palsu itu sampai padaku? Nampaknya tidak. Karena bapak selalu menghidari berurusan dengan perkara itu.

“Hanya bapak yang tidak mendapatkan apa dulu yang diperebutkan paklik-paklikmu itu Ganjar.” Katanya pada suatu waktu.

Ya, aku tahu cerita tentang asal-usul dan nasib gigi palsu eyang Suro. Dahulu eyang orang melarat. Tidak punya apa-apa. Hartanya sudah habis dijual ketika istrinya, eyang putri, melahirkan Paklik Somad saudara bapak yang paling muda. Eyang sudah menghabiskan hartanya untuk membesarkan bapak dan kedua adiknya. Dan masih saja membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak terakhirnya.  Maka, praktis seluruh harta benda eyang ludes tergadaikan.

“Eyangmu pergi mencari pesugihan.” Kata-kata bapak bagian itu terus saja aku ingat sampai sekarang. Pesugihan. Betapa rendahnya riwayat moyangku, pikirku.

“Eyang ketemu orang pintar yang bisa menjamin lancarnya berkah. Mbah dukun dari seberang yang sudah terkenal ampuhnya. Mbah dukun itu bisa mengisi benda-benda semacam keris dan pusaka agar pemiliknya diberi keberkahan. Sayang eyangmu tidak punya lagi benda-benda yang bisa diisi. Sudah habis dijual dan digadaikan. Hanya gigi palsu yang dia punya.”

Maka itulah awal dari kisah gigi palsu bertuah itu. Dukun itu benar-benar hebat. Tak ada benda pusaka, gigi palsupun jadi. Keberkahan dan rejekipun melimpahi orang yang memakainya. Eyang mendadak bangkit dari keterpurukan ekonomi. Bicaranya jadi bertuah. Pesan dan sarannya juga bertuah. Wajar saja karena suara itu keluar dari rongga mulut yang di situ terdapat benda yang diberkahi. Maka tak heran jika rejeki juga mengikuti.

Gaya bicara eyang mendadak kharismatik dan mampu meluluhkan orang-orang kaya yang mau memberi pinjaman modal untuk usaha eyang waktu itu. Gigi palsu bertuah itu tidak sedikitpun menunjukkan penyusutan pamornya seiring waktu. Mungkin saja sang dukun memberinya isian yang bersifat permanen.

“Ada tiga cara pengisian.” Bapak menjelaskan kepadaku. “ Pertama, dengan berkah ilahi. Si dukun akan berdoa kepada Tuhan agar benda yang diisi diberi keberkahan. Cara kedua dengan pengisian yoni atau makhluk halus yang diisikan kedalamnya. Ketiga dengan induksi atau penyaluran, yaitu si dukun akan menyalurkan energinya sehingga benda tersebut mempunyai berkah. Cara yang pertama akan memberikan efek yang permanen sedangkan yang kedua dan ketiga bersifat sementara.”

Ya, aku menganggapnya isian yang pertamalah yang membuat rejeki eyang tidak pernah menyusut. Tapi belakangan aku sedikit sangsi. Bisa jadi itu hanya anggapanku saja yang berusaha melarikan diri dari jeratan vonis kemusyrikan karena jelas cara yang petama lebih agamis dibading yang lain. Meskipun aku tahu segala jenis pesugihan tidaklah bisa dibenarkan.

“Hanya bapak yang tidak mendapatkan apa dulu yang diperebutkan paklik-paklikmu itu Ganjar.” Kata-kata itulah yang akhirnya mampu menenangkan jiwaku.

Beberapa bulan setelah eyang meninggal, gigi palsu bertuah itu menjadi rebutan diantara saudara-saudara bapak. Mereka serakah. Pamor gigi palsu itu sudah bukan rahasia lagi diantara mereka dan diantara warga sekitar. Maka wajarlah jika tidak hanya mereka yang memperebutkan. Tak heran juga kalau salah satu dari dua rahang gigi palsu itu dicuri orang. Rahang bawah yang hilang. Alhasil, makin gila pulalah ketiga saudara bapak memperebutkan benda yang tinggal satu itu.

Maka dengan kesepakatan bersama, gigi palsu rahang atas itu dipecah menjadi tiga sama besar. Paklik Somad mendapatkan bagian gigi depan. Paklik Tarjo adik pertama bapak mendapatkan bagian gigi-gigi belakang sebelah kanan dan paklik Priyo adik kedua bapak mendapatkan gigi-gigi belakang sebelah kiri. Adillah sudah sekarang.

“Untung kamu tidak tertarik kang.” Kata paklik Tarjo pada bapak. “Kalau kamu ikut nagih jatah, bakal susah membaginya sama besar.”

“Aku tidak mau makan dari hasil yang haram.”

“Jangan berlebihan kang.” Sahut paklik Priyo. “ Dari dulu kamu juga makan dari uang bapak. Jangan sok suci.”

“Kalau begitu aku mau mulai mensucikan darahku yang dari dulu terkena makanan haram dari duit haram. Ini sisi baik dari meninggalnya bapak. Sisi baik juga satu rahangnya hilang dicuri orang”

“Terserahlah. Hidup itu sulit kang. Ingat itu.” paklik Priyo menutup pembicaraan itu dengan malas dan segera pergi dari situ.

Mereka melakukan cara yang gila untuk menjaga jimat mereka masing-masing. Belajar dari kelalaian mereka dan kegagalan menjaga rahang bawah yang akhirnya kecurian itu, mereka serentak memaksakan memakai gigi palsu itu kedalam mulut mereka masing-masing. Betapa menjijikannya membayangkan mereka harus ngemut gigi palsu busuk berwarana kecoklatan dan bercak karang gigi yang telah mengalami pengendapan selama puluhan tahun di dalam mulut eyang itu. Paklik Somad yang mendapatkan jatah gigi depannya akhirnya rela mencabutkan gigi aslinya yang masih sehat hanya untuk memberi ruang agar gigi palsu eyang bisa direkatkan di rahangnya. Lihatlah gigi depan palsu milik eyang yang dipaksakan terpasang di situ nampak benar tidak sesuai baik dari segi ukuran dan warnanya yang jauh lebih coklat dan kotor daripada gigi asli di samping-sampingnya. Paklik Tarjo yang memegang gigi palsu bagian belakang kanan sedikit lebih mujur. Gigi belakang kanannya memang sudah membusuk. Kini tinggal akar gigi yang mencuat di gusinya. Dengan palu, tatah dan selembar ampelas kasar dia berhasil membuat sisa-sisa reruntuhan giginya itu rata dengan gusi. Menjadikan tempat yang lapang untuk potongan gigi palsu bertuah itu. Makanya tidak perlu repot-repot mencabutkan giginya. Tapi tak ada yang lebih mujur dibanding paklik Priyo, si pemegang bagian gigi palsu sebelah belakang kiri. Memang gusi belakang kiri paklik Priyo sudah lama gundul karena sering dicabut. Dulu sering bikin bengkak katanya. Makanya tanpa usaha sedikitpun, gigi palsu eyang dengan mudahnya menghuni gusi kosongnya itu.

