Posts Tagged ‘roman’

Supernova: Akar by Dee

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

Paperback, 202 pages
Published 2012 by Penerbit Bentang (first published 2002by Truedee Books )
ISBN: 9799625726
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Akar
series: Supernova #2

Sinopsis

Novel ini terdiri dari 3 keping (bab) Keping pertama adalah jembatan antara buku pertama: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh dan buku kedua ini. Di sini kisah Gio akan berlanjut. Tapi kisahnya tidak begitu menyenangkan karena mendapatkan kabar bahwa Diva menghilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Keping 34 yang merupakan awal dari novel “Akar” ini cukup singkat dan berakhir di keputusan Gio untuk mencari Diva.

Keping 35 adalah inti dari novel ini karena disinilah “Akar” itu akan diceritakan dengan proporsi paling banyak. Keping ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Bodhi yang mempunyai kisah masa lalu yang sangat unik dan ajaib. Bodhi pada awalnya tinggal di wihara dan dibesarkan oleh Guru Liong. Akhirnya nasib menggiringnya untuk berpetualang meningalkan wihara tersebut.

Awal dari penjelajahan Bodhi di awali di Bangkok kemudian ke Laos, kembali lagi ke Bangkok dan akhirnya ke Kamboja dengan petualangan yang makin seru karena Kamboja adalah area konflik para pasukan pemberontak. Dalam petualangannya itu, Bodhi bertemu dengan orang-orang hebat yang mengubah nasibnya. Pelajaran hidup akan selalu didapat dimanapun dia berada. Kadangkala seseorang yang ditemui di suatu tempat akan bertemu lagi di tempat lain dengan suasana yang benar-benar ajaib dan berbeda seolah melengkapi nasib diantara keduanya.

Hingga akhirnya kisah Bodhi di buku ini akan berakhir di Keping 36 yang nampaknya akan menjadi sebuah jembatan kisah yang akan menghubungkan kisah di buku ketiga.

Opini

Di buku ini saya sempat sedikit berharap sajian kisahnya hampir sama dengan buku pertama: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, yaitu banyak menyajikan aspek filsafat postmodern, psikologi, fisika kuantum dan beberapa tinjauan sains. Namun ternyata buku kedua ini hanya cerita novel yang biasa. Mungkin hanya tokoh Reuben dan Dimas yang cocok dengan pembahasan-pembahasan macam itu sedangkan di buku kedua ini mereka sama sekali tidak ada.

Buku kedua ini masih setia dengan istilah “Keping” untuk menggantikan fungsi dari “Bab”. Di buku ini terdapat tiga keping yang angkanya adalah lanjutan dari buku pertama sehingga di sini tiga keping itu dinomori 34, 35 dan 36.

Cerita di novel ini cukup seru karena Dee nampaknya memahami betul tentang banyak tempat di beberapa negara di Asia sekaligus bahasa-bahasanya. Hal ini enjadikan novel “Akar” ini sedikit bisa menjadi semacam catatan travelling backpacker.

Did You Know?

Supernova seri dua yang berjudul “Akar” ini dirilis pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Dewi Lestari (Dee)

Simbol Omkara/Aum

Sampul buku cetakan pertama yang dikritik

Favorite Quotes

“Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata.”
“Jangan takut. Jangan menyerah. Hidup ini sebenarnya indah.”
“Art partly completes what nature cannot bring to a finish. Art carries out Nature’s unrealized ends.”
“Life is all about how to control our minds, and how to make use of our limited knowledge.”

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Iklan

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh by Dee

My rating: 5 of 5 stars

detail info:

 

Paperback, 321 pages
Published 2001 by Truedee Books
ISBN: 979962570X (ISBN13: 9789799625700)
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
series: Supernova #1
setting: Indonesia

Sinopsis

Dimas dan Reuben adalah pasangan homo yang berikrar akan membuat sebuah karya tulis yang menjembatani semua percabangan sains dalam waktu sepuluh tahun. Karya tersebut disepakati akan dikemas secara populis dan bernuansa roman sains, romantis sekaligus puitis.

Maka setelah sepuluh tahun, terpenuhilah ikrar tersebut dengan disusunnya sebuah kisah yang menceritakan tentang Kesatria, Putri dan Bintang jatuh. Kisah yang disusun Ruben dan Dimas itu menjadi kisah paralel dengan kisah Reuben dan Dimas sendiri. Kisah tersebut menghadirkan dinamika kisah cinta antara Ferre dengan Rana. Kisah cinta itu dibikin begitu kompleks karena Ferre yang begitu sempurna dan menjadi sosok yang diidolakan banyak wanita justru jatuh cinta pada Rana yang telah memiliki suami. Arwin nama suaminya itu. Masih dalam dunia yang diciptakan Ruben dan Dimas, ada satu tokoh yang dihadirkan memiliki alur kisah sendiri yaitu seorang supermodel yang sekaligus menjadi wanita bayaran berkelas dengan tarif ribuan dolar, akan menjalani kisahnya dan akan menjadi bagian dari kisah cinta Ferre dan Rana. Juga ada satu tokoh misterius yang disebut sebagai Supernova akan menghadirkan twist yang unik mengenai hubungan yang nyata antara dimmensi kehidupan Reuben dan DImas sebagai si penulis dan dunia kisah yang ditulisnya.

Opini

Ini adalah novel yang sangat brilian. Dengan menggabungkan antara sains, filsafat, psikologi dan sedikit biologi dengan suatu kehidupan roman kisah cinta yang kompleks Dee telah menyajikan suatu penjelasan empiris tentang bagaimana pola pikir manusia ketika menghadapi kompleksnya perasaan cinta. Lewat tokoh Reuben dan Dimas, kisah cinta yang mereka tulis akan dikupas juga secara berbagai sudut pandang keilmuan. Inilah yang menjadikan novel cinta ini bukan novel yang biasa.

Twist dalam novel ini adalah ketika kita menyadari bahwa ada beberapa realita dan dimensi dalam novel ini. Yaitu Dee sebagai penulis novel menceritakan tentang Dimas dan Reuben yang juga menciptakan tokoh fiktif bertokoh sentral Ferre kemudian oleh Dee, Dimas dan Reuben dibuat sadar jika mereka ternyata adalah dalang tempelan yang secara sengaja dibuat untuk menuliskan sebuah cerita yang lain. Sedangkan cerita yang lain itu ternyata ada dalam satu dimensi yang sama dengan sang penulis yang menulis cerita. Ini akan sedikit membingungkan. Namun jika pembaca memahami baik-baik, maka akan sama ketika kita menonton film Inception.

Kata-kata asing dan terlihat begitu sulit akan dijelaskan melalui footnote dengn bahasa yang umum. Sehingga orang awampun akan memahami jika mau membaca dengan sedikit bersabar. Inilah karya terbaik Dee yang menghadirkan wawasan yang sangat luas dan permainan psikologis dan twist yang menarik.

Did You Know?

Novel ini dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan edisi Inggris untuk menembus pasar internasional bekerja sama dengan Harry Aveling sebagai penerjemah ke bahasa Inggris.Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

Dewil Lestari (Dee)

Favorite Quotes

“Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.”

“Kamu benar, Puteri. Perasan itu sudah mengkristal.
Dan akan kusimpan. Selamanya.”

“Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina?”

“… karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastiaan manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi”

“Kau hadir dalam ketiadaan,
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti,
Namun aku selalu disini,
Menantimu..
Entah mengapa..

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Bidadari Bidadari SurgaBidadari Bidadari Surga by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 365 pages
Published June 1st 2008 by Republika
ISBN13: 9789791102261
edition language: Indonesian
original title: Bidadari Bidadari Surga
setting: Indonesia

 

“Pulanglah. Sakit kakak kalian semakin parah. dokter bilang mungkin mingu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya telambat, pulanglah….”

