Posts Tagged ‘20th Century Fox films’

Director: Ridley Scott

Stars: Noomi RapaceLogan Marshall-Green and Michael Fassbender

Genres: Action | Horror | Sci-Fi

Motion Picture Rating (MPAA): Rated R for sci-fi violence including some intense images, and brief language

Runtime: 124 min

-They went looking for our beginning. What they found could be our end-

Sinopsis

Pada tahun 2089, pasangan arkeolog Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) menemukan sebuah gambaran kuno di dinding gua yang menggambarkan susunan gugusan bintang. Gambaran ini muncul di tempat-tempat dan peradaban lain yang terpisah dan tidak ada hubungannya sama sekali. Namun gambaran tersebut begitu identik. Maka para ilmuwan itu secara sepakat mengintepretasikan gambar-gambar tersebut adalah suatu pesan yang bersifat undangan dari suatu tempat yang diyakini sebagai tempat asal mula seluruh kehidupan manusia di bumi.

Berdasarkan susunan gambaran bintang-bintang tersebut, mereka akhirnya menemukan lokasi yang identik dengan gambaran itu. Mereka menyebut tempat itu LV-223. Peter Weyland (Guy Pearce), seorang CEO dari Weyland Corporation mendanai perjalanan mereka ke tempat tersebut dengan membangun sebuah pesawat luar angkasa Prometheus.

Pesawat Prometheus

Sekelompok ilmuwan diberangkatkan dalam keadaan ditidurkan. Sedangkan pesawat luar angkasanya dikendalikan oleh robot android bernama David (Michael Fassbender). Mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju pada tahun 2093. Mereka mendaratkan Prometheus di sebuah tempat yang dekat dengan suatu struktur raksasa yang ada di planet tersebut. Di situlah sekelompok tim dikirimkan untuk mempelajari tempat yang diyakini sebagai asal mula kehidupan manusia tersebut. Namun yang mereka temukan justru bisa jadi akan menyebabkan musnahnya umat manusia di bumi.

David si manusia android

Opini

Promosi film ini cukup luar biasa. Menurut pengamat film, Prometheus memiliki berbagai aspek yang membuatnya jadi film unggulan musim panas yang layak diperhitungkan kehadirannya. Bahkan mereka optimis bahwa film ini bisa menjadi kuda hitam diantara film-film rilisan tahun 2012 secara keseluruhan baik dari segi pencapaian finansial dan ataupun kualitas.

Namun menurut saya pribadi, ekspektasi akibat materi promosi justru melebihi dari kenyataannya. Saya melihat film ini belum menghadirkan sesuatu. Sepanjang film saya menunggu adanya klimaks yang luar biasa. Namun nyatanya, film ini secara keseluruhan berkesan baru sekedar pemanasan. Untungnya saya menyadari bahwa film ini memang dipersiapkan untuk berlanjut di sekuel berikutnya. Dengan alasan itu saya bisa memaklumi jika ‘si klimaks’ mungkin saja tidak hadir di installment  ini tapi memang dipersiapkan di sekuel berikutnya. Namun pengakuan sutradara Ridley Scott justru mematahkan harapan saya. Dia berkata, “If we’re lucky, there’ll be a second part. It does leave you some nice open questions.” Ini jelas-jelas mengkhawatirkan. Bagaimana mungkin sebuah film yang masih terdapat begitu banyak missing link tidak dibuat lanjutannya? Saya anggap si Ridley Scott sudah berhutang besar pada saya dan dia wajib membuat lanjutan kisahnya yang benar-benar bisa memuaskan ekspektasi saya tehadap franchise  ini. Kita tunggu dan kita doakan saja agar Ridley Scott meluangkan waktunya untuk proyek lanjutannya.

Teknologi 3D yang disajikan belum begitu, menggigit. Alur ceritanya telalu mudah ditebak dan emosi dari alur cerita dan penokohan karakternya masih terlalu datar.

