Posts Tagged ‘fiksi’

Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Iklan

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

[Cerpen] Rencana

Posted: Mei 13, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

“Fira, dia jadi bisa datang kan malam ini?” tanya mama sambil menyetrika gaun yang hendak dipakainya perdana malam nanti. “Soalnya mama udah reserve untuk lima orang. Papamu juga udah berhasil melobi rekannya. Mereka bisa menyediakan posisi yang enak buat kita berlima.”

“Jadi dong ma, kebetulan hari ini dia jaga shift siang kok. Malamnya udah free.” Jawab Fira sambil meraih handuk mandinya. “Hebat juga ya Papa, bisa punya koneksi orang dalam. Kok ga bilang dari dulu sih? Fira kan jadi ga perlu repot-repot ngantri kalau ada film bagus.”

“Ya ga enak juga dong Ra. Meski Pak Kusno itu sobat papa waktu kuliah, malu lah kalau telalu sering minta tolong. Kalau bukan untuk perayaan ulang tahun adikmu, ga mungkin lah papamu minta tolong sama Pak Kusno yang super sibuk itu.”

“Iya juga ya ma. Uda dikasi tempat aja uda spesial banget lho ma. Tau ga ma, film The Avengers yang mau kita tonton tu emang kelewat terkenal lho. Sejak dari pemutaran perdana, Fira nitip sama temen yang bisa ngantriin dari sebelum bioskop dibuka. Eh, tetep ga kebagian juga tiketnya.”

“Iya, mama tau itu film juga udah ditunggu-tunggu sama adikmu. Pokoknya mama sama papa udah nyiapin kejutan besar-besaran. Kita ga sekedar dapet tiket dan tempat duduk yang enak aja lho. Kabarnya Pak Kusno bahkan memberi kita tiket teater IMAX. Gratis.”

“Hah! Yang bener ma?” mata dan mulut Fira melebar tanda tak percaya. Fira tahu teater IMAX adalah teater dengan teknologi terbaru yang kualitas gambarnya di atas kualitas tiga dimensi biasa. Dan mereka akan menonton film terkenal itu ditempat duduk strategis, tanpa perlu mengantri dan tentu saja dengan kualitas teater IMAX yang belum seminggu dibangun. Ditambah satu kesempurnaan penutup: semuanya gratis!

“Wah…wah…Fira mendadak merasa dianaktirikan ma.”

“Ya nggak dong Fira sayang.” Kata mama sambil tesenyum. “ Ini sekaligus sebagai hadiah buat adikmu yang udah berhasil diterima di UGM tanpa jalur tes. Nanti papa mama juga mau kasih hadiah buat Fira kalau bisa lulus semester ini dengan IP di atas 3,5 ya.”

“Janji ya ma.”

Mama mengangguk masih dengan senyumnya.

“Terus, mama udah pesen tempat dinner dimana?”

“Lihat saja nanti ya Fira. Mama juga udah koordinasi sama yang punya restoran. Pokoknya bakal ada kejutan juga di sana. Dia teman mama waktu SMA. Kamu ingat sama tante Linda?”

“Oh, iya ma. Tante Linda yang nasi gorengnya bikin Fira ketagihan itu kan?”

“Iya, nanti kita dinner di salah satu restoran terbaik punya Tante Linda.”

“Restoran yang mana? Tante Linda kan punya banyak.”

“Lihat saja nanti Fira. Pokoknya kejutan spesial deh.”

“Kan bukan Fira yang harus dikejutkan ma. Yang ulang tahun kan bukan Fira…”

Samar-samar mereka mendengar pintu depan dibuka kemudian di tutup kembali.

“Sssst… itu adikmu udah pulang.” Kata mama sambil berbisik.  “Udah jangan dibahas lagi. Buruan mandi sana.”

Fira yang dari tadi telah memegang handuk segera bergegas ke kamar mandi.

“Mamaaaaa,,,,coba liat ini…hiiiiiii.” teriak Fatma, adik Fira, sambil menunjukkan kawat gigi barunya. “Fatma pilih warna karetnya hijau tosca ma, keren kan.”

“Kok adek pilih hijau? Kan jadi kayak ada bayam nyelip.” Ledek mama.

“Mana ada bayam warna hijau tosca ma. Tapi gigi Fatma uda mulai ngilu ni ma.”