Itulah kutipan paragraf pembuka di halaman pertama novel ini. Kalimat itu adalah isi dari SMS seorang ibu yang dikirimkan ke anak-anaknya. Sederhana saja kisahnya. Kisah ini sebenarnya hanya menceritakan proses kepulangan dari keempat anak yang mendapatkan SMS yang berisi kabar tersebut. Keempat anaknya yang berada di empat penjuru dunia seketika itu berusaha pulang setelah menerima SMS itu. Apapun kesibukannya. Sebelum semuanya terlambat.

Bukan Tere Liye jika tidak mampu membuat alur yang begitu sederhana menjadi lebih kompleks. Benar saja. Tidak hanya proses kepulangan empat bersaudara itu saja yang diceritakan. Tapi sepanjang alur, kita akan diajak kembali untk flashback tentang latar belakang dan riwayat kehidupan mereka.

Bersetting di Lembah Lahambay, seorang ibu dengan kelima anaknya menjalani kehidupan sederhana yang dihiasi usaha dan jerih payah kerja keras. Laisa adalah anak sulung yang begitu mulia. Demi kebahagiaan keempat adiknya dia rela berkorban seumur hidupnya. Pengorbanan Laisa tentu saja tidak sia-sia. Buktinya keempat bersaudara itu kini telah berpencar ke seluruh penjuru dunia.

Laisa tidak mengharapkan apa-apa untuk dirinya sendiri. Untuk pendidikan, dia selalu mengutamakan adik-adiknya. Bahkan urusan perkawinan, Laisa rela didahului oleh adik-adiknya. Laisa tidak pernah mempermasalahkan nasib dirinya. Bahkan kekurangan fisiknya yang kini membuatnya jauh tertinggal dalam segala hal dibanding adik-adiknya. Laisa tulus hingga akhir hayatnya.
Kisah-kisah flashback ini membuat proses kepulangan keempat bersaudara itu menjadi sangat berarti. Kisah-kisah itu juga akan menganyam alur-alur cerita yang membuat begitu runtut sampai akhir. Di akhir cerita, bahkan Tere Liye seolah menjadi cameo untuk sedikit memasukkan tokoh dirinya sendiri di kisah itu.

Sungguh suatu kisah yang bisa menjadi motivasi untuk mencapai kesuksesan yang dicapai dengan kerja keras, pengorbanan yang tulus dan rasa bersyukur. Muatan filosofis religiusnya membuat kita mampu menjauhi segala manifestasi dari sifat egosentris.

View all my reviews

1

Tidak pernah ada cinta di hati Tien. Hidup tidak memberinya cinta sedikitpun. Dia lahir juga bukan karena cinta. Orang tuanya menjodohkan ibunya dengan pria yang tidak ia cintai. Subhan nama pria itu. Dan akhir kisah rumah tangga itu sudah bisa ditebak. Kedua orang tua Tien tidak pernah bisa memaksakan cinta lebih lama lagi. Maka ibu Tien kawin lari dengan pria pilihannya dahulu sambil mengandung Tien yang berusia tujuh bulan.

Tien di sini sekarang. Kembali merenungi hidupnya yang pahit itu. Tentu saja Tien mengenal cinta. Hanya saja dia belum juga merasakannya. Malang benar nasib Tien. Dia sudah meninggalkan masa kanak-kanaknya sekarang. Usia remaja juga sudah dijalaninya sejak tiga tahun yang lalu.

Ah, betapa Tien membutuhkan cinta.

Tien selalu ingat masa lalunya. Menurutnya setiap manusia itu minimal mendapatkan cinta dari orang tuanya. Tapi Tien tidak pernah mendapat hak itu. Tien pernah mendengar bahwa induk harimau sekalipun tidak pernah melukai anak-anaknya. Aku ingin jadi anak harimau saja kalau begitu, pikirnya. Induk manusia lebih kejam. Tien banyak membaca dari koran bekas yang dipungutnya. Membaca tentang aborsi, pembuangan bayi dan penganiayaan anak oleh orang tua.

Tien tidak penah mengalami kekejaman fisik itu. Tapi Tien tahu ibunya sangat membencinya. Sama seperti kebencian ibu terhadap Subhan suami pertamanya, ayah Tien. Suatu ketika ibunya pernah berkata kalau Tien selalu mengingatkannya pada suami terkutuk itu. Ya Tuhan, bahkan ibu kandung Tien menganaktirikannya. Bagi Tien, ibunya telah mengaborsi, membuang sekaligus menganiaya dalam takaran batinnya.

Maka Tien tidak pernah menangis ketika ibunya mati.

Tien praktis tinggal dengan ayah tirinya setelah itu. Apakah ayah tirinya memberinya cinta? Tien tidak begitu memahaminya. Ayah tirinya baik, ramah tapi tidak ada cinta di hatinya. Tien merasakan kekosongan yang aneh. Dengan usianya yang baru tujuh tahun Tien tidak memahaminya. Sesekali ayahnya melepaskan pakaiannya dan Tien berpikir: ya, ayah yang baik melepaskan pakaianku untuk dicuci. Sesekali ayah Tien memandikannya dan Tien masih bepikir: ya, ayah yang perhatian sudah wajar jika sesekali memandikanku. Sesekali ayah Tien meraba-raba tubuh Tien dan Tien tetap berpikir: ya, ayah yang penolong membantuku membersihkan dan menyabun daki-daki di badanku. Dan sesekali ayah Tien memasukkan kemaluannya ke kemaluan Tien dan Tien semakin tidak memahaminya: entahlah apa yang dilakukan ayah. Pertama menyakitkan tapi ayah selalu menghiburku. Dan permen-permen itu sangatlah lezat. Ayah adalah penghibur yang baik.

Tien di sini sekarang. Sudah memahami segalanya dengan baik. Ternyata ibunya memilih pria bejat untuk dinikahi. Mungkin kakek neneknya telah mengetahui keburukan pria pilihan ibunya ini. Maka dijodohkanlah ibu dengan pria baik-baik menurut mereka.

Ah, kakek nenek, dimanakah kalian tinggal? Ibu telah memisahkan kita. Memisahkan satu-satunya kemungkinan adanya sumber cinta yang selama ini aku rindukan.

Ayahnya resmi memutus sekolah Tien sesaat setelah lulus SD. Itu artinya sebelum Tien mendapatkan penjelasan edukatif biologis tentang apa yang dilakukan oleh ayahnya, dia resmi terputus dari pendidikan formalnya. Pengetahuannya akan datang terlambat dan itulah tujuan sang ayah.

Tien mulai mengenal teman-teman ayahnya yang sering datang ke rumahnya. Tien dengan pemahaman seusianya kala itu menyebutnya: ‘teman-teman kantor’ ayah. Hanya saja Tien tidak pernah paham bahwa ‘teman-teman kantor’ ayahnya itu melakukan persis apa yang dilakukan ayahnya. Tien bukannya terganggu. Tien hanya tidak mengerti. Tapi yang Tien tahu, ayahnya selalu memanjakannya setelah itu. Sepertinya ayahnya selalu mendapatkan banyak uang setelah teman kantor ayah itu selesai ‘bermain’ dengannya.

Mungkin ayah telah berdagang sesuatu dengan teman kantornya.

Tien selalu sesak mengingat alur hidupnya yang tak seindah sinetron. Tapi Tien sudah tidak pernah menangis. Tien lupa kapan teakhir menangis. Tangisan hanyalah untuk orang-orang yang cintanya terenggut, pikirnya. Sedangkan Tien, tidak pernah memiliki cinta sejak lahir. Jadi tidak ada sedikitpun yang terenggut darinya.

