Posts Tagged ‘kepercayaan’

1

Pamali itu bagaikan candu. Keyakinannya membuat seseorang menutup mata terhadap sains. Atau bisa jadi ketiadaan sains yang menyebabkan mereka percaya pada pamali. Katakanlah dua kutub itu menjadikannya sebuah lingkaran setan di negeri yang sedang berkembang ini. Ya, lingkaran setan. Setan ikut berkeliling di lingkaran itu dan akan terus mengelabuhi manusia dimanapun ia berada. Setan juga akan mengelabuhi orang kota. Jika di desa disebut pamali maka orang-orang kota akan menyebutnya sebagai urband legend.

Gelar kesarjanaanku tentu saja tidak penah mengajarkanku tentang pamali. Tapi lingkunganku justru menyajikan yang sebaliknya. Untunglah aku bagai katak yang berhasil keluar dari tempurung mistik. Sejak SMA aku sekolah di kota. Kuliahpun di kota. Pamali itu sedikit demi sedikit aku pahami sebagai bentuk lain dari pesan moral orang tua kepada anaknya.

Aku pernah ingat ketika mamak berkata, “Le, kalau makan gak boleh pindah-pindah.” Katanya ketika aku beranjak dari meja makan untuk mendekat ke arah televisi. Lesehan di lantai. “ Gak boleh Le, bisa dapat ibu tiri kamu nanti.” Begitu katanya. Tentu saja dengan otak sarjanaku sekarang, aku hanya tersenyum karena betapa lucunya orang tua jaman dahulu dalam mengajarkan moral. Sudah pasti isi pesan dari pamali itu mengajarkan untuk tetap diam di tempat selama makanan belum habis. Dan belakangan aku baru tahu kalau pamali yang bisa mendatangkan ibu tiri itu agak fleksibel: boleh berpindah asal ke tempat yang lebih baik atau lebih layak. Misalnya dari lantai ke meja makan. Bukankah itu inti dari pesan moral tersebut? Yaitu makanlah di tempat yang baik dan layak.

Jika aku meniatkan, bisa jadi daftar pamali pembentuk moral di usia pendewasaanku itu menjadi satu buku berjudul ‘Ensiklopedia Pamali di Indonesia’. Suatu hari aku berkonsultasi dengan dokter gigi pribadi sewaktu masih di kota dulu. Dan ajaib, petuah dokter gigi itu mirip dengan pamali yang dikampanyekan mamak. “Le, jangan suka menggigit bibir bawah macam itu.” katanya sambil menyentil bibirku dengan keras. “Kelak kamu seret rejeki, lho. Dan jangan terbiasa menggigit yang atas, bisa-bisa kamu nanti banyak hutang.” Katanya ketika itu. Luar biasa, jangan-jangan mamak berbakat jadi dokter gigi. Tentu saja bukan perkara rejeki yang sejalan dengan dokter gigi itu. Tapi perkara gigit menggigit bibir itu. Dokterku bilang jika punya kebiasaan menggigit bibir bawah, gigi atas jadi mrongos. Jika bibir bawah yang digigit, gigi bawah bisa-bisa nyakil. Mana mungkin mamak dengan ilmu sekapasitas lulusan SD itu tahu menahu urusan gigi. Tapi belakangan aku berpikir,  bisa jadi kalau gigi tidak rapi, rejeki juga jadi seret.

Untuk urusan jodoh, pamali mamak lagi-lagi membuatku terkesan meski tidak seketika. “Le, ingat, jangan malas menghadiri undangan pernikahan. Bisa sulit jodoh kamu nanti.”

Jodoh urusan Tuhan tentu saja, bukan urusan hadir atau tidak hadir kan?

Tapi beberapa tahun setelahnya aku terpaksa mengingat kembali kata-kata mamak. Karena Lastri, istriku, adalah wanita yang membuatku jatuh hati saat aku pertama kali bertemu dengannya, di sebuah acara pernikahan seorang teman.