“Ya sabar dong sayang, katanya mau giginya dirapiin sebelum masuk kuliah.”

“Iya ma, biar Fatma ga malu. Giginya ga boleh berantakan kalau mau kuliah di kedokteran gigi, hehehe.” Kata fatma sambil nyengir setengah sengaja menampakkan kawat giginya yang hijau tosca. “O iya ma, tadi biaya kawat giginya didiskon 50% lho. Kata dokter Rifqie, itu untuk hadiah ulang tahun Fatma.”

“Oya kah? Sudah bilang terima kasih ke dokter Rifqie?”

“Waduh, lupa ma. Lagian wajar aja dong ma kalau dokter Rifqie kasih diskon. Selain karena Fatma ulang tahun, Fatma kan calon adik iparnya, hehehe.”

“Fatma ga boleh gitu. Nanti dokter Rifqie kan diundang dinner juga, pokoknya nanti adek harus bilang terimakasih ke dia ya. Dokter Rifqie juga yang nanti bakal nemenin Fatma ke UGM untuk melihat-lihat calon kampus kamu itu.”

“Iya, nanti Fatma bilang terimakasih ke dokter Rifqie. Katanya dia bakal sampai sini jam enam. Oiya ma, sisa ongkos kawat giginya ga perlu dibalikin ke papa kan? Buat Fatma aja ya. Lumayan buat traktir temen-temen.”

“Iya, boleh. Papa kan udah kasi duit itu sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi terserah Fatma mau dipakai untuk apa.”

“Horeee… jadi ga sabar pengen nunjukin gigi Fatma ke papa. Jam berapa papa pulang ma?”

“Sekarang papa masih di Jakarta. Nanti jam empat papa telepon kalau udah mau pulang.”

Fatma menengok ke jam dinding. Jam tiga lebih sepuluh. Masih lama. Pikirnya.

“Fatma nyicil packing barang bawaan yang mau dibawa ke Jogja aja sana. Kita besok berangkat naik pesawat pagi-pagi. Biar ga buru-buru. Agenda kita hari ini sampai malam soalnya.”

“Oke ma.” Fatma ngeloyor ke kamar dan berkutat dengan beberapa pakaian dan tas ranselnya.

Mama tersenyum melihat anaknya yang kini sedang bertambah umurnya. Kebanggaannya juga berlipat ketika mendapatkan kabar bahwa Fatma diterima di FKG UGM. Tangannya sudah berhenti memainkan setrikaan sekarang. Gaun biru itu sudah licin dan tergantung anggun di hanger. Mama memandangi dengan tersenyum. Membayangkan dirinya berada di dalam balutan gaun itu nanti malam.

Untuk urusan perencanaan, mama nampaknya sudah mantap. Rencana itu sudah dipikirkannya dengan papa sejak seminggu yang lalu. Mama mengingat-ingat daftar agenda yang tersusun rapi di pikirannya. Mencoba mendata kembali dan mencari apa saja yang kurang. Mama mulai dengan agenda tedekat. Suaminya dipastikan akan menelepon jam empat. Biar Fatma yang mengangkatnya. Dibuat seolah menelepon dari Jakarta padahal sebenarnya  sudah ada di depan rumah untuk memberikan kejutan buat Fatma. Suaminya juga sudah menyiapkan kejutan sendiri yaitu replika Captain America yang sudah beberapa bulan yang lalu diidamkan Fatma. Suaminya sampai harus order ke luar negeri untuk mendapatkan replika yang Fatma mau. Kemudian jam enam, sudah dipastikan pacar Fira, dokter Rifqie, bisa datang. Artinya restoran dan bioskop yang di booking untuk lima orang bisa terisi lengkap. Kemudian Tante Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Konfirmasi terakhir sudah dilakukan mama sejak tadi siang dan Tante Linda bilang kue ulang tahun dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Kata Tante Linda lagi, ga cuma Fatma yang akan terkejut, pasti yang lain juga bakal terkejut karena Tante Linda juga mempersiapkan kejutan kecil lainnya. Dinner spesial ini juga nantinya akan dipakai untuk lebih mengenal dokter Rifqie. Prosedur standar untuk lebih mengenal calon menantu. Selesai dinner agenda selanjutnya adalah nonton The Avenger. Film yang sangat dinantikan Fatma sejak pemutarannya perdana empat hari yang lalu namun tidak pernah kebagian tiketnya. Pak Kusno sudah mengirimkan kartu free pass via pos yang tiba di rumah kemarin siang. Mama maklum karena Pak Kusno tidak mungkin punya waktu untuk menyerahkannya sendiri.