Tentu saja urusan pasang memasang itu diserahkan pada mantri gigi di kota sebelah agar menjamin sang mantri tidak pernah mendengar kabar tentang gigi palsu bertuah itu. Tentu saja sang mantri heran dengan perilaku ketiga bersaudara itu yang memaksa memasang gigi palsu busuk itu di mulut mereka. Tapi dengan sedikit melebihkan tarif pembayaran, sang mantri dengan senang hati tidak banyak bertanya. Dan gigi palsu butut itu sudah merekat permanen di mulut mereka masing-masing. Merekapun bangga, jimat yang akan memberinya keberkahan itu melekat erat dimulut mereka. Tidak mungkin lagi dicuri orang, pikir mereka.

Maka seperti yang telah dirumuskan, kehidupan ketiga saudara bapak meroket dengan singkat. Lihatlah Paklik Somad yang memegang kendali usaha mi ayam eyang kini sudah mengepalai puluhan cabang di tiga kota sebelah dan sebentar lagi satu cabang di pulau seberang juga hendak diresmikan. Paklik Tarjo yang mendapat bagian sawah yang berhektar-hektar peninggalan eyang itu semakin saja berjaya dengan beras kualitas ekspornya dan mengatarkannya pada perluasan usaha ekspor impor bidang lain juga. Paklik Priyo yang mendapatkan bagian lain dari tanah warisan nampaknya mampu mengelola dengan baik. Digadaikannya sebidang tanah di desa itu untuk membeli tanah di kota. Tapi perhitungannya tidak meleset. Tanah di kota itu sangat strategis. Dibangunnya kontrakan dan kos-kosan untuk para mahasiswa yang kuliah di universitas dekat situ. Dengan penghasilan yang melimpah, tanah di desa mampu ditebusnya kembali.

Sedangkan bapak, telah menjual tanah perkebunan hasil warisan itu untuk membayar biaya kuliah tiga semester awal. Malangnya keluarga kami yang hidup dengan lurus. Namun siapa bilang usaha kami tidak menampakkan hasil? Semenjak semester keempat aku bisa mengajukan beasiswa dari daerah. Bapak Bupati yang baru dilantik waktu itu mengadakan program beasiswa untuk putra daerah yang berprestasi. Aku berhasil memperpanjang beasiswa itu dari semester ke semester hingga saat ini.

Semester kali ini tidak seperti semester-semester sebelumnya. Ini lima kalinya aku berhasil memperpanjang beasiswaku. Kali ini akau akan bersalaman dengan Pak Bupati. Acara penyerahan beasiswa kali ini akan lebih meriah dari sebelumnya. Tentu saja pengambilan beasiswa sebelumnya hanya lewat kantor keuangan. Tinggal tanda tangan, petugas loket akan memberikan uangnya. Tapi kali ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun kabupaten. Maka wajarlah kalau penyerahan kali ini dibarengkan dengan perayaan itu.

Inilah dia Bapak Bupati yang aku nantikan.

“Nak Ganjar.” Katanya sambil menyalamiku. ”Pertahankan prestasimu ya. Selamat.” Senyumnya mengembang.

Namun senyumku malah merapat.

Deretan gigi bawah Pak Bupati tidak cocok dibanding dengan yang atas. Terlalu jelek, kotor dan tidak pas ditempatnya. Dan aku kenal betul siapa yang pernah memakai gigi bawah itu sebelumya.

Ternyata efek dari berkah haram gigi palsu itu belum juga berhenti. Barangkali memang permanen, pikirku.

 

Kunjungi cerpen saya lang lain: klik di sini

1

Pamali itu bagaikan candu. Keyakinannya membuat seseorang menutup mata terhadap sains. Atau bisa jadi ketiadaan sains yang menyebabkan mereka percaya pada pamali. Katakanlah dua kutub itu menjadikannya sebuah lingkaran setan di negeri yang sedang berkembang ini. Ya, lingkaran setan. Setan ikut berkeliling di lingkaran itu dan akan terus mengelabuhi manusia dimanapun ia berada. Setan juga akan mengelabuhi orang kota. Jika di desa disebut pamali maka orang-orang kota akan menyebutnya sebagai urband legend.

Gelar kesarjanaanku tentu saja tidak penah mengajarkanku tentang pamali. Tapi lingkunganku justru menyajikan yang sebaliknya. Untunglah aku bagai katak yang berhasil keluar dari tempurung mistik. Sejak SMA aku sekolah di kota. Kuliahpun di kota. Pamali itu sedikit demi sedikit aku pahami sebagai bentuk lain dari pesan moral orang tua kepada anaknya.

Aku pernah ingat ketika mamak berkata, “Le, kalau makan gak boleh pindah-pindah.” Katanya ketika aku beranjak dari meja makan untuk mendekat ke arah televisi. Lesehan di lantai. “ Gak boleh Le, bisa dapat ibu tiri kamu nanti.” Begitu katanya. Tentu saja dengan otak sarjanaku sekarang, aku hanya tersenyum karena betapa lucunya orang tua jaman dahulu dalam mengajarkan moral. Sudah pasti isi pesan dari pamali itu mengajarkan untuk tetap diam di tempat selama makanan belum habis. Dan belakangan aku baru tahu kalau pamali yang bisa mendatangkan ibu tiri itu agak fleksibel: boleh berpindah asal ke tempat yang lebih baik atau lebih layak. Misalnya dari lantai ke meja makan. Bukankah itu inti dari pesan moral tersebut? Yaitu makanlah di tempat yang baik dan layak.

Jika aku meniatkan, bisa jadi daftar pamali pembentuk moral di usia pendewasaanku itu menjadi satu buku berjudul ‘Ensiklopedia Pamali di Indonesia’. Suatu hari aku berkonsultasi dengan dokter gigi pribadi sewaktu masih di kota dulu. Dan ajaib, petuah dokter gigi itu mirip dengan pamali yang dikampanyekan mamak. “Le, jangan suka menggigit bibir bawah macam itu.” katanya sambil menyentil bibirku dengan keras. “Kelak kamu seret rejeki, lho. Dan jangan terbiasa menggigit yang atas, bisa-bisa kamu nanti banyak hutang.” Katanya ketika itu. Luar biasa, jangan-jangan mamak berbakat jadi dokter gigi. Tentu saja bukan perkara rejeki yang sejalan dengan dokter gigi itu. Tapi perkara gigit menggigit bibir itu. Dokterku bilang jika punya kebiasaan menggigit bibir bawah, gigi atas jadi mrongos. Jika bibir bawah yang digigit, gigi bawah bisa-bisa nyakil. Mana mungkin mamak dengan ilmu sekapasitas lulusan SD itu tahu menahu urusan gigi. Tapi belakangan aku berpikir,  bisa jadi kalau gigi tidak rapi, rejeki juga jadi seret.

