Posts Tagged ‘drama’

Director: Steven Spielberg

Writers:  Lee Hall (screenplay), Richard Curtis (screenplay), Michael Morpurgo (novel)

Rated: PG-13 for intense sequences of war violence

Runtime: 146 min

Genre:  Drama | History | War

Separated by war. Tested by battle. Bound by friendship.

Review

Film ini bersetting di Devo, Inggris pada masa berkecamuknya perang Dunia I. Kisah film ini bermula pada acara pelelangan yang akhirnya memenangkan seorang petani tua bernama Ted Narracott (Peter Mullan). Kemenangannya membuatnya rela mengeluarkan banyak uang untuk menebus seekor kuda yang ditawarnya dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja Ted tidak membelinya dengan akal yang sehat karena dipengaruhi oleh minuman keras dan egonya untuk mengalahkan penawaran sang tuan tanah bernama Lyons (David Thewlis). Akhirnya kuda itupun terbeli tidak hanya membuat uangnya terkuras, tapi tentu saja tidak tidak sesuai dengan kebutuhan. Bahkan istri Ted, Rose Narracott (Emily Watson) dibuat geram dengan keputusan suaminya yang tanpa otak itu.

Rosie marah-marah ketika Ted membawa pulang kuda yang dibelinya dengan sangat mahal

Namun di lain pihak, sang anak, Albert Narracott (Jeremy Irvine) tertarik dengan kuda itu. Dia merasa kuda tersebut sangat istimewa. Sekalipun belum terlatih, Albert berniat menjadikannya kuda kesayangannya dan menamakan kuda itu Joey. Terlebih ketika Lyons menagih uang sewa, sedangkan Ted sudah tidak punya uang lagi, Albert bertekad melatih kuda itu agar bisa membajak sebuah lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Usaha keras Albert pada awalnya dipandang sebelah mata  oleh Lyons bahkan oleh keluarganya sendiri. Namun karena ikatan batin antara Albert dan Joey, akhirnya yang dianggap mustahil pun terkabul juga. Joey berhasil menarik bajak dan membuat lahan itu siap ditanami.

Albert berusaha membuat Joey bisa membajak

Namun nasib nyatanya belum berpihak pada mereka. Karena cuaca buruk, tanaman yang ditanam di ladang itu rusak seluruhnya. Mau tidak mau untuk membayar uang sewa, Ted menjual kuda itu kepada para tentara. Terlebih saat itu perang telah dimulai. Di sinilah awal dari petualangan sang kuda yang sangat heroik, mengharukan dan mendebarkan terjadi di sepanjang sisa plot film. Albert berusaha mendapatkan kuda itu lagi dengan mendaftar sebagai relawan perang, namun tidak berhasil karena faktor usia. Dia berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan kuda kesayangannya. Perang telah membuat mereka terpisah sangat jauh dengan petualangan masing-masing. Apakah mereka akan bertemu lagi satu sama lain?

Albert berusaha mencegah Joey dijual kepada tentara

Film ini sangatlah menyentuh. Menceritakan tentang ikatan batin yang begitu dalam antara sang kuda dengan pemiliknya. Sinematografi yang sangat istimewa mampu membuat mood film begitu terasa. Ditambah lagi adegan perang yang hampir mirip-mirip dengan adegan Saving Private Ryan. Unsur komedi juga dimasukkan di film ini. Adegan lucu dari kuda pintar ini cukup membuat penonton gemas. Alurnya sendiri cukup kompleks namun ringan. Begitu mengalir tanpa membuat penonton bosan. Sepanjang plotnya menghadirkan kisah-kisah yang inspiratif dan motivatif. Membuat penonton mendapatkan ‘sesuatu’ setelah menonton film ini.

Behind The Scene

Ini adalah film pertama Spielberg yang bersetting Perang Dunia I. Setelah bekerja sama dengan Peter Jackson untuk membuat The Adventures Of Tintin, tampaknya Spielberg masih memiliki proyek lain untuk menutup kiprahnya di tahun 2011 lalu. Yang artinya, 2 film garapan Spielberg yang dirilis di tahun yang sama.

From the moment I read Michael Morpurgo’s novel War Horse, I knew this was a film I wanted DreamWorks to make… Its heart and its message provide a story that can be felt in every country.” —Steven Spielberg

Sutradara Steven Spielberg

Film ini memakan waktu 64 hari pengambilan gambar dan memakan biaya total $90 juta. Lokasi pengambilan gambar di Dartmoor, Devon, Inggris yang dimulai sejak bulan Agustus 2010.

Film ini menceritakan tentang seekor kuda pintar yang selama pembuatannya, diperankan oleh 14 kuda yang dilatih selama 3 bulan.

Spielberg sedang memberikan pengarahan di lokasi syuting

Adegan ketika Joey terjerat kawat berduri, kawat yang digunakan terbuat dari karet dan sebagian adegannya menggunakan kuda animatronic.

Dalam proses syutingnya, Michale Morpurgo mendatangi lokasi syuting untuk melihat secara langsung visualisasai yang diadaptasi Spielberg dari novelnya. Morpurgo menyatakan bahwa dirinya sangat puas dengan proyek Spielberg ini.

Did You Know?

Film ini disutradarai oleh Steven Spielberg yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Michael Morpurgo. Novel tersebut pertama kali dipublikasikan tahun 1982 dan mendapatkan penghargaan runner up di Witebread Book Award 1982. Film ini dirilis pada tahun yang sama dengan film Spielberg yang lain yaitu The Adventures Of TintinKedua film itu sama-sama mendapatkan nominasi di ajang penghargaan Academy Award namun gagal memenanginya. Kejadian nominasi dua film ganda tanpa memenangi satupun Oscar ini juga pernah dialami oleh Spielberg ketika tahun 2006. Ketika itu Spielberg mendapatkan nominasi untuk film Munich dan War of the Worlds. Nampaknya Spielberg tidak bisa mengulangi lagi kejayaannya ketika dia mendapatkan kemenangan di dua filmnya sekaligus pada tahun 1994 untuk film Schindler’s List (menang 7 Oscar) dan Jurassic Park (menang 3 Oscar).

Michael Morpurgo penulis novel War Horse

Novel War Horse

War Horse adalah film tentang kuda yang mendapatkan nominasi Oscar sejak 8 tahun terakhir. Film kuda sebelumnya yang mendapatkan nominasi adalah Seabiscuit.

Untuk menjaga kerahasian proyek ini, sepanjang pengambilan gambarnya, film ini memakai nama sandi Dartmoor yang merupakan nama sebuah tempat di Devon, Inggris, tempat syuting paling dominannya.

Michael Morpurgo dan istrinya menjadi cameo dalam film ini yaitu dalam adegan pelelangan di awal film.

Penghargaan yang diterima fim ini:

Awards and date results announced Category Name Result
84th Academy Awards 26 February 2012 Best Picture Steven Spielberg, Kathleen Kennedy Nominated
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Sound Editing Richard Hymns, Gary Rydstrom Nominated
Best Sound Mixing Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson, Stuart Wilson Nominated
62nd American Cinema Editors Awards 18 February 2012 Best Edited Feature Film – Dramatic Michael Kahn Nominated
American Film Institute Awards 11 December 2011 Film of the Year 2011 Won
65th British Academy Film Awards 12 February 2012 Best Film Music John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Production Design Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Sound Stuart Wilson, Gary Rydstrom, Andy Nelson, Tom Johnson,Richard Hymns Nominated
Best Special Visual Effects Ben Morris, Neil Corbould Nominated
Broadcast Film Critics Association Awards 2011 12 January 2012 Best Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound Nominated
Best Score John Williams Nominated
Central Ohio Film Critics Association Awards 5 January 2011
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
Chicago Film Critics Association Awards 19 December 2011 Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
69th Golden Globe Awards 15 January 2012 Best Motion Picture – Drama[152] Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Houston Film Critics Society Awards 14 December 2011
Best Film Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated
32nd London Film Critics’ Circle Awards 19 January 2012 British Actor of the Year Peter Mullan Nominated
Young British Performer of the Year Jeremy Irvine Nominated
59th Motion Picture Sound Editors Golden Reel Awards 19 February 2012 Best Sound Editing: Sound Effects and Foley in a Feature Film Won
Best Sound Editing: Dialogue and ADR in a Feature Film Nominated
National Board of Review Awards 1 December 2011 Best Film Nominated
23rd Producers Guild of America Awards 2011 21 January 2012 Best Theatrical Motion Picture Kathleen Kennedy, Steven Spielberg Nominated
16th Satellite Awards 18 December 2011 Best Motion Picture Nominated
Best Director Steven Spielberg Nominated
Best Adapted Screenplay Lee Hall, Richard Curtis Nominated
Best Original Score John Williams Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Won
Best Visual Effects Ben Morris Nominated
Best Film Editing Michael Kahn Nominated
Best Sound (Editing & Mixing) Andy Nelson, Gary Rydstrom, Richard Hymns, Stuart Wilson,Tom Johnson Nominated
Southeastern Film Critics Association19 December 2011 Top Ten Film Won
Washington D.C. Area Film Critics Association 5 December 2011
Best Art Direction Rick Carter, Production Designer, Lee Sandales, Set Decorator Nominated
Best Cinematography Janusz Kamiński Nominated
Best Score John Williams Nominated

Quotes

Michael: The food in Italy is good, yeah?
Gunther: [nods] Yes, very good.
Michael: And the women?
Gunther: Not as good as the food…
Michael: From eating too much of the food?
——————————————————————————————————
Rose Narracott: [to Ted] I might hate you more, but I’ll never love you less.
——————————————————————————————————
Iklan

Director: Cameron Crowe

Writers: Aline Brosh McKenna (screenplay), Cameron Crowe(screenplay), Benjamin Mee (book)

Rated: PG for language and some thematic elements.

Runtime: 124 min

Genres: Comedy | Drama | Family

Review

Film ini mengisahan tentang Benjamin Mee (Matt Damon) yang berusaha mengasuh kedua anaknya Dylan (Colin Ford) dan Rosie (Maggie Elizabeth Jones) setelah istrinya meninggal. Di mata anak-anaknya, Benjamin adalah ayah yang supeldan berjiwa petualang mengingat dia bekerja sebagai wartawan kolumnis di sebuah surat kabar. Namun dibalik itu semua, Benjamin dihadapkan pada kenangan-kenangan masa lalu bersama istrinya. Inilah perkara tersulitnya ketika Benjamin diharuskan berdamai dengan masa lalunya.

Benjamin Mee dan keduan anaknya Dylan dan Rosie

Sebagai single parent Benjamin merasa sedikit kewalahan mengasuh kedua anaknya. Ditambah juga kewalahan menghadapi beberapa wanita yang mencoba mendekatinya. Akhirnya Benjamin memutuskan untuk keluar dari pekerjannya agar bisa lebih meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Setelah mantap dengan keputusan itu, Benjamin justru makin terbebani oleh kelakuan Dylan yang membuat ulah di sekolah yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah.

Penat dan hampir putus asa dalam mencoba mengasuh dan  menyenangkan kedua anaknya membuat Benjamin berpikir untuk memulai sesuatu dan suasana yang baru. Terlebih lingkungan rumahnya juga sudah tidak bisa dipakai untuk menenangkan pikiran lagi. Maka dia berniat untuk membeli sebuah rumah. Beberapa tawaran rumah dipelajarinya satu per satu dengan melihat spesifikasi dari catatan seorang agen dan mengunjungi lokasi secara langsung. Namun tidak ada rumah yang dirasa cocok, kecuali satu. Yaitu rumah yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah kebun binatang terlantar dengan koleksi binatang yang masih lumayan lengkap.

Meskipun Benjamin tidak memiliki latar belakang keilmuan dalam merawat binatang, dia tetap saja membelinya karena Rosie merasa senang tinggal di situ. Namun Dylan merasa semakin terasing ditempat yang jauh dari pusat kota. Inilah yang akan menjadi salah satu konflik dalam sisa alurnya.

Rosie sangat suka bermain dengan binatang

Mereka tidak sendiri. Ada sekelompok tim para petugas pemeliharaan kebun binatang di sana dengan keahlian masing-masing. Benjamin bersama tim itu telah berkomitmen untuk membangun kembali kebun binatang itu dengan memanfaatkan seluruh harta dan tabungan Benjamin. Bahkan kakak laki-lakinya Duncan Mee (Thomas Haden Church) menganggap Benjamin terlalu gegabah dalam menggunakan seluruh tabungan untuk membangun kembali kebun binatang tersebut. Dan apa yang dikhawatirkan terjadi juga. Pada suatu titik Benjamin benar-benar kehabisan dana. Bahan beberapa teman satu timnya mulai memboikot karena mengetahui bahwa Benjamin tidak punya uang lagi. Bagaimana Benjamin menghadapi kisah dilematis ini? Inilah konflik besar yang akan membuat cerita ini menjadi makin kompleks.

Tim pemelihara kebun binatang

Duncan Mee dan Benjamin Mee

Sebagai film drama komedi yang bertemakan keluarga, film ini akan menghadirkan cerita-cerita lucu seputar kehidupan Benjamin beserta anak-anaknya yang kadangkala dibalut dengan kisah haru. Alur cinta romantis juga dihadirkan dalam subplot-subplot yang akan membuat film ini tidak membosankan. Siapa lagi kalau bukan kisah cinta antara Dylan dengan Lily (Elle Fanning) serta Benjamin dengan Kelly Foster (Scarlett Johansson)

Tokoh Dylan dan Lily

Kelly dan Benjamin

Behind The Scene

Film ini disutradarai oleh Cameron Crowe yang sudah dikenal lewat karya filmnya Vanila Sky (2001), Jerry Maguire (1996) dan mendapatkan piala oscar lewat Almost Famous (2000).

Sutradara Cameron Crowe

Sebelum peran Kelly Foster jatuh ke tangan Scarlett Johanson, Amy Adams, Mary Elizabeth Winstead dan Rachel McAdams sempat menjadi kandidat untuk memerankan tokoh ini. Sedangkan kandidat untuk memerankan Benjamin Mee sempat jatuh pada Ben Stiller sebelum akhirnya dipegang oleh Matt Damon.

Sutradara Cameron Crowe mengarahkan Matt Damon

Sutradara Cameron Crowe sedang mengarahkan Maggie Elizabeth Jones, Colin Ford dan Matt Damon

Suasana Saat Syuting

Sesi Santai Para Aktor dan Sutradara di Sela-Sela Syuting

Beginilah cara mengatur adegan beruang kabur

Did You Know?

Film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama dan merupakan pengalaman hidup nyata dari Benjamin Mee yang memutuskan menggunakan tabungannya untuk membeli kebun binatang Dartmoor Zoological Park yang sudah tidak terurus di bagian barat daya Inggris.

Novel Memoar 'We Bought A Zoo' oleh Benjamin Mee

Meskipun film ini diangkat dari pengalaman nyata dari Benjamin Mee,tapi ada beberapa perbedaan antara film dengan kenyataan. Diantaranya adalah:

-Kebun binatang dalam film bernama Rosemoor Wildlife Park dan berlokasi di California, sedangkan aslinya bernama  Dartmoor Zoological Park  di bagian barat daya Inggris.

-Di filmnya, istri Benjamin Mee, Katherine,  meninggal sebelum dia membeli kebun binatang. Aslinya meninggal kebn binatang itu dibeli dan ditinggali.

-Di filmnya ada adegan beruang lepas. Kenyataannya yang lepas adalah jaguar.

-Anak-anak Benjamin ketika kisah itu dialami seharusnya lebih muda (empat dan enam tahun) daripada tokoh di filmnya.