Semua sudah beres. Pikir mama sambil senyum-senyum sendiri. Mama tersenyum meskipun tahu bahwa agenda malam ini akan membuat mereka semua kecapekan. Dan besok pagi, masih ada agenda lain yaitu berangkat ke Jogja untuk melihat-lihat kampus Fatma sekaligus mencari info kos-kosan.

Lamunan mama teputus oleh dering telepon di ruang tengah.

“Biar Fatma yang angkat ma.” Teriak Fatma sambil berlari ke ruang tengah. “Itu pasti papa.”

Mama melihat jam dinding. Masih jam setengah empat. Baguslah kalau suaminya bisa pulang lebih awal.

“Maaa… dicari pak Suryo.” Teriak Fatma dari uang tengah. Mukanya agak kecewa karena orang yang menelepon bukan papa.

Pak Suryo adalah atasan suaminya di kantor. Haduh, jangan-jangan papa harus pulang telat. Keluh mama dalam hati.

“Halo, selamat sore Pak Suryo.” Kata mama mengambil alih gagang telepon.

“Sore, bu.” Kata Pak Suryo di seberang sana.

“Iya, ada apa pak?”

“Begini bu, saya mau memberitahukan, bahwa…pesawat yang ditumpangi suami anda…hilang kontak sejak satu jam yang lalu. Mohon ibu bersabar dan tetap berdoa…”

Kata-kata Pak Suryo berikutnya sudah tidak dapat dicerna oleh akal sehatnya lagi. Tiba-tiba rasa sesak itu melanda hati mama. Pikirannya tak lagi terorganisir. Dan matanya, begitu kabur karena membendung air mata

Tanggal 9 Mei 2012. Ternyata Tuhan telah memiliki serangkaian rencananya sendiri sejak pukul 14.33.

Jogjakarta, 13 Mei 2012

Rifqie Al Haris

*Mengenang kembali peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Supejet 100 di Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012. Pesawat tersebut terbang pukul 14.12 dan hilang kontak pukul 14.33. Turut berduka bagi mereka dan kerabat-kerabat mereka yang harus rela menangguhkan rencana-rencana hidupnya untuk tunduk pada rencana Tuhan.

Supernova #3 : Petir by Dee

My rating: 4 of 5 stars

Detail Info:

Paperback, 286 pages
Published April 2012 by Bentang Pustaka (first published 2004)
ISBN13: 9786028811736
edition language: Indonesian
original title: Supernova: Petir

Sinopsis

Buku ini terdiri dari tiga Keping yang merupakan kepingan lanjutan dari dua seri sebelumnya. Keping 37 akan menghadirkan kembali tokoh Dimas-Reuben yang keduanya akan berurusan dengan kiriman e-mail Gio yang mengatakan bahwa Gio sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Keping 38 adalah inti cerita keseluruhan dari buku ini. Menceritakan tentang kehidupan Elektra, seorang Cina yang dipaksa bertahan hidup dengan sisa-sisa peninggalan Ayah yang telah meninggal. Elektra hidup sendiri setelah kakaknya, Watti, memutuskan tinggal bersama suaminya di Freeport.

Elektra yang memiliki kebiasaan malas-malasan dan kerjaannya hanya tidur siang jelas tidak siap menghadapi hidupnya yang menuntut untuk mandiri. Sarjananya sudah lama didapat, tapi dia tidak memiliki ketrampilan bekerja. Beberapa peluang pekerjaan dicobanya. Dari bisnis MLM hingga memenuhi panggilan kerja untuk menjadi asisten dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Gain Nasional yang belakangan baru diketahui bahwa surat panggilan itu ternyata hanyalah kerjaan orang iseng. Namun justru karena surat itulah Elektra akan menemukan gerbang metamorfosis dirinya. Untuk melengkapi syarat-syarat penggilan kerja itu, Elektra membeli perlengkapan klenik di sebuah warung yang memang dikhususkan menjual perlengkapan perdukunan macam itu. Di situlah akhirnya Elektra mengenal sosok Ibu Sati yang merupakan pemilik dari warung tersebut. Ibu Sati dijadikannya sebagai guru spiritual yang nantinya akan menginspirasi bisnis usaha Elektra sekaligus seseorang yang mampu menggali bakat ajaib Elektra yang berhubungan dengan listrik yang ada di tubuhnya.