Tien yang kini telah memahami segalanya, selalu terkurung dengan perasaan benci itu. Kepada ibunya yang memisahkan dirinya dengan cinta yang ia butuhkan. Ibunya yang juga melahirkannya dengan kebencian. Dan tentu saja ayah tirinya yang telah mengantarkan nasibnya pada detik ini dan di tempat ini.

Pada suatu ketika itu teman kantor ayah membicarakan sesuatu dengan ayah. Hasil dari pembicaraannya itulah yang membuat Tien pergi dari rumah ayah. Tien harus ikut Om kata ayahnya ketika itu.

Ayah menjanjikan aku akan senang. Ayah berkata Om akan membelikan apapun yang aku mau. Tentu saja, tentu saja aku mau pergi bersama Om ini. Tien tahu ayahnya berkata benar. Buktinya ayahnya setelah itu memegang banyak duit dari si Om yang pastinya nanti akan dipakai untuk membelikan Tien apa saja. Dan Om yang telah memberikan uang sebanyak itu pada ayah pastilah kaya raya. Om itu pasti akan banyak membelikan sesuatu juga.

Lambat laun Tien mengerti juga. Perjalanan hidupnya akhirnya mendewasakannya juga. Tien mulai tahu betapa kejamnya ayahnya yang menjualnya kepada teman kantornya. Dan si Om yang sama kejamnya dengan ayah. Semua memperlakukannya sama seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Sama seperti yang dilakukan ‘teman kantor’ ayah dulu. Sekarang ‘teman kantor’ Om melakukan hal yang sama dengan membayar sejumlah uang kepada si Om. Semuanya sama. Bedanya, Tien sekarang sudah mengerti. Ketika itu Tien tidak terganggu. Tien rela, pasrah. Tapi Tien merasa semakin kosong. Kemanakah cinta untuknya?

Sekarang Tien sedang berdiri di sini. Di sebuah jembatan sepanjang lima ratus meter yang baru berusia satu tahun. Masih baru. Di sinilah titik yang paling menyenangkan untuk Tien. Di sinilah Tien bisa menunggu matahari tebenam.

Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta dari sesama, biarlah aku mengais cinta dari pesona matahari yang mulai meninggalkan langit tempatku berpijak ini. Matahari telah memberikan cintanya pada alam. Sekarang sebelum dia pergi, aku ingin merasakan sedikit dari hangatnya cinta yang masih tersisa itu.

Tien masih di sini. Menatap jenuh. Kekosongan itu bisa juga jenuh ternyata. Mengenang kekosongan dan kejenuhan yang sama ketika Tien memutuskan berlari dari semuanya. Berlari secara lahir dan batin. Dini hari dua tahun yang lalu itu Tien mencoba peruntungannya. Dan beruntunglah si Om yang tidak pernah menaruh curiga pada Tien, yang dikenalnya sebagai ‘barang dagangannya’ yang paling penurut, membuat pelarian Tien bukanlah perkara yang sulit. Dengan uang hasil penjualan dirinya itu cukuplah untuk menghilang dengan jarak sejauh lima kota dari ‘kantor’ Om. Tak ada yang bisa menemukannya di kota ini. Kota yang memiliki jembatan baru yang indah. Cocok untuk Tien yang sedang merenung saat ini.

Di sini Tien berdiri menunggu matahari terbenam. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Setelah penat dengan pekerjaan seharian itu. bukanlah pekerjaan yang menyenangkan jika Tien harus berkeliling kota dengan sepeda tua berkeranjangnya, hasil menabung selama enam bulan, yang penuh dengan kertas bekas. Melelahkan memang tapi Tien sedikit menikmatinya. Tien mulai berpikir, mungkin transaksi perasaan cinta-mencintai itu memang tidak ada. Yang ada hanyalah transaksi jual beli yang dinilai dengan uang. Uang yang membuatnya tetap hidup. Bukan cinta.

Tapi malam ini nampaknya telah merubah pandangan Tien.

Malam yang sederhana. Dengan situasi dan keadaan yang biasa. Di jembatan ini Tien telah hafal benar dengan kebiasaan anak-anak muda seumurannya, yang berpasang-pasangan, ikut meramaikan kedua sisi jembatan itu tiap senja mulai menggelap. Jembatan remang-remang yang cocok untuk memadu kasih. Kendaraan yang lewat juga tidak banyak. Entah mengapa lampu penerang jalan yang berjajar sepanjang jembatan yang masing-masing berjarak seratus meteran itu tidak pernah menyala. Seolah para ahli tata kota sengaja menjadikannya sebagai tempat cocok untuk berpacaran. Atau mungkin para vandalis kota telah merusak sensor lampu agar tidak lagi otomatis menyala ketika senja tiba.

Senja mulai menghitam. Tien mulai melihat beberapa pasangan mulai berdatangan. Seperti biasa, pikir Tien. Tien juga sudah bosan dengan gaya cakap-cakap para dua sejoli itu. Yang satu pandai merayu, satu lagi pura-pura malu tapi mau. Tien bosan dan dia selalu berhasil berkutat pada lamunannya. Tapi tidak malam itu. Dia sayup-sayup mendengar sang pria berucap ‘selamat hari valentine’ pada pasangannya. Hanya sekali Tien mendengar sudah cukup membuatnya keluar dari lamunan dan memalingkan wajah. Menengok pasangan itu. Tidak, tidak hanya satu. Beberapa pasangan lagi mengatakan kata yang sejenis sesaat berikutnya. Beberapa lagi bersendau gurau dan menyinggung kata yang sama. Semuanya, pikir Tien.

Valentine. Tien tahu kata itu. Tahu tentang perayaan dimana orang-orang meramaikannya dengan atribut berwarna pink. Lihatlah, para pasangan di jembatan itu memakai pakaian dengan unsur pink juga. Tien tahu betul peringatan hari kasih sayang itu.

Hari ini adalah hari valentine. Seluruh dunia merayakannya. Kecuali aku…

Tien sesak. Hatinya menangis. Kembali lagi dia mendambakan cinta. Kemanakah cinta untuk Tien? Tien ingin cinta menerbangkan kebahagian seperti kebahagiaan yang terpancar pada sejoli-sejoli di sekitarnya itu. Tien ingin terbang bersama orang-orang yang dicintainya. Tien ingin terbang dilangit luas agar sesak di hatinya terlepas melega.

Jembatan itu remang-remang. Tak ada yang tahu bahwa Tien mencoba terbang. Meluncur kebawah. Tien berharap cinta akan menerbangkannya pada detik-detik terakhir.

2

“Fenomena apa yang terjadi pada anak muda akhir-akhir ini benar-benar harus diwaspadai. Psikologis remaja yang baru berkembang bisa jadi adalah silent killer yang cukup serius selain obat-obatan terlarang. Bagiamana tidak? Dalam tiga bulan terakhir kita jumpai fenomena yang nampaknya menjadi tren. Apakah Shakespeare patut dipersalahkan jika anak muda jaman sekarang lebih memilih bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban percintaan? Meniru Romeo Juliet katanya. Ataukah pemerintah yang harus bersikap hanya karena tidak pernah bisa menyelesaikan urusan pelik yang bernama ekonomi?

Bagaimanapun juga bunuh diri di kalangan remaja di Indonesia cenderung meningkat. Adapun jumlah tertinggi pelaku bunuh diri berada pada kisaran usia remaja dan dewasa muda (15-24 tahun). Laki-laki melakukan bunuh diri (comite suicide) empat kali lebih banyak daripada perempuan. Sedangkan perempuan melakukan percobaan bunuh diri (attempt suicide) empat kali lebih banyak daripada laki-laki.

Laporan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia tercatat di Gunung Kidul Yogyakarta yaitu 9 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan di Jakarta hanya 1,2 per 100.000 penduduk.”