-Anak-anak Benjamine Mee dalam film bernama Dylan dan Rosie, sedangkan aslinya adalah Milo dan Ella.

Benjamin Mee dan anak-anaknya Milo dan Ella

Benjamin Mee besert anak-anaknya yang asli menjadicameo di akhir film sebagai pengunjung yang mengantri di urutan pertama ketika kebun binatangnya dibuka untuk pertama kalinya.

Penghargaan untuk film ini:

Phoenix Film Critics Society Awards
Year Result Award Category/Recipient(s)
2011 Nominated PFCS Award Best Live Action Family Film

Quotes

Benjamin Mee: ” You know, sometimes all you need is twenty seconds of insane courage. Just literally twenty seconds of just embarrassing bravery. And I promise you, something great will come of it ”

 

More movie reviews klik here

Itulah suasana favoritku. Bau tanah basah dan suasana sejuknya enak sekali dinikmati sambil jalan-jalan. Daun-daun lembab yang tercuci gerimis tampak hijau berkilap dan burung-burung mulai mencari selarik sinar yang belum terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya. Dan inilah rute favoritku: berjalan-jalan melewati dua blok perumahan kemudian belok kiri di perempatan pertama dan belok kiri lagi memasuki gerbang perumahan yang lain hingga berputar sampai ke tempat di mana aku berangkat tadi.

Lihatlah aku cukup sehat hanya dengan melakukan aktivitas itu setiap pagi. Kadang aku hanya berjalan dan sesekali berlari kecil. Kadang aku bertemu dengan manusia-manusia hebat. Sesekali mereka biasa saja, tidak hebat, tapi di kemudian hari bisa saja aku mengaguminya. Atau bahkan mencemburuinya. Rasa iri itu tiba-tiba saja bisa merasuk tanpa bisa dibendung.

Dalam rute perjalanan rutinku itu, aku memliki beberapa titik yang selalu saja membuat aku berhenti. Apapun perasaanku dan apaun situasinya, dari hari ke hari tidak pernah sama. Titik pertama adalah rumah seorang gadis kecil yang memiliki taman bermain di halaman rumahnya. Warna-warni bagus sekali. Sering sekali gadis itu menyapaku saat aku melintas di depan rumahnya. Kemudian mengajakku bermain jika ia sedang berparas bahagia. Namun ketika parasnya mendadak mendung, dia tetap menyapaku, memintaku untuk menemaninya, kemudian dia akan bercerita tentang apa yang disedihkannya.

 Tapi hari-hari tidak pernah menyajikan kisahnya dengan  cerita yang sama. Hari ini, gadis kecil itu sedikit merusak pagi favoritku. Dia bersenang-senang di halaman warna-warni itu dengan banyak sekali kawan-kawan yang seumuran dengan dia. Semuanya memakai topi kerucut. Beberapa mengenakan topeng lucu. Taman bermain yang sudah warna-warni itu disulap menjadi jauh lebih warna-warni dengan banyak balon yang melayang-layang. Dan pandanganku kini terpaku pada kue bundar yang tinggi dengan tujuh lilin menancap di atasnya. Gadis itu bersiap meniupnya. Parasnya begitu bahagia tapi kenapa dia tidak menyapaku? Tidak pula mengundangku untuk bermain bersama.

Di titik pertama inilah sedihku datang terlalu pagi. Patah hati di awal hari itu tidak baik. Maka aku berusaha mengangkat ketertundukanku tanpa banyak mempertanyakkan. Berusaha optimis dan meyakini hari berikutnya akan kembali menyajikan cinta itu. Masih ada titik menyenangkan berikutnya. Itulah harapan. Harapan yang selalu dibangun di awal hari itu jauh lebih baik. Jika malam adalah waktu bermimpi, maka pagi adalah waktu untuk berharap, kemudian sisa hari adalah sebuah usaha. Itulah resep keberhasilan.

Titik kedua adalah tempat orang-orang yang selalu optimis. Gairah api semangat selalu saja aku rasakan ketika melewatinya meskipun tidak ada orang di lapangan berumput itu. Ya, di situlah tempat para olahragawan memompa semangatnya. Ketika ada sekelompok orang yang berlatih di situ, pastilah anak remaja berseragam olah raga itu juga ada di situ. Kami berteman. Berawal dari sikap cekatanku ketika beberapa kali berhasil menangkap bola sekepal yang melambung keluar lapangan itu, aku selalu diminta untuk berjaga di luar garis lapangan. Menangkap bila bola itu kembali melambung keluar. Itu sangat menyenangkan. Terlebih ketika dia sedang berlatih sendiri, aku adalah partner yang bisa membuat dia tertawa lepas ketika bermain lempar tangkap bersamaku.

Dia adalah sahabatku dan aku yakin dia juga menganggapku sebagai sahabatnya. Namun mengapa dia tega menggantikan posisiku dengan orang lain sekarang? Orang yang menjaga di luar lapangan itu jelas tidak secekatan lari dan lompatanku. Ketika aku melihat dia menjadi partner lempar tangkap sahabatku itu, tidak ada gelak tawa lepas yang keluar dari mulutnya. Dan lihatlah, penggantiku itu memakai seragam sama dengan sahabatku. Bahkan dia dibayar untuk melakukan tugasnya yang dulu menjadi tugasku. Menyedihkan.

Pagi ini sungguh menyedihkan.  Aku bisa membuatnya tertawa. Aku tidak perlu dibayar. Tapi sahabatku justru membayar orang yang sama sekali lebih buruk dari prestasiku. Aku muak! Sesak di dada ini membuat metabolisme perutku meningkat. Terang saja lapar segera menggelitik perut yang belum bersua dengan sarapan pagi ini. Aku mempercepat jalanku bukan hanya karena muak, tapi karena ada harapan berikutnya di titik berikutnya.

Titik berikutnya adalah titik yang tepat untuk memanjakan perut kosongku. Penghuninya adalah seorang nenek yang hidup sendiri. Lihatlah berandanya yang nyaman itu, di mataku adalah sebuah restoran di tengah perjalanan rutinku. Si nenek sering menungguku di kursi goyang dengan piring kecil di tangan keriputnya. Ada biskuit lezat di sana. Dia selalu menungguku datang. Jika aku sudah selesai dengan biskuitnya, dia dengan sedikit tangan gemetar akan menuangkan susu hangat. Oh lezatnya. Sesekali dia tidak membawakan biskuit atau susu, tapi dia tetap menungguku setiap pagi hanya untuk sedikit bercakap tentang segala sesuatu. Tentu saja dia kesepian hidup sendiri dan aku adalah teman yang tepat untuk mengusir hidup senjanya yang sunyi itu.

Maka sampailah aku di depan beranda lezat itu. Tapi yang kulihat justru membuat sakit hatiku semakin lengkap. Untuk ketiga kalinya aku merasa dicampakkan dan diduakan. Lihatlah, siapa yang tidak tersinggung kalau piring kecil berisi biskuit dan segelas susu yang sama, sekarang digunakan untuk memanjakan seekor kucing. Ya, kucing itu menyantap sarapanku sekarang. Sakit hatiku bertumpuk karena dari dulu aku sangat benci dengan hewan yang bernama kucing. Dan lihatlah, kucing itu malah menggeram kepadaku dengan memasang tampang tanda menantang. Si nenek nampaknya tidak menyadari kehadiranku. Tapi lihatlah, setidaknya si nenek tidak lagi kesepian dengan peliharaan barunya. Kini dia tak perlu lagi menunggu kedatanganku setiap pagi. Kucing itu sudah bisa menemaninya sepanjang waktu. Emosiku sedikit teredam dengan tampilan paras bahagia si nenek.