Usaha Elektra menjadi berkembang pesat karena bantuan entrepreneur muda bernama Toni alias Mpret. Belakangan Toni akan menjadi penghubung antara kisah Elektra dengan Bodhi lewat sepupu Toni yang bernama Bong (tokoh Bong dan Bodhi di kisahkan di seri sebelumnya, Akar). Kisah yang diceritakan di Keping 39 ini akan menjadi sebuah awal untuk menjembatani kisah di seri berikutnya.

Opini

Buku ini masih mempertahankan konsep bab-babnya dalam bentuk “Keping” yang angkanya masih saja bersambung dari seri-seri sebelumnya. Di buku ini kepingan kisahnya akan melewati keping 37, 38 dan 39. Masih mempertahankan formasi 3 Keping, sama seperti seri sebelumnya, Akar.
Berbeda dengan Akar yang menghadirkan petualangan yang mendebarkan dan cukup serius, seri Petir ini justru menghadirkan kisah hidup yang sedikit santai dan bertaburan kekonyolan yang cerdas di beberapa bagian plotnya.

Pada keping awal kita kembali disajikan dengan pasangan homo Dimas dan Reuben yang sempat menghilang di seri Akar. Di sini mereka diceritakan sedang memperingati usia hubungan mereka yang telah berjalan 12 tahun. Nampaknya posisi mereka menjadi simpul yang mengikat di kedua seri sebelumnya setelah di akhir Keping 37 mereka mendapatkan kiriman e-mail dari Gio yang mengatakan bahwa dirinya sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang.

Hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva ini makin misterius saja. Ketika di seri pertama (Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh) kita disajikan sebuah kisah yang seolah kisah Gio-Diva adalah kisah karangan Dimas-Reuben semata. Namun teka-teki ini semakin terangkat ke permukaan saat kita amati bahwa di seri pertama, Dimas-Reuben tidak pernah menyebutkan nama Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin dan tokoh-tokoh di lingkungan kisah hidup mereka untuk tokoh karangannya. Mereka hanya menyebutknya sebagai: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Mungkinkah kisah yang paralel ini ternyata benar-benar berjalan beriringan yang jika dipikir-pikir, mungkin saja kisah Gio-Diva-Ferre-Rana-Arwin ini hanya kebetulan saja sama dengan kisah Ksatria-Putri-Bintang Jatuh karangan Dimas-Reuben. Kecerdasan Dee sebagai penulis saja yang menempatkannya seolah kedua kehidupan itu adalah realitas bertingkat antara dua orang penulis homo dan kehidupan tokoh yang ditulisnya. Padahal sebenarnya ada kehidupan yang lain yang sama-sama nyata dan kebetulan kisah hidupnya sama dengan kisah hidup tokoh karangan mereka. Inilah yang masih menjadi teka-teki dan nampaknya masih perlu beberapa seri lanjutan untuk menghubungkan teka-teki itu.

Seri Petir ini menghadirkan sebuah kehidupan tokoh baru bernama Elektra. Dengan segala kemampuan dan metamorfosis kehidupannya yang ajaib, tokoh ini akan dipertemukan dengan tokoh Bodhi di seri Akar. Lantas apa hubungan antara Dimas-Reuben dan Gio-Diva dengan Elektra-Bodhi? Ini yang masih teka-teki.

Favorite Quotes

“…kursi itu berguncang hebat pada akhirnya. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk Cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.” (hal 33)

“Air bisa menjawab dirinya ‘air sungai’ atau ‘air laut’. Tapi, kalau ia memilih menjawab ‘air’ saja, itu juga tidak salah, kan?” (hal 112)

“Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban.” (hal 229)

“…bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik, melainkan dari apa yang kamu lakukan.” (hal 248)

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Tiada yang mengalahkan kesegaran mandi sore seperti yang aku alami sekarang ini. Setelah sejak pagi bersuka cita berenang dan berendam di sungai belakang rumah, sekarang aku merasakan guyuran air rumah yang bersih dan segar untuk menetralkan air sungai yang kotor itu. Lihatlah, kesegaran ini sempurna betul ketika guyuran itu tercipta karena tangan-tangan kedua orang tuaku yang nampak benar  perhatiannya berlebih.

