Arsip untuk Maret, 2012

Director: Steven Spielberg

Writers:  Lee Hall (screenplay), Richard Curtis (screenplay), Michael Morpurgo (novel)

Rated: PG-13 for intense sequences of war violence

Runtime: 146 min

Genre:  Drama | History | War

Separated by war. Tested by battle. Bound by friendship.

Review

Film ini bersetting di Devo, Inggris pada masa berkecamuknya perang Dunia I. Kisah film ini bermula pada acara pelelangan yang akhirnya memenangkan seorang petani tua bernama Ted Narracott (Peter Mullan). Kemenangannya membuatnya rela mengeluarkan banyak uang untuk menebus seekor kuda yang ditawarnya dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja Ted tidak membelinya dengan akal yang sehat karena dipengaruhi oleh minuman keras dan egonya untuk mengalahkan penawaran sang tuan tanah bernama Lyons (David Thewlis). Akhirnya kuda itupun terbeli tidak hanya membuat uangnya terkuras, tapi tentu saja tidak tidak sesuai dengan kebutuhan. Bahkan istri Ted, Rose Narracott (Emily Watson) dibuat geram dengan keputusan suaminya yang tanpa otak itu.

Rosie marah-marah ketika Ted membawa pulang kuda yang dibelinya dengan sangat mahal

Namun di lain pihak, sang anak, Albert Narracott (Jeremy Irvine) tertarik dengan kuda itu. Dia merasa kuda tersebut sangat istimewa. Sekalipun belum terlatih, Albert berniat menjadikannya kuda kesayangannya dan menamakan kuda itu Joey. Terlebih ketika Lyons menagih uang sewa, sedangkan Ted sudah tidak punya uang lagi, Albert bertekad melatih kuda itu agar bisa membajak sebuah lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Usaha keras Albert pada awalnya dipandang sebelah mata  oleh Lyons bahkan oleh keluarganya sendiri. Namun karena ikatan batin antara Albert dan Joey, akhirnya yang dianggap mustahil pun terkabul juga. Joey berhasil menarik bajak dan membuat lahan itu siap ditanami.

Albert berusaha membuat Joey bisa membajak

Namun nasib nyatanya belum berpihak pada mereka. Karena cuaca buruk, tanaman yang ditanam di ladang itu rusak seluruhnya. Mau tidak mau untuk membayar uang sewa, Ted menjual kuda itu kepada para tentara. Terlebih saat itu perang telah dimulai. Di sinilah awal dari petualangan sang kuda yang sangat heroik, mengharukan dan mendebarkan terjadi di sepanjang sisa plot film. Albert berusaha mendapatkan kuda itu lagi dengan mendaftar sebagai relawan perang, namun tidak berhasil karena faktor usia. Dia berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan kuda kesayangannya. Perang telah membuat mereka terpisah sangat jauh dengan petualangan masing-masing. Apakah mereka akan bertemu lagi satu sama lain?

Albert berusaha mencegah Joey dijual kepada tentara

Film ini sangatlah menyentuh. Menceritakan tentang ikatan batin yang begitu dalam antara sang kuda dengan pemiliknya. Sinematografi yang sangat istimewa mampu membuat mood film begitu terasa. Ditambah lagi adegan perang yang hampir mirip-mirip dengan adegan Saving Private Ryan. Unsur komedi juga dimasukkan di film ini. Adegan lucu dari kuda pintar ini cukup membuat penonton gemas. Alurnya sendiri cukup kompleks namun ringan. Begitu mengalir tanpa membuat penonton bosan. Sepanjang plotnya menghadirkan kisah-kisah yang inspiratif dan motivatif. Membuat penonton mendapatkan ‘sesuatu’ setelah menonton film ini.

Behind The Scene

Ini adalah film pertama Spielberg yang bersetting Perang Dunia I. Setelah bekerja sama dengan Peter Jackson untuk membuat The Adventures Of Tintin, tampaknya Spielberg masih memiliki proyek lain untuk menutup kiprahnya di tahun 2011 lalu. Yang artinya, 2 film garapan Spielberg yang dirilis di tahun yang sama.

From the moment I read Michael Morpurgo’s novel War Horse, I knew this was a film I wanted DreamWorks to make… Its heart and its message provide a story that can be felt in every country.” —Steven Spielberg

Sutradara Steven Spielberg

Film ini memakan waktu 64 hari pengambilan gambar dan memakan biaya total $90 juta. Lokasi pengambilan gambar di Dartmoor, Devon, Inggris yang dimulai sejak bulan Agustus 2010.

Film ini menceritakan tentang seekor kuda pintar yang selama pembuatannya, diperankan oleh 14 kuda yang dilatih selama 3 bulan.

Spielberg sedang memberikan pengarahan di lokasi syuting

Adegan ketika Joey terjerat kawat berduri, kawat yang digunakan terbuat dari karet dan sebagian adegannya menggunakan kuda animatronic.

Dalam proses syutingnya, Michale Morpurgo mendatangi lokasi syuting untuk melihat secara langsung visualisasai yang diadaptasi Spielberg dari novelnya. Morpurgo menyatakan bahwa dirinya sangat puas dengan proyek Spielberg ini.

Did You Know?

Film ini disutradarai oleh Steven Spielberg yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Michael Morpurgo. Novel tersebut pertama kali dipublikasikan tahun 1982 dan mendapatkan penghargaan runner up di Witebread Book Award 1982. Film ini dirilis pada tahun yang sama dengan film Spielberg yang lain yaitu The Adventures Of TintinKedua film itu sama-sama mendapatkan nominasi di ajang penghargaan Academy Award namun gagal memenanginya. Kejadian nominasi dua film ganda tanpa memenangi satupun Oscar ini juga pernah dialami oleh Spielberg ketika tahun 2006. Ketika itu Spielberg mendapatkan nominasi untuk film Munich dan War of the Worlds. Nampaknya Spielberg tidak bisa mengulangi lagi kejayaannya ketika dia mendapatkan kemenangan di dua filmnya sekaligus pada tahun 1994 untuk film Schindler’s List (menang 7 Oscar) dan Jurassic Park (menang 3 Oscar).

Michael Morpurgo penulis novel War Horse

Novel War Horse

War Horse adalah film tentang kuda yang mendapatkan nominasi Oscar sejak 8 tahun terakhir. Film kuda sebelumnya yang mendapatkan nominasi adalah Seabiscuit.