Untuk urusan jodoh, pamali mamak lagi-lagi membuatku terkesan meski tidak seketika. “Le, ingat, jangan malas menghadiri undangan pernikahan. Bisa sulit jodoh kamu nanti.”

Jodoh urusan Tuhan tentu saja, bukan urusan hadir atau tidak hadir kan?

Tapi beberapa tahun setelahnya aku terpaksa mengingat kembali kata-kata mamak. Karena Lastri, istriku, adalah wanita yang membuatku jatuh hati saat aku pertama kali bertemu dengannya, di sebuah acara pernikahan seorang teman.

Pernah juga sesekali aku mencoba berkeras hati untuk tidak menggubris peringatan mamak. Karena waktu itu aku mulai dewasa dan dengan akal SMP ku, aku mulai berpikir rasional. Katanya, “Jangan duduk di depan pintu, Le. Kalau ada setan lewat, kamu bisa jatuh sakit.” Mana bisa setan bikin sakit? Kataku dalam hati. Tapi apa yang terjadi berikutnya tidak jauh dari teori pamali  mamak. Wening, mbakyu kandungku tiba-tiba berlari sambil menyenggol daun pintu. Pintu terhempas dan tanganku terjepit. Dalam hati aku tetap tak terima pamali mamak menang. Kan bukan setan yang lewat, tapi mbak Ning. Eh, bisa jadi setan yang menyuruh mbak Ning untuk membuatku sakit. Bukankah setan penuh tipu daya dan sangat manipulatif? Ah, entahlah.

“Makanya dengerin yang dibilang orang tua, Le.” Kata mamak.

Aku hanya meringis memegangi ketiga jari kananku yang terjepit tadi. Sakitnya luar biasa. Sambil beranjak masuk kedalam. Tidak di depan pintu lagi. Baiklah aku mengalah kali ini mak.

Maka selanjutnya aku berkuat hati untuk berdamai dengan pamali mamak yang semakin tak masuk akal. Bisa saja aku berhasil melawan mitos-mitos itu saat di rumah. Tapi lihatlah, ketika aku diluar, orang-orang di sini sudah sama macam mamak saja. Jangan inilah, jangan itulah. Benar-benar semua yang dikatakan mamak ketika di rumah, aku dengar lagi ketika di luar rumah.

Syukurlah, tempurung itu mulai terbuka ketika pintu kelulusan SMP juga terbuka. Tidak ada SMA di kampung sini. SMA hanya ada di kota. Maka SMA adalah penumbuh kecerdasan rasionalku. Tapi bukan mamak jika tidak membekaliku dengan segudang pamali yang sampai sekarang masih saja aku ingat. Bukan karena pesan moralnya, tapi karena mamak nampaknya telah mengeluarkan semua pamali bermuatan moral sejak aku kecil, dan sekarang mamak kehabisan pamali bermoral itu. Maka sisanya tinggal yang aku anggap sebagai  lelucon.

Sebelum aku berangkat ke asrama SMA, mamak berpetuah, “Perhatikan tidurmu. Jangan tidur dengan kepala di utara dan kaki di selatan, nanti cepet meninggal. Jangan tidur menjelang maghrib, nanti bisa gila. Kalau mandi jangan di siang bolong, nanti cepet tua. Perhatikan cara makanmu juga. Jangan telalu sering makan pakai mangkuk, nanti saudaramu ada yang meninggal. Jangan suka membuang nasi jika sudah kenyang, nanti terjadi konflik keluarga. Perhatikan juga cara berbicara, bla bla bla….”

Aku banyak mengangguk, banyak tersenyum tapi tidak banyak mendengarkan. Sekedar formalitas sebagai anak berbakti yang hendak merantau saja. Biar mamak tidak cemas.

 

2

Sekarang rumahku di desa sudah berubah status menjadi hanya sekedar tempat lahir. Sekarang aku sudah berkeluarga dan sudah punya rumah sendiri di kota. Bersama istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Sesekali aku mengunjungi mamak sepanjang aku sekolah dan kuliah. Tiap liburan semester aku pasti pulang. Dan sekarang adalah kunjungan kami kedua semenjak kehamilan istriku.

Seperti yang aku duga, mamak dengan petuah-petuahnya selalu saja ada yang dipamalikan. Bukan aku yang menerima petuah itu sekarang. Tapi istriku.

Nduk, kalau lagi hamil ingat ya, kamu ga boleh terlalu banyak bersedih biar anak kamu kelak tidak jadi anak cengeng. Makanmu harus diperhatikan juga ya, nduk. Jangan terlalu banyak makan cakar ayam, nanti anakmu tulisannya kayak cakar ayam juga.”

“Sudahlah mak, Lastri kan perawat. Dia lebih ngerti bagaimana menjaga kandungannya. Dia sudah paham betul pola makan sehat untuk bayinya.”

Le, kamu itu dikasih tau selalu saja ngeyel. Kamu itu jangan main-main sama pamali. Bisa kualat!” kata mamak sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Matanya melotot marah.

“Sudahlah mas.” Lastri berbisik ketika mamak sudah beranjak menjauhiku dengan sebal. “Apa salahnya mendengarkan saran mamak. Hanya mendengarkan saja tanpa banyak melawan kan bukan berarti ikut mempercayai.”

Aku mengangguk saja. Menurut.

“Mas, aku nyidam lagi nampaknya.” Katanya sambil menarik lengan bajuku.

“Eh? Katakan saja sayang, mas ini selalu siap sedia menuruti apa yang kamu mau. Eh, maaf, apa yang kalian mau.”

 

3

“Mak, ayamnya boleh aku sembelih satu?” tanyaku pada mamak. “Lastri nyidam pengen makan opor ayam kampung.”

“Oalah. Le… Jangan macam-macam kamu Le…” teriak mamak. “Istrinya lagi hamil kok mau membunuh binatang. Gak boleh itu Le…”

“Mak, jangan katakan itu lagi. Percuma anakmu ini sekolah sampai sarjana kalau masih percaya hal seperti itu. Nanti aku belikan ayam lagi, mak. Jika mamak sayang kehilangan satu ayam itu. Aku bisa belikan dua nanti. Lastri bisa saja aku belikan daging ayam kampung di pasar. Tapi Lastri nyidamnya sama ayam mamak yang itu.” kataku sambil menunjuk ayam kampung hitam yang sedang asik mematuk di halaman depan. Berharap dengan dalih nyidam, ketidaklaziman apapun akan segera dimaklumi.