………………………………………………………

“Kau tidak lupa memasukkan bahasan pada kasus terakhir dua hari yang lalu itu kan?” tanya seseorang dari bagian percetakan kepada seorang kolumnis yang sedang asik mengetik.

“Mana bisa aku lupa?” Kata si kolumnis sambil menghentikan kegiatannya sejenak. “Kamu tahu kan kemarin aku bela-belain untuk ke TKP. Meliput secara langsung. Sungguh menyedihkan kalau kamu melihatnya juga. Dan anak itu akan sedikit merubah data statistik yang sudah aku hitung sebelumnya. Tenang saja, data terbaru itu sudah siap aku cantumkan kok.”

“Mengharukan?” dahinya mulai sedikit berkerut. “Mengerikan maksudmu?”

“Tentu saja mengerikan. Korban terjun bebas mana yang matinya anggun? Tapi aku sedih, melihat wajah mayat itu… Dia tersenyum.”

“Ah, sudahlah. Bicaramu mulai mengerikan. Cepat selesaikan artikelmu itu. Jangan masukkan bagian itu. Koran kita bukan koran mistik.”

Kolumnis itu nyengir dan segera kembali berkutat pada laptopnya. Mengetik dengan cepat.  Trending news dengan kasus terakhir dua hari yang lalu itu membuat otaknya kebanjiran ide yang harus ditulis dan diselesaikan segera. Ini kasus menarik. Biarpun kasus terakhir hanya melibatkan seorang gadis gelandangan, tapi tetap saja bunuh diri di malam valentine akan cukup menarik untuk dibahas. Entah apa latar belakangnya, tak ada informasi satupun. Dia remaja gelandangan. Tak ada seorangpun yang tahu kisahnya. Pengaruhnya dalam berita ini mungkin hanya sekedar perubahan data statistik.

“Eh, buruan ya. Setengah jam lagi deadline naik cetak.” Kata manajer percetakan, mengingatkan.

“Oke, aku hampir selesai. Beberapa kata lagi dan artikel ini siap diterbitkan.” Kolumnis itu tampak puas dengan idenya yang telah tertuang dalam 2 halaman yang terketik rapi itu. Sebagai penutup artikel itu, dia menuliskan:

Yogyakarta, 16 Februari 2012,

Subhan

Dan hanya Tuhan yang tahu urusan ini.

Kisah Sang PenandaiKisah Sang Penandai by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 295 pages
Published July 2011 by Republika
ISBN: 6029888323 (ISBN13: 9786029888324)
edition language: Indonesian
original title: Kisah Sang Penandai

Bagi yang penasaran dengan arti kata penandai, sebelumnya aku jelaskan dulu apa artinya. Kata penandai dibaca seperti kata landai, pantai. Asal kata penandai dari andai, yang berarti dongeng dalam bahasa tertentu (keterangan ini bisa dilihat di footnote halaman 33. Jadi Sang Penandai adalah orang yang membawakan sebuah kisah dongeng.

Tere Liye membuat sesuatu yang baru dalam novel ini. Sangat berbeda dengan novel-novel sebelum dan sesudahnya. Inilah novel pertama yang bersettingkan masa lalu sekitar ratusan tahun yang lalu. Kisah-kisahnya didominasi oleh petualangan kolosal para pelaut gagah berani.

Kisahnya berpusat pada tokoh bernama Jim yang ceritanya dimulai dengan kisah cinta yang tragis. Kekasih Jim yang bernama Nayla adalah seorang perempuan keturunan bangsawan. Sedangkan Jim hanyalah seorang yatim piatu pemain biola yang buta huruf. Cinta ini tentu saja mengalami puncak hambatan ketika Nayla hendak dijodohkan oleh orang tuanya. Karena cinta Nayla yang begitu besar kepada Jim, dia justru memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.

Dengan kesedihan yang luar biasa Jim bertemu dengan Sang Penandai yang muncul secara misterius. San Penandai mengatakan bahwa Jim adalah orang yang terpilih untuk menggurat cerita tentang berdamai dengan masa lalu. Dari sinilah petualangan Jim yang luar biasa akan bermula. Berawal dari kejaran pembunuh bayaran yang disewa keluarga Nayla untuk menghabisi Jim yang kemudian mengalirkan nasibnya pada keikutsertaannya dengan pelayaran Laksaman Ramirez untuk menemukan Tanah Harapan.

Ekspedisi pelayaran itulah yang akan menyajikan banyak sekali pertempuran yang sarat dengan pertumpahan darah. Inilah yang membuat novel Tere Liye begitu berbeda dengan karyanya yang lain.
Petualangan seru bak dongeng akan diiringi dengan kisah-kisah cinta. Jim yang sangat melankolis yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu akan membuatnya berada pada pilihan-pilihan sulit yang akan menentukan masa depan hidupnya.

Novel ini memberikan pesan bagaimana kita harus berdamai dengan masa lalu dan sembuh dari luka-luka itu. Selain itu akhir dari kisah ini akan mengajarkan kita bahwa kesabaran akan memberikan imbalan terbaik untuk masa depan.

Kisah ini akan berakhir dengan melengkapi kisah-kisah di awal sehingga simpul-simpulnya saling bertaut. Akan tetapi ada beberapa cerita yang memang berkesan putus tanpa penjelasan yang memuaskan.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Sunset Bersama Rosie

Posted: Februari 9, 2012 in Novel, Review Buku
Tag:, , , , ,

Sunset Bersama RosieSunset Bersama Rosie by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

detail info:
Paperback, 429 pages
Published November 2011 by Mahaka Publishing
ISBN13: 9786028357029
edition language: Indonesian
original title: Sunset Bersama Rosie

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang dihiasi pengorbanan besar dalam mengejar sebuah kesempatan. Tokoh sentralnya bernama Tegar Karang yang memiliki kenanagan manis dengan seorang perempuan yang dikenalnya sejak kecil yang bernama Rosie. Sayang sekali pada suatu hari, Tegar justru memperkenalkannya dengan Nathan, teman karibnya sendiri, yang hanya dalam waktu dua bulan dia berhasil melamar Rosie. Nathan berhasil merebut hati Rosie hanya dalam waktu dua bulan sedangkan Tegar sudah mencintainya sejak dua puluh tahun.

Tegar menanggung luka itu bertahun-tahun. Kini tegar sudah siap untuk melamar wanita lain bernama Sekar. Dan Rosie telah memiliki empat anak: Anggrek, Jasmine, Sakura dan Lili. Ulang tahun pernikahannya pun sudah mencapai ke-13. Namun takdir berkata lain. Berlokasikan di Jimbaran, perayaan pernikahan ke-13 itu berakhir tragis ketika sebuah bom meledak di tempat itu. Rosie dan anak-anaknya selamat sedangkan Nathan meninggal.

Kisah tragis tidak berhenti begitu saja. Tegar bahkan membatalkan pertunangannya dengan Sekar karena kejadian itu. Dan diluar dugaan, kejadian itu membuat mental Rosie tidak kuat menanggung perasaan kehilangan suaminya.

Kisah ini akan menggambarkan tentang perjuangan Tegar dalam mengasuh keempat anak Rosie selama Rosie menjalani terapi. Belum lagi perasaan Tegar yang masih mencintai Rosie dan menganggap keadaan ini sebagai kesempatan untuk kembali menumbuhkan cintanya terhadap Rosie. Di lain pihak, Tegar memiliki janji yang tertunda untuk menikahi Sekar. Hingga di akhir cerita, Tegar akan dihadapkan pada sebuah pilihan yang luar biasa sulit.