Untuk menjaga kerahasian proyek ini, sepanjang pengambilan gambarnya, film ini memakai nama sandi Dartmoor yang merupakan nama sebuah tempat di Devon, Inggris, tempat syuting paling dominannya.

Michael Morpurgo dan istrinya menjadi cameo dalam film ini yaitu dalam adegan pelelangan di awal film.

Penghargaan yang diterima fim ini:

Awards and date results announced Category Name Result
84th Academy Awards 26 February 2012 Best Picture Steven Spielberg, Kathleen Kennedy Nominated
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Sound Editing Richard Hymns, Gary Rydstrom Nominated
Best Sound Mixing Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson, Stuart Wilson Nominated
62nd American Cinema Editors Awards 18 February 2012 Best Edited Feature Film – Dramatic Michael Kahn Nominated
American Film Institute Awards 11 December 2011 Film of the Year 2011 Won
65th British Academy Film Awards 12 February 2012 Best Film Music John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Production Design Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Sound Stuart Wilson, Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson,Richard Hymns Nominated
Best Special Visual Effects Ben Morris, Neil Corbould Nominated
Broadcast Film Critics Association Awards 2011 12 January 2012 Best Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound Nominated
Best Score John Williams Nominated
Central Ohio Film Critics Association Awards 5 January 2011
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
Chicago Film Critics Association Awards 19 December 2011 Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
69th Golden Globe Awards 15 January 2012 Best Motion Picture – Drama[152] Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Houston Film Critics Society Awards 14 December 2011
Best Film Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
32nd London Film Critics’ Circle Awards 19 January 2012 British Actor of the Year Peter Mullan Nominated
Young British Performer of the Year Jeremy Irvine Nominated
59th Motion Picture Sound Editors Golden Reel Awards 19 February 2012 Best Sound Editing: Sound Effects and Foley in a Feature Film Won
Best Sound Editing: Dialogue and ADR in a Feature Film Nominated
National Board of Review Awards 1 December 2011 Best Film Nominated
23rd Producers Guild of America Awards 2011 21 January 2012 Best Theatrical Motion Picture Kathleen Kennedy, Steven Spielberg Nominated
16th Satellite Awards 18 December 2011 Best Motion Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Adapted Screenplay Lee Hall, Richard Curtis Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Visual Effects Ben Morris Nominated
Best Film Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound (Editing & Mixing) Andy Nelson, Gary Rydstrom, Richard Hymns, Stuart Wilson,Tom Johnson Nominated
Southeastern Film Critics Association19 December 2011 Top Ten Film Won
Washington D.C. Area Film Critics Association 5 December 2011
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated

Quotes

Michael: The food in Italy is good, yeah?
Gunther: [nods] Yes, very good.
Michael: And the women?
Gunther: Not as good as the food…
Michael: From eating too much of the food?
——————————————————————————————————
Rose Narracott: [to Ted] I might hate you more, but I’ll never love you less.
——————————————————————————————————
Iklan

Director: Cameron Crowe

Writers: Aline Brosh McKenna (screenplay), Cameron Crowe(screenplay), Benjamin Mee (book)

Rated: PG for language and some thematic elements.

Runtime: 124 min

Genres: Comedy | Drama | Family

Review

Film ini mengisahan tentang Benjamin Mee (Matt Damon) yang berusaha mengasuh kedua anaknya Dylan (Colin Ford) dan Rosie (Maggie Elizabeth Jones) setelah istrinya meninggal. Di mata anak-anaknya, Benjamin adalah ayah yang supeldan berjiwa petualang mengingat dia bekerja sebagai wartawan kolumnis di sebuah surat kabar. Namun dibalik itu semua, Benjamin dihadapkan pada kenangan-kenangan masa lalu bersama istrinya. Inilah perkara tersulitnya ketika Benjamin diharuskan berdamai dengan masa lalunya.

Benjamin Mee dan keduan anaknya Dylan dan Rosie

Sebagai single parent Benjamin merasa sedikit kewalahan mengasuh kedua anaknya. Ditambah juga kewalahan menghadapi beberapa wanita yang mencoba mendekatinya. Akhirnya Benjamin memutuskan untuk keluar dari pekerjannya agar bisa lebih meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Setelah mantap dengan keputusan itu, Benjamin justru makin terbebani oleh kelakuan Dylan yang membuat ulah di sekolah yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah.

Penat dan hampir putus asa dalam mencoba mengasuh dan  menyenangkan kedua anaknya membuat Benjamin berpikir untuk memulai sesuatu dan suasana yang baru. Terlebih lingkungan rumahnya juga sudah tidak bisa dipakai untuk menenangkan pikiran lagi. Maka dia berniat untuk membeli sebuah rumah. Beberapa tawaran rumah dipelajarinya satu per satu dengan melihat spesifikasi dari catatan seorang agen dan mengunjungi lokasi secara langsung. Namun tidak ada rumah yang dirasa cocok, kecuali satu. Yaitu rumah yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah kebun binatang terlantar dengan koleksi binatang yang masih lumayan lengkap.

Meskipun Benjamin tidak memiliki latar belakang keilmuan dalam merawat binatang, dia tetap saja membelinya karena Rosie merasa senang tinggal di situ. Namun Dylan merasa semakin terasing ditempat yang jauh dari pusat kota. Inilah yang akan menjadi salah satu konflik dalam sisa alurnya.

Rosie sangat suka bermain dengan binatang

Mereka tidak sendiri. Ada sekelompok tim para petugas pemeliharaan kebun binatang di sana dengan keahlian masing-masing. Benjamin bersama tim itu telah berkomitmen untuk membangun kembali kebun binatang itu dengan memanfaatkan seluruh harta dan tabungan Benjamin. Bahkan kakak laki-lakinya Duncan Mee (Thomas Haden Church) menganggap Benjamin terlalu gegabah dalam menggunakan seluruh tabungan untuk membangun kembali kebun binatang tersebut. Dan apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Pada suatu titik Benjamin benar-benar kehabisan dana. Bahan beberapa teman satu timnya mulai memboikot karena mengetahui bahwa Benjamin tidak punya uang lagi. Bagaimana Benjamin menghadapi kisah dilematis ini? Inilah konflik besar yang akan membuat cerita ini menjadi makin kompleks.