Aku memang masih pantas dimandikan. Setahun yang lalu aku juga dimandikan ketika aku ketahuan mandi di sungai. Aku diguyur dan diomeli. Wejangan yang berbalut vokal yang meninggi dari mamak dan cubitan yang berbekas kebiruan dari jari kasar bapak justru terasa lebih menciutkan daripada ancaman akibat buruk mandi dengan air sungai seperti kulit borokan misalnya. Namun nampaknya usiaku sekarang sudah cukup umur untuk mandi di sungai. Buktinya mamak tidak marah dan bapak tidak mencetot pantatku lagi. Aku dibiarkan mandi di sungai seperti bapak yang selalu berendam menambang pasir di sungai yang sama dengan sungai tempatku bersenang-senang. Barangkali bapak juga telah mempersiapkanku untuk mengembangkan kemampuan pengerukan pasir konvensional itu. Agar bisa melanjutkan profesinya kelak.

Maka inilah pertama kalinya aku diguyur dimandikan dengan suasana yang damai. Aku menikmatinya. Bahkan percikan airnya membentuk pelangi kecil ketika berpadu dengan sinar mentari sore. Membuat suasana ini begitu sempurna.  Lihatlah mata orang tuaku yang mulai menua itu. Ada kasih yang tak terbayar oleh materi. Usiaku enam tahun sekarang. Namun aku tak malu-malu seperti ini jika rasa kekeluargaan ternyata jauh lebih besar dari malu itu sendiri. Buat apa malu jika aku merasa luar biasa nyaman? Bahkan ketika beberapa kerabat tiba-tiba berkunjung ke rumah saat aku masih bugil dan basah, aku tidak merasa malu. Atau mungkin saja belum. Karena bapak segera menyudahi guyuran segar itu dan dengan cekatan mengambilkanku selembar pakaian.

Saat itulah aku mendengar para kerabat berkata, “Innalillahi wa innailaihi roji’un.” Ketika mereka melihat jasad bugilku selesai dimandikan.

Dan aku merasa melesat bersama kalimat itu.

Nibiru dan Kesatria Atlantis by Tasaro

My rating: 3 of 5 stars

detail info:

Hardcover, 692 pages
Published December 2010 by Tiga Serangkai
ISBN13: 9789790843462
edition language: Indonesian
original title: Nibiru dan Kesatria Atlantis

Review

Novel ini berkisah di tahun 13.359 Sebelum Masehi. Tokoh sentralnya bernama Dhaca Suli yang tinggal di sebuah daerah bernama Kedhalu. Kedhalu sendiri terbagi menjadi Kedhalu Utara dan Kedhalu Selatan. Masing-masing penduduknya memiliki ciri khas yang berlainan. Kedhalu utara lebih cenderung modern, beradab dan berpendidikan sekaligus pusat pemerintahan. Sedangkan Kedhalu Selatan adalah kebalikannya sehingga tak jarang penduduk Selatan menjadi cemooh para penduduk Utara. Dhaca Suli adalah anak Kedhalu Selatan.

Pada masa itu seluruh penduduk Kedhalu memiliki kemampuan kekuatan super yang disebut sebagai pugabha. Kekuatan super ini bermacam-macam dan setiap orang hanya memiliki satu bakat pugabha saja. Untuk mengetahui jenis pugabha apa yang dimilikinya, seseorang harus bisa memunculkan bakat dan melatihnya di sebuah sekolah bernama bephomany. Ada delapan macam pugabha yang bisa dikuasai orang Kedhalu yaitu: penguasa satwa, penguasa kekebalan, penguasa kekuatan raksasa, penguasa ketakkasatmataan, penguasa tirai gaib, penguasa ruang dan waktu, penguasa luka dan penguasa unsur alam.

Dhaca Suli adalah orang Selatan dengan tipikal tingkat pendidikan pugabha yang tidak setinggi orang Utara. Orang Selatan memang lebih unggul dalam bentuk kekuatan fisik daripada pendidikan. Ayahnya, Wamap Suli, adalah orang yang keras dan berharap Dhaca bisa lebih rajin lagi menuntut ilmu untuk mengembangkan pugabha-nya. Dhaca Suli yang sering membolos memiliki pugabha yang sangat jauh tetinggal dibandingkan teman-teman seusianya.