“Bukan, Le.. bukan semata-mata karena itu. Mamak gak masalah ayam yang satu itu disembelih. Tapi mamak lebih sayang sama jabang bayimu itu. Pamali, Le…pamali… Anakmu bisa lahir cacat. Tidak boleh membunuh atau menganiaya binatang jika istrimu sedang hamil.”

“Mak, pamali itu hanya untuk anak kecil. Biar mereka nurut, ngerti tata krama dan sopan santun tanpa banyak bertanya karena takut kualat. Aku sudah dewasa mak, sudah sarjana. Aku tahu membunuh atau menganiaya binatang itu tidak boleh. Tidak peduli saat istrinya sedang hamil atau tidak. Tapi aku menyembelihnya dengan berucap Bismillah. Itu beda dengan membunuh atau menganiaya. Sudah, mak, biar aku potong sekarang ayamnya.” Kataku sambil begegas mengambil pisau dapur.

“Jangan, Le. Jangan!” Mamak menarik ujung bajuku, menahanku. Tapi aku lebih gesit. “Biar Lek Karto yang motong.”

Aku mendengar mamak teriak-teriak memanggil Lek Karto yang tinggal di depan rumah mamak. Saat aku keluar Lek Karto nampak bergegas berlari sambil memgang sarungnya yang kedodoran.

“Ada apa ribut-ribut?” tanya Lek Karto. Sarungnya sudah rapat sekarang.

“Ini, To… Lihat, si Danar keponakanamu ini, mau motong ayam. Padahal istrinya hamil tua.” Kata mamak sambil mengacungkan telunjukknya kearahku.

Ngger, mbok ya kalau mamakmu memberi nasihat itu didengarkan.” Tentu saja Lek Karto makmum sama pendapat mamak. Orang di desa ini semuanya juga akan mengatakan hal yang sama. “Bahaya, itu. Anakmu bisa lahir cacat.”

“Aku tidak percaya hal-hal macam itu Lek.”

“Jangan kalap kamu ngger, kualat kamu nanti. Lihat anaknya si Dullah, kakinya bengkok karena waktu istrinya hamil dia tidak sengaja memutuskan kaki belalang untuk umpan pancing.”

Itu kan polio, pikirku. Anaknya si Dullah tidak diimunisasi karena puskesmas jauh.

“Lalu si Amat, yang menggunakan umpan pancing yang disiapkan Dullah, istrinya sedang hamil juga. Ikan yang tersangkut di pancingan itu bikin dia kualat. Perut anaknya jadi buncit seperti mau meledak.”

Itu kan busung lapar. Keluarga Amat memang miskin. Hidup dari jualan ikan yang dipancing atau dijalanya dari sungai besar batas desa. Anaknya kurang nutrisi.

 

4

Dengan ketetapan hati dan kerasnya pendirianku, tentu saja nasib ayam kampung mamak berakhir di tanganku dan pisau dapur itu. Kupotong ayam mamak dengan bacaan Bismillah. Tidak ada keraguan sedikitpun. Otakku sudah mengenal sains dan agama. Mengenal teori-teori yang memberiku gelar sarjana. Maka dari itu aku berani melawan adat kampung. Sekalipun ditentang oleh beberapa tetangga yang segera menyusul datang karena mendengar ribut-ribut di depan rumah mamak waktu itu, aku tetap berhak memiliki pendirian sendiri. Pengetahuan harus ditegakkan. Modernisasi tak bisa ditolak. Agama harus dimurnikan dan ajaran moral harus direvisi. Pamali harus hilang dan diganti dengan nasihat moral rasional.

Tapi apa yang terjadi dua bulan setelahnya adalah pembantaian tehadap seluruh ilmu beserta prinsip-prinsip idealisme kebenaran yang aku pelajari selama ini. Mungkinkah sains tidak lagi bertaring? Mungkinkah ilmu pengetahuan itu sudah semacam tren yang suatu saat kebenarannya valid seratus persen dan suatu hari akan kadaluarsa? Mungkinkah pengetahuan itu kembali ke titik primitif dan kita kembali ke ranah mistik untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan? Aku tidak percaya mistisisme pamali beserta hukuman tehadap pelanggarnya yang kena kualat. Tapi siapa yang akan menjelaskan secara meyakinkan dan gamblang ketika aku melihat Lastri melahirkan bayi yang cacat? Ya, bayi kami cacat!

Bagaimana cara aku menghadapi mamak dengan bayi cacat ini? Bayi tidak bersalah yang harus menanggung pelanggaran pamaliku. Bagaimana aku menghadapi para kerabat dan tetangga yang kala itu telah melarangku sekuat tenaga untuk tidak memotong ayam kampung mamak? Dan aku keras kepala hanya karena aku sarjana. Padahal mereka telah hidup dengan segala adat istiadat dan kearifan budaya yang telah lama terbentuk dan tak terusik. Mereka lebih paham akan filosofi hidup. Sedangkan aku masih begitu muda menjalaninya. Apakah mereka akan memaafkan dan memaklumi segala keputusan emosional jiwa mudaku? Ataukah mereka akan memvonisku sebagai ‘pelanggar pamali yang kualat’ yang nantinya dapat dipakai untuk menuturkan ke anak cucu mereka sebagai contoh yang buruk? Aku menyesal, bukankah perkataan mamak selalu ada benarnya? Maafkan aku, mak. Aku menyesal.

Tiada guna gelar sarjana dan kehidupan modern yang aku jalani delapan tahun terakhir.

 

5

Tentu saja aku masih berdiri di sini. Masih di depan halaman rumah mamak memegang pisau dapur sementara pikiranku berkelebat melayang apa yang akan terjadi dua bulan ke depan. Dan lihatlah, tentu saja ayam mamak masih menikmati masa hidupnya di depan sana. Dan aku kini berdiri di antara mamak, Lek Karto dan beberapa tetangga yang tadi berusaha mencegahku mengejar ayam mamak. Mencegah aku kalap melanggar pamali. Mereka mengkhawatirkan bayiku.

Sebenarnya bukan karena aku kalah banyak. Bukan karena mereka lebih banyak sehingga marahku mereda. Tapi ada Lastri yang sekali lagi menenangkanku. Dia keluar karena mendengar ribut-ribut. Sesaat dadaku sesak ketika Lastri menggenggam tanganku. Tiba-tiba aku benar-benar mengkhawatirkan bayi kami. Tentu saja aku akan mengusahakan apapun untuk menjamin kesehatan bayi kami. Apapun, yang tidak masuk akal sekalipun. Baiklah, mak. Aku menurut.

Kuserahkan pisau dapur itu. Biarlah Lek Karto yang memotong ayamnya.