Tim pemelihara kebun binatang

Duncan Mee dan Benjamin Mee

Sebagai film drama komedi yang bertemakan keluarga, film ini akan menghadirkan cerita-cerita lucu seputar kehidupan Benjamin beserta anak-anaknya yang kadangkala dibalut dengan kisah haru. Alur cinta romantis juga dihadirkan dalam subplot-subplot yang akan membuat film ini tidak membosankan. Siapa lagi kalau bukan kisah cinta antara Dylan dengan Lily (Elle Fanning) serta Benjamin dengan Kelly Foster (Scarlett Johansson)

Tokoh Dylan dan Lily

Kelly dan Benjamin

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh Cameron Crowe yang sudah dikenal lewat karya filmnya Vanila Sky (2001), Jerry Maguire (1996) dan mendapatkan piala oscar lewat Almost Famous (2000).

Sutradara Cameron Crowe

Sebelum peran Kelly Foster jatuh ke tangan Scarlett Johanson, Amy Adams, Mary Elizabeth Winstead dan Rachel McAdams sempat menjadi kandidat untuk memerankan tokoh ini. Sedangkan kandidat untuk memerankan Benjamin Mee sempat jatuh pada Ben Stiller sebelum akhirnya dipegang oleh Matt Damon.

Sutradara Cameron Crowe mengarahkan Matt Damon

Sutradara Cameron Crowe sedang mengarahkan Maggie Elizabeth Jones, Colin Ford dan Matt Damon

Suasana Saat Syuting

Sesi Santai Para Aktor dan Sutradara di Sela-Sela Syuting

Beginilah cara mengatur adegan beruang kabur

Did You Know?

Film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama dan merupakan pengalaman hidup nyata dari Benjamin Mee yang memutuskan menggunakan tabungannya untuk membeli kebun binatang Dartmoor Zoological Park yang sudah tidak terurus di bagian barat daya Inggris.

Novel Memoar 'We Bought A Zoo' oleh Benjamin Mee

Meskipun film ini diangkat dari pengalaman nyata dari Benjamin Mee,tapi ada beberapa perbedaan antara film dengan kenyataan. Diantaranya adalah:

-Kebun binatang dalam film bernama Rosemoor Wildlife Park dan berlokasi di California, sedangkan aslinya bernama  Dartmoor Zoological Park  di bagian barat daya Inggris.

-Di filmnya, istri Benjamin Mee, Katherine,  meninggal sebelum dia membeli kebun binatang. Aslinya meninggal kebn binatang itu dibeli dan ditinggali.

-Di filmnya ada adegan beruang lepas. Kenyataannya yang lepas adalah jaguar.

-Anak-anak Benjamin ketika kisah itu dialami seharusnya lebih muda (empat dan enam tahun) daripada tokoh di filmnya.

-Anak-anak Benjamine Mee dalam film bernama Dylan dan Rosie, sedangkan aslinya adalah Milo dan Ella.

Benjamin Mee dan anak-anaknya Milo dan Ella

Benjamin Mee besert anak-anaknya yang asli menjadicameo di akhir film sebagai pengunjung yang mengantri di urutan pertama ketika kebun binatangnya dibuka untuk pertama kalinya.

Penghargaan untuk film ini:

Phoenix Film Critics Society Awards
Year Result Award Category/Recipient(s)
2011 Nominated PFCS Award Best Live Action Family Film

Quotes

Benjamin Mee: ” You know, sometimes all you need is twenty seconds of insane courage. Just literally twenty seconds of just embarrassing bravery. And I promise you, something great will come of it ”

 

More movie reviews klik here

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken by Jostein Gaarder

My rating: 4 of 5 stars

Detail info:

Ini buku ketiga Jostein Gaarder yang saya baca setelah “Dunia Sophie” dan “Gadis Jeruk“. Jika ketiganya digabungkan, maka ada beberapa poin kemiripan yang bisa dibilang: inilah ciri dari Jostein Gaarder. Pertama, ketiga buku itu memiliki tokoh sentral anak-anak. Dan kedua, ketiga buku itu juga berkutat dengan surat. Tapi jika di “Dunia Sophie” dan “Gadis Jeruk” masih memasukkan unsur filosofis, di buku yang berjudul “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” ini agaknya kesan filosofisnya tidak terlalu kuat. Yang menonjol adalah tentang seluk beluk sejarah buku, dunia literer dan perpustakaan.

Penulis Jostein Gaarder

Novel ini mengisahkan tentang dua saudara sepupu, Berit dan Nils yang tinggal di kota berbeda. Mereka selalu mengisahkan kabar masing-masing melalui buku-surat. Buku-surat inilah yang bolak-balik mereka kirimkan via pos sebagai media tukar informasi diantara keduanya. Dalam buku-surat ini, mereka menceritakan pengalamannya masing-masing mengenai sosok wanita misterius bernama Bibbi Bokken. Dengan imajinasi liar anak-anak, mereka melakukan investigasi untuk membeongkar jati diri Bibbi Bokken yang diketahui sangat tergila-gila dengan buku itu.

Buku ini hanya terdiri dari 2 bab. Bab pertama berjudul “Buku-surat” yang memang dalam satu bab ini berisi tentang tulisan-tulisan saling berbalas dalam buku-surat tersebut. Bab ini seolah percakapan lengkap dan seru di antara keduanya yang dengan analisis dan imajinasi mereka, berusaha membongkar identitas Bibbi Bokken. Tidak hanya perkara jati diri seorang wanita misterius itu saja yang membuat pusing dua saudara seupupu itu, melainkan ada beberapa pihak yang dirasa mengancam mereka dan buku-surat mereka. Mereka merasa berada ditengah situasi konspiratif Bibbi Bokken dan beberapa orang yang terlibat yang berhubungan dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.

Sebenarnya ada apa dibalik perpustakkan ajaib itu? Jawabannya akan disajikan di Bab ke-2 yang berjudul “Perpustakaan”. Dalam bab ini akhirnya dua saudara sepupu itu bertemu satu sama lain dan bertemu juga dengan orang-orang misterius di bab sebelumnya untuk menyaksikan kebenaran yang sudah ada di depan mata mereka.

Buku ini seru karena petualangan Berit dan Nils dibumbui kejadian-kejaidian yang sedikit ajaib. Ditambah lagi buku ini sangat cocok dibaca oleh penggemar buku karena sesuai dengan endorsement di covernya oleh Oldenburgische Volkszeitung yang menagatakan, “Buku terbaik mengenai buku dan budaya baca yang ada saat ini.” Plot dari cerita ini juga sesekali menjelaskan mengenai seluk beluk perpustakaan dan sejarah literer.

“Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan”
–Ruhr Nachricht

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director:  George Miller

Stars: Elijah WoodRobin Williams and Pink

Rated: PG for some rude humor and mild peril

Runtime: USA: 100 min

“Every step counts”

Review

Sekuel kedua dari kawanan penguin menggemaskan ini hadir lagi untuk mengulangi kembali kesuksesannya. Jika dahulu menceritakan tentang penguin bernama Mumble (Elijah Wood) yang tidak bisa bernyanyi layaknya kawanan penguin yang lain namun punya kelebihan piawai dalam bermain tap dance, kali ini Mumble  dan Gloria (Pink) dihadapkan tantangan untuk membuat anaknya, Erik (Ava Acres), menjadi anak yang percaya diri. Erik sendiri merasa susah sekali untuk menari. Bahkan ketika dia mencoba menari untuk pertama kalinya, teman-temannya justru menertawakan. Kejadian inilah yang membuat Erik menjadi inferior.

Mumble mengajari Erik menari

Erikpun berusaha menyendiri dan menjauhi kawanan yang lain karena merasa dirinya berbeda dengan kawanan sejenisnya yaitu kawanan jenis penguin Emperor. Bahkan dua temannya Bo (Meibh Campbell) dan Atticus (Benjamin Flores Jr.) tidak mampu menghiburnya. Di saat yang sama, ada seekor penguin bernama Ramon (Robin Williams) yang berbeda diantara mereka, yaitu jenis penguin  Adélie yang merasa tidak cocok di tempat itu dan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari kawanan Adélie yang lain. Maka kepergian Ramon nampaknya menjadi fasilitas bagi Erik yang ingin menjauh dari kawanannya juga. Maka tidak heran, kepergian Ramon diekori oleh Erik dan dua temannya.

Ramon diikuti Erik, Bo dan Atticus

Tempat tujuan Ramon adalah area yang dihuni sekumpulan penguin Adélie. Di sanalah Erik dan dua temannya juga dibawa. Mereka benar-benar merasakan suasanan yang berbeda. Di sanalah mereka bertemu dengan satu penguin yang memiliki kelebihan dibandingkan seluruh jenis penguin yang pernah ada yaitu: penguin itu bisa terbang. Penguin terbang itu bernama Sven (Hank Azaria). Akhirnya Erik mendapatkan sosok idolanya. Erik juga ingin mempunyai kelebihan yang dimiliki oleh Sven untuk keluar dari rasa inferiornya.

“If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.” (kata Sven kepada Erik)

Sven yang bisa terbang memberi nasihat pada Erik

Tentu saja ketika Erik menghilang, Mumble begitu panik mencari anaknya tersebut. Akhirnya Mumble memutuskan mencari dengan mengandalkan jejak mereka. Tidak begitu sulit untuk menemukan mereka, Mumble pun tiba di pemukiman penguin Adélie. Dengan susah payah Mumble membujuk Erik untuk pulang. Akhirnya berhasil setelah Erik dibujuk oleh idolanya, Sven.

Di saat yang sama, kita akan dihadirkan juga plot cerita lain dengan tokoh binatang dan lingkungan yang lain pula. Tersebutlah dua udang kecil bersahabat bernama Will (Brad Pitt) dan Bill (Matt Damon) yang memiliki masalah yang sama dengan para penguin yang merasa inferior itu. Mereka berusaha meninggalkan kawanan karena merasa mereka berada di tingkat terendah rantai makanan. Obsesi mereka adalah: ingin berada di puncak rantai makanan. Kedua tokoh ini tidak begitu penting dari sisi alur ceritanya tapi keberadaan mereka begitu lucu dengan petualangan-petualangan yang menegangkan di laut dan di darat. Pada suatu waktu peran mereka juga akan dipertemukan dengan para penguin yang tentu saja, tidak pernah ada interaksi di antara kedua pihak.

Will dan Bill yang berusaha menjadi penguasa puncak rantai makanan dengan mecoba memakan seekor anjing laut

Ketika Mumble membawa pulang Erik dan kedua temannya, terjadi suatu bencana runtuhnya beberapa lapisan es yang mengakibatkan kawanan penguin Emperor menjadi terisolir oleh tebing es yang sangat tinggi dan susah dipanjat. Itu artinya hanya Mumble dan ketiga anak penguin itulah yang berada di luar dan dianggap sebagai harapan untuk menyelamatkan ribuan rekannya yang terisolir. Lantas bagaimana seekor penguin dewasa dan 3 penguin kecil akan menyelamatkan seluruh anggota kawanan yang lain untuk menghadapi masalah ini? Jelas mereka juga harus menghadapi masalah kelaparan dari ribuan kawanan terisolir itu.

Mumble dan tiga anak-anak akan berusaha menyelamatkan kawanan lainnya

Film ini mengandung pesan moral bahwa sekecil apapun usahanya, jika kita memiliki keyakinan, pasti akan berpengaruh. Hal ini digambarkan dengan jelas lewat tokoh Will dan Bill, dua ekor udang kecil yang seolah tidak punya kemampuan signifikan, ternyata usahanya akan membuat pengaruh yang sangat besar. Kemudian ada juga pesan moral mengenai persahabatan dan balas budi tanpa memandang perbedaan. Ini digambarkan dengan jelas dari adegan saling bantu membantu antara jenis penguin yang berbeda bahkan dari jenis hewan yang berbeda juga.

Seperti halnya ciri khas film sekuel, sudah tentu film ini juga tidak akan jauh-jauh dari plot installment sebelumnya. Masih dengan iringan-iringan musikalnya tentunya. Hanya saja, nilai jual film sekuel kedua ini akan lebih nendang karena menggunakan teknologi 3D.

Behind The Scene

Sekuel ini masih disutradarai oleh George Miller, sama dengan sekuel pertamanya. Miller sebelumnya merupakan sineas dari film terkenal Mad Max.

Sutradara George Miller

Beberapa pengisi suaranya antara lain:

Robbin Williams pengisi suara Ramon dan Lovelace

Elijah Wood Pengisi Suara Mumble

Pink pengisi suara Gloria

Hank Azaria pengisi suara Sven

Brad Pitt pengisi suara Will dan Matt Damon pengisi suara Bill

Did You Know?

