Posts Tagged ‘cerita pendek’

Ternyata mitos itu benar adanya. Setelah aku berhasil menangkap bunga yang dilempar pengantin itu, kini aku bisa menikah paling cepat di antara rekan-rekanku. Dan perempuan yang aku nikahi itu, adalah si gadis pelempar bunga.

Iklan

I

“Pak, Jaka boleh kuliah gak?” Jaka merasa sudah waktunya pertanyaan itu disuarakan. Masa penghabisan di bangku SMA sudah di depan mata. Sedangkan pertanyaan itu sudah dirumuskan oleh hatinya yang tak pernah nyata bersuara.

“Percayakan sama bapakmu ini, Jaka. Kamu gak perlu khawatir. Kamu memang harus kuliah.” Kata bapaknya. Senyum di sela kata-katanya itu selalu bisa menentramkan hati Jaka yang gulana.

“Memangnya duit bapak cukup?”

“Kamu harus percaya, pasti ada jalan. Harta orang tua gak bakal habis jika dipakai untuk membiayai pendidikan anaknya.”

“Dani bahkan sudah siap-siap duit ratusan juta, pak. Dia merasa gak yakin dengan kemampuannya. Biar duit yang bekerja katanya.”

“Kamu gak perlu mikir duit. Biar bapak yang mikir. Kamu rajinkan lagi belajarmu ya. Percayakan pada otak. Jangan pada duit.”

“Tapi otak Jaka dan otak Dani sama, pak. Dari dulu rankingnya juga selalu atas bawah. Mending kalau atas bawahnya di lima besar. Bapak kan tahu ranking jaka terbaik cuma di peringkat 23.”

“Otak kamu belum telambat untuk dibikin lebih pandai kan? Masih ada waktu Jaka. Itulah senjatamu. Sudah sana, buka bukumu!”

Semangat Jaka kembali tersulut. Dia betekad untuk bisa berkuliah di tempat bapaknya itu bekerja. Bapaknya sudah belasan tahun bekerja sebagai tukang parkir di fakultas Teknik di sebuah Universitas Negeri ternama. Mimpi-mimpi bapaknya agar anaknya bisa menjadi mahasiswa telah tertanam sejak bapaknya bekerja di lingkungan kampus. Tempat para intelektual itu menuntut ilmu. Mimpi itu juga tumbuh di benak Jaka sejak kecil.

II

“Dapet berapa jadinya, Dan?”

“Tujuh ratus lima puluh pa. Ga bisa kurang lagi.” Jawab Dani.

“Udah naik lagi ya?”

“Iya pa. Makin gila-gilaan aja harganya. Tahun lalu, untuk fakultas Kedokteran, tujuh ratus lima puluh itu udah kisaran maksimal. Masih bisa turun. Tapi tahun ini, jumlah segitu udah minimalnya. Maksimalnya sampai delapan ratus.”

Papa Dani geleng-geleng kepala mencerna nominal sebanyak itu.

“Tapi dijamin aman kan?”

“Dijamin aman pa, DP nya bisa sepuluh persen dulu. Sisanya kalau udah diterima. Sistemnya juga aman kok pa. Berlapis gitu. Jadi Dani sendiri gak tahu siapa yang bakal jadi Joki ntar. Dani cuma ketemu sama makelarnya.”

“Ya sudah, pokoknya kamu atur sendiri. Jangan sampai kena tipu lho ya.”

“Beres, pa.”

Di mata Dani, sudah terbayang fakultas Kedokteran yang sudah dimimpikannya sejak sepuluh persen DP itu diserahkan. Mimpi yang menurut Dani harus dikejar meski hal itu berimbas pada papanya yang harus mengeluarkan dana tujuh ratus juta rupiah. Toh papanya juga gak sulit mengumpulkan uang sejumlah itu.

Sepuluh persennya sudah kepegang. Katanya dalam hati. Uang muka sepuluh persen dirasa sebagai cicilan nasib baik juga.

III

Ada  enam orang di ruangan tertutup itu. Si koordinator sudah memulai koordinasinya sejak lima belas menit yang lalu.

“Kita masih memakai sistem tahun lalu karena belum ada sistem yang lebih baik dari itu.” kata koordinator, “Jadi nanti ada lima master yang akan mendampingi pasien.”

Randa tahu betul istilah ‘master-pasien’ itu. Master adalah sebutan untuk joki dan pasien adalah sebutan untuk klien. Sudah tahun ketiga dia jadi ‘master’. Sudah tahu betul seperti apa ‘sistem tahun lalu’ yang dimaksud koordinator.

“Meski kalian sudah pada ngerti, pada hapal, saya perlu review lagi biar kalian tambah mantap.” Kata koordinator, “Terutama untuk Dado sama Tengku yang baru tahun lalu jadi master.”

Dua orang yang disebut namanya manggut-manggut. Yang lain tetap menyimak.