Kompleksitas alur cerita cukup bagus dalam membuat fluktuasi-fluktuasi perasaan. Potongan-potongan kisah masa lalu, sekalipun tidak terlalu mengejutkan, akan saling bertautan seiring dengan berjalannya kisah dan dituturkannya beberapa rahasia.

Novel ini sangat sarat akan makna sebuah kesempatan dan keputusan yang dibalut dengan tema cinta. Kemampuan dan kemauan yang sangat besar untuk mengorbankan salah satu cinta akan digambarkan jelas dalam novel ini.

View all my reviews

[Cerpen] Hitam

Posted: Februari 8, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

1

Aku adalah seorang pesulap yang sudah tujuh tahun ini ikut dalam sebuah rumah produksi di sebuah televisi swasta lokal. Tiga bulan kedepan adalah sisa usia kontrakku sebelum berakhir dan aku harus mencari rumah produksi lain atau membuat rumah produksi sendiri. Dan siapakah wanita itu? Dia adalah asistenku yang selama lima tahun terakhir ini menghiasi pertunjukanku. Dia cantik, seksi dan atraktif. Dan memang itulah syarat utama yang ditetapkan mandor rumah produksi ini ketika menyaring kandidat untuk menggantikan sang asisten yang terdahulu, yang katanya sudah terlalu tua. Tapi bagiku seluruh penampilan fisik yang ideal itu hanyalah bonus sampingan ketika aku mulai mencintai kepribadiannya.

Namanya Magi. Aku yakin  itu bukan nama panggung sekalipun jika ditambahkan huruf “c” di belakang maka akan sangat cocok ketika bekerja di dunia persulapan. Tidak, sekali lagi aku tegaskan, aku yakin itu nama asli. Dan nama asliku, bukan nama panggung juga dan aku tidak peduli orang-orang akan percaya atau tidak, adalah Igam, kebalikan dari Magi. Herankah? Tapi aku yakinkan, bukan karena urusan nama yang berkebalikan itulah aku mulai mencintainya. Toh perasaan ini baru muncul setahun terakhir. Bukan sejak lima tahun yang lalu ketika aku melihat berkas profilnya yang diberikan mandor sirkusku ketika itu. “Coba lihat, fisiknya cocok dan namanya juga cocok untuk menjadi asisten barumu.” Kata Toro sang mandor.

“Melihat pertunjukan sulap itu adalah cara untuk menghibur diri dengan memanfaatkan kebodohan kita.” Kata Magi ketika break pada suatu sesi pertunjukan di studio TV di Bandung kala itu. “Mereka akan senang sekali melihat betapa otak mereka tak mampu menerjemahkan trik-trik itu.”

“Apa kesimpulanmu?” Tanyaku.

“Itu artinya, sulap adalah cara kita membuat orang-orang yang berjalan dimuka bumi ini tidak lagi penuh dengan kesombongan, kesoktahuan dan bakat sok pintar. Mereka yang tidak mengerti triknya, akan berpikir sekuat kapasitas otak mereka dan ketika mereka tidak menemukan suatu jawaban di sana, mereka tetap tersenyum dengan kagumnya. Mereka berada dalam tahap paling jujur ketika itu. Jujur kalau mereka berhasil dibodohi tanpa ada perasaan tersinggung sedikitpun.”

“Itu artinya, kamu anggap kita sebagai pembohong?”

“Tentu saja tidak Gam. Kita ini adalah penyaji keindahan. Bukankah semua rahasia akan membuat sesuatu di dunia ini menjadi mengagumkan? Lihat Gam, semesta ini adalah panggung sulap. Kita tidak tahu darimana semesta ini muncul. Otak kita tidak punya kapasitas sebesar itu untuk berpikir kesana. Bagaimana keseimbangan alam semesta ini begitu terpelihara? Tuhan sedang bermain sulap juga Gam. Dan kita sebagai penonton, kita akan disuguhi fenomena kebesaran diri Tuhan dari hasil sulap itu sendiri. Dan kamu tidak akan menyebut Tuhan sebagai pembohong kan? Tuhan hanya menyajikan sesuatu yang kebenarannya belum kita tahu. Kitalah yang masih bodoh Gam.”

Aku mendengarkannya sedikit mengangguk dan lebih banyak berpikir.

“Pesulap itu adalah sosok yang mampu menggabungkan kejeniusan ilmu pengetahuan, seni dan filosofi serta sedikit mistik. Trik-trik yang tak kasat mata itu yang selalu saja membuat berdecak kagumnya para penonton. Sesekali triknya dibuka dan dibeberkan pula rahasianya. Tapi hal itu tidak pernah membuat pesulapnya kehilangan pamor. Mereka tetaplah orang genius semi misterius di hadapan penontonnya. Trik-trik itu tidak kalah mulianya dengan performa keajaiban di mata penonton.”

Setiap kali mendengar argumen pintarnya itu, aku mulai bisa melihat inner beauty-nya.

“Dunia juga demikian Gam. Jika kau pernah membaca novel ‘Dunia Sophie’, kau akan tahu bahwa kita tak lebih dari kutu yang berada di ujung paling dalam dari setiap helai bulu kelinci yang sedang dikeluarkan dari topi pesulap. Anggaplah kita adalah kutu itu, kelinci adalah dunia tempat kita tinggal dan topi pesulap adalah semesta raya. Maka semesta secara tiba-tiba akan memuntahkan dunia. Tapi karena kapasitas ilmu pengetahuan yang terbatas, kita bahkan malas untuk memanjat bulu-bulu itu untuk melihat ke permukaan untuk mempelajari bagaimana fenomena itu bisa terjadi. Semesta ini adalah panggung sulap dengan triknya yang begitu agung. Hingga suatu hari trik itu sedikit demi sedikit akan terkuak. Sains lambat laun akan membeberkan rahasianya. Tapi aku yakin Tuhan sang pesulap tidak akan pernah kehilangan keagungannya oleh segala analisa itu. Karena trik itu sendiri adalah sebagai bukti atas keagungan-Nya.”

2

Aku begitu menyadari bahwa Magi sangat mengagungkan seorang pesulap. Satu hal yang tidak Magi ketahui tentang sulapku adalah bahwa aku tidak pernah melakukan trik-trik yang Magi agungkan itu. Aku tidak pernah melakukan trik yang bersih. Selama ini aku melakukan sulap hitam. Sihir. Aku menyihir benda-benda agar bisa berubah, menghilang bahkan terbang. Aku menyihir penonton agar bisa mengelabuhi pandangan mereka. Aku bahkan menyihir asistenku sendiri agar dia tidak akan pernah tahu kalau aku melakukan trik sihir.

Aku tahu sebagian besar orang awam yang tidak bisa memecahkan trik apa yang ada di balik performa sulap akan dengan cepat memvonis mereka sebgai tukang sihir. Tapi aku tahu betul, seluruh pesulap yang sukses malang melintang di televisi itu hampir sebagian besar melakukan sulap bersih. Mereka melakukan trik ketrampilan murni, aku tahu itu. Sangatlah sedikit pesulap di negeri ini yang bisa ilmu sihir. Bahkan yang benar-benar bisa sihir pun, para penonton justru tidak mencurigainya sama sekali. Aku adalah salah satu ahli sihir itu. Aku salah satu dari segelintir pesulap ternama itu. Dan tidak seorangpun yang mencurigaiku.

Akankah Magi bisa menghargai sebuah ritual trik-trik hitam dan sulap sihir dengan segala kesyirikannya? Aku jelas mengkhawatirkan hal itu. Aku mencintainya dan berharap Magi tidak pernah mengetahuinya. Aku yakin Magi yang sangat menguasai wawasan filosofis religius itu tidak akan pernah berpihak pada ritual yang menduakan Tuhan agungnya. Magi memang putih dan Igam adalah sebaliknya: hitam!