Inilah wujud mereka di dunia nyata:

Penguin Emperor dewasa dan anaknya
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Sphenisciformes
Family: Spheniscidae
Genus: Aptenodytes
Species: A. forsteri
Binomial name: Aptenodytes forsteri

Penguin Adélie
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Order: Sphenisciformes
Family: Spheniscidae
Genus: Pygoscelis'
Binomial name: Pygoscelis adeliae

Udang kecil (Krill)
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Subphylum: Crustacea
Class: Malacostraca
Superorder: Eucarida
Order: Euphausiacea

Penghargaan yang diterima film ini:

Award Category Winner/Nominee Result
As Seen By Awards Best Animated Film Won
Best Original Song “Bridge of Light” by Pink Won
Best Performance by an Actor in a Voice-Over Role Elijah Wood Won
Brad Pitt Nominated
Best Performance by an Actress in a Voice-Over Role Pink Nominated
Ava Arces Nominated
Central Ohio Film Critics Association Awards Actor of the Year Brad Pitt (also for The Tree of Life and Moneyball) Nominated
Houston Film Critics Society Awards Best Animated Film Nominated
San Diego Film Critics Society Awards Best Animated Film Nominated
Satellite Awards Best Original Song “Bridge of Light” Nominated

Ketika sang Sutradara George Miller ditanya soal apakah dia akan melanjutkan membuat sekuel ketiganya, maka dia menjawab,

“If you put a gun to my head and said, ‘You have to come up with a story for Happy Feet 3,’ I’d say shoot me. I would have no idea. I really would have no idea. The stories creep up on you. You just have to allow the stories to come, and then they get in like little ear worms in your head and they won’t go away. If that happens and we’ve got the energy, we’ll do a third one. If it doesn’t happen, it doesn’t happen. That’s the only way you can do it. It has to be authentic. I really wanted to make this film better than the first one. Otherwise, at my age, what’s the point? You really want to make it better. If something comes up that’s really exciting and I can convey that enthusiasm to other people, then there would be a third one.”

Director:  Martin Scorsese

Writers: John Logan (screenplay), Brian Selznick (book)

Runtime: USA: 126 min

Rated: PG for mild thematic material, some action/peril and smoking

One of the most legendary directors of our time takes you on an extraordinary adventure.

Review

Film ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Hugo Cabret (Asa Butterfield) yang tinggal di sebuah stasiun kereta api dan bekerja sebagai perawat jam-jam di menara-menara jam besar di sana. Pasca meninggal ayahnya (Jude Law), Hugo tinggal bersama pamannya yang mabuk, Claude Cabret (Ray Winstone). Dari pamannya itulah ilmu perawatan jam didapatnya. Namun tak lama kemudian pamannya juga meninggal dan memaksa Hugo hidup sendiri dan berkeliaran di sekitar stasiun. Tentu saja hidup sendirian di sekitar stasiun bukan perkara mudah karena Gustav (Sacha Baron Cohen), sang penjaga satsiun selalu mengejar-ngejar para gelandangan tanpa orang tua yang berkeliaran di situ.

Hugo dengan pekerjaannya merawat jam

Gustav sang penjaga stasiun

Sebelum meninggal, ayah Hugo meninggalkan sebuah catatan yang berisi tentang seluk beluk komponen dari sebuah robot yang bisa menulis sendiri. Namun robot itu nampaknya rusak karena ada beberapa komponen yang hilang termasuk anak kunci yang berbentuk hati. Maka dengan bekal catatan peninggalan ayahnya itu, Hugo berniat untuk memperbaiki robot yang dinamakan automaton itu karena merasa ada sesuatu yang hendak disampaikan ayahnya lewat robot itu. Kemampuannya sebagai perawat jam adalah kemampuan yang sudah lebih dari cukup untuk bisa memperbaiki robot rusak itu. Namun dia harus mencari beberapa komponen yang hilang. Dia mencarinya dengan jalan mencuri. Seorang penjual mainan bernama Georges (Ben Kingsley) lah sasaran Hugo untuk melengkapi apa yang dia cari. Tentu saja dia semakin kucing-kucingan dengan Gustav sang penjaga stasiun.

Hugo dan ayahnya yang sedang memperbaiki robot automaton

Akhirnya Georges adalah rival  bagi sang tokoh sentral, Hugo. Buku catatan peninggalan ayahnya dirampas ketika dia tertangkap setelah ketahuan mencuri beberapa komponen dari toko mainannya. Dari sinilah petualangan akan dimulai. Petualangan yang membawa sebuah bentuk persahabatan dengan Isabelle (Chloë Grace Moretz) yang merupakan anak angkat Georges. Bersamanya Hugo akan berusaha mengambil kembali buku catatan itu yang nantinya akan semakin membuka twist-twist alur yang mengungkap kebenaran dan jati diri para tokohnya. Terlebih setelah automaton itu sudah kembali bekerja.

Hugo dan Georges

Hugo dan Isabelle

Film ini tidak hanya menyajikan petualangan anak laki-laki yang berusaha mengejar obsesinya. Melainkan ada kisah romansa yang manis pada tokoh-tokoh lainnya. Dengan teknologi 3D dan sinematografi yang luar biasa, film ini menghadirkan suasana kota Paris khususnya stasiun kereta api Gare du Nord di tahun 1931 yang begitu memukau. Inilah film keluarga yang sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh sineas beralis tebal Martin Scorsese. Dalam kiprahnya yang telah genap 18 tahun, inilah film pertamanya yang berrating PG dan penggunaan efek 3D. Bahkan Sutradara film Titanic James Cameron juga memuji penggunaan efek 3D nya yang dirasa sangat maksimal. Dalam menyutradarai sinematografi yang berformat 3D nya, Scorsese selalu menggunakan lensa kaca mata 3D yang dipasangkan (clip on) pada kacamata biasanya.

Sutradara Martin Scorsese

Martin Scorsese sedang mengarahkan Asa Butterfield dan Chloë Grace Moretz. Lihatlah Kacamata 3D clip on yang dipasangkan di kacamata konvensionalnya.

Martin Scorsese sedang mengarahkan aktor Ben Kingsley

Did You Know?

Martin Scorsese dikenal sebagai sineas yang sering berpasangan dengan aktor Leonardo Dicaprio. Sebut saja Gangs of New York (2002), The Aviator (2004), The Departed (2006), dan Shutter Island (2010).

Adegan pembuka yang memperlihatkan kota paris tahun 30-an dan berakhir di stasiun kereta api adalah adegan paling pertama diambil dan didisain hingga memakan waktu selama satu tahun untuk menyelesaikannya. Dibutuhkan 1000 unit komputer untuk merender setiap frame yang telah di-shoot.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul The Invention of Hugo Cabret’ karangan Brian Selznick yang pertamakali dipublikasikan tahun 2007.