Aku benar-benar muak sekarang. Tiga kejadian yang membuatku patah hati itu efeknya sudah terakumulasi. Tentu saja ditambah dengan perut lapar. Maka aku segera beranjak pergi. Melangkah dengan cepat seolah berharap hari esok akan tiba lebih cepat jika aku bergerak dengan cepat pula. Lihatlah, betapa harapanku akan datangnya hari esok pasti lebih baik ternyata bisa menumbuhkan kembali semangatku. Ya, aku yakin esok hari pasti akan menyajikan ksiah yang lebih hebat. Bukankah begitu dunia ini bekerja? Semesta ini adalah keseimbangan. Maka jika ada kisah sedih, hari lain pasti akan terangkai kisah cinta.

Maka aku mulai belari.

Dan ternyata dengan lariku, perubahan kisah itu tidak perlu menunggu hari baru. Lihatlah rumah di ujung sana. Aku melihat titik baru yang bersinar terang. Inilah titik keempat yang tidak pernah ada di hari-hari sebelumnya. Akankah titik ini bisa mengobati patah hatiku di ketiga titik sebelumnya? Pasti bisa! Lihatlah betapa cantiknya perempuan itu. Seuisiaku nampaknya. Mungkin saja baru pindah ke sini. Baru kali ini aku melihatnya. Rambutnya lebat mengkilat. Tersisir rapi dan sudah tentu hasil permak salon ternama. Matanya aduhai, elok bukan main. Sudah barang tentu dia akan menjadi penghias suasana baru untuk pagi-pagi berikutnya.

Tapi tiba-tiba satu kejadian kecil sudah bisa membuat hatiku berbalik. Wanita itu menciumi anjing yang ada di dekapannya, dipeluk-peluknya dan diajaknya bersendau gurau. Seru sekali. Ah, sebelum aku jatuh hati lebih dalam lagi, biarlah aku membunuh perasaanku itu. Aku tidak mau lagi diduakan untuk yang ke empat kalinya pagi ini. Kalau yang satu ini terlanjur berlanjut, bisa jadi sakitnya akan terasa seperti kejadian terakhir: nenek yang memberikan cintanya yang seharusnya milikku kepada seekor kucing. Ketakutanku cukup masuk akal kan?

Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Aku mulai berlari lebih kencang. Berbelok di ujung perempatan dan melompati genangan air bekas hujan subuh tadi. Melihat genangan air itu, sekilas aku melihat bayanganku sendiri. Lantas aku berpikir untuk introspeksi. Aku berhenti. Kembali ke genangan tadi dan bercermin. Berusaha melihat apa kekuranganku. Mengapa orang-orang dengan mudahnya menggantikanku? Lihatlah, aku sempurna. Parasku baik dan otot-ototku tegap. Gigiku putih bersih. Rambutku sedikit pirang. Asli bukan buatan.

Lantas aku ingin berteriak. Cobalah dengar teriakan lantangku ini. Tanda kalau aku adalah pejantan sejati.

Guk,,,!!! Guk…!!! Auuuuuuwwwwwwwwww!!! Guk..!!

Lega benar bisa berteriak. Tapi biarlah, aku tak ingin lagi patah hati untuk hari ini. Biarlah perempuan yang aku kagumi itu, yang memiliki rambut mengkilat yang tersisir rapi dan mata yang aduhai elok bukan main itu, senang dipeluk dan dicium si manusia. Esok hari bisa jadi aku bisa merebut perhatiannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Titik keempat hari ini tidaklah sebuah harapan belaka. Satu hilang, satu lagi terpikirkan. Kemarin beberapa petugas dari Pemkot telah memasang hydran baru di depan gerbang perumahan. Ah, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi yang cerah selepas hujan selain melebarkan daerah kekuasaan. Aku bergegas berlari untuk ‘menandai’ hydran  baru itu sebelum ada anjing atau binatang lain yang ‘menandainya’.

Director: Mike Mitchell

Runtime: 87 min

REVIEW

Para tupai menggemaskan ini kembali hadir di bulan Desember tahun 2011. Kali ini franchaise ke-3 nya mengusung judul Alvin and The Chipmunks: Chipwrecked yang mengulang sukses dari sekuel sebelumnya: Alvin and The Chipmunks: The Squekquel (2009) dan Alvin and The Chipmunks (2007). Nampaknya franchise  ini selalu disutradari oleh sineas yang berbeda di setiap sekuelnya. Untuk sekuel ini posisi sutradara diisi oleh Mike Mitchell yang telah sukses mendalangi film Shrek Forever After (2010) dan Deuce Bigalow: Male Gigolo (1999).

Masih dengan trio tupai yang sama yaitu Alvin (Justin Long), Simon(Matthew Gray Gubler), Theodore (Jesse McCartney) dan trio Chipettes yang pandai berjoget dan menyanyi Brittany(Christina Applegate), Jeanette (Anna Faris) dan Eleanor (Amy Poehler), mereka mengawali kisahnya di sebuah kapal pesiar untuk melakukan liburan musim dingin. Tentu saja Dave (Jason Lee) sang manajer juga ikut menemani. Di kapal inilah alvin dan teman-temannya selalu membuat keributan kecil yang membuat Dave kewalahan.  Beberapa usaha telah dilakukan Dave untuk bisa membuat mereka patuh. Tapi puncak dari ulah mereka adalah ketika mereka bermain layang-layang di atas kapal dan malah ikut tertarik ke tengah laut. Dave dan Ian yang berusaha menyelamatkan dengan mengejar memakai parasailing malah ikut-ikutan jatuh ke laut. Akhirnya sekelompok tupai itu terdampar di pulau tak berpenghuni sedangkan Dave dan Ian terdampar di pulau yang sama di sisi yang berbeda. Petualangan di pulau inilah yang seru. Mereka bertahan hidup sekaligus berusaha berharap Dave akan mencari dan menyelamatkan mereka.

Tokoh Alvin dan Dave

trio chipmunks dan trio chipettes

Masih dengan ciri khasnya, franchise ini masih menghadirkan sisipan musikal khas suara chipmunks yang cempreng dan menggemaskan. Ditambah lagi dengan karakter para tupai yang sangat imut dan tingkah yang menggemaskan mampu membuat penonton minimal tersenyum melihat aksinya. Para penyanyi yang lagunya di-cover oleh para chipmunks dan chipettes ini adalah Lady Gaga, LFMAO, Destiny’s Child, dan Michael Franti & Spearhead.

 

 

BEHIND THE SCENE

Sineas yang mendalangi franchaise ketiga trio tupai ini.

Sutradara Mike Mitchell

Inilah para pengisi suaranya.

Trio Chipmunks

Trio Chipettes

 

DID YOU KNOW?

Tokoh Alvin and The Chipmunks adalah karakter yang diciptakan olehRoss Bagdasarian Sr pada tahun 1958. Banyak yang mengira bahwa musik chipmunk adalah hasil dari kreasi film kartunnya. Padahal justru sebaliknya. Ross pertamakali menciptakan karakter chipmunks justru dengan format kelompok musik animasi.

Sang kreator Ross Bagdasrian Sr.

Lagu trio tupai ini pertama kali dirilis pada tahun 1985 dan menjadi fenomenal dengan penjualan mencapai 4 juta kopi. Berhasil menjadi nomor satu di tangga musik Billboard Top 100 selama empat minggu, mendapatkan 3 penghargaan Grammy Award dan nominasi Record of the Year.

Nama Indonesia chipmunks adalah bajing tanah. Sedangkan nama latinya adalah Tamias minimus. Taksonomi lengkapnya adalah sebagai berikut:

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Ordo: Rodentia

Family: Sciuridae

Genus: Tamias

Chipmunk (Tamias minimus)

Director:  James Bobin

Runtime: USA: 103 min  | UK: 109 min

Rated: PG for some mild rude humor

“They’re closer than you think!”

REVIEW

The Muppets melengkapi film nostalgia setelah The Adventure of Tintin hadir lebih dulu. Siapa yang tak kenal dengan boneka Kermit si kodok hijau? Jagoan tua ini yang kemudian bertransformasi menjadi acara pendidikan anak Sessame Street. Lahir dari tangan dingin Jim Henson dalam kurun waktu 1954-1955 dengan tajuk The Muppets Show telah menjadi legenda hiburan sampai sekarang. Inilah pertama kalinya para boneka ini tampil di layar lebar di bawah asuhan studio Disney.

