Posts Tagged ‘cerita’

Selalu saja akan tiba di mana manusia akan berdiri pada titik percabangan dari satu keputusan besar. Titik itu senantiasa memaksa siapa saja yang mengalaminya harus menguras pikiran dan memeras hati untuk mengeluarkan sari-sari intuisi berupa sebuah bisikan yang seolah menjadi rambu-rambu yang menunjukkan jalan mana yang harus dilalui. Di sinilah manusia akan mengalami masa-masa terlemah dan terjebak dalam badai kebimbangan yang membuatnya terombang-ambing tanpa ada gerak maju.

            Namanya Raka. Dia sedang bersimpuh lelah terpancang di hadapan titik percabangan itu. Satu pekan adalah jaraknya dengan dua ruas jalan berbeda arah itu. Salah satu jalan itu adalah perempuan bernama Ira yang hendak dia lamar pekan depan dan jalan yang lain adalah perempuan tautan hatinya yang lain. Fiola namanya.

 

Ira dan Tina

            “Aku tidak sabar menunggu pekan depan, Tin.” kata Ira

            “Akhirnya ya, Ir…” kata Tina, “Pasti menjalani enam bulan LDR itu lumayan berat ya. Apalagi kalian dulu biasa barengan terus kemana-mana.”

            “Iya. Berat lho. Sudah jalan lima tahun dan tiba-tiba harus LDR itu rasanya nyesek banget.”

            “Trus kapan rencana nikahnya?”

            “Belum dibahas.”

            “Oke deh. Setidaknya hubungan kalian sudah selangkah lebih maju ke tahap berikutnya.”

            “Iya, akhirnya aku bisa menjaga hatinya agar tidak lagi bercabang kemana-mana.”

            “Maksudmu gimana Ir?”

 

Raka

            Fiola, perkara hati ini memang tidak pernah sederhana. Kamu tahu hatiku sudah memiliki dan dimiliki orang lain. Namun kamu mencintaiku apa adanya seutuhnya diriku tanpa peduli status ragawi. Hingga kini hatiku berani bertutur: itulah cinta sejati, murni tanpa atribut. Cinta yang ikhlas.

            Maka apa dayaku ketika hati ini mulai menghampirimu. Jiwaku ini mulai mencari jiwamu. Inginku untuk melebur merengkuhmu merasuk hingga tidak ada lagi diriku dan dirimu. Yang ada tinggallah: satu.

 

Ira dan Tina

            “Enam bulan ini tidak hanya menjauhkanku dari fisiknya.”

            Tina mendengarkan dengan seksama.

            “Hatinya juga mulai menjauhiku. Dalam enam bulan ini bahkan sudah enam nama perempuan yang ada di benaknya. Yang mendominasi pikiran dan juga sebagian besar obrolannya ketika kami berkontak telepon. Sering sekali dia menyebut-nyebut Nora, Axel, Sophie, Ella, Melinda dan… ah siapa itu yang terakhir aku lupa.”

            “Apa? Serius kamu Ir?”

            Ira mengangguk, “Raka orang jujur Tin. Dia ga bakal bisa menutup-nutupi apa yang dia rasakan.”

            “Ir, kamu itu kelewat sabar atau bodoh si? Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah bisa setia. Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dirinya?”

 

Raka

            Fiola, ini bukan kompetisi yang harus melahirkan satu pemenang. Bukan perkara menang dan kalah. Hanya karena aku harus memilih salah satu, bukan berarti yang lain harus mengambil jatah predikat “si kalah”. Aku mencintaimu dengan beda. Manusia memang punya satu hati tapi bukan berarti hanya bisa menyimpan satu rasa. Perasaanku terhadapmu itu utuh dan khusus. Aku simpan rasa itu dalam satu kotak yang akan selalu terpisah dengan kotak yang lain.

 

Ira dan Tina

            “Bukan.” Jawab Ira tenang, “Bukan begitu Tin.”

            “Lantas?” Sahut Tina tidak sabaran.

            “Nama-nama yang di hati Raka, yang mendominasi pikirannya, tidaklah nyata. Namun tetap saja membuatku merasa diduakan.”

            “Aku belum mengerti.”