Namun kemalasan Dhaca Suli pun akhirnya luruh juga ketika menyadari kehancuran Kedhalu di depan mata. Konon menurut ramalan, setiap 5.013 tahun sekali Nibiru, sang raja pembawa kehancuran, akan datang. Di lain pihak negeri-negeri di luar Kedhalu juga ingin memanfaatkan kekuatan para penduduk pugabha ini untuk saling mengalahkan satu sama lain.  Dhaca Suli, sebagai orang Selatan, bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya juga bisa sehebat orang-orang Utara bahkan mampu menyelamatkan Kedhalu dari kehancuran.

Lika-liku nasib akan dihadapi Dhaca Suli dalam mengasah kemampuan pugabha-nya. Masa lalu tentang dirinya yang bahkan dia sendiri tidak tahu ternyata menyimpan sejarah yang luar biasa. Di lain pihak konspirasi di internal Kedhalu pun akan membuat perkara menjadi semakin pelik. Persahabatan dan cinta akan dikorbankan dalam pertempuran-pertempuran yang menentukan masa depan Kedhalu.

Did You Know?

Meskipun setting dan bahasa Kedhalu dari tokohnya serasa sangat asing dan susah diucapkan, Tasaro nampaknya memasukkan unsur-unsur yang sangat Jawa dalam novel ini. Bahkan memasukkan sedikit ajaran agama di salah satu Bab nya. Mungkin pembaca banyak yang tidak tahu bahwa ada makna-makna tersembunyi di balik kata-kata yang sulit diucapkan itu.

Sebelumnya mari kita pelajari dulu 20 aksara jawa kuno yang terdiri dari 4 baris dan masing-masing baris terdapat 5 aksara:

  1. Ha Na Ca Ra Ka
  2. Da Ta Sa Wa La
  3. Pa Da Ja Ya Nya
  4. Ma Ga Bha Tha Nga

Tasaro membuat sebuah enkripsi memakai aksara-aksara itu untuk membuat bahasa Kedhalu. Caranya: pasangkan baris pertama dengan baris ke tiga yang sudah dibalik urutan aksaranya. Sedangkan baris ke dua dipasangkan dengan baris ke empat yang sudah dibalik. Maka urutan pasangannya menjadi:

Ha=Nya; Na=Ya; Ca=Ja, Ra=Dha, Ka=Pa

Da=Nga; Ta=Tha; Sa=Bha; Wa=Ga; La=Ma

Dengan catatan: huruf vokal menyesuaikan dengan kata-katanya (misal Hi=Nyi; Hu=Nyu)

Mari kita ambil beberapa contoh kata:

“Bephomany” sama dengan “sekolah”

“Dhaca Suli” sama dengan “Raja Bumi”

“Pugabha” sama dengan “Kuwasa atau Kuasa”

“Nyamanny” sama dengan “Allah” (aksara Ha bisa dibaca tanpa huruf H, mosal Ha dibaca A, Ho dibaca O)

Silakan mencoba untuk menerjemahkan kata-kata lain yang bertebaran di buku ini.

Sedangkan muatan religius tersembunyi di mantra-mantra berbahasa Kedhalu yang biasa di ucapkan di Kuil Perak (baca bab 26: Kuli Perak) yang berbunyi: “Nyabhamalunyamanyipul” yang jika di terjemahkan menggunakan kode aksara jawa walikan menjadi “Assalamualaikum”. Dan jawaban dari ucapan itu adalah “Ganyamanyipulbhamal” yang artinya “Waalaikumsalam”.

Muatan Islam yang lain ada di Bab 7: Pedhib Mata Perak yang menjelaskan bahwa setiap lekuk pedhib (pedhib artinya keris) memiliki makna. Ada 6 lekukan pedhib memiliki enam makna yang sama dengan enam Rukun Iman.

Opini

Novel ini menarik terutama jika kita melihat tagline “Buku Aksi Fantasi Atlantis Pertama di Indonesia” membuat kita tertarik apalagi bagi yang telah membaca cerita tentang asumsi bahwa benua Atlantis itu ada di Indonesia. Namun sayang di buku ini bahasan tentang Atlantis belum begitu dominan karena setting tempatnya sepenuhnya di negeri Kedhalu. Sedangkan Atlantis ada di luar Kedhalu. Hal ini bisa dimaklumi karena Tasaro merencanakan seri Nibiru ini dalam pentalogi alias 5 seri untuk menyelesaikan kisah fantasi Atlantis ini.