Magi dengan segala wawasannya telah menumbuhkan sekuncup niatku untuk meninggalkan sulap hitam dan beralih ke agungnya trik-trik kreatif. Kuncup niat itu semakin mekar seiring dengan bertunasnya perasaanku terhadapnya.

Maka hari itu, aku tekadkan agar suara hatiku bisa bertutur jujur.

3

“Tidak Gam. Aku tidak bisa. Aku tidak akan menghancurkan karir kita. Mana bisa kita menjalin hubungan ketika kita masih dalam masa kontrak? Bisa-bisa manajer menghentikan kontrak kita. Aku tidak mau menghancurkan karir yang mulai aku bangun dan juga karirmu yang sedang berada di atas. Kamu tahu kenapa namaku Magi? Kenapa nama lengkapku Magi Ciandra? Itu karena ayahku seorang magician juga. Aku sudah tumbuh dalam gemerlapnya hiburan sulap sejak kecil. Dan sejak saat itulah aku mulai bertekad untuk belajar menghidupkan kembali profesi ayah. Apakah hatimu tiba-tiba berbinar hanya karena nama kita berkebalikan? Kebetulan itu tidak seharusnya menyilaukanmu Gam.”

“Aku tidak jatuh cinta dengan namamu.” Aku menarik napas panjang untuk menenangkan nada suaraku yang masih saja bergetar. “Benar, urusan nama hanyalah kebetulan semata. Tapi daya tarik pribadimu bukan suatu kebetulan buatku.”

“Aku hanya bersikap profesional Gam. Aku belum mau kehilangan pekerjaan yang karirnya baru saja aku bangun ini. Aku bahkan selalu profesional untuk tidak mencoba mencari tahu tentang trik-trik sulapmu. Sekalipun kadang aku juga begitu penasaran bagaimana kamu melakukan trik luar biasa itu.”

Baiklah, sudah cukup. Itu sudah cukup lugas untuk merespon pengakuan perasaanku. Tentu saja aku ditolak!

4

Kecewakah aku? Nampaknya sudah menjadi pertanyaan retorika yang semua orangpun tahu bagaimana rasanya ditolak oleh seseorang yang memberikanmu inspirasi. Seseorang yang memberikanku alasan untuk melakukan hal yang lebih baik bagi karirku. Seseorang yang seolah datang untuk melunturkan seluruh hitamku. Tapi ternyata harapan itu mencampakkanku.

Bagaimana mungkin aku, seseorang yang ahli dalam mengubah benda-benda, tidak berhasil mengubah hatinya? Tidak, aku memang ahlinya mengubah sesuatu. Dan siapa bilang aku tidak bisa mengubah hatinya? Seketika itu ide untuk melakukan trik sulap ‘bersih’ tiba-tiba meluruh tanpa sisa. Malam ini aku akan melakukan ritual seperti halnya aku melakukan ritual-ritual sebelum pertunjukan. Bedanya, kali ini objek yang aku tuju adalah: hati Magi.

Persetan dengan sulap bersih. Sihir selalu bisa membuatku sukses. Termasuk solusi untuk masalah percintaan ini.

Sehelai rambut Magi tidak terlalu sulit untuk dicari. Properti ritual juga masih tersimpan legkap satu set. Ini seperti melakukan hal-hal rutin dalam hidup. Sama saja ritual mandi pagi setiap hendak bekerja: tidaklah sulit.

5

Satu hal yang tidak kamu mengerti Igam, dalam kehidupan nyata ini bahkan kita tidak pernah tahu siapa yang menjadi pesulap dan siapa yang menadi penontonnya. Batas di antara keduanya begitu tipis. Bahkan kamu mungkin tidak mengetahui trik sulap yang aku sajikan di depan matamu. Karena kamu hanya bisa melihat keindahan performanya. Yaitu aku.

Aku tidak menduga perasaanmu akan tumbuh secepat ini. Aku berharap kamu akan mengungkapkannya tiga bulan lagi. Saat kontrakmu di sini telah habis sehingga tidak ada karir dan profesionalitas yang dikhawatirkan.

Sebenarnya aku juga tertarik kepadamu Gam. Bahkan aku rela belajar dunia persulapan hanya untuk membuka jalan agar aku bisa menekatimu. Bahkan aku rela membohongimu sejak awal. Aku rela mengubah namaku agar kamu merasa kita berjodoh. Tapi nampaknya perasaanmu terlalu cepat bertumbuh Gam. Membuat jalan obsesi itu nampak sangat sulit untuk ditempuh. Inilah trik sulapku untuk membuat diriku menawan dihadapanmu Gam. Kamu adalah penonton dari permainan sulapku. Dan aku merasa itu semua tidak cukup. Maafkan aku Igam. Maafkan aku jika satu tahun lalu aku terpaksa memakai trik hitam untuk memikatmu.

1

Di situlah aku tinggal. Di sebuah rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter. Hanya ada satu ruangan di situ yang aku pakai untuk tidur sekaligus memasak. Sebenarnya aku tidak terlalu sering memasak. Lihat saja kompor minyak tanah itu. Bahkan sekarang telah bertumbuh banyak sarang laba-laba di sana. Dan panci-panci itu, mungkin sudah jadi sarang yang nyaman untuk kawanan cicak. Aku lebih sering makan ditempat kerja. Soal MCK itu urusan lain. Bukan urusan yang bikin pusing tentu saja. Aku bisa saja menumpang di mushola belakang rumah. Aku bantu-bantu bebersih di mushola yang selalu sepi itu. Sebagai imbalan, aku boleh memanfaatkan toiletnya sesering aku mau.

Sudah enam belas atau tujuh belas tahun aku di sini. Aku agak lupa. Banyak pekerjaan yang telah aku lakukan di sini tanpa harus berpindah. Untuk ukuran pekerja serabutan, di sinilah surganya. Cobalah lihat di ujung luar gang itu. Ada mandor becak yang menyewakan becaknya. Aku pernah menyewanya selama satu tahun sebelum aku akhirnya memutuskan berhenti karena badanku capek semua sedangkan hasilnya tidak seberapa. Menjadi tukang becak itu harus standby siang dan malam agar bisa menabung.

Lalu sedikit lebih jauh di sana ada terminal. Profesi kernet pun pernah aku jalani untuk waktu yang lumayan lama yaitu lima tahun. Profesi itu cukup untuk membuatku akhirnya punya sebuah motor tua. Tapi nasib mengambil keputusannya sendiri. Bus yang aku kerneti terlibat kecelakaan beruntun menewaskan puluhan orang. Sopir busnya masuk penjara karena terbukti lalai. Dari penyidikan polisi ternyata hampir semua bus tidak layak jalan. Keputusannya: perusahaan bus harus ditutup atau membuat perusahaan bus baru dengan nama yang berbeda. Sama saja membangun peusahaan dari nol, pikirku. Itu artinya harus ada penyusutan karyawan atau istilah yang lebih merakyat: PHK. Sedangkan kondisiku pasca kecelakaan itu: kaki kananku patah dan untuk biaya perawatan rumah sakit, motor tuaku harus aku jual untuk biaya berobat.

Hidup serasa mulai dari nol lagi. Beberapa usaha masih bisa aku coba. Aku mencoba membantu menjaga kios koran seorang kenalan di sudut teminal itu sambil menunggu kakiku hingga bisa berjalan dengan baik. Sambil berharap juga ada mandor bus yang memanggilku kembali untuk menjadi kernet. Beberapa bulan aku menjaga kios, sampai kakiku sembuh benar, belum ada mandor bus yang memanggilku. Aku mulai mencoba naik setingkat menjadi pengantar koran untuk orang-orang yang berlangganan. Kadang aku bisa mencoba peruntungan lewat usaha makelar apa saja. Makelar kecil-kecilan dari barang-barang yang dijual pelanggan koranku yang satu dan aku tawarkan ke pelanggan koran yang lain. Dari usahaku itu aku berhasil membeli sebuah sepeda.