 

Raka

            Pernah sesekali hatiku berbisik: Fiola, rebutlah aku! Tapi bisikan itu semakin lirih. Teredam dan tertekan oleh norma-norma yang ada. Yang dari sisi manapun, stempel besi panas bertuliskan “kamu bersalah” siap memberikan tanda permanen di wajahku. Hingga orang-orang tidak lagi memanusiakan jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Dia pernah mengalami gangguan di masa kecilnya. Dia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya ayahnya. Rasa kehilangan yang luar biasa besar membuat sisi lain dari jiwanya aktif membangun citra maya seseorang yang mampu dijadikan teman, sahabat bahkan pacar. Maka hati dan pikirannya selalu bercabang. Kadang dia menjadi Raka, kadang dia menjadi orang lain dan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibutuhkannya. Dia mencintai sosok lain dalam dirinya.”

            “Semacam schizophrenia?”

            “Iya. Semenjak kami jadian, gangguan itu hilang dengan sendirinya. Aku selalu ada buat dia sehingga dia tidak merasa butuh lagi sosok-sosok maya itu dalam hidupnya.”

            “Dan gangguan itu… muncul lagi semenjak kalian menjalani LDR?” tebak Tina.

            “Nampaknya begitu. Dia mulai mencari pelarian untuk menggantikan posisiku.” kata Ira sedih.

 

Raka

            Fiola, tak perlu ungkapan kata-kata cinta untuk membuat ikatan hati kita makin erat hingga detik ini. Tahukah kamu apa yang membuatku bahagia berlebih sejak tiga bulan yang lalu? Yaitu ketika aku tahu perasaanku berbalas. Ketika aku tahu bahwa aku tidak sendiri menjinjing perasaan yang agung itu.

            Fiola, aku mencintaimu. Kamulah belahan jiwa yang selalu dicari-cari separuh jiwaku.

 

Ira dan Tina

            “Fiola…! Ya, aku ingat sekarang. Fiola, nama yang akhir-akhir ini disebut-sebut Raka.” kata Ira, “Cara dia bercerita itu membuatku sedih, Tin. Nampak benar dia mencintai sosok itu. Nampak benar bahwa Raka menganggap Fiola sebagai belahan jiwanya. Ah…tidak…tidak! Fiola sama sekali bukan belahan jiwanya. Jiwa Rakalah yang selama ini terbelah menjadi sosok Fiola.”

            “Ya, aku paham Ir. Semoga pertunangan ini bisa menyatukan jiwanya lagi.”

 

Raka

            Fiola, aku tidak ingin kamu pergi dari diriku. Karena kita… Satu.

 

——

 

            Seseorang sedang tenggelam dalam tangis di kamarnya yang terkunci rapat. Dia seorang perempuan. Fiola namanya. Ingin sekali ia berkata “Ira, aku begitu mencintai calon tunanganmu.”

 

Bantul, 13 Maret 2013

Kereta ini membawaku ke arahmu. Kepada satu cinta yang kisahnya telah lama teranyam. Sendiriku ini tidaklah patut dihiraukan karena kereta ini dengan mantap bergerak maju untuk memperpendek jarak di antara kita. Kita akan bertemu lagi Cinta.

            Namun di saat yang sama, kereta ini menjauhkanku dengan hati yang lain. Satu hati yang terkasih. Yang kisahnya baru saja terkembang merekah dengan begitu indahnya. Kini engkau tertinggal di belakang. Kereta ini semakin bergerak mengulur jarak yang semakin meregang. Maka masihkah layak jika sendiriku ini tak terhiraukan? Hatiku menangis meninggalkanmu, Kasih.

            Suara tangis seorang bayi di belakang membaur dengan gelak tawa anak perempuan di bangku terdepan. Aku mulai berpikir: Apakah gambaran situasi ini cukup mengandung ironi buatku? Hingga aku menyadari bahwa dua hati di satu masa adalah perkara yang pelik.

            Aku berada di antara dua hati. Aku benci jika harus memilih. Karena memilih akan menyisakan. Aku juga tidak mampu memenangkan. Karena menang harus mengalahkan. Hatiku bukan piala dan ragaku juga tak berbagi. Tapi rasa ini nampaknya pandai bertunas, tumbuh dan bercabang.

            Cinta, kita telah punya rencana. Tujuan kita sejelas gerak maju kereta ini. Satu tujuan, satu arah, tanpa ada peluang untuk kembali mundur. Kita telah sama-sama sepakat memegang seutas tali tak kasat mata yang kelak kita simpulkan dalam ikatan pernikahan.

            Kasih, hati kita masih bertaut, tapak asmara kita senantiasa bertepuk bersama. Adilkah jika aku meninggalkanmu? Pun, aku selalu saja luluh meluruh setiap kali kamu berkata: Jangan pergi….