“Kalian berlima  nanti ikut masuk ke ruang ujian sebagai peserta ujian resmi. Alat komunikasi sudah siap terpasang rapi seperti saat technical meeting kemarin sore. Kalian kerjakan soal-soal itu sebaik-baiknya. Lalu kirimkan jawaban ke saya. Jawaban yang terkumpul di saya akan saya analisis. Kesamaan jawaban terbanyak saya anggap sebagai jawaban yang benar. Jawaban itulah yang akan saya kirimkan ke pasien. Tentu saja pasien juga telah dilengkapi alat komunikasi tersembunyi. Untuk mengantisipasi adanya perbedaan kode soal, tolong tuliskan juga kode soal yang kalian pegang. Jadi saat saya nanti tiba-tiba dihadapkan dengan lima jawaban yang seluruhnya berbeda, itu artinya kalian memegang lembar soal yang berbeda. Solusinya gini, nanti akan saya suruh si pasien menuliskan kode soal yang sesuai dengan kode soal salah satu master senior. Meskipun berbeda dengan soal yang dipegang pasien, itu gak masalah karena komputer hanya men-scan kode soal yang ditulis di lembar jawaban. Komputer tidak akan mencocokkan antara lembar jawaban dan lembar soal yang dibawa pasien. Beberapa tahun lalu saya pakai cara seperti itu dan berhasil. Hal itu boleh dilakukan daripada kita tidak profesional dengan memberikan jawaban yang asal atau perkiraan saja. Ada yang mau ditanyakan dulu?”

Tidak ada suara, satu dua menggelengkan kepala.

Koordinator melanjutkan, “Pasien kita tahun ini total tujuh orang. Untuk pembagian fee, meskipun sudah saya tegaskan di awal, sekedar mengingatkan lagi saja, bahwa lima puluh persen total uang yang masuk adalah bagian saya. Sedangkan lima puluh persen sisanya dibagi rata untuk kalian berlima. Bagian saya besar karena risiko yang saya tanggung juga besar. Saya ujung tombak. Saya orang yang langsung berhubungan dengan pasien. Mereka mengenal saya. Sedangkan kalian para master, tetap terjaga identitasnya karena mereka tidak akan pernah bertemu muka dengan kalian. Ada yang keberatan?”

Tidak ada suara. Air muka mereka menyetujui.

“Sedangkan bagian kalian berlima,” lanjut koordinator, “akan dibagi sama rata. Tidak peduli mana master senior mana yang junior. Sekian briefing dari saya. Sesi diskusi saya buka.”

Beberapa orang mulai diskusi dengan sesamanya. Randa tidak butuh lagi diskusi. Dia sudah meluluskan belasan pasien sepanjang kariernya. Dialah master senior.

IV

Seorang pria tambun berkacamata duduk di belakang meja kantor dengan papan nama yang berisi lebih banyak huruf titel dibandingkan dengan huruf namanya sendiri. Bardi namanya. Tanpa nama belakang. Titel itulah yang dipakai sebagai senjata pencalonannya menjadi dekan dua tahun yang lalu. Dan kini dia amat sangat menikmati singgasana tertinggi di lingkungan fakultas tesebut.

Namun hari itu, dahi Bardi berkerut. Hatinya abu-abu. Pikirannya juga sedang letih mengangkat beban masalah. Ditatapnya pesawat telepon di mejanya itu rapat-rapat. Perlu waktu lama bagi Bardi untuk memutuskan mengangkatnya dan menekan serangkaian nomor.

Nada sambung terputus oleh suara seorang pria di seberang sana.

“Ya, halo…” kata Bardi, “Ini saya, Pak Bardi dekan fakultas Teknik. Kalau kamu jadi mau diluluskan semester ini…” Nada kalimatnya semakin canggung.

“…bawakan saya lima puluh ya.” Lanjutnya.

Sesaat kerutan di dahinya mengendur saat Bardi meletakkan gagang telepon. Abu-abu di hatinya sedikit luruh. Dan beban pikiran yang berat itu mendadak sedikit ringan oleh kesepakatan lima puluh juta  pertamanya. Dicentangnya satu nama mahasiswa paling atas yang baru saja ditelpon. Masih ada empat belas lain yang nantinya bisa membantu mengangkat beban hatinya. Beban bernominal tujuh ratus lima puluh juta yang merupakan tiket untuk Dani, anaknya yang kepingin masuk fakultas Kedokteran.

V

Di seberang sana, orang yang ditelepon Bardi tersebut ingin mengumpat menghujat dekan korup itu tapi apalah daya jika dirinya sebenanrya juga hampir sama saja dengan Bardi. Di dunia ini yang terpenting adalah uang.

Untunglah fee DP dari koordinator sudah turun. Pikir Randa sambil menyisihkan lima puluh juta untuk dekan busuk itu. Akhirnya dia bisa lulus juga semester ini.

VI

“Halo, bisa bicara dengan Pak Bardi?” kata seorang pria paruh baya dari sebuah wartel.