1

Tidak pernah ada cinta di hati Tien. Hidup tidak memberinya cinta sedikitpun. Dia lahir juga bukan karena cinta. Orang tuanya menjodohkan ibunya dengan pria yang tidak ia cintai. Subhan nama pria itu. Dan akhir kisah rumah tangga itu sudah bisa ditebak. Kedua orang tua Tien tidak pernah bisa memaksakan cinta lebih lama lagi. Maka ibu Tien kawin lari dengan pria pilihannya dahulu sambil mengandung Tien yang berusia tujuh bulan.

Tien di sini sekarang. Kembali merenungi hidupnya yang pahit itu. Tentu saja Tien mengenal cinta. Hanya saja dia belum juga merasakannya. Malang benar nasib Tien. Dia sudah meninggalkan masa kanak-kanaknya sekarang. Usia remaja juga sudah dijalaninya sejak tiga tahun yang lalu.

Ah, betapa Tien membutuhkan cinta.

Tien selalu ingat masa lalunya. Menurutnya setiap manusia itu minimal mendapatkan cinta dari orang tuanya. Tapi Tien tidak pernah mendapat hak itu. Tien pernah mendengar bahwa induk harimau sekalipun tidak pernah melukai anak-anaknya. Aku ingin jadi anak harimau saja kalau begitu, pikirnya. Induk manusia lebih kejam. Tien banyak membaca dari koran bekas yang dipungutnya. Membaca tentang aborsi, pembuangan bayi dan penganiayaan anak oleh orang tua.

Tien tidak penah mengalami kekejaman fisik itu. Tapi Tien tahu ibunya sangat membencinya. Sama seperti kebencian ibu terhadap Subhan suami pertamanya, ayah Tien. Suatu ketika ibunya pernah berkata kalau Tien selalu mengingatkannya pada suami terkutuk itu. Ya Tuhan, bahkan ibu kandung Tien menganaktirikannya. Bagi Tien, ibunya telah mengaborsi, membuang sekaligus menganiaya dalam takaran batinnya.

Maka Tien tidak pernah menangis ketika ibunya mati.

Tien praktis tinggal dengan ayah tirinya setelah itu. Apakah ayah tirinya memberinya cinta? Tien tidak begitu memahaminya. Ayah tirinya baik, ramah tapi tidak ada cinta di hatinya. Tien merasakan kekosongan yang aneh. Dengan usianya yang baru tujuh tahun Tien tidak memahaminya. Sesekali ayahnya melepaskan pakaiannya dan Tien berpikir: ya, ayah yang baik melepaskan pakaianku untuk dicuci. Sesekali ayah Tien memandikannya dan Tien masih bepikir: ya, ayah yang perhatian sudah wajar jika sesekali memandikanku. Sesekali ayah Tien meraba-raba tubuh Tien dan Tien tetap berpikir: ya, ayah yang penolong membantuku membersihkan dan menyabun daki-daki di badanku. Dan sesekali ayah Tien memasukkan kemaluannya ke kemaluan Tien dan Tien semakin tidak memahaminya: entahlah apa yang dilakukan ayah. Pertama menyakitkan tapi ayah selalu menghiburku. Dan permen-permen itu sangatlah lezat. Ayah adalah penghibur yang baik.

Tien di sini sekarang. Sudah memahami segalanya dengan baik. Ternyata ibunya memilih pria bejat untuk dinikahi. Mungkin kakek neneknya telah mengetahui keburukan pria pilihan ibunya ini. Maka dijodohkanlah ibu dengan pria baik-baik menurut mereka.

Ah, kakek nenek, dimanakah kalian tinggal? Ibu telah memisahkan kita. Memisahkan satu-satunya kemungkinan adanya sumber cinta yang selama ini aku rindukan.

Ayahnya resmi memutus sekolah Tien sesaat setelah lulus SD. Itu artinya sebelum Tien mendapatkan penjelasan edukatif biologis tentang apa yang dilakukan oleh ayahnya, dia resmi terputus dari pendidikan formalnya. Pengetahuannya akan datang terlambat dan itulah tujuan sang ayah.

Tien mulai mengenal teman-teman ayahnya yang sering datang ke rumahnya. Tien dengan pemahaman seusianya kala itu menyebutnya: ‘teman-teman kantor’ ayah. Hanya saja Tien tidak pernah paham bahwa ‘teman-teman kantor’ ayahnya itu melakukan persis apa yang dilakukan ayahnya. Tien bukannya terganggu. Tien hanya tidak mengerti. Tapi yang Tien tahu, ayahnya selalu memanjakannya setelah itu. Sepertinya ayahnya selalu mendapatkan banyak uang setelah teman kantor ayah itu selesai ‘bermain’ dengannya.

Mungkin ayah telah berdagang sesuatu dengan teman kantornya.

Tien selalu sesak mengingat alur hidupnya yang tak seindah sinetron. Tapi Tien sudah tidak pernah menangis. Tien lupa kapan teakhir menangis. Tangisan hanyalah untuk orang-orang yang cintanya terenggut, pikirnya. Sedangkan Tien, tidak pernah memiliki cinta sejak lahir. Jadi tidak ada sedikitpun yang terenggut darinya.

Tien yang kini telah memahami segalanya, selalu terkurung dengan perasaan benci itu. Kepada ibunya yang memisahkan dirinya dengan cinta yang ia butuhkan. Ibunya yang juga melahirkannya dengan kebencian. Dan tentu saja ayah tirinya yang telah mengantarkan nasibnya pada detik ini dan di tempat ini.

Pada suatu ketika itu teman kantor ayah membicarakan sesuatu dengan ayah. Hasil dari pembicaraannya itulah yang membuat Tien pergi dari rumah ayah. Tien harus ikut Om kata ayahnya ketika itu.

Ayah menjanjikan aku akan senang. Ayah berkata Om akan membelikan apapun yang aku mau. Tentu saja, tentu saja aku mau pergi bersama Om ini. Tien tahu ayahnya berkata benar. Buktinya ayahnya setelah itu memegang banyak duit dari si Om yang pastinya nanti akan dipakai untuk membelikan Tien apa saja. Dan Om yang telah memberikan uang sebanyak itu pada ayah pastilah kaya raya. Om itu pasti akan banyak membelikan sesuatu juga.

Lambat laun Tien mengerti juga. Perjalanan hidupnya akhirnya mendewasakannya juga. Tien mulai tahu betapa kejamnya ayahnya yang menjualnya kepada teman kantornya. Dan si Om yang sama kejamnya dengan ayah. Semua memperlakukannya sama seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Sama seperti yang dilakukan ‘teman kantor’ ayah dulu. Sekarang ‘teman kantor’ Om melakukan hal yang sama dengan membayar sejumlah uang kepada si Om. Semuanya sama. Bedanya, Tien sekarang sudah mengerti. Ketika itu Tien tidak terganggu. Tien rela, pasrah. Tapi Tien merasa semakin kosong. Kemanakah cinta untuknya?