Film ini menceritakan tentang perebutan Muppet Theater yang hendak diambil alih oleh juragan minyak Tex Richman (Chris Cooper) yang menemukan adanya sumber minyak di sana. Tex ingin segera mengeksplorasi dan menambang minyak sesegera mungkin yang tentunya berakibat dihancurkannya seluruh Muppet Theater. Niat itu tercium oleh Walter fans berat The Muppets. Walter ingin menggagalkan rencana Tex dengan jalan mengumpulkan kembali para anggota The Muppets. Rencananya adalah menyelenggarakan acara The Greatest Muppet Telethon Ever untuk mencari dana sebesar $10 juta untuk menyelamatkan teater tersebut.

Tokoh Tex Richman (Chris Cooper)

Maka bersama kakaknya, Gary (Jason Segel), dan Mary (Amy Adams), kekasih Gary, Walter pertama-tama mencari Kermit si kodok hijau. Kemudian bersama-sama mencari anggota The Muppets yang lain. Di luar dugaan anggota kawanan The Muppets kini telah memiliki profesi masing-masing. Fozzie Bear telah menjadi anggota bnd The Moopets yang tampil di sebuah kasino. Miss Piggy menjadi fashion editor Vogue Paris. Animal berada di kelompok penanganan emosi dan Gonzo menjadi mandor industri kloset.

Tokoh Gary (Jason Segel) dan Walter

Film ini masih mempertahankan sisipan musikalnya dan tentu saja tetap mempertahankan boneka alih-alih menggunakan animasi untuk menjaga originalitasnya. Tapi bedanya adalah, tidak akan tampak batang pengendali tangan atau para boneka tidak lagi selamanya berinteraksi dari balik meja. Para Muppets di film ini tentu saja lebih mobile bahkan tak jarang ditampilkan all body hingga kakinya terlihat.

Behind The Scene

Film ini dianggarkan menghabiskan dana $50 juta. Dengan reputasi The Muppets di seluruh dunia yang tak perlu diragukan lagi, tak sulit bagi Disney untuk meraup untung yang berlipat. Sang sutradara James Bobin juga tak tanggung-tanggung untuk memasukkan banyak cameo dari artis terkenal diantaranya adalah: George Clooney, Selena Gomez, Neil Patrick Harris, Mila Kunis, Danny Trejo, Alan Arkin, Emily Blunt, Beth Broderick, James Carville, Billy Crystal, Ricky Gervais, Donal Glover, Whoopie Goldberg, Judd Hirsch, Katy Pery, Ben Stiller.

Sutradara James Bobin

Penggunaan Komputer Grafis Untuk Membuat Boneka Muppet Bisa Bergerak Lebih Bebas

Do You Know?

The Muppets adalah tokoh boneka yang diciptakan olah Jim Henson. Menurut Henson, kata Muppet merupakan gabungan dari marionette puppet. Meskipun di kesempatan lain dia mengakui bahwa istilah itu hanya mengada-ada dan sebenarnya dia menyebut Muppet hanya karena dia menyukai kata itu.

Jim Henson Bersama The Muppets

Pertama kali The Muppets Show tampil di televisi pada tahun 1976.  Saat itu para karakter boneka digerakkan dengan satu tangan menggerakkan kepala dan mulut dan tangan yang lain menggerakkan tangan dengan batang kendali atau dengan cara seperti memakai sarung tangan. Orang yang menggerakkan Muppet ini disebut Muppeteer. Para Muppeteer ternyata haruslah orang yang kidal karena tangan kanan mengendalikan kepala dan tangan kirilah yang memegang batang kendali.

Saking populernya karakter Muppet diperlakukan layaknya selebriti. Sering sekali mereka tampil dalam acara penghargaan seperti Oscar dan sebagai cameo dalam beberapa film.

Director: James Watkins

Writers: Susan Hill (novel), Jane Goldman (screenplay)

Runtime: 95 min

Rated: PG-13 for thematic material and violence/disturbing images

Kali ini Daniel Radcliffe tidak akan berkutat dengan tongkat sihir, jubah hitam panjang dan sapu terbangnya. Di film bergenre drama-horor-thriller ini Radcliffe akan berperan sebagai Arthur Kipps yang berprofesi sebagai pengacara asal London yang ditugaskan atasannya untuk mengakusisi sebuah rumah besar  di Crythin Gifford, sebuah desa terpencil yang terletak di pantai barat Inggris. Di sinilah Kipps akan dihadapkan dengan misteri yang menghuni sebuah rumah yang bernama Eel Marsh House. Kunjungan Kipps ke rumah itu tentu saja membuat penduduk setempat tidak menyukainya. Karena dianggap akan mengusik misteri rumah yang sudah tak dihuni karena penghuninya meninggal secara mengerikan. Benar saja, Kipps melihat penampakan wanita bergaun hitam di rumah kuno bergaya Victoria itu. Wanita inilah yang dianggap bertanggung jawab terhadap teror bunuh diri misterius pada anak-anak penduduk setempat. Kisah inilah yang akan digali Kipps untuk mengungkap rahasia yang tersimpan di rumah tersebut.

Tokoh Arthur Kipps

Eel Marsh House

Film ini mengambil setting di Ingriss kala pemerintahan Raja Edward. Sang sutradara James Watkins mampu membuat aura film ini kelam dengan opening yang cukup menakutkan. Namun dari sisi cerita, film ini nampaknya tidak mampu mengangkat sisi spesialnya mengingat Radcliffe sendiri telah menjadi daya tarik bagi film ini. Hasilnya adalah sebuah film misteri yang nampaknya sama saja dengan kebanyakan film horor lainnya. Yatu hanya seputar hantu jahat yang ingin balas dendam. Penampakan hantunya juga masih sangat konvensional, meskipun di beberapa adegan Watkins mampu menempatkan si hantu di tempat yang tepat sehingga dengan kemunculan yang hanya sekian detik pun, sensasi kejutnya begitu luar biasa. Radcliffe yang tadinya tampil keren dengan tongkat sihir dan jubah hitamnya juga ternyata mampu membawakan peran dengan sangat baik. Hanya saja wajah remajanya masih sangat terlihat dan sulit disembunyikan. Padahal dia memerankan seorang ayah dengan seorang anak.

Sang Sutradara James Watkins

Film ini diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Susan Hill yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1983.

Novel "The Woman in Black"

Penulis Novel Susan Hill

 

For More Movie Review: Click Here

 

Director: Pedro Almodóvar

Writers: Pedro Almodóvar (screenplay), Agustín Almodóvar(collaboration), Thierry Jonquet (novel “Tarantula”)

Stars: Antonio BanderasElena Anaya and Jan Cornet

Runtime: 117 min

Rated: R for disturbing violent content including sexual assault, strong sexuality, graphic nudity, drug use and language

Film garapan Pedro Almodóvar yang bergenre drama-thriller ini mengisahkan seorang ahli bedah plastik yang memiliki obsesi tidak masuk akal. Robert Ledgard (Antonio Banderas) adalah seorang ahli bedah plastik yang memiliki kenangan buruk masa lalu yang menimpa istrinya yang tewas terbakar. Kenangan inilah yang menjadi pemicu obsesinya untuk mempelajari terobosan terbaru pencangkokan kulit yang tahan api. Dan sebagai uji cobanya adalah wanita yang bernama Vera Cruz ( Elena Anaya) yang dari awal film memang terkesan misterius.

ahli bedah dr. Robert Ledgard dan subjek penelitiannya Vera Cruz

Film ini menyajikan sebuah kisah horor tanpa kebanyakan adegan yang membuat penonton berteriak terkejut. Tapi kejutan justru terdapat dalam plot cerita yang tersusun secara halus dan tidak mudah tertebak. Misalkan saja teka-teki mengenai mengapa Vera disekap dan dijadikan kelinci percobaan. Siapakah dia dan mengapa dia diberikan pakaian yang aneh. Jawaban dari teka-teki ini tidaklah membingungkan karena Almodovar membuat plotnya maju mundur sesuai dengan kronologis alur cerita. Dan kisah-kisah flashback inilah yang akan menjawab satu demi satu teka-tekinya. Dan teka-teki terbesarnya adalah jati diri Vera yang ternyata adalah akibat dari luka masa lalu Ledgard yang hendak melampiaskan dendam dan rasa kesepiannya.