Brian Selznick pengarang novel 'The Invention of Hugo Cabret'

Novel 'The Invention of Hugo Cabret'

Penghargaan yang dimenangkan film Hugo dalam ajang penghargaan Acadeny Award 2012:

Best Cinematography: Robert Richardson

Best Art Direction: Dante Ferretti & Francesca Lo Schiavo

Best Sound Editing: Philip Stockton & Eugene Gearty

Best Sound Mixing: Tom Fleischman & John Midgley

Best Visual Effects: Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossman & Alex Henning

Dalam film ini terdapat tokoh Georges Méliès. Tokoh ini bukanlah tokoh fiktif dan memang pernah hidup di abad 19-20. Ia dikenal sebagai pencipta banyak efek dalam film layar lebar pada saat itu. Dia juga seorang yang menggunakan teknik multiple exposure, time-lapse photography, dissolves dan pembuatan film berwarna dengan cara menmberikan cat secara manual pada pita filmnya. Karya terkenalnya adalah film yang menceritakan tentang penerbangan sebuah roket ke bulan yang akhirnya roket itu menancap di permukaan bulan yang digambarkan sebagai sebuah wajah yang memiliki mata hidung dan mulut. Roket itu menancap pada bagian mata kanannya.

salah satu adegan terkenal dalam film "A Trip To The Moon (1902)"

Detektif Conan Vol. 66Detektif Conan Vol. 66 by Gosho Aoyama

My rating: 4 of 5 stars

ISBN13: 9786020021461
edition language: Indonesian
original title: 名探偵コナン 66 (Detective Conan #66)

Kisah pada seri ini diawali dengan kelanjutan kasus di seri sebelumnya. Yaitu tentang kasus pembunuhan Shusaku Akashi dalam keadaan duduk di kursi yang dipaku ke lantai dan dihadapannya membentang tembok yang di cat dengan warna merah. Benarkah ini adalah pesan yang ditinggalkan oleh korban menjelang kematian? Ataukah ada twist lain yang ternyata tidak sesederhana seperti yang diperkirakan semua orang? Di seri ini akan ada penyelesaian dari kasus tersebut. Triknya kompleks tapi tidak sulit dipahami. Penyelesaiannya cukup menarik dengan memanfaatkan tipu daya untuk memancing pelakunya.

Kasus kedua nampaknya akan diwarnai kisah cinta masa lalu yang bersemi kembali. Kali ini yang akan menjadi tokoh asmara sentralnya adalah detektif Shiratori.

Detektif Shiratori

Dikisahkan detektif Shiratori kembali terkenang akan kejadian di masa kecilnya ketika dia bertemu dengan seorang anak perempuan yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Namun karena terpisah, Shiratori tidak tahu lagi keberadaan dan identitas gadis kecil di masa lalunya itu. Di tengah kegalauannya, dia terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan yang akan berujung pada terbukanya kembali kenangan masa lalu yang menyebabkan perasaan dilematis ketika memecahkan kasus pembunuhan itu. Akankah Shiratori mampu menyelesaikan kasus itu dengan mengabaikan perasaannya? Jelas ending dari kasus ini akan berakhir mengejutkan. Hanya saja ada sedikit plot hole di kisah ini. Misalnya bagaimana sang pelaku memindahkan topi ke orang di sebelahnya tanpa ada seorangpun yang duduk di belakangnya menyadari hal itu?

Kasus ketiga adalah kasus yang melibatkan penyelidikan para detective boys (and girls) mengenai misteri gudang yang misterius. Salah seorang teman Mitsuhiko mengatakan bahwa dia menemukan sebuah gudang yang tadinya nampak berisi banyak sekali harta dan perabotan mewah. Dia melihatnya melalui jendela gudang yang letaknya di atas. Namun setelah diperiksa melalui pintu depan, ternyat gudang itu kosong. Menurut mitos, ada monster gudang rakus yang memakan seluruh harta yang di taruh di gudang itu. Penyelidikan ini akan seru karena conan akan bersaing dengan teman-temannya sendiri untuk memecahkan kasus itu. Analisisnya ternyata akan mengantarkannya pada kasus yang lebih besar daripada sekedar trik yang ada dalam gudang itu sendiri.

Detective Boys (and gilrs)

Kasus keempat akan kembali menyajikan sedikit kisah asmara. Kali ini yang diceritakan adalah kisah cinta Kazuha dan Hattori.

Hattori dan Kazuha

Kisahnya dimulai ketika Kazuha berusaha menemukan seorang pemain tenis yang memesan sebuah jimat kepada Kazuha. Karena Kazuha tidak bisa menyerahkan jimat yang sudah dibuat untuk petenis itu, Hattori yang mengambilkannya dari tas Kazuha. Namun ternyata Hattori salah mengambil. Yang diserahkan justru jimat milik Kazuha yang menyimpan sedikit kenangan romantis di antara keduanya. Terang saja Kazuha ingin jimat itu kembali. Pencariannya justru akan mengantarkannya pada kasus penganiayaan terhadap sang petenis itu. Di sini juga ada beberapa plot hole diantaranya adalah cara analisis untuk menyaring tersangka yang nampaknya kurang masuk akal. Twistnya juga agak terasa kurang. Dan kisah cintanya tidak berakhir dengan romantis.

Kasus kelima adalah kasus yang akan bersambung di seri selanjutnyai. Yaitu tentang pembunuhan seorang wanita yang memakai kostum goth-lili. Tadinya dia terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah restoran. Namun karena terlalu lama, wanita itu keluar untuk ke toilet. Ketika orang yang ditunggunya datang, wanita berpakaian goth-lili itu malah tidak kembali lagi. Dan belakangan mayatnya ditemukan di sebuah toilet umum. Mari kita tunggu kelanjutan ceritanya di seri berikutnya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Director: Michel Hazanavicius

Writer: Michel Hazanavicius (scenario and dialogue)

Stars: Jean DujardinBérénice Bejo and John Goodman

Rated: PG-13 for a disturbing image and a crude gesture

Runtime: 100 min

Review

Film ini luar biasa percaya diri untuk hadir dalam jajaran film-film box office  di seluruh dunia. Pasalanya, di era persaingan film-film berbujet besar dan tata spesial efek yang didukung teknologi 3D nya, film ini justru menyajikan sebuah suasana retro di tahun 20-an. Tidak tanggung-tanggung, sineas Michel Hazanavicius nampaknya membuat suatu gebrakan besar dengan menyajikan film yang bersetting tahun 1927 yang sudah pasti film di era itu adalah film bisu. Maka film ini adalah nostalgia. Sensasinya sama ketika anda menonton film Charlie Chaplin atau film bisu klasik lainnya. Teknik pengambilan gambar, properti, make up, efek hitam putih, kecepatan jalannya scene dan plot ceritanya sangat sempurna untuk menggambarkan keadaan pada masa itu. Hanya saja anda tidak akan melihat gambar yang noise  atau tanda scratch di filmnya.