Buku ini cukup tebal (690) halaman ditambah lagi sampul hardcover-nya yang menambah kokoh buku ini. Namun ada sedikit cacat yang saya lihat di semua cetakan novelnya, yaitu gambar sampul yang cetakannya bergeser di bagian tengah. Jika kita amati gambar cakar sabretooth akan terlihat seperti patah. Dari segi gambar sampulnya sendiri menegaskan bahwa novel ini layak dibaca oleh semua umur.

Ketika kita mulai membaca kisah-kisah di bab awalnya, kita seolah akan disajikan kisah-kisah yang mirip dengan kisah Nibiru ini. Bisa jadi Nibiru adalah gabungan antara kisah Avatar: The Legend of Aang dan seri Harry Potter.

Satu kekurangan novel ini adalah penggunaan bahasa dan nama-nama yang sulit untuk dibaca baik itu nama orang, nama tempat atau beberapa istilah dalam bahasa sehari-hari masyarakat Kedhalu dan juga beberapa mantra untuk mengaktifkan pugabha. Namun setelah kita memahami enkripsi yang sudah dijelaskan di atas, kita akan menjadi lebih mudah memahami makna di balik kata atau nama-nama sulit itu. Akan tetapi, di beberapa tempat, nama-nama tokoh yang diterjemahkan dengan aksara jawa walikan itu justru akan membuat mood dari cerita lenyap seketika karena terkesan penamaan tokoh hanya dicomot asal-asalan. Misalnya tokoh yang bernama “Nyithal Sadeth” yang berarti “Hitam Banget”, “Bhupa Supu” yang berarti “Suka Buku”, “Muwu Thedmamu” yang berarti “Lugu Terlalu” dan masih banyak lagi. Intinya: tidak usah mencoba menerjemahkan semua nama tokohnya jika tidak ingin mood dari cerita lenyap dengan cepat.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.

Dexter In The DarkDexter In The Dark by Jeff Lindsay

My rating: 4 of 5 stars

[Paragraf ini lagi-lagi aku kopi pastekan dari review Dexter seri pertama sekaligus untuk memperkenalkan dan mengingatkan lagi siapa Detektif Dexter Morgan itu]. Inilah kisah detektif yang disajikan dengan sangat eksentrik. Cobalah kenali detektif Dexter. Ya, dia seorang detektif tapi sekaligus seorang pembunuh berarantai. Seorang penegak hukum yang sekaligus menderita schizophrenic alias berkepribadian ganda dimana kepribadiannya yang lain yang diberi nama Dark Passanger selalu terobsesi untuk membunuh. Dan lihatlah cara membunuhnya kawan. Dark Passanger bukan pembunuh berantai biasa. Tentu saja ia kejam. Tapi dia memiliki seni tersendiri untuk membunuh korbannya: rapi dan tanpa percikan darah. Dan yang dibunuh bukanlah sembarang orang. Tapi para penjahat yang tak tersentuh hukum. Maka tangan kejam nan kreatif Dexter yang akan menyentuhnya.

Kasus apa yang disajikan di seri ketiganya ini?

Jika dalam seri sebelumnya Dexter harus menekan alter egonya agar tidak dicurigai sersan Doakes, kali ini justru alter egonya makin meredup dengan sendirinya. Padahal alter ego yang diberi nama Dark Passanger itulah yang selama ini membantu memecahkan kasus-kasus pembunuhan dengan instingnya sebagai pembunuh juga.

Kasus yang disajikan dalam ketiga novel Dexter selalu menggambarkan suatu ritual pembunuhan yang sangat artistik dan sadis. Begitu juga untuk seri ketiganya ini. Kali ini Dexter harus berurusan dengan pembunuh yang terobsesi dengan ritual kuno.

Seperti apakah ceritanya? Bacalah novel detektif yang sangat karismatik ini.