Pernah juga sesekali aku mencoba berkeras hati untuk tidak menggubris peringatan mamak. Karena waktu itu aku mulai dewasa dan dengan akal SMP ku, aku mulai berpikir rasional. Katanya, “Jangan duduk di depan pintu, Le. Kalau ada setan lewat, kamu bisa jatuh sakit.” Mana bisa setan bikin sakit? Kataku dalam hati. Tapi apa yang terjadi berikutnya tidak jauh dari teori pamali  mamak. Wening, mbakyu kandungku tiba-tiba berlari sambil menyenggol daun pintu. Pintu terhempas dan tanganku terjepit. Dalam hati aku tetap tak terima pamali mamak menang. Kan bukan setan yang lewat, tapi mbak Ning. Eh, bisa jadi setan yang menyuruh mbak Ning untuk membuatku sakit. Bukankah setan penuh tipu daya dan sangat manipulatif? Ah, entahlah.

“Makanya dengerin yang dibilang orang tua, Le.” Kata mamak.

Aku hanya meringis memegangi ketiga jari kananku yang terjepit tadi. Sakitnya luar biasa. Sambil beranjak masuk kedalam. Tidak di depan pintu lagi. Baiklah aku mengalah kali ini mak.

Maka selanjutnya aku berkuat hati untuk berdamai dengan pamali mamak yang semakin tak masuk akal. Bisa saja aku berhasil melawan mitos-mitos itu saat di rumah. Tapi lihatlah, ketika aku diluar, orang-orang di sini sudah sama macam mamak saja. Jangan inilah, jangan itulah. Benar-benar semua yang dikatakan mamak ketika di rumah, aku dengar lagi ketika di luar rumah.

Syukurlah, tempurung itu mulai terbuka ketika pintu kelulusan SMP juga terbuka. Tidak ada SMA di kampung sini. SMA hanya ada di kota. Maka SMA adalah penumbuh kecerdasan rasionalku. Tapi bukan mamak jika tidak membekaliku dengan segudang pamali yang sampai sekarang masih saja aku ingat. Bukan karena pesan moralnya, tapi karena mamak nampaknya telah mengeluarkan semua pamali bermuatan moral sejak aku kecil, dan sekarang mamak kehabisan pamali bermoral itu. Maka sisanya tinggal yang aku anggap sebagai  lelucon.

Sebelum aku berangkat ke asrama SMA, mamak berpetuah, “Perhatikan tidurmu. Jangan tidur dengan kepala di utara dan kaki di selatan, nanti cepet meninggal. Jangan tidur menjelang maghrib, nanti bisa gila. Kalau mandi jangan di siang bolong, nanti cepet tua. Perhatikan cara makanmu juga. Jangan telalu sering makan pakai mangkuk, nanti saudaramu ada yang meninggal. Jangan suka membuang nasi jika sudah kenyang, nanti terjadi konflik keluarga. Perhatikan juga cara berbicara, bla bla bla….”

Aku banyak mengangguk, banyak tersenyum tapi tidak banyak mendengarkan. Sekedar formalitas sebagai anak berbakti yang hendak merantau saja. Biar mamak tidak cemas.

 

2

Sekarang rumahku di desa sudah berubah status menjadi hanya sekedar tempat lahir. Sekarang aku sudah berkeluarga dan sudah punya rumah sendiri di kota. Bersama istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Sesekali aku mengunjungi mamak sepanjang aku sekolah dan kuliah. Tiap liburan semester aku pasti pulang. Dan sekarang adalah kunjungan kami kedua semenjak kehamilan istriku.

Seperti yang aku duga, mamak dengan petuah-petuahnya selalu saja ada yang dipamalikan. Bukan aku yang menerima petuah itu sekarang. Tapi istriku.

Nduk, kalau lagi hamil ingat ya, kamu ga boleh terlalu banyak bersedih biar anak kamu kelak tidak jadi anak cengeng. Makanmu harus diperhatikan juga ya, nduk. Jangan terlalu banyak makan cakar ayam, nanti anakmu tulisannya kayak cakar ayam juga.”

“Sudahlah mak, Lastri kan perawat. Dia lebih ngerti bagaimana menjaga kandungannya. Dia sudah paham betul pola makan sehat untuk bayinya.”

Le, kamu itu dikasih tau selalu saja ngeyel. Kamu itu jangan main-main sama pamali. Bisa kualat!” kata mamak sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Matanya melotot marah.