Film ini menceritakan tentang seorang aktor yang sangat terkenal di masanya yang bernama George Valentine (Jean Dujardin). Karirnya sedang berada di puncak. Ketika dia menghadiri pemutaran film terbarunya, dia bertemu dengan wanita yang juga menjadi fansnya. Wanita itu bernama Peppy Miller (Bérénice Bejo). Sejak pertemuan itu, Miller menjadi bersemangat untuk mengikuti audisi di studio Kinograph, studio yang sama dengan tempat syuting Valentine. Usahanya tidak sia-sia. Miller diterima sebagai pemain figuran. Di situlah dia bertemu dengan Valentine yang akhirnya saling jatuh cinta. Miller dengan bimbingan Valentine ternyata sedikit demi sedikit mulai menunjukkan karir yang mulai naik. Dari hanya sekedar pemain figuran, naik ke peran-peran yang lebih utama.

Pertama kalinya Valentine bertemu dengan Miller

Konflik terjadi ketika dua tahun kemudian, industri film mulai menampakkan perkembangan ke arah modern yaitu mulai ditemukannya teknologi untuk membuat film bersuara. Maka pimpinan studio Al Zimmer (John Goodman) berniat untuk menghentikan produksi film bisu dan beralih ke film bersuara. Di sinilah kerir Valentine yang menjaga idealismenya sebagai aktor film bisu mulai terancam. Bahkan Valentine ingin membuktikan bahwa film bisu masih berjaya dengan mencoba membuat film bisu sendiri. Namun sayang, filmnya kalah bersaing dengan film bersuara yang ironisnya dibintangi oleh sang kekasih Peppy Miller. Keadaan diperburuk dengan ambruknya perekonomian negara.

Valentine mencoba membuat film sendiri

Di lain pihak, popularitas Miller justru semakin melambung membintangi film bersuara

Behind The Scene

Film ini dibuat hanya dengan bujet $12 juta. Sebuah ngka yang sangat kecil dibandingkan dengan film lain berteknologi tinggi yang bisa mencapai ratusan juta dolar. Film ini memang penuh kesederhanaan. Namun dilain pihak, Michel Hazanavicius benar-benar membuatnya dengan perencanaan sedetail mungkin. Dalam film berdurasi 100 menit ini, sama sekali minim dialog. Dialog-dialog pentingnya menggunakan tulisan yang ditampilkan di antara scene. Tapi film tidaklah sunyi karena Ludovic Bource berhasil menyajikan score yang bisa dibilang pemegang peranan penting dalam menghadirkan mood  dan suasana film. Dengan musik aransemennya, penonton mampu digiring ke emosi yang sama dengan apa yang di-plotkan di filmnya.

Sutradara Michel Hazanavicius

Michel Hazanavicius  memang memilih genre melodrama karena menurut riset, kebanyakan film Hollywood yang diproduksi di era tahun 20-an bergenre film melodrama.

Behind The Scene

Did You Know?

Tidak ada gambar yang di zoom di film ini. Karena jaman di mana cerita film ini terjadi belum ditemukan teknologi tersebut.

Sebenarnya film ini di shoot dengan gambar berwarna. Gambar hitam putih di dapat dari teknik editing.

Ketika Jean Dujardin diwawancarai saat berada di Red Carpet  acara penghargan BAFTA 2012, dia berkat abahwa syuting film ini hanya memakan waktu 35 hari.

Adegan tari yang dilakukan aktornya tidak menggunakan peran pengganti. Karena mereka telah dilatih dengan sangat berat selama pembuatan filmnya.

Film ini mendapatkan 5 penghargaan Oscar 2012 yaitu:

Best Picture

Best Director: Michel Hazanavicius

Best Actor: Jean Dujardin

Best Costume Design: Mark Bridges

Best Original Score: Ludovic Bource

Penghargaan Oscar 2012 untuk best actor: Jean Dujardin

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.

Director: Mike Mitchell

Runtime: 87 min

REVIEW

Para tupai menggemaskan ini kembali hadir di bulan Desember tahun 2011. Kali ini franchaise ke-3 nya mengusung judul Alvin and The Chipmunks: Chipwrecked yang mengulang sukses dari sekuel sebelumnya: Alvin and The Chipmunks: The Squekquel (2009) dan Alvin and The Chipmunks (2007). Nampaknya franchise  ini selalu disutradari oleh sineas yang berbeda di setiap sekuelnya. Untuk sekuel ini posisi sutradara diisi oleh Mike Mitchell yang telah sukses mendalangi film Shrek Forever After (2010) dan Deuce Bigalow: Male Gigolo (1999).

Masih dengan trio tupai yang sama yaitu Alvin (Justin Long), Simon(Matthew Gray Gubler), Theodore (Jesse McCartney) dan trio Chipettes yang pandai berjoget dan menyanyi Brittany(Christina Applegate), Jeanette (Anna Faris) dan Eleanor (Amy Poehler), mereka mengawali kisahnya di sebuah kapal pesiar untuk melakukan liburan musim dingin. Tentu saja Dave (Jason Lee) sang manajer juga ikut menemani. Di kapal inilah alvin dan teman-temannya selalu membuat keributan kecil yang membuat Dave kewalahan.  Beberapa usaha telah dilakukan Dave untuk bisa membuat mereka patuh. Tapi puncak dari ulah mereka adalah ketika mereka bermain layang-layang di atas kapal dan malah ikut tertarik ke tengah laut. Dave dan Ian yang berusaha menyelamatkan dengan mengejar memakai parasailing malah ikut-ikutan jatuh ke laut. Akhirnya sekelompok tupai itu terdampar di pulau tak berpenghuni sedangkan Dave dan Ian terdampar di pulau yang sama di sisi yang berbeda. Petualangan di pulau inilah yang seru. Mereka bertahan hidup sekaligus berusaha berharap Dave akan mencari dan menyelamatkan mereka.