Secara keseluruhan Lindsay menghadirkan alur yang fluktuatif tanpa tertebak. Prgressifnya meluap-luap. Penyelesaiannya begitu mengejutkan dan unsur komedi yang dimasukkan dalam cerita ini tidak mengurangi kesan kesadisan kasus pembunuhannya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Dearly Devoted Dexter (Dexter, #2)Dearly Devoted Dexter by Jeff Lindsay

My rating: 4 of 5 stars

detail info:

[Paragraf ini aku kopi pastekan dari review Dexter seri pertama sekaligus untuk memperkenalkan dan mengingatkan lagi siapa Detektif Dexter Morgan itu]. Inilah kisah detektif yang disajikan dengan sangat eksentrik. Cobalah kenali detektif Dexter. Ya, dia seorang detektif tapi sekaligus seorang pembunuh berarantai. Seorang penegak hukum yang sekaligus menderita schizophrenic alias berkepribadian ganda dimana kepribadiannya yang lain yang diberi nama Dark Passanger selalu terobsesi untuk membunuh. Dan lihatlah cara membunuhnya kawan. Dark Passanger bukan pembunuh berantai biasa. Tentu saja ia kejam. Tapi dia memiliki seni tersendiri untuk membunuh korbannya: rapi dan tanpa percikan darah. Dan yang dibunuh bukanlah sembarang orang. Tapi para penjahat yang tak tersentuh hukum. Maka tangan kejam nan kreatif Dexter yang akan menyentuhnya.

Kasus apa yang akan dipecahkan oleh Dexter kali ini?

Kasus kali ini jauh lebih kejam daripada seri sebelumnya. Dexter harus berhadapan dengan si Psikopat Dr. Danco. Psikopat ini tidak membunuh para korbannya (percayalah justru hal ini yang membuat kondisinya sangat menyedihkan) dia mengamputasi tangan, kaki, telinga, bibir, kelopak mata dan hidung dan meninggalkannya dalam keadaan tetap hidup! Lagi-lagi, seperti di seri pertama, penyiksaan ini dilakukan dengan cara yang sangat rapi layaknya sebuah karya seni. Apa motif dibalik semua ini? Bacalah novel eksentrik ini sampai habis. Kejutan akan selalu ada di setiap babnya.

Masalahnya tidak selesai di sini saja. Selain menghadapi kegilaan dokter psikopat itu, Dexter juga harus menghadapi Sersan Doakes yang mulai mencurigai dirinya. Hasilnya: terpaksa Dexter menekan Dark Passanger si pribadi gandanya.

Secara keseluruhan Lindsay menghadirkan alur yang fluktuatif tanpa tertebak. Prgressifnya meluap-luap. Penyelesaiannya begitu mengejutkan dan unsur komedi yang dimasukkan dalam cerita ini tidak mengurangi kesan kesadisan kasus pembunuhannya.
Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html

Si Charming Pembunuh Berantai (Dexter, #1)Si Charming Pembunuh Berantai by Jeff Lindsay

My rating: 4 of 5 stars

Info:

Inilah kisah detektif yang disajikan dengan sangat eksentrik. Cobalah kenali detektif Dexter. Ya, dia seorang detektif tapi sekaligus seorang pembunuh berarantai. Seorang penegak hukum yang sekaligus menderita schizophrenic alias berkepribadian ganda dimana kepribadiannya yang lain yang diberi nama Dark Passanger selalu terobsesi untuk membunuh. Dan lihatlah cara membunuhnya kawan. Dark Passanger bukan pembunuh berantai biasa. Tentu saja ia kejam. Tapi dia memiliki seni tersendiri untuk membunuh korbannya: rapi dan tanpa percikan darah. Dan yang dibunuh bukanlah sembarang orang. Tapi para penjahat yang tak tersentuh hukum. Maka tangan kejam nan kreatif Dexter yang akan menyentuhnya.

Konflik terjadi ketika Dexter menemui kasus yang luar biasa mengejutkan. Yaitu kasus pembunuhan yang polanya sama persis seperti yang ia lakukan. Yaitu sama-sama rapi dan tanpa percikan darah sedikitpun. Apakah Dark Passanger sudah mendominasi diri Dexter? Bacalah novel ini untuk menemukan ending yang sangat mengejutkan.

Secara keseluruhan Lindsay menghadirkan alur yang fluktuatif tanpa tertebak. Progressifnya meluap-luap. Penyelesaiannya begitu mengejutkan dan unsur komedi yang dimasukkan dalam cerita ini tidak mengurangi kesan kesadisan kasus pembunuhannya.

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html