            Sekarang langit mulai muram. Mendung mulai menggantung. Kemudian rintik menyusul menitik. Pandanganku menerawang menembus jendela kaca yang mulai basah. Basah pulalah mataku.

            Bisakah aku berhenti saja di sini? Ingin sekali aku keluar menyambut hujan yang mampu menemani deras air mataku. Atau sekedar mendengar gemuruh riuh halilintar yang berpadu dengan simfoni gemuruh hatiku. Tapi apa daya kereta ini tetap angkuh melaju tak peduli.

            Sesaat aku lihat seorang gadis bercakap dengan telepon genggamnya. Senyum dan nada bicara itu tak salah lagi adalah senyum dan nada orang yang jatuh hati. Bahagialah dirimu yang sedang mengasihi seseorang di ujung sana. Ah, cinta… Sebenarnya cukuplah cinta itu satu semata. Satu yang mencukupi. Kelebihan satu saja maka hidup akan kacau balau.

            Gadis itu menutup percakapannya dengan sisa senyum yang masih merekah dan kemudian menguncup dengan anggunnya. Matanya bahagia sekaligus menyimpan sendu rindu yang tak sabar untuk bicara lagi di masa berikutnya. Seketika itu batinku perih. Aku ingin berkata: Aku ingin rasa itu… Aku ingin memilih tanpa menyisakan dan memenangkan tanpa mengalahkan.

            Lantas satu nama yang terkasih itu mendominasi.

            Kuraih telepon genggam. Ingin kukirim pesan: Kamu satuku untuk selamanya.

            Namun apa daya pesan itu tak pernah sanggup aku kirimkan. Belum sempat tertutur, kalian lebih dulu berucap kata pisah. Kalian meninggalkanku sebelum aku sempat memutuskan. Kalian menangis pilu sedangkan air mataku telah mengering dan pikiranku mati rasa.

            Kereta ini telah menjauhkanku dari segalanya yang aku kasihi. Bahkan kereta ini juga telah jauh dari tujuannya.

            Kereta ini bahkan tak pernah sampai di stasiun terakhir.

            “Selamat jalan, kekasih.” katamu di depan jasadku yang terbaring bersama puluhan korban kecelakaan kereta siang itu.

 

-Kereta Gajah Wong Jurusan Jogja-Pasar Senen, 8 Maret 2013- 

[Cerpen] Rencana

Posted: Mei 13, 2012 in cerpen, Karya Sendiri
Tag:, , ,

“Fira, dia jadi bisa datang kan malam ini?” tanya mama sambil menyetrika gaun yang hendak dipakainya perdana malam nanti. “Soalnya mama udah reserve untuk lima orang. Papamu juga udah berhasil melobi rekannya. Mereka bisa menyediakan posisi yang enak buat kita berlima.”

“Jadi dong ma, kebetulan hari ini dia jaga shift siang kok. Malamnya udah free.” Jawab Fira sambil meraih handuk mandinya. “Hebat juga ya Papa, bisa punya koneksi orang dalam. Kok ga bilang dari dulu sih? Fira kan jadi ga perlu repot-repot ngantri kalau ada film bagus.”

“Ya ga enak juga dong Ra. Meski Pak Kusno itu sobat papa waktu kuliah, malu lah kalau telalu sering minta tolong. Kalau bukan untuk perayaan ulang tahun adikmu, ga mungkin lah papamu minta tolong sama Pak Kusno yang super sibuk itu.”

“Iya juga ya ma. Uda dikasi tempat aja uda spesial banget lho ma. Tau ga ma, film The Avengers yang mau kita tonton tu emang kelewat terkenal lho. Sejak dari pemutaran perdana, Fira nitip sama temen yang bisa ngantriin dari sebelum bioskop dibuka. Eh, tetep ga kebagian juga tiketnya.”

“Iya, mama tau itu film juga udah ditunggu-tunggu sama adikmu. Pokoknya mama sama papa udah nyiapin kejutan besar-besaran. Kita ga sekedar dapet tiket dan tempat duduk yang enak aja lho. Kabarnya Pak Kusno bahkan memberi kita tiket teater IMAX. Gratis.”

“Hah! Yang bener ma?” mata dan mulut Fira melebar tanda tak percaya. Fira tahu teater IMAX adalah teater dengan teknologi terbaru yang kualitas gambarnya di atas kualitas tiga dimensi biasa. Dan mereka akan menonton film terkenal itu ditempat duduk strategis, tanpa perlu mengantri dan tentu saja dengan kualitas teater IMAX yang belum seminggu dibangun. Ditambah satu kesempurnaan penutup: semuanya gratis!