Almodovar mengangkat film ini dari sebuah novel berjudul Tarantula karya Thierry Jonquet. Sedangkan judul asli dari film ini adalah La Piel Que Habito. Penonton akan disuguhi adegan mengenai pengkhianatan, kesepian, seksualitas dan kematian dengan suasana thriller yang kental. Film dengan bujet $13 juta ini berhasil masuk dalam nominator Best Foreign Language Film dalam festival film Golden Globes ke-69.

sang sutradara Pedro Almodóvar

novel "Tarantula" karya Thierry Jonquet

For More Movie Review: Click Here

Director: Joe Carnahan

Writers: Joe Carnahan (screenplay), Ian Mackenzie Jeffers (screenplay)

Stars: Liam NeesonDermot Mulroney and Frank Grillo

Rated: R for violence/disturbing content including bloody images, and for pervasive language

Runtime: 117 min

Live and Die on This Day

Satu lagi film bergenre adventure-survival-drama. Kali ini film karya sutradara Joe Carnahan yang dibintangi oleh Liam Neeson berperan sebagai John Ottway. Film ini mengisahkan tentang tokoh sentral Ottway yang berprofesi sebagai pemburu binatang-binatang buas untuk melindungi yang mengancam keselamatan para penambang minyak. Tapi nampaknya alam membuat keadaan berbalik. Sang pemburu akan menjadi yang diburu dalam kisah ini.

sang sutradara Joe Carnahan

Cerita berawal dari sebuah kecelakaan pesawat yang ditumpangi Ottway. Pesawat tersebut jatuh di tengah pedalaman Alaska yang bersalju. Hanya sedikit yang selamat. Maka tim yang sedikit inilah yang akan menjalani sisa kisah sebagai tim yang harus bertahan hidup melawan alam sekaligus melawan binatang buas. Ottway yang sudah berpengalaman menghadapi binatang buas harus memimpin tim ini untuk survival. Dinginnya Alaska hingga minus sepuluh derajat sudah merupakan perkara yang pelik karena tim penyelamat berpeluang sangat kecil untuk menemukan mereka. Belum lagi ditambah dengan ancaman serigala buas yang menjadi inti dari judul film ini: The Grey. Yaitu serigala abu-abu.

lokasi jatuhnya pesawat

Ottway diantara kepingan pesawat yang hancur

Tim yang selamat harus terus bergerak untuk menjauhi kejaran serigala

Ottway adalah sosok yang keras. Terbukti ketika menangani korban yang sekarat, alih-alih menghibur untuk meredakan penderitaannya, dia justru dengan lugas berkata bahwa orang itu akan segera mati. Tapi di sisi lain, ada alur drama untuk sosok Ottway ini. Sesekali di sepanjang film, terdapat flashback tentang istrinya yang sudah meninggal dan flashback masa kecilnya yang menjadikannya sebuah inspirasi untuk bertahan hidup. Demikian juga dengan rekan yang lain, kenangan masa lalu akan menambah sisi drama dari petualangan bertahan hidup ini. Ditambah juga dengan sedikit alur spiritual di akhir film.

Ketegangan dari film ini lumayan progresif di awal. Terbukti dari alur cerita yang tidak pernah ‘istirahat’ dalam melakukan pelarian satu ke pelarian yang lain. Ditambah lagi kisah yang menyajikan tentang seorang ahli serigala seperti Ottway pun merasakan ketakutan yang luar biasa. Tapi sedikit alur yang mengecewakan adalah urutan kematian tokoh-tokohnya yang sangat mudah ditebak. Khas film tentang survival adalah kematian yang berurutan satu demi satu dari anggota timnya. Inilah yang nampaknya agak membosankan. Film ini tidak bisa menyajikan sesuatu yang berbeda dengan film survival yang lain.

Ketika berhadapan dengan serigala

pertempuran terakhir Ottway

Satu fakta yang menarik adalah bahwa serigala abu-abu saat ini telah menjadi binatang yang sulit ditemukan alias susah dicari. Namun kabarnya koran lokal memberitakan adanya empat serigala yang tewas selama syuting film ini.

Director: Stephen Daldry

Writers: Eric Roth (screenplay), Jonathan Safran Foer(novel)

Stars: Thomas HornTom Hanks and Sandra Bullock

Rated: PG-13 for emotional thematic material, some disturbing images, and language

Runtime: 129 min

Tragedi 11 Spetember 2001 nampaknya belum basi untuk kembali di-setting-kan dalam sebuah film. Kali ini kejadian tersebut melatarbelakangi sebuah film drama yang disutradarai oleh Stephen Daldry yang diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Jonathan Safran Foer.

Sang Sutradara Stephen Daldry

Penulis novel Jonathan Safran Foer

Novel 'Extremely Loud & Incredibly Close' Terbitan Tahun 2005

Kisah ini memfokuskan pada tokoh sentral berusia 9 tahun bernama Oskar Schell (Thomas Horn) yang harus kehilangan ayahnya Thomas Schell (Tom Hanks) yang kebetulan pada hari tragedi tersebut berada di gedung WTC. Oskar adalah seorang anak yang sangat cerdas dengan kepribadian yang unik. Pandai berhitung dan mengingat sesuatu. Hanya saja dia terlalu berlebihan dalam menganalisis adanya suatu bahaya. Inilah yang menyebabkan dia seolah fobia pada hal-hal tertentu seperti ayunan atau ketika hendak menyeberangi jembatan.

Awalnya Oskar adalah anak yang sangat dekat dengan ayahnya. Kebersamaan ini begitu erat seiring dengan pertumbuhan usianya. Ayahnya banyak sekali mengajarkan keberanian dan falsafah hidup. Akan tetapi semuanya berubah ketika dia harus kehilangan ayahnya di tragedi Black September tersebut. Pengalaman hidup yang harus dijalani setelahnya akan membuat dia lebih dewasa dalam memaknai hidup dan berdamai dengan masa lalu.

Awal dari petualangannya adalah setelah setahun sejak kejadian tersebut. Saat itu hubungan Oskar dengan ibunya Linda Schell (Sandra Bullock) sudah mulai renggang. Oskar menemukan sebuah kunci yang disimpan dalam vas biru diantara barang-barang milik ayahnya. Kunci itu dibungkus amplop yang bertuliskan ‘Black’. Maka dengan rasa penasaran seorang anak yang masih merindukan ayahnya, kunci itulah yang membuatnya berkeliling New York untuk memecahkan misteri apa yang tersimpan pada sebuah kunci itu. Dari sinilah Oskar akan bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter orang-orang yang bernama ‘Black’ yang akan membentuk pendewasaan dan pemahaman akan hidupnya.

Dalam petualangannya, Oskar bertemu dengan sosok lelaki tua yang menemani sebagian dari pencariannya mengunjungi  orang bernama ‘Black’ tersebut. Siapakah lelaki tua ini? Tentu saja akan ada sebuah kaitan dalam lajur-lajur ceritanya. Banyak sekali letupan-letupan emosi yang mengejutkan di sini. Selain karena karakter Oskar yang memang agak annoying, ditambah pula karena luapan emosi yang diaduk-aduk ketika mendalami kisahnya yang mengharukan. Bahkan di akhir cerita, akan ada kejutan lain yang menghubungkan keseluruhan kisahnya.