Sekarang Tien sedang berdiri di sini. Di sebuah jembatan sepanjang lima ratus meter yang baru berusia satu tahun. Masih baru. Di sinilah titik yang paling menyenangkan untuk Tien. Di sinilah Tien bisa menunggu matahari tebenam.

Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta dari sesama, biarlah aku mengais cinta dari pesona matahari yang mulai meninggalkan langit tempatku berpijak ini. Matahari telah memberikan cintanya pada alam. Sekarang sebelum dia pergi, aku ingin merasakan sedikit dari hangatnya cinta yang masih tersisa itu.

Tien masih di sini. Menatap jenuh. Kekosongan itu bisa juga jenuh ternyata. Mengenang kekosongan dan kejenuhan yang sama ketika Tien memutuskan berlari dari semuanya. Berlari secara lahir dan batin. Dini hari dua tahun yang lalu itu Tien mencoba peruntungannya. Dan beruntunglah si Om yang tidak pernah menaruh curiga pada Tien, yang dikenalnya sebagai ‘barang dagangannya’ yang paling penurut, membuat pelarian Tien bukanlah perkara yang sulit. Dengan uang hasil penjualan dirinya itu cukuplah untuk menghilang dengan jarak sejauh lima kota dari ‘kantor’ Om. Tak ada yang bisa menemukannya di kota ini. Kota yang memiliki jembatan baru yang indah. Cocok untuk Tien yang sedang merenung saat ini.

Di sini Tien berdiri menunggu matahari terbenam. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Setelah penat dengan pekerjaan seharian itu. bukanlah pekerjaan yang menyenangkan jika Tien harus berkeliling kota dengan sepeda tua berkeranjangnya, hasil menabung selama enam bulan, yang penuh dengan kertas bekas. Melelahkan memang tapi Tien sedikit menikmatinya. Tien mulai berpikir, mungkin transaksi perasaan cinta-mencintai itu memang tidak ada. Yang ada hanyalah transaksi jual beli yang dinilai dengan uang. Uang yang membuatnya tetap hidup. Bukan cinta.

Tapi malam ini nampaknya telah merubah pandangan Tien.

Malam yang sederhana. Dengan situasi dan keadaan yang biasa. Di jembatan ini Tien telah hafal benar dengan kebiasaan anak-anak muda seumurannya, yang berpasang-pasangan, ikut meramaikan kedua sisi jembatan itu tiap senja mulai menggelap. Jembatan remang-remang yang cocok untuk memadu kasih. Kendaraan yang lewat juga tidak banyak. Entah mengapa lampu penerang jalan yang berjajar sepanjang jembatan yang masing-masing berjarak seratus meteran itu tidak pernah menyala. Seolah para ahli tata kota sengaja menjadikannya sebagai tempat cocok untuk berpacaran. Atau mungkin para vandalis kota telah merusak sensor lampu agar tidak lagi otomatis menyala ketika senja tiba.

Senja mulai menghitam. Tien mulai melihat beberapa pasangan mulai berdatangan. Seperti biasa, pikir Tien. Tien juga sudah bosan dengan gaya cakap-cakap para dua sejoli itu. Yang satu pandai merayu, satu lagi pura-pura malu tapi mau. Tien bosan dan dia selalu berhasil berkutat pada lamunannya. Tapi tidak malam itu. Dia sayup-sayup mendengar sang pria berucap ‘selamat hari valentine’ pada pasangannya. Hanya sekali Tien mendengar sudah cukup membuatnya keluar dari lamunan dan memalingkan wajah. Menengok pasangan itu. Tidak, tidak hanya satu. Beberapa pasangan lagi mengatakan kata yang sejenis sesaat berikutnya. Beberapa lagi bersendau gurau dan menyinggung kata yang sama. Semuanya, pikir Tien.

Valentine. Tien tahu kata itu. Tahu tentang perayaan dimana orang-orang meramaikannya dengan atribut berwarna pink. Lihatlah, para pasangan di jembatan itu memakai pakaian dengan unsur pink juga. Tien tahu betul peringatan hari kasih sayang itu.

Hari ini adalah hari valentine. Seluruh dunia merayakannya. Kecuali aku…

Tien sesak. Hatinya menangis. Kembali lagi dia mendambakan cinta. Kemanakah cinta untuk Tien? Tien ingin cinta menerbangkan kebahagian seperti kebahagiaan yang terpancar pada sejoli-sejoli di sekitarnya itu. Tien ingin terbang bersama orang-orang yang dicintainya. Tien ingin terbang dilangit luas agar sesak di hatinya terlepas melega.

Jembatan itu remang-remang. Tak ada yang tahu bahwa Tien mencoba terbang. Meluncur kebawah. Tien berharap cinta akan menerbangkannya pada detik-detik terakhir.

2

“Fenomena apa yang terjadi pada anak muda akhir-akhir ini benar-benar harus diwaspadai. Psikologis remaja yang baru berkembang bisa jadi adalah silent killer yang cukup serius selain obat-obatan terlarang. Bagiamana tidak? Dalam tiga bulan terakhir kita jumpai fenomena yang nampaknya menjadi tren. Apakah Shakespeare patut dipersalahkan jika anak muda jaman sekarang lebih memilih bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban percintaan? Meniru Romeo Juliet katanya. Ataukah pemerintah yang harus bersikap hanya karena tidak pernah bisa menyelesaikan urusan pelik yang bernama ekonomi?

Bagaimanapun juga bunuh diri di kalangan remaja di Indonesia cenderung meningkat. Adapun jumlah tertinggi pelaku bunuh diri berada pada kisaran usia remaja dan dewasa muda (15-24 tahun). Laki-laki melakukan bunuh diri (comite suicide) empat kali lebih banyak daripada perempuan. Sedangkan perempuan melakukan percobaan bunuh diri (attempt suicide) empat kali lebih banyak daripada laki-laki.

Laporan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia tercatat di Gunung Kidul Yogyakarta yaitu 9 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan di Jakarta hanya 1,2 per 100.000 penduduk.”

………………………………………………………

“Kau tidak lupa memasukkan bahasan pada kasus terakhir dua hari yang lalu itu kan?” tanya seseorang dari bagian percetakan kepada seorang kolumnis yang sedang asik mengetik.

“Mana bisa aku lupa?” Kata si kolumnis sambil menghentikan kegiatannya sejenak. “Kamu tahu kan kemarin aku bela-belain untuk ke TKP. Meliput secara langsung. Sungguh menyedihkan kalau kamu melihatnya juga. Dan anak itu akan sedikit merubah data statistik yang sudah aku hitung sebelumnya. Tenang saja, data terbaru itu sudah siap aku cantumkan kok.”

“Mengharukan?” dahinya mulai sedikit berkerut. “Mengerikan maksudmu?”