Gang kedua dari ujung jalan besar, rumah ke lima sebelah kiri dari gerbang masuk, di situlah aku melepas segala penat dan lelahku dalam menyambung hidup. Di gang inilah semua orang mengadu nasib mencari perpanjangan hidup. Gang ini cukup terkenal bahkan sampai keluar kota. Tanyalah pada para penumpang yang baru saja turun di teminal itu tentang gang ini, pastilah mereka tahu. Gang kedua dari ujung adalah lokalisasi paling ternama di kota ini. Strategis sekali memang. Pas berada di tengah kota, dekat dengan terminal dan akan menjadi penghasilan tambahan bagi para sopir taksi, ojek dan abang becak yang mangkal di seputaran terminal. Mereka akan mendapatkan bonus jika bisa mendapatkan dan mengantar pelanggan ke gang birahi itu.

Gang ini memang menjanjikan uang dari segala pofesi. Pada suatu hari aku mendengar akan dibangun sebuah hotel di gang ketiga. Inilah lowongan pekerjaan, kataku dalam hati ketika itu. Akhirnya setelah sekian lama aku bebisnis dengan koran aku memulai profesi baruku sebagai kuli bangunan. Aku melihat prospek kedepannya memang cukup menjanjikan karena menjamin kepastian pekerjaan untuk beberapa tahun kedepan. Akan dibangun beberapa gedung besar lagi setelah ini, kata kontraktornya.

Malam ini genap satu tahun aku melepas lelahku sebagai buruh bangunan. Sudah dua bulan ini aku memulai pembangunan gedung baru di sebelah hotel gang ketiga itu. Hotel itu sendiri sudah berdiri megah. Banyak sekali pengunjungnya. Dan aku tahu hotel ini makin menyuburkan bisnis syahwat itu. Menyuburkan bisnis yang berpusat di gang kedua tempat aku tinggal itu. Ya, aku belum kemana-mana. Masih saja di bangunan empat kali enam ini. Masih dengan kesepian yang sama.

2

Sudah enam belas atau tujuh belas tahun aku di gang ini. Tentu saja sudah mengenal betul para perempuan pekerja malam itu. Beberapa perempuan sudah aku kenal selama sepuluh tahun terakhir. Beberapa hanya aku kenal beberapa tahun dan kemudian menghilang entah kemana. Tidak ada perempuan pekerja yang tinggal di gang ini lebih lama dari aku.

Dan gadis itu, aku baru melihatnya sekitar enam bulan terakhir. Gadis yang cantik. Pakaiannya dan cara berjalannya begitu terhormat. Tapi apalah artinya predikat terhormat itu kalau dia tinggal di rumah mewah bertingkat dua dengan arsitektur Italia yang menjulang berhadap-hadapan tepat di depan gubukku ini. Siapa yang tidak tahu tentang rumah itu? Itulah rumah tempat para pelacur paling terhormat. Mucikarinya wanita modis setengah bule. Maka wanita pekerjanya juga sering disewakan kepada para bule. Ada sekitar enam belas pelacur berkelas yang hanya disediakan untuk pelanggan berkelas. Katakanlah wanita di dalamnya memang kualitas ekspor. Sesekali aku melihat mobil mewah berhenti di situ. Aku tahu yang di depan adalah si sopir. Sedangkan penumpangnya di belakang adalah orang yang sering aku lihat di TV warteg. Sesekali seorang artis, sesekali menteri dan keseringan adalah para anggota dewan. Ah sudahlah, aku tidak akan ambil pusing soal itu. Aku hanya orang miskin yang kebetulan melihat tamu-tamu rumah mewah itu dari gubuk minimalisku ini. Dan dengan mobil itu, mereka biasa membawa satu atau dua pekerja seks berkelas itu. Tidak pernah tiga. Mereka tidak akan kuat.

Semua wanita pelacur itu, mau berkelas atau tidak, ya sama saja. Pekerjaan kotor, hasilnya pun kotor, lahir batin pasti ikut kotor.

Tapi gadis itu beda.

3

Siapakah gadis itu? Tidak ada yang tahu betul. Teman-temanku yang juga sering menilai semua perempuan di gang itu pun pasti hanya akan berhenti pada pernyataan: entahlah, baru enam bulan aku melihatnya.

Usianya kira-kira sekitar 25 tahun. Tidak seperti pelacur ekonomis atau pelacur paket hemat yang rata-rata sudah 30 tahun ke atas bahkan mereka masih menjual yang sudah menopause. Cantik, kulit putih terawat tanpa banyak make up, rambutnya hasil dari salon rutin, kukunya selalu berganti warna menyesuaikan warna bajunya. Dan bajunya sendiri, sekalipun aku tidak paham tentang merk ternama, tapi aku tahu semua yang dipakainya sangat mahal. Itulah tampilan fisiknya. Tapi itu semua tidak membuat kecantikannya spesial karena semua wanita di rumah begaya Italia itu memang seperti itu. Mucikarinya juga tidak seperti mucikari lokal yang hitam, gemuk dan kotor. Mucikari yang satu ini kalau dijual pun pasti laku.

Tapi ada yang spesial saat aku melihat cahaya matanya.

Sore itu aku beranjak pulang dari pekerjaan pembangunan gedung di sebelah hotel di gang tiga. Saat itulah aku berpapasan dengannya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapanku. Ada keteduhan di mata gadis itu. Ada kedalaman yang menyimpan perasaan tetentu di sana. Tatapannya sangat bersahaja hingga aku sejenak lupa kalau dia seorang pelacur. Hingga dia berbelok memasuki hotel baru itu dan predikat bersahaja itu buru-buru menghilang dari pikiranku. Pastilah hendak menemui klien hidung belangnya, kataku dalam hati.

Malamnya aku tidak bisa berhenti memikirkan sepasang mata gadis 25 tahun itu. Pikiranku melayang ke enam belas atau tujuh belas tahun yang lalu. Mencoba mengingat kembali kenangan akan tatapan mata yang sama. Yang pernah membuatku jatuh hati untuk yang terakhir kalinya. Tidak pernah lagi aku jatuh hati pada pemilik mata lain setelah itu. Mata itu yang kini tidak lagi di sisiku. Yang membuatku kesepian enam belas atau tujuh belas tahun terakhir ini.

Lita, pemilik mata teduh itu, yang tetap teduh ketika kesedihannya yang terakhir itu sebelum dia meninggalkan kehidupan rumah tangga kami. Lita, perempuan yang aku nikahi ketika usia kami masih telalu dini akibat kelakuan kami yang kelewatan. Kami dinikahkan ketika usia kami sama-sama lima belas tahun. Dan akhirnya keluarganyalah yang mendesak Lita untuk meninggalkanku bahkan sesaat sebelum anak kami lahir karena aku tidak pernah bisa menghidupi kami berdua. Aku adalah anak yatim piatu yang tidak becus cari duit.” Kata bapaknya ketika itu. “Menghidupi diri sendiri saja sulit, jangan bermimpi bisa menghidupi anak istrimu.” Tambahnya.

Bersamaan dengan hancurnya rumah tangga kami, aku memutuskan untuk pergi ke kota. Aku tidak mau lagi merepotkan kakekku yang selama ini menghidupiku dengan uang pensiunnya yang pas-pasan. Sudahlah, aku ingin meninggalkan desa dan biarlah masa laluku tertinggal di desa itu. Aku berangkat ke kota untuk mencari hidup baru.