Film ini bisa jadi adalah film drama terbaik tahun lalu. Peran yang dimainkan Thomas Horn sangat bagus meskipun ini adalah film bioskop pertama yang dibintanginya. Wajarlah bila tahun ini film ini mendapatkan 2 nominasi oscar untuk kategori Best Motion Picture of the Year dan Best Performance by an Actor in a Supporting Role. Dan tentunya masih banyak penghargaan yang dimenangkan dan dinominasikan (6 menang dan 6 nominasi).

Overall: inilah film yang menginspirasi sekaligus mengharukan.

1

Tidak pernah ada cinta di hati Tien. Hidup tidak memberinya cinta sedikitpun. Dia lahir juga bukan karena cinta. Orang tuanya menjodohkan ibunya dengan pria yang tidak ia cintai. Subhan nama pria itu. Dan akhir kisah rumah tangga itu sudah bisa ditebak. Kedua orang tua Tien tidak pernah bisa memaksakan cinta lebih lama lagi. Maka ibu Tien kawin lari dengan pria pilihannya dahulu sambil mengandung Tien yang berusia tujuh bulan.

Tien di sini sekarang. Kembali merenungi hidupnya yang pahit itu. Tentu saja Tien mengenal cinta. Hanya saja dia belum juga merasakannya. Malang benar nasib Tien. Dia sudah meninggalkan masa kanak-kanaknya sekarang. Usia remaja juga sudah dijalaninya sejak tiga tahun yang lalu.

Ah, betapa Tien membutuhkan cinta.

Tien selalu ingat masa lalunya. Menurutnya setiap manusia itu minimal mendapatkan cinta dari orang tuanya. Tapi Tien tidak pernah mendapat hak itu. Tien pernah mendengar bahwa induk harimau sekalipun tidak pernah melukai anak-anaknya. Aku ingin jadi anak harimau saja kalau begitu, pikirnya. Induk manusia lebih kejam. Tien banyak membaca dari koran bekas yang dipungutnya. Membaca tentang aborsi, pembuangan bayi dan penganiayaan anak oleh orang tua.

Tien tidak penah mengalami kekejaman fisik itu. Tapi Tien tahu ibunya sangat membencinya. Sama seperti kebencian ibu terhadap Subhan suami pertamanya, ayah Tien. Suatu ketika ibunya pernah berkata kalau Tien selalu mengingatkannya pada suami terkutuk itu. Ya Tuhan, bahkan ibu kandung Tien menganaktirikannya. Bagi Tien, ibunya telah mengaborsi, membuang sekaligus menganiaya dalam takaran batinnya.

Maka Tien tidak pernah menangis ketika ibunya mati.

Tien praktis tinggal dengan ayah tirinya setelah itu. Apakah ayah tirinya memberinya cinta? Tien tidak begitu memahaminya. Ayah tirinya baik, ramah tapi tidak ada cinta di hatinya. Tien merasakan kekosongan yang aneh. Dengan usianya yang baru tujuh tahun Tien tidak memahaminya. Sesekali ayahnya melepaskan pakaiannya dan Tien berpikir: ya, ayah yang baik melepaskan pakaianku untuk dicuci. Sesekali ayah Tien memandikannya dan Tien masih bepikir: ya, ayah yang perhatian sudah wajar jika sesekali memandikanku. Sesekali ayah Tien meraba-raba tubuh Tien dan Tien tetap berpikir: ya, ayah yang penolong membantuku membersihkan dan menyabun daki-daki di badanku. Dan sesekali ayah Tien memasukkan kemaluannya ke kemaluan Tien dan Tien semakin tidak memahaminya: entahlah apa yang dilakukan ayah. Pertama menyakitkan tapi ayah selalu menghiburku. Dan permen-permen itu sangatlah lezat. Ayah adalah penghibur yang baik.

Tien di sini sekarang. Sudah memahami segalanya dengan baik. Ternyata ibunya memilih pria bejat untuk dinikahi. Mungkin kakek neneknya telah mengetahui keburukan pria pilihan ibunya ini. Maka dijodohkanlah ibu dengan pria baik-baik menurut mereka.

Ah, kakek nenek, dimanakah kalian tinggal? Ibu telah memisahkan kita. Memisahkan satu-satunya kemungkinan adanya sumber cinta yang selama ini aku rindukan.

Ayahnya resmi memutus sekolah Tien sesaat setelah lulus SD. Itu artinya sebelum Tien mendapatkan penjelasan edukatif biologis tentang apa yang dilakukan oleh ayahnya, dia resmi terputus dari pendidikan formalnya. Pengetahuannya akan datang terlambat dan itulah tujuan sang ayah.

Tien mulai mengenal teman-teman ayahnya yang sering datang ke rumahnya. Tien dengan pemahaman seusianya kala itu menyebutnya: ‘teman-teman kantor’ ayah. Hanya saja Tien tidak pernah paham bahwa ‘teman-teman kantor’ ayahnya itu melakukan persis apa yang dilakukan ayahnya. Tien bukannya terganggu. Tien hanya tidak mengerti. Tapi yang Tien tahu, ayahnya selalu memanjakannya setelah itu. Sepertinya ayahnya selalu mendapatkan banyak uang setelah teman kantor ayah itu selesai ‘bermain’ dengannya.

Mungkin ayah telah berdagang sesuatu dengan teman kantornya.

Tien selalu sesak mengingat alur hidupnya yang tak seindah sinetron. Tapi Tien sudah tidak pernah menangis. Tien lupa kapan teakhir menangis. Tangisan hanyalah untuk orang-orang yang cintanya terenggut, pikirnya. Sedangkan Tien, tidak pernah memiliki cinta sejak lahir. Jadi tidak ada sedikitpun yang terenggut darinya.

Tien yang kini telah memahami segalanya, selalu terkurung dengan perasaan benci itu. Kepada ibunya yang memisahkan dirinya dengan cinta yang ia butuhkan. Ibunya yang juga melahirkannya dengan kebencian. Dan tentu saja ayah tirinya yang telah mengantarkan nasibnya pada detik ini dan di tempat ini.

Pada suatu ketika itu teman kantor ayah membicarakan sesuatu dengan ayah. Hasil dari pembicaraannya itulah yang membuat Tien pergi dari rumah ayah. Tien harus ikut Om kata ayahnya ketika itu.

Ayah menjanjikan aku akan senang. Ayah berkata Om akan membelikan apapun yang aku mau. Tentu saja, tentu saja aku mau pergi bersama Om ini. Tien tahu ayahnya berkata benar. Buktinya ayahnya setelah itu memegang banyak duit dari si Om yang pastinya nanti akan dipakai untuk membelikan Tien apa saja. Dan Om yang telah memberikan uang sebanyak itu pada ayah pastilah kaya raya. Om itu pasti akan banyak membelikan sesuatu juga.

Lambat laun Tien mengerti juga. Perjalanan hidupnya akhirnya mendewasakannya juga. Tien mulai tahu betapa kejamnya ayahnya yang menjualnya kepada teman kantornya. Dan si Om yang sama kejamnya dengan ayah. Semua memperlakukannya sama seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Sama seperti yang dilakukan ‘teman kantor’ ayah dulu. Sekarang ‘teman kantor’ Om melakukan hal yang sama dengan membayar sejumlah uang kepada si Om. Semuanya sama. Bedanya, Tien sekarang sudah mengerti. Ketika itu Tien tidak terganggu. Tien rela, pasrah. Tapi Tien merasa semakin kosong. Kemanakah cinta untuknya?

Sekarang Tien sedang berdiri di sini. Di sebuah jembatan sepanjang lima ratus meter yang baru berusia satu tahun. Masih baru. Di sinilah titik yang paling menyenangkan untuk Tien. Di sinilah Tien bisa menunggu matahari tebenam.

Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta dari sesama, biarlah aku mengais cinta dari pesona matahari yang mulai meninggalkan langit tempatku berpijak ini. Matahari telah memberikan cintanya pada alam. Sekarang sebelum dia pergi, aku ingin merasakan sedikit dari hangatnya cinta yang masih tersisa itu.