“Tentu saja mengerikan. Korban terjun bebas mana yang matinya anggun? Tapi aku sedih, melihat wajah mayat itu… Dia tersenyum.”

“Ah, sudahlah. Bicaramu mulai mengerikan. Cepat selesaikan artikelmu itu. Jangan masukkan bagian itu. Koran kita bukan koran mistik.”

Kolumnis itu nyengir dan segera kembali berkutat pada laptopnya. Mengetik dengan cepat.  Trending news dengan kasus terakhir dua hari yang lalu itu membuat otaknya kebanjiran ide yang harus ditulis dan diselesaikan segera. Ini kasus menarik. Biarpun kasus terakhir hanya melibatkan seorang gadis gelandangan, tapi tetap saja bunuh diri di malam valentine akan cukup menarik untuk dibahas. Entah apa latar belakangnya, tak ada informasi satupun. Dia remaja gelandangan. Tak ada seorangpun yang tahu kisahnya. Pengaruhnya dalam berita ini mungkin hanya sekedar perubahan data statistik.

“Eh, buruan ya. Setengah jam lagi deadline naik cetak.” Kata manajer percetakan, mengingatkan.

“Oke, aku hampir selesai. Beberapa kata lagi dan artikel ini siap diterbitkan.” Kolumnis itu tampak puas dengan idenya yang telah tertuang dalam 2 halaman yang terketik rapi itu. Sebagai penutup artikel itu, dia menuliskan:

Yogyakarta, 16 Februari 2012,

Subhan

Dan hanya Tuhan yang tahu urusan ini.

[Cerpen] Hitam

Posted: Februari 8, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

1

Aku adalah seorang pesulap yang sudah tujuh tahun ini ikut dalam sebuah rumah produksi di sebuah televisi swasta lokal. Tiga bulan kedepan adalah sisa usia kontrakku sebelum berakhir dan aku harus mencari rumah produksi lain atau membuat rumah produksi sendiri. Dan siapakah wanita itu? Dia adalah asistenku yang selama lima tahun terakhir ini menghiasi pertunjukanku. Dia cantik, seksi dan atraktif. Dan memang itulah syarat utama yang ditetapkan mandor rumah produksi ini ketika menyaring kandidat untuk menggantikan sang asisten yang terdahulu, yang katanya sudah terlalu tua. Tapi bagiku seluruh penampilan fisik yang ideal itu hanyalah bonus sampingan ketika aku mulai mencintai kepribadiannya.

Namanya Magi. Aku yakin  itu bukan nama panggung sekalipun jika ditambahkan huruf “c” di belakang maka akan sangat cocok ketika bekerja di dunia persulapan. Tidak, sekali lagi aku tegaskan, aku yakin itu nama asli. Dan nama asliku, bukan nama panggung juga dan aku tidak peduli orang-orang akan percaya atau tidak, adalah Igam, kebalikan dari Magi. Herankah? Tapi aku yakinkan, bukan karena urusan nama yang berkebalikan itulah aku mulai mencintainya. Toh perasaan ini baru muncul setahun terakhir. Bukan sejak lima tahun yang lalu ketika aku melihat berkas profilnya yang diberikan mandor sirkusku ketika itu. “Coba lihat, fisiknya cocok dan namanya juga cocok untuk menjadi asisten barumu.” Kata Toro sang mandor.

“Melihat pertunjukan sulap itu adalah cara untuk menghibur diri dengan memanfaatkan kebodohan kita.” Kata Magi ketika break pada suatu sesi pertunjukan di studio TV di Bandung kala itu. “Mereka akan senang sekali melihat betapa otak mereka tak mampu menerjemahkan trik-trik itu.”

“Apa kesimpulanmu?” Tanyaku.

“Itu artinya, sulap adalah cara kita membuat orang-orang yang berjalan dimuka bumi ini tidak lagi penuh dengan kesombongan, kesoktahuan dan bakat sok pintar. Mereka yang tidak mengerti triknya, akan berpikir sekuat kapasitas otak mereka dan ketika mereka tidak menemukan suatu jawaban di sana, mereka tetap tersenyum dengan kagumnya. Mereka berada dalam tahap paling jujur ketika itu. Jujur kalau mereka berhasil dibodohi tanpa ada perasaan tersinggung sedikitpun.”

“Itu artinya, kamu anggap kita sebagai pembohong?”

“Tentu saja tidak Gam. Kita ini adalah penyaji keindahan. Bukankah semua rahasia akan membuat sesuatu di dunia ini menjadi mengagumkan? Lihat Gam, semesta ini adalah panggung sulap. Kita tidak tahu darimana semesta ini muncul. Otak kita tidak punya kapasitas sebesar itu untuk berpikir kesana. Bagaimana keseimbangan alam semesta ini begitu terpelihara? Tuhan sedang bermain sulap juga Gam. Dan kita sebagai penonton, kita akan disuguhi fenomena kebesaran diri Tuhan dari hasil sulap itu sendiri. Dan kamu tidak akan menyebut Tuhan sebagai pembohong kan? Tuhan hanya menyajikan sesuatu yang kebenarannya belum kita tahu. Kitalah yang masih bodoh Gam.”

Aku mendengarkannya sedikit mengangguk dan lebih banyak berpikir.

“Pesulap itu adalah sosok yang mampu menggabungkan kejeniusan ilmu pengetahuan, seni dan filosofi serta sedikit mistik. Trik-trik yang tak kasat mata itu yang selalu saja membuat berdecak kagumnya para penonton. Sesekali triknya dibuka dan dibeberkan pula rahasianya. Tapi hal itu tidak pernah membuat pesulapnya kehilangan pamor. Mereka tetaplah orang genius semi misterius di hadapan penontonnya. Trik-trik itu tidak kalah mulianya dengan performa keajaiban di mata penonton.”

Setiap kali mendengar argumen pintarnya itu, aku mulai bisa melihat inner beauty-nya.

“Dunia juga demikian Gam. Jika kau pernah membaca novel ‘Dunia Sophie’, kau akan tahu bahwa kita tak lebih dari kutu yang berada di ujung paling dalam dari setiap helai bulu kelinci yang sedang dikeluarkan dari topi pesulap. Anggaplah kita adalah kutu itu, kelinci adalah dunia tempat kita tinggal dan topi pesulap adalah semesta raya. Maka semesta secara tiba-tiba akan memuntahkan dunia. Tapi karena kapasitas ilmu pengetahuan yang terbatas, kita bahkan malas untuk memanjat bulu-bulu itu untuk melihat ke permukaan untuk mempelajari bagaimana fenomena itu bisa terjadi. Semesta ini adalah panggung sulap dengan triknya yang begitu agung. Hingga suatu hari trik itu sedikit demi sedikit akan terkuak. Sains lambat laun akan membeberkan rahasianya. Tapi aku yakin Tuhan sang pesulap tidak akan pernah kehilangan keagungannya oleh segala analisa itu. Karena trik itu sendiri adalah sebagai bukti atas keagungan-Nya.”