“Sudahlah mas.” Lastri berbisik ketika mamak sudah beranjak menjauhiku dengan sebal. “Apa salahnya mendengarkan saran mamak. Hanya mendengarkan saja tanpa banyak melawan kan bukan berarti ikut mempercayai.”

Aku mengangguk saja. Menurut.

“Mas, aku nyidam lagi nampaknya.” Katanya sambil menarik lengan bajuku.

“Eh? Katakan saja sayang, mas ini selalu siap sedia menuruti apa yang kamu mau. Eh, maaf, apa yang kalian mau.”

 

3

“Mak, ayamnya boleh aku sembelih satu?” tanyaku pada mamak. “Lastri nyidam pengen makan opor ayam kampung.”

“Oalah. Le… Jangan macam-macam kamu Le…” teriak mamak. “Istrinya lagi hamil kok mau membunuh binatang. Gak boleh itu Le…”

“Mak, jangan katakan itu lagi. Percuma anakmu ini sekolah sampai sarjana kalau masih percaya hal seperti itu. Nanti aku belikan ayam lagi, mak. Jika mamak sayang kehilangan satu ayam itu. Aku bisa belikan dua nanti. Lastri bisa saja aku belikan daging ayam kampung di pasar. Tapi Lastri nyidamnya sama ayam mamak yang itu.” kataku sambil menunjuk ayam kampung hitam yang sedang asik mematuk di halaman depan. Berharap dengan dalih nyidam, ketidaklaziman apapun akan segera dimaklumi.

“Bukan, Le.. bukan semata-mata karena itu. Mamak gak masalah ayam yang satu itu disembelih. Tapi mamak lebih sayang sama jabang bayimu itu. Pamali, Le…pamali… Anakmu bisa lahir cacat. Tidak boleh membunuh atau menganiaya binatang jika istrimu sedang hamil.”

“Mak, pamali itu hanya untuk anak kecil. Biar mereka nurut, ngerti tata krama dan sopan santun tanpa banyak bertanya karena takut kualat. Aku sudah dewasa mak, sudah sarjana. Aku tahu membunuh atau menganiaya binatang itu tidak boleh. Tidak peduli saat istrinya sedang hamil atau tidak. Tapi aku menyembelihnya dengan berucap Bismillah. Itu beda dengan membunuh atau menganiaya. Sudah, mak, biar aku potong sekarang ayamnya.” Kataku sambil begegas mengambil pisau dapur.

“Jangan, Le. Jangan!” Mamak menarik ujung bajuku, menahanku. Tapi aku lebih gesit. “Biar Lek Karto yang motong.”

Aku mendengar mamak teriak-teriak memanggil Lek Karto yang tinggal di depan rumah mamak. Saat aku keluar Lek Karto nampak bergegas berlari sambil memgang sarungnya yang kedodoran.

“Ada apa ribut-ribut?” tanya Lek Karto. Sarungnya sudah rapat sekarang.

“Ini, To… Lihat, si Danar keponakanamu ini, mau motong ayam. Padahal istrinya hamil tua.” Kata mamak sambil mengacungkan telunjukknya kearahku.

Ngger, mbok ya kalau mamakmu memberi nasihat itu didengarkan.” Tentu saja Lek Karto makmum sama pendapat mamak. Orang di desa ini semuanya juga akan mengatakan hal yang sama. “Bahaya, itu. Anakmu bisa lahir cacat.”

“Aku tidak percaya hal-hal macam itu Lek.”

“Jangan kalap kamu ngger, kualat kamu nanti. Lihat anaknya si Dullah, kakinya bengkok karena waktu istrinya hamil dia tidak sengaja memutuskan kaki belalang untuk umpan pancing.”

Itu kan polio, pikirku. Anaknya si Dullah tidak diimunisasi karena puskesmas jauh.

“Lalu si Amat, yang menggunakan umpan pancing yang disiapkan Dullah, istrinya sedang hamil juga. Ikan yang tersangkut di pancingan itu bikin dia kualat. Perut anaknya jadi buncit seperti mau meledak.”