“Oh, ini Pak Bardi ya?” lanjutnya ketika sudah mendengar jawaban orang yang diteleponnya, “Sebelumnya maafkan atas kelancangan saya, pak. Begini, saya ingin minta tolong dan minta kerjasamanya dari Pak Bardi…”

Pria itu diam sejenak. Berpikir untuk merangkai kata-kata yang layak.

“Pak, saya tahu betul siapa anda… Saya juga sudah tahu kebusukan Bapak. Saya ada buktinya. Saksinya juga banyak. Mahasiswa-mahasiswa itu cerita semuanya ke saya. Bapak gak punya pilihan lain selain membantu saya. Kalau tidak, saya akan perkarakan kasus Bapak.”

Terdengar suara mencak-mencak di lubang dengar gagang telepon.

“Permintaan saya sederhana Pak. Tidak sebanding dengan pertaruhan nama baik Bapak.”

Vokal yang meninggi dan alunan umpatan kembali meluncur dari lubang dengar. Kemudian terdiam. Tanda kesepakatan tak tertulis telah disetujui dengan terpaksa.

“Loloskan anak saya Pak. Buat dia diterima di fakultas Bapak. Bebaskan dia dari semua biaya pendidikan. Saya rasa itu hal sepele jika dibandingkan dengan kebusukan Bapak.”

Suara di seberang kembali angkat bicara tanda menyetujui. Sekali lagi dengan tepaksa tentunya.

Pria penelepon yang berprofesi sebagai tukang parkir di fakultas Teknik itu mengakhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih. Senyumnya terkembang membayangkan Jaka, anaknya, kelak bisa berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Negeri ternama di kota itu. 

T(w)ITIT! by Djenar Maesa Ayu

My rating: 4 of 5 stars

Detail info:
Mass Market Paperback, 106 pages
Published: January 2012 by Gramedia Pustaka Utama

Sebelas twit yang menjelma menjadi sebelas cerita pendek yang menarik yang selalu saja ditokohi oleh seorang perempuan bernama Nayla. Hanya saja setiap cerita pendek nampaknya menyajikan Nayla dengan latar belakang dan nasib yang berbeda-beda. Nayla adalah gambaran sosok perempuan yang dihadapkan masalah-masalah yang cukup mengusik dari segi gender. Dari mulai keluarga, kehidupan sosial, dan seksualitas dengan segala macam tempaan yang begitu menyakitkan. Nayla yang di sebelas cerita akan menjelma menjadi sosok anak-anak, sosok remaja, sosok Ibu dan sosok janda akan menghadapi relita kehidupan yang cukup keras yang membuatnya menjadi sosok yang tangguh.

OPINI

Jika kita menyandingkan buku “Kicau Kacau” nya Indra Herlambang dengan buku ini tentu saja satu persamaan mendasar adalah bahwa kedua buku tersebut adalah pengembangan sttus Twitter menjadi sebuah cerita pendek. Tapi di sisi lain perbedaannya pun sangat signifikan jika kit telah membaca keduanya. Tulisan Indra lebih pop, ringan, cenderung ke komedi dan motivatif. Sedangkan Djenar menyajikannya dalam cerita yang gaya bahasanya cukup serius.

Djenar Maesa Ayu

Masih dengan tema yang menjadi ciri khas Djenar, cerpen-cerpen di buku ini masih kental dengan bahasa vulgar yang jujur, mengalir dan dahsyat dalam menuturkan sebuah kisah. Memang secara keseluruhan kisah yang disajikan di sini cukup “gelap”. Tapi dengan membacanya kita akan dihadapkan sebuah realita yang akan selalu ada dalam masyarakat.

Dalam memilih tema dan kata-kata yang vulgar, Djenar bisa disandingkan dengan Ayu Utami. Hanya saja Djenar nampaknya lebih banyak memasukkan gaya bahasa prosa di tulisannya. Kalau kita amati, setiap paragraf demi paragraf, Djenar menyusunnya sedemikian rupa dan memilih kata-katanya hingga selalu saja terbentuk rima bak puisi. Menjadikan sebuah kekuatan tersendiri ketika kita membacanya.

DID YOU KNOW?

Buku ini adalah buku keenam yang ditulis Djenar Maesa Ayu. Djenar menyelesaikan 10 dari 11 cerita dalam 10 hari saja. ”Satu cerpen saya tulis di bulan September, sisanya baru saya tulis sejak 23 Desember. Buku ini gila,” ujarnya.

Buku ini dirilis bertepatan dengan ulang tahun Djenar genap berusia 39 tahun pada 14 Januari 2012. Tulisan ini adalah sebuah cerita yang dikembangkan dari twit Djenar. Dari sebelas twit yang dipilih, jadilah sebelas cerita pendek yang mengagumkan khas Djenar.

Tentang makna judul “T(w)ittit!” Djenar mengaskan, “Judul T(w)ITIT! sendiri sebenarnya juga upaya mengaduk imajinasi. Pembaca bisa menghubungkannya dengan twitter, atau langsung menghubungkannya dengan twitter minus huruf w.”

Lomba Estafet Review Buku” http://www.bookoopedia.com/id/berita/id-88/lomba-estafet-review-buku.html