2

Aku begitu menyadari bahwa Magi sangat mengagungkan seorang pesulap. Satu hal yang tidak Magi ketahui tentang sulapku adalah bahwa aku tidak pernah melakukan trik-trik yang Magi agungkan itu. Aku tidak pernah melakukan trik yang bersih. Selama ini aku melakukan sulap hitam. Sihir. Aku menyihir benda-benda agar bisa berubah, menghilang bahkan terbang. Aku menyihir penonton agar bisa mengelabuhi pandangan mereka. Aku bahkan menyihir asistenku sendiri agar dia tidak akan pernah tahu kalau aku melakukan trik sihir.

Aku tahu sebagian besar orang awam yang tidak bisa memecahkan trik apa yang ada di balik performa sulap akan dengan cepat memvonis mereka sebgai tukang sihir. Tapi aku tahu betul, seluruh pesulap yang sukses malang melintang di televisi itu hampir sebagian besar melakukan sulap bersih. Mereka melakukan trik ketrampilan murni, aku tahu itu. Sangatlah sedikit pesulap di negeri ini yang bisa ilmu sihir. Bahkan yang benar-benar bisa sihir pun, para penonton justru tidak mencurigainya sama sekali. Aku adalah salah satu ahli sihir itu. Aku salah satu dari segelintir pesulap ternama itu. Dan tidak seorangpun yang mencurigaiku.

Akankah Magi bisa menghargai sebuah ritual trik-trik hitam dan sulap sihir dengan segala kesyirikannya? Aku jelas mengkhawatirkan hal itu. Aku mencintainya dan berharap Magi tidak pernah mengetahuinya. Aku yakin Magi yang sangat menguasai wawasan filosofis religius itu tidak akan pernah berpihak pada ritual yang menduakan Tuhan agungnya. Magi memang putih dan Igam adalah sebaliknya: hitam!

Magi dengan segala wawasannya telah menumbuhkan sekuncup niatku untuk meninggalkan sulap hitam dan beralih ke agungnya trik-trik kreatif. Kuncup niat itu semakin mekar seiring dengan bertunasnya perasaanku terhadapnya.

Maka hari itu, aku tekadkan agar suara hatiku bisa bertutur jujur.

3

“Tidak Gam. Aku tidak bisa. Aku tidak akan menghancurkan karir kita. Mana bisa kita menjalin hubungan ketika kita masih dalam masa kontrak? Bisa-bisa manajer menghentikan kontrak kita. Aku tidak mau menghancurkan karir yang mulai aku bangun dan juga karirmu yang sedang berada di atas. Kamu tahu kenapa namaku Magi? Kenapa nama lengkapku Magi Ciandra? Itu karena ayahku seorang magician juga. Aku sudah tumbuh dalam gemerlapnya hiburan sulap sejak kecil. Dan sejak saat itulah aku mulai bertekad untuk belajar menghidupkan kembali profesi ayah. Apakah hatimu tiba-tiba berbinar hanya karena nama kita berkebalikan? Kebetulan itu tidak seharusnya menyilaukanmu Gam.”

“Aku tidak jatuh cinta dengan namamu.” Aku menarik napas panjang untuk menenangkan nada suaraku yang masih saja bergetar. “Benar, urusan nama hanyalah kebetulan semata. Tapi daya tarik pribadimu bukan suatu kebetulan buatku.”

“Aku hanya bersikap profesional Gam. Aku belum mau kehilangan pekerjaan yang karirnya baru saja aku bangun ini. Aku bahkan selalu profesional untuk tidak mencoba mencari tahu tentang trik-trik sulapmu. Sekalipun kadang aku juga begitu penasaran bagaimana kamu melakukan trik luar biasa itu.”

Baiklah, sudah cukup. Itu sudah cukup lugas untuk merespon pengakuan perasaanku. Tentu saja aku ditolak!

4

Kecewakah aku? Nampaknya sudah menjadi pertanyaan retorika yang semua orangpun tahu bagaimana rasanya ditolak oleh seseorang yang memberikanmu inspirasi. Seseorang yang memberikanku alasan untuk melakukan hal yang lebih baik bagi karirku. Seseorang yang seolah datang untuk melunturkan seluruh hitamku. Tapi ternyata harapan itu mencampakkanku.

Bagaimana mungkin aku, seseorang yang ahli dalam mengubah benda-benda, tidak berhasil mengubah hatinya? Tidak, aku memang ahlinya mengubah sesuatu. Dan siapa bilang aku tidak bisa mengubah hatinya? Seketika itu ide untuk melakukan trik sulap ‘bersih’ tiba-tiba meluruh tanpa sisa. Malam ini aku akan melakukan ritual seperti halnya aku melakukan ritual-ritual sebelum pertunjukan. Bedanya, kali ini objek yang aku tuju adalah: hati Magi.

Persetan dengan sulap bersih. Sihir selalu bisa membuatku sukses. Termasuk solusi untuk masalah percintaan ini.

Sehelai rambut Magi tidak terlalu sulit untuk dicari. Properti ritual juga masih tersimpan legkap satu set. Ini seperti melakukan hal-hal rutin dalam hidup. Sama saja ritual mandi pagi setiap hendak bekerja: tidaklah sulit.

5

Satu hal yang tidak kamu mengerti Igam, dalam kehidupan nyata ini bahkan kita tidak pernah tahu siapa yang menjadi pesulap dan siapa yang menadi penontonnya. Batas di antara keduanya begitu tipis. Bahkan kamu mungkin tidak mengetahui trik sulap yang aku sajikan di depan matamu. Karena kamu hanya bisa melihat keindahan performanya. Yaitu aku.

Aku tidak menduga perasaanmu akan tumbuh secepat ini. Aku berharap kamu akan mengungkapkannya tiga bulan lagi. Saat kontrakmu di sini telah habis sehingga tidak ada karir dan profesionalitas yang dikhawatirkan.

Sebenarnya aku juga tertarik kepadamu Gam. Bahkan aku rela belajar dunia persulapan hanya untuk membuka jalan agar aku bisa menekatimu. Bahkan aku rela membohongimu sejak awal. Aku rela mengubah namaku agar kamu merasa kita berjodoh. Tapi nampaknya perasaanmu terlalu cepat bertumbuh Gam. Membuat jalan obsesi itu nampak sangat sulit untuk ditempuh. Inilah trik sulapku untuk membuat diriku menawan dihadapanmu Gam. Kamu adalah penonton dari permainan sulapku. Dan aku merasa itu semua tidak cukup. Maafkan aku Igam. Maafkan aku jika satu tahun lalu aku terpaksa memakai trik hitam untuk memikatmu.