Itu kan busung lapar. Keluarga Amat memang miskin. Hidup dari jualan ikan yang dipancing atau dijalanya dari sungai besar batas desa. Anaknya kurang nutrisi.

 

4

Dengan ketetapan hati dan kerasnya pendirianku, tentu saja nasib ayam kampung mamak berakhir di tanganku dan pisau dapur itu. Kupotong ayam mamak dengan bacaan Bismillah. Tidak ada keraguan sedikitpun. Otakku sudah mengenal sains dan agama. Mengenal teori-teori yang memberiku gelar sarjana. Maka dari itu aku berani melawan adat kampung. Sekalipun ditentang oleh beberapa tetangga yang segera menyusul datang karena mendengar ribut-ribut di depan rumah mamak waktu itu, aku tetap berhak memiliki pendirian sendiri. Pengetahuan harus ditegakkan. Modernisasi tak bisa ditolak. Agama harus dimurnikan dan ajaran moral harus direvisi. Pamali harus hilang dan diganti dengan nasihat moral rasional.

Tapi apa yang terjadi dua bulan setelahnya adalah pembantaian tehadap seluruh ilmu beserta prinsip-prinsip idealisme kebenaran yang aku pelajari selama ini. Mungkinkah sains tidak lagi bertaring? Mungkinkah ilmu pengetahuan itu sudah semacam tren yang suatu saat kebenarannya valid seratus persen dan suatu hari akan kadaluarsa? Mungkinkah pengetahuan itu kembali ke titik primitif dan kita kembali ke ranah mistik untuk menjelaskan hal-hal yang tidak terjelaskan? Aku tidak percaya mistisisme pamali beserta hukuman tehadap pelanggarnya yang kena kualat. Tapi siapa yang akan menjelaskan secara meyakinkan dan gamblang ketika aku melihat Lastri melahirkan bayi yang cacat? Ya, bayi kami cacat!

Bagaimana cara aku menghadapi mamak dengan bayi cacat ini? Bayi tidak bersalah yang harus menanggung pelanggaran pamaliku. Bagaimana aku menghadapi para kerabat dan tetangga yang kala itu telah melarangku sekuat tenaga untuk tidak memotong ayam kampung mamak? Dan aku keras kepala hanya karena aku sarjana. Padahal mereka telah hidup dengan segala adat istiadat dan kearifan budaya yang telah lama terbentuk dan tak terusik. Mereka lebih paham akan filosofi hidup. Sedangkan aku masih begitu muda menjalaninya. Apakah mereka akan memaafkan dan memaklumi segala keputusan emosional jiwa mudaku? Ataukah mereka akan memvonisku sebagai ‘pelanggar pamali yang kualat’ yang nantinya dapat dipakai untuk menuturkan ke anak cucu mereka sebagai contoh yang buruk? Aku menyesal, bukankah perkataan mamak selalu ada benarnya? Maafkan aku, mak. Aku menyesal.

Tiada guna gelar sarjana dan kehidupan modern yang aku jalani delapan tahun terakhir.

 

5

Tentu saja aku masih berdiri di sini. Masih di depan halaman rumah mamak memegang pisau dapur sementara pikiranku berkelebat melayang apa yang akan terjadi dua bulan ke depan. Dan lihatlah, tentu saja ayam mamak masih menikmati masa hidupnya di depan sana. Dan aku kini berdiri di antara mamak, Lek Karto dan beberapa tetangga yang tadi berusaha mencegahku mengejar ayam mamak. Mencegah aku kalap melanggar pamali. Mereka mengkhawatirkan bayiku.

Sebenarnya bukan karena aku kalah banyak. Bukan karena mereka lebih banyak sehingga marahku mereda. Tapi ada Lastri yang sekali lagi menenangkanku. Dia keluar karena mendengar ribut-ribut. Sesaat dadaku sesak ketika Lastri menggenggam tanganku. Tiba-tiba aku benar-benar mengkhawatirkan bayi kami. Tentu saja aku akan mengusahakan apapun untuk menjamin kesehatan bayi kami. Apapun, yang tidak masuk akal sekalipun. Baiklah, mak. Aku menurut.

Kuserahkan pisau dapur itu. Biarlah Lek Karto yang memotong ayamnya.

Iklan