“Wah…wah…Fira mendadak merasa dianaktirikan ma.”

“Ya nggak dong Fira sayang.” Kata mama sambil tesenyum. “ Ini sekaligus sebagai hadiah buat adikmu yang udah berhasil diterima di UGM tanpa jalur tes. Nanti papa mama juga mau kasih hadiah buat Fira kalau bisa lulus semester ini dengan IP di atas 3,5 ya.”

“Janji ya ma.”

Mama mengangguk masih dengan senyumnya.

“Terus, mama udah pesen tempat dinner dimana?”

“Lihat saja nanti ya Fira. Mama juga udah koordinasi sama yang punya restoran. Pokoknya bakal ada kejutan juga di sana. Dia teman mama waktu SMA. Kamu ingat sama tante Linda?”

“Oh, iya ma. Tante Linda yang nasi gorengnya bikin Fira ketagihan itu kan?”

“Iya, nanti kita dinner di salah satu restoran terbaik punya Tante Linda.”

“Restoran yang mana? Tante Linda kan punya banyak.”

“Lihat saja nanti Fira. Pokoknya kejutan spesial deh.”

“Kan bukan Fira yang harus dikejutkan ma. Yang ulang tahun kan bukan Fira…”

Samar-samar mereka mendengar pintu depan dibuka kemudian di tutup kembali.

“Sssst… itu adikmu udah pulang.” Kata mama sambil berbisik.  “Udah jangan dibahas lagi. Buruan mandi sana.”

Fira yang dari tadi telah memegang handuk segera bergegas ke kamar mandi.

“Mamaaaaa,,,,coba liat ini…hiiiiiii.” teriak Fatma, adik Fira, sambil menunjukkan kawat gigi barunya. “Fatma pilih warna karetnya hijau tosca ma, keren kan.”

“Kok adek pilih hijau? Kan jadi kayak ada bayam nyelip.” Ledek mama.

“Mana ada bayam warna hijau tosca ma. Tapi gigi Fatma uda mulai ngilu ni ma.”

“Ya sabar dong sayang, katanya mau giginya dirapiin sebelum masuk kuliah.”

“Iya ma, biar Fatma ga malu. Giginya ga boleh berantakan kalau mau kuliah di kedokteran gigi, hehehe.” Kata fatma sambil nyengir setengah sengaja menampakkan kawat giginya yang hijau tosca. “O iya ma, tadi biaya kawat giginya didiskon 50% lho. Kata dokter Rifqie, itu untuk hadiah ulang tahun Fatma.”

“Oya kah? Sudah bilang terima kasih ke dokter Rifqie?”

“Waduh, lupa ma. Lagian wajar aja dong ma kalau dokter Rifqie kasih diskon. Selain karena Fatma ulang tahun, Fatma kan calon adik iparnya, hehehe.”

“Fatma ga boleh gitu. Nanti dokter Rifqie kan diundang dinner juga, pokoknya nanti adek harus bilang terimakasih ke dia ya. Dokter Rifqie juga yang nanti bakal nemenin Fatma ke UGM untuk melihat-lihat calon kampus kamu itu.”

“Iya, nanti Fatma bilang terimakasih ke dokter Rifqie. Katanya dia bakal sampai sini jam enam. Oiya ma, sisa ongkos kawat giginya ga perlu dibalikin ke papa kan? Buat Fatma aja ya. Lumayan buat traktir temen-temen.”

“Iya, boleh. Papa kan udah kasi duit itu sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi terserah Fatma mau dipakai untuk apa.”

“Horeee… jadi ga sabar pengen nunjukin gigi Fatma ke papa. Jam berapa papa pulang ma?”

“Sekarang papa masih di Jakarta. Nanti jam empat papa telepon kalau udah mau pulang.”

Fatma menengok ke jam dinding. Jam tiga lebih sepuluh. Masih lama. Pikirnya.

“Fatma nyicil packing barang bawaan yang mau dibawa ke Jogja aja sana. Kita besok berangkat naik pesawat pagi-pagi. Biar ga buru-buru. Agenda kita hari ini sampai malam soalnya.”

“Oke ma.” Fatma ngeloyor ke kamar dan berkutat dengan beberapa pakaian dan tas ranselnya.