4

Hanya sekali itulah aku berpapasan mata dengannya. Selebihnya justru aku tidak memahami apa yang aku rasakan. Mata teduh itu selalu setia mendatangi benakku ketika aku mulai sulit tidur dan kesepian di ruangan empat kali enam ini. Nampaknya keteduhan tatapannya terlanjur mengendap.

Suatu saat, ketika aku tidak bisa tidur aku mencoba duduk menghadap jendela. Gawang jendela itu cukup rendah hingga aku bisa melipat lenganku di atasnya sekaligus menyangga daguku. Posisi yang sempurna untuk melamun. Anginnya pun sejuk. Saat itulah aku melihat mobil mewah berhenti di depan rumah Italia itu. Gadis itu turun. Dia baru pulang jam segini ternyata. Aku menengok jam yang tergantung di dinding. Jam setengah 3 dini hari. Dan selanjutnya aku tahu itu adalah jadwal kepulangannya. Itu jika dia ada panggilan keluar. Jika pelanggannya yang datang kerumah, pelangan itu akan keluar juga sekitar jam dua-an. Pelacur berkelas memang terjadwal, pikirku. Untuk waktu berangkatnya, aku sering melihatnya ketika aku pulang kerja. Tidak berpapasan, hanya melihatnya dari jauh dan dia beberapa kali berbelok ke hotel baru itu. Benar saja, hotel itu memang memfasilitasi bisnis basah tersebut. Jika dia sedang tidak ada keperluan di hotel itu, aku pasti akan melihatnya keluar dari rumah mewah itu dengan berjalan kaki atau dijemput mobil mewah atau jika sedang tidak perlu keluar rumah, pelanggan akan datang di jam yang sama. Hingga aku bisa menyimpulkan jam kerjanya dimulai sekitar jam 5 sore.

Tiap hari adalah harapanku untuk melihat sosoknya keluar rumah mewah itu, melewati kandang kecil berukuran empat kali enam meterku. Tentu saja dia tidak bisa melihatku di balik gawang jendela ini karena ada semak tanaman yang tak terurus di sana. Tiap hari adalah kebutuhanku untuk melihat sosoknya, dan melihat sedikit tatapan teduh itu yang telah menjadi candu. Sore hari dia akan mengobati lelahku setelah bekerja dan malam hari dia akan menemaniku ketika aku tidak bisa tidur. Walau hanya sekian detik dan dia akan bergegas memasuki rumah angkuh itu. Saat malam tiba, sosok yang sedang pulang itu akan mengisi kerinduanku. Tapi ketika sore tiba, sosok yang hendak berangkat itu membuat hatiku pilu. Dan aku menyadari bahwa sepiku lambat laun telah terisi.

Ya Tuhan, aku jatuh cinta pada seorang pelacur!

5

Inikah yang dinamakan cinta, ya Tuhan? Aku telah merasakan rindu dan cemburu terhadapnya. Seperti yang aku rasakan ketika mengenal Lita kala itu.

Oh, Lita. Lihatlah ada seorang perempuan bertatapan teduh seperti kamu. Apakah Tuhan telah mendatangkan pengganti bagiku karena aku telah layak untuk menikah lagi? Karena aku sudah bisa mandiri? Tapi kenapa Tuhan mengirimkan pelacur itu untuk membuatku jatuh cinta lagi? Ataukah itu adalah ujian dari Tuhan? Tentu saja ini adalah unjian-Nya. Lihatlah diriku ini. Aku hanya kuli bangunan, sedangkan dia tinggal dirumah mewah serta angkuh itu. Tapi bukankah dia hina? Sedangkan aku bekerja dengan halal. Apakah itu petunjuk serta cobaan dari Tuhan tentang bagaimana hakikat dari saling melengkapi dan saling menolong?

Lita, seandainya tidak ada tatapan bersahaja itu, aku tidak akan memiliki harapan untuk melanjutkan hidup. Tapi mengapa tatapan begitu teduh seteduh dirimu itu harus dimiliki oleh seorang pelacur? Inikah hukuman dari Tuhan atas dosa-dosaku di masa lalu?

Lita, aku tidak tahu dimana dirimu berada. Enam belas atau tujuh belas tahun ini nampaknya Tuhan memang tidak mentakdirkan kita untuk bertemu kembali. Usiaku dulu masih terlalu dini untuk kita bertemu. Itulah dosaku. Saat ini aku berusia tiga puluh dua atau tiga puluh tiga. Aku sendiri tidak mampu lagi mengingatnya. Namun cukuplah diriku untuk disebut sebagai pria dewasa. Apakah Tuhan mengirimkan cinta itu karena aku sudah dewasa? Karena aku berhak untuk cinta itu? berhak untuk merasakan cinta lagi? Tapi mengapa cinta itu hadir dalam bentuk seorang pelacur? Apakah sekali lagi ini adalah hukuman atas dosa-dosaku?

Ya Tuhan, sejenak aku lupa siapa diriku. Sejenak aku buta akan jati diriku. Siapalah aku? Untuk mendekatinya saja aku tidaklah pantas. Cobalah lihat para menteri, pejabat dan artis yang sering berkunjung itu. Duitnya pastilah tak terbatas. Dan waktumu itu pastilah sudah berharga jutaan per jamnya. Atau sejumlah nominal  yang sama sekali tak pernah terbayangkan banyaknya. Siapa namamu, bahkan aku tidak tahu.

Siapa namamu, bahkan aku tidak tahu.

6

Ditengah kerinduan pekat ini, cinta memang membuat mati rasa dan mati pikiran. Kukumpulkan seluruh tabungan yang senilai gaji tiga bulan itu lantas kunaiki sepedaku ke arah pasar di belakang terminal. Kujual sepedaku. Demi cinta aku bersedia berkorban banyak hal. Mungkinkah uang segitu bisa membuat sang mucikari menjual sedikit waktu gadis bertatapan teduh itu padaku? Besok aku akan mencobanya. Setidaknya aku masih memiliki kemampuan menawar. Setidaknya aku akan hanya ingin bercakap sebentar dengannya. Setidaknya aku bisa tahu namanya. Itu saja.

7

Di sebuah kamar di lantai dua dari rumah bergaya Italia itu seorang gadis cantik sedang memandang melalui celah kecil korden jendela keseberang jalan. Ke arah bangunan mungil seukuran empat kali enam meter. Dengan mata yang sangat teduh.

Akhirnya aku menemukanmu wahai lelaki pekerja keras. Aku begitu mengenalmu setelah perjumpaan kita di depan hotel itu. Aku selalu memandangmu dari jendela ini. Memandangi wajahmu yang selalu saja ada di jendela kecil itu setiap malam. Aku merindukanmu.

Aku telah mencarimu. Hanya bermodal foto ini dan namamu. Dan orang-orang terminal kota sebelah itu mengenalmu. ‘Gang kedua dari ujung’, kata mereka. Untunglah engkau tidak pernah beranjak dari sini. Tidakkah kau mengenali aku? Aku sudah lama mengenalmu wahai lelaki yang penuh dengan ketabahan.

Aku mencarimu bertahun-tahun. Tapi apa daya, kekejaman kehidupan kota telah mengubahku seperti ini. Aku telah berubah. Sedangkan engkau, masih saja sama seperti foto yang selalu saja aku bawa ini. Fisikmu memang berubah. Tapi aku melihat kenangan seseorang yang sama di matamu.

Aku telah berubah, maukah engkau mengenaliku sekali lagi? Berusahalah mengenaliku!. Aku mohon berusahalah! Aku tahu hidupku sangat kotor. Aku tahu engkau menganggapku hina. Hidupku memaksaku dewasa sebelum waktunya. Hidupku telah memaksaku untuk tampil 10 tahun lebih dewasa.  Maafkan aku karena belum bisa menyapamu waktu itu, ayah…