Tien masih di sini. Menatap jenuh. Kekosongan itu bisa juga jenuh ternyata. Mengenang kekosongan dan kejenuhan yang sama ketika Tien memutuskan berlari dari semuanya. Berlari secara lahir dan batin. Dini hari dua tahun yang lalu itu Tien mencoba peruntungannya. Dan beruntunglah si Om yang tidak pernah menaruh curiga pada Tien, yang dikenalnya sebagai ‘barang dagangannya’ yang paling penurut, membuat pelarian Tien bukanlah perkara yang sulit. Dengan uang hasil penjualan dirinya itu cukuplah untuk menghilang dengan jarak sejauh lima kota dari ‘kantor’ Om. Tak ada yang bisa menemukannya di kota ini. Kota yang memiliki jembatan baru yang indah. Cocok untuk Tien yang sedang merenung saat ini.

Di sini Tien berdiri menunggu matahari terbenam. Sama seperti senja-senja sebelumnya. Setelah penat dengan pekerjaan seharian itu. bukanlah pekerjaan yang menyenangkan jika Tien harus berkeliling kota dengan sepeda tua berkeranjangnya, hasil menabung selama enam bulan, yang penuh dengan kertas bekas. Melelahkan memang tapi Tien sedikit menikmatinya. Tien mulai berpikir, mungkin transaksi perasaan cinta-mencintai itu memang tidak ada. Yang ada hanyalah transaksi jual beli yang dinilai dengan uang. Uang yang membuatnya tetap hidup. Bukan cinta.

Tapi malam ini nampaknya telah merubah pandangan Tien.

Malam yang sederhana. Dengan situasi dan keadaan yang biasa. Di jembatan ini Tien telah hafal benar dengan kebiasaan anak-anak muda seumurannya, yang berpasang-pasangan, ikut meramaikan kedua sisi jembatan itu tiap senja mulai menggelap. Jembatan remang-remang yang cocok untuk memadu kasih. Kendaraan yang lewat juga tidak banyak. Entah mengapa lampu penerang jalan yang berjajar sepanjang jembatan yang masing-masing berjarak seratus meteran itu tidak pernah menyala. Seolah para ahli tata kota sengaja menjadikannya sebagai tempat cocok untuk berpacaran. Atau mungkin para vandalis kota telah merusak sensor lampu agar tidak lagi otomatis menyala ketika senja tiba.

Senja mulai menghitam. Tien mulai melihat beberapa pasangan mulai berdatangan. Seperti biasa, pikir Tien. Tien juga sudah bosan dengan gaya cakap-cakap para dua sejoli itu. Yang satu pandai merayu, satu lagi pura-pura malu tapi mau. Tien bosan dan dia selalu berhasil berkutat pada lamunannya. Tapi tidak malam itu. Dia sayup-sayup mendengar sang pria berucap ‘selamat hari valentine’ pada pasangannya. Hanya sekali Tien mendengar sudah cukup membuatnya keluar dari lamunan dan memalingkan wajah. Menengok pasangan itu. Tidak, tidak hanya satu. Beberapa pasangan lagi mengatakan kata yang sejenis sesaat berikutnya. Beberapa lagi bersendau gurau dan menyinggung kata yang sama. Semuanya, pikir Tien.

Valentine. Tien tahu kata itu. Tahu tentang perayaan dimana orang-orang meramaikannya dengan atribut berwarna pink. Lihatlah, para pasangan di jembatan itu memakai pakaian dengan unsur pink juga. Tien tahu betul peringatan hari kasih sayang itu.

Hari ini adalah hari valentine. Seluruh dunia merayakannya. Kecuali aku…

Tien sesak. Hatinya menangis. Kembali lagi dia mendambakan cinta. Kemanakah cinta untuk Tien? Tien ingin cinta menerbangkan kebahagian seperti kebahagiaan yang terpancar pada sejoli-sejoli di sekitarnya itu. Tien ingin terbang bersama orang-orang yang dicintainya. Tien ingin terbang dilangit luas agar sesak di hatinya terlepas melega.

Jembatan itu remang-remang. Tak ada yang tahu bahwa Tien mencoba terbang. Meluncur kebawah. Tien berharap cinta akan menerbangkannya pada detik-detik terakhir.

2

“Fenomena apa yang terjadi pada anak muda akhir-akhir ini benar-benar harus diwaspadai. Psikologis remaja yang baru berkembang bisa jadi adalah silent killer yang cukup serius selain obat-obatan terlarang. Bagiamana tidak? Dalam tiga bulan terakhir kita jumpai fenomena yang nampaknya menjadi tren. Apakah Shakespeare patut dipersalahkan jika anak muda jaman sekarang lebih memilih bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban percintaan? Meniru Romeo Juliet katanya. Ataukah pemerintah yang harus bersikap hanya karena tidak pernah bisa menyelesaikan urusan pelik yang bernama ekonomi?

Bagaimanapun juga bunuh diri di kalangan remaja di Indonesia cenderung meningkat. Adapun jumlah tertinggi pelaku bunuh diri berada pada kisaran usia remaja dan dewasa muda (15-24 tahun). Laki-laki melakukan bunuh diri (comite suicide) empat kali lebih banyak daripada perempuan. Sedangkan perempuan melakukan percobaan bunuh diri (attempt suicide) empat kali lebih banyak daripada laki-laki.

Laporan kejadian bunuh diri tertinggi di Indonesia tercatat di Gunung Kidul Yogyakarta yaitu 9 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan di Jakarta hanya 1,2 per 100.000 penduduk.”

………………………………………………………

“Kau tidak lupa memasukkan bahasan pada kasus terakhir dua hari yang lalu itu kan?” tanya seseorang dari bagian percetakan kepada seorang kolumnis yang sedang asik mengetik.

“Mana bisa aku lupa?” Kata si kolumnis sambil menghentikan kegiatannya sejenak. “Kamu tahu kan kemarin aku bela-belain untuk ke TKP. Meliput secara langsung. Sungguh menyedihkan kalau kamu melihatnya juga. Dan anak itu akan sedikit merubah data statistik yang sudah aku hitung sebelumnya. Tenang saja, data terbaru itu sudah siap aku cantumkan kok.”

“Mengharukan?” dahinya mulai sedikit berkerut. “Mengerikan maksudmu?”

“Tentu saja mengerikan. Korban terjun bebas mana yang matinya anggun? Tapi aku sedih, melihat wajah mayat itu… Dia tersenyum.”

“Ah, sudahlah. Bicaramu mulai mengerikan. Cepat selesaikan artikelmu itu. Jangan masukkan bagian itu. Koran kita bukan koran mistik.”

Kolumnis itu nyengir dan segera kembali berkutat pada laptopnya. Mengetik dengan cepat.  Trending news dengan kasus terakhir dua hari yang lalu itu membuat otaknya kebanjiran ide yang harus ditulis dan diselesaikan segera. Ini kasus menarik. Biarpun kasus terakhir hanya melibatkan seorang gadis gelandangan, tapi tetap saja bunuh diri di malam valentine akan cukup menarik untuk dibahas. Entah apa latar belakangnya, tak ada informasi satupun. Dia remaja gelandangan. Tak ada seorangpun yang tahu kisahnya. Pengaruhnya dalam berita ini mungkin hanya sekedar perubahan data statistik.

“Eh, buruan ya. Setengah jam lagi deadline naik cetak.” Kata manajer percetakan, mengingatkan.

“Oke, aku hampir selesai. Beberapa kata lagi dan artikel ini siap diterbitkan.” Kolumnis itu tampak puas dengan idenya yang telah tertuang dalam 2 halaman yang terketik rapi itu. Sebagai penutup artikel itu, dia menuliskan:

Yogyakarta, 16 Februari 2012,

Subhan

Dan hanya Tuhan yang tahu urusan ini.