Tokoh Alvin dan Dave

trio chipmunks dan trio chipettes

Masih dengan ciri khasnya, franchise ini masih menghadirkan sisipan musikal khas suara chipmunks yang cempreng dan menggemaskan. Ditambah lagi dengan karakter para tupai yang sangat imut dan tingkah yang menggemaskan mampu membuat penonton minimal tersenyum melihat aksinya. Para penyanyi yang lagunya di-cover oleh para chipmunks dan chipettes ini adalah Lady Gaga, LFMAO, Destiny’s Child, dan Michael Franti & Spearhead.

 

 

BEHIND THE SCENE

Sineas yang mendalangi franchaise ketiga trio tupai ini.

Sutradara Mike Mitchell

Inilah para pengisi suaranya.

Trio Chipmunks

Trio Chipettes

 

DID YOU KNOW?

Tokoh Alvin and The Chipmunks adalah karakter yang diciptakan olehRoss Bagdasarian Sr pada tahun 1958. Banyak yang mengira bahwa musik chipmunk adalah hasil dari kreasi film kartunnya. Padahal justru sebaliknya. Ross pertamakali menciptakan karakter chipmunks justru dengan format kelompok musik animasi.

Sang kreator Ross Bagdasrian Sr.

Lagu trio tupai ini pertama kali dirilis pada tahun 1985 dan menjadi fenomenal dengan penjualan mencapai 4 juta kopi. Berhasil menjadi nomor satu di tangga musik Billboard Top 100 selama empat minggu, mendapatkan 3 penghargaan Grammy Award dan nominasi Record of the Year.

Nama Indonesia chipmunks adalah bajing tanah. Sedangkan nama latinya adalah Tamias minimus. Taksonomi lengkapnya adalah sebagai berikut:

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Ordo: Rodentia

Family: Sciuridae

Genus: Tamias

Chipmunk (Tamias minimus)

Director:  James Bobin

Runtime: USA: 103 min  | UK: 109 min

Rated: PG for some mild rude humor

“They’re closer than you think!”

REVIEW

The Muppets melengkapi film nostalgia setelah The Adventure of Tintin hadir lebih dulu. Siapa yang tak kenal dengan boneka Kermit si kodok hijau? Jagoan tua ini yang kemudian bertransformasi menjadi acara pendidikan anak Sessame Street. Lahir dari tangan dingin Jim Henson dalam kurun waktu 1954-1955 dengan tajuk The Muppets Show telah menjadi legenda hiburan sampai sekarang. Inilah pertama kalinya para boneka ini tampil di layar lebar di bawah asuhan studio Disney.

Film ini menceritakan tentang perebutan Muppet Theater yang hendak diambil alih oleh juragan minyak Tex Richman (Chris Cooper) yang menemukan adanya sumber minyak di sana. Tex ingin segera mengeksplorasi dan menambang minyak sesegera mungkin yang tentunya berakibat dihancurkannya seluruh Muppet Theater. Niat itu tercium oleh Walter fans berat The Muppets. Walter ingin menggagalkan rencana Tex dengan jalan mengumpulkan kembali para anggota The Muppets. Rencananya adalah menyelenggarakan acara The Greatest Muppet Telethon Ever untuk mencari dana sebesar $10 juta untuk menyelamatkan teater tersebut.

Tokoh Tex Richman (Chris Cooper)

Maka bersama kakaknya, Gary (Jason Segel), dan Mary (Amy Adams), kekasih Gary, Walter pertama-tama mencari Kermit si kodok hijau. Kemudian bersama-sama mencari anggota The Muppets yang lain. Di luar dugaan anggota kawanan The Muppets kini telah memiliki profesi masing-masing. Fozzie Bear telah menjadi anggota bnd The Moopets yang tampil di sebuah kasino. Miss Piggy menjadi fashion editor Vogue Paris. Animal berada di kelompok penanganan emosi dan Gonzo menjadi mandor industri kloset.

Tokoh Gary (Jason Segel) dan Walter

Film ini masih mempertahankan sisipan musikalnya dan tentu saja tetap mempertahankan boneka alih-alih menggunakan animasi untuk menjaga originalitasnya. Tapi bedanya adalah, tidak akan tampak batang pengendali tangan atau para boneka tidak lagi selamanya berinteraksi dari balik meja. Para Muppets di film ini tentu saja lebih mobile bahkan tak jarang ditampilkan all body hingga kakinya terlihat.

Behind The Scene

Film ini dianggarkan menghabiskan dana $50 juta. Dengan reputasi The Muppets di seluruh dunia yang tak perlu diragukan lagi, tak sulit bagi Disney untuk meraup untung yang berlipat. Sang sutradara James Bobin juga tak tanggung-tanggung untuk memasukkan banyak cameo dari artis terkenal diantaranya adalah: George Clooney, Selena Gomez, Neil Patrick Harris, Mila Kunis, Danny Trejo, Alan Arkin, Emily Blunt, Beth Broderick, James Carville, Billy Crystal, Ricky Gervais, Donal Glover, Whoopie Goldberg, Judd Hirsch, Katy Pery, Ben Stiller.

Sutradara James Bobin

Penggunaan Komputer Grafis Untuk Membuat Boneka Muppet Bisa Bergerak Lebih Bebas

Do You Know?

The Muppets adalah tokoh boneka yang diciptakan olah Jim Henson. Menurut Henson, kata Muppet merupakan gabungan dari marionette puppet. Meskipun di kesempatan lain dia mengakui bahwa istilah itu hanya mengada-ada dan sebenarnya dia menyebut Muppet hanya karena dia menyukai kata itu.

Jim Henson Bersama The Muppets

Pertama kali The Muppets Show tampil di televisi pada tahun 1976.  Saat itu para karakter boneka digerakkan dengan satu tangan menggerakkan kepala dan mulut dan tangan yang lain menggerakkan tangan dengan batang kendali atau dengan cara seperti memakai sarung tangan. Orang yang menggerakkan Muppet ini disebut Muppeteer. Para Muppeteer ternyata haruslah orang yang kidal karena tangan kanan mengendalikan kepala dan tangan kirilah yang memegang batang kendali.

Saking populernya karakter Muppet diperlakukan layaknya selebriti. Sering sekali mereka tampil dalam acara penghargaan seperti Oscar dan sebagai cameo dalam beberapa film.