Mama tersenyum melihat anaknya yang kini sedang bertambah umurnya. Kebanggaannya juga berlipat ketika mendapatkan kabar bahwa Fatma diterima di FKG UGM. Tangannya sudah berhenti memainkan setrikaan sekarang. Gaun biru itu sudah licin dan tergantung anggun di hanger. Mama memandangi dengan tersenyum. Membayangkan dirinya berada di dalam balutan gaun itu nanti malam.

Untuk urusan perencanaan, mama nampaknya sudah mantap. Rencana itu sudah dipikirkannya dengan papa sejak seminggu yang lalu. Mama mengingat-ingat daftar agenda yang tersusun rapi di pikirannya. Mencoba mendata kembali dan mencari apa saja yang kurang. Mama mulai dengan agenda tedekat. Suaminya dipastikan akan menelepon jam empat. Biar Fatma yang mengangkatnya. Dibuat seolah menelepon dari Jakarta padahal sebenarnya  sudah ada di depan rumah untuk memberikan kejutan buat Fatma. Suaminya juga sudah menyiapkan kejutan sendiri yaitu replika Captain America yang sudah beberapa bulan yang lalu diidamkan Fatma. Suaminya sampai harus order ke luar negeri untuk mendapatkan replika yang Fatma mau. Kemudian jam enam, sudah dipastikan pacar Fira, dokter Rifqie, bisa datang. Artinya restoran dan bioskop yang di booking untuk lima orang bisa terisi lengkap. Kemudian Tante Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Konfirmasi terakhir sudah dilakukan mama sejak tadi siang dan Tante Linda bilang kue ulang tahun dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Kata Tante Linda lagi, ga cuma Fatma yang akan terkejut, pasti yang lain juga bakal terkejut karena Tante Linda juga mempersiapkan kejutan kecil lainnya. Dinner spesial ini juga nantinya akan dipakai untuk lebih mengenal dokter Rifqie. Prosedur standar untuk lebih mengenal calon menantu. Selesai dinner agenda selanjutnya adalah nonton The Avenger. Film yang sangat dinantikan Fatma sejak pemutarannya perdana empat hari yang lalu namun tidak pernah kebagian tiketnya. Pak Kusno sudah mengirimkan kartu free pass via pos yang tiba di rumah kemarin siang. Mama maklum karena Pak Kusno tidak mungkin punya waktu untuk menyerahkannya sendiri.

Semua sudah beres. Pikir mama sambil senyum-senyum sendiri. Mama tersenyum meskipun tahu bahwa agenda malam ini akan membuat mereka semua kecapekan. Dan besok pagi, masih ada agenda lain yaitu berangkat ke Jogja untuk melihat-lihat kampus Fatma sekaligus mencari info kos-kosan.

Lamunan mama teputus oleh dering telepon di ruang tengah.

“Biar Fatma yang angkat ma.” Teriak Fatma sambil berlari ke ruang tengah. “Itu pasti papa.”

Mama melihat jam dinding. Masih jam setengah empat. Baguslah kalau suaminya bisa pulang lebih awal.

“Maaa… dicari pak Suryo.” Teriak Fatma dari uang tengah. Mukanya agak kecewa karena orang yang menelepon bukan papa.

Pak Suryo adalah atasan suaminya di kantor. Haduh, jangan-jangan papa harus pulang telat. Keluh mama dalam hati.

“Halo, selamat sore Pak Suryo.” Kata mama mengambil alih gagang telepon.

“Sore, bu.” Kata Pak Suryo di seberang sana.

“Iya, ada apa pak?”

“Begini bu, saya mau memberitahukan, bahwa…pesawat yang ditumpangi suami anda…hilang kontak sejak satu jam yang lalu. Mohon ibu bersabar dan tetap berdoa…”

Kata-kata Pak Suryo berikutnya sudah tidak dapat dicerna oleh akal sehatnya lagi. Tiba-tiba rasa sesak itu melanda hati mama. Pikirannya tak lagi terorganisir. Dan matanya, begitu kabur karena membendung air mata

Tanggal 9 Mei 2012. Ternyata Tuhan telah memiliki serangkaian rencananya sendiri sejak pukul 14.33.

Jogjakarta, 13 Mei 2012

Rifqie Al Haris

*Mengenang kembali peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Supejet 100 di Gunung Salak tanggal 9 Mei 2012. Pesawat tersebut terbang pukul 14.12 dan hilang kontak pukul 14.33. Turut berduka bagi mereka dan kerabat-kerabat mereka yang harus rela menangguhkan rencana-rencana hidupnya untuk tunduk pada rencana Tuhan.