Behind The Scene

Prometheus menjadi ajang kembalinya lagi Ridley Scott, sang sineas yang pada tahun 1979 pernah menyajikan Alien, film horor fiksi ilmiah yang luar biasa sukses. Melalui film ini, Scott hendak menciptakan kisah pondasi bagi mitologi Alien yang selama ini belum pernah diceritakan di layar lebar. Pada awalnya Scott berencana membuat film ini sebagai prekuel langsung dari Alien, namundalam perkembangannya, proyek ini menjadi film yang bisa dibilang berdiri sendiri.

Ridley Scott

Proses syuting dimulai pada bulan Maret 2011 hingga Januari 2012 yang dilangsungkan di Kanada, Inggris, Skotlandia, Islandia dan Spanyol dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi. Bahkan, para pemain penting di film ini harus menandatangani persetujuan guna mencegahtejadinya kebocoran plot penting cerita serta kesediaan mereka membaca skripnya hanya kala berada di bawah pengawasan langsung pihak studio.

Suasana Syuting

Ridley Scott mengarahkan proses syuting

Aktris Charlize Theron ketika syuting

Did You Know?

Gemma Arterton, Carey Mulligan, Olivia Wilde, Anne Hathaway, Abbie Cornish dan Natalie Portman pernah dipertimbangkan untuk memerankan tokoh Elizabeth Shaw.

James Franco pernah dipertimbangkan untuk peran Holloway.

Michelle Yeoh pernah dipertimbangkan untuk peran Meredith Vickers yang akhirnya diperankan oleh Charlize Theron.

Film ini awalnya akan diberi judul Paradise. Tapi Ridley Scott sendiri yang mengusulkan memberi judlu Prometheus karena dianggap lebih sesuai dengan tema yang diangkat film ini yang menceritakan tentang proses penciptaan. Prometehus adalah pelayan para dewa-dewi. Dia mencuri dan membagi-bagikan anugerah besar pada manusia berupa api yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan manusia untuk selamanya.

Noomi Rapace, aktris Swedia yang memerankan tokoh Elizabeth Shaw, harus berlatih berbicara dengan dialek British agar sesuai dengan karakter Shaw.

Charlize Theron mengalami kesulitan menjalani adegan berlari di pasir dengan menggunakan sepatu boot gara-gara kebiasaan merokoknya.

Nama tokoh android yang muncul di franchaise Alien, entah sengaja atau tidak, selalu dinamai menurut urutan abjad: Ash (dalam Alien), Bishop (dalam Aliens,dan Aliens 3), Call (dalam Alien: ressurection) dan kini David (dalam Prometheus).

Favorite Quotes

David: Big things have small beginings.

Elizabeth Shaw: My God, we were so wrong…

Director: Josh Trank

Writers: Max Landis (screenplay), Max Landis (story), Josh Trank (story)

Stars: Dane DeHaanAlex Russell and Michael B. Jordan

Genres: Drama | Sci-Fi | Thriller

Motion Picture Rating (MPAA): Rated PG-13 for intense action and violence, thematic material, some language, sexual content and teen drinking

Runtime: USA: 84 min

Boys will be boys

Sinopsis 

Seorang remaja Seattle Andrew Detmer (Dane DeHaan) mulai memvidiokan kehidupan sehari-harinya. Kehidupan di rumahnya sendiri tidak menyenangkan. Ibunya, Karen Bo Petersenn), menderita kanker yang semakin parah. Ayahnya, Richard (Michael Kelly), adalah seorang pemabuk yang sering kasar terhadap Andrew. Sedangkan di sekolahnya, Andrew sering menjadi korban bullying.

Suatu hari sepupu Andrew, Matt Garetty (Alex Russell), mengajaknya ke sebuah pesta. Di sanalah ia diminta Matt mensyuting sesuatu bersama seorang bintang sekolah populer, Steve Montgomery (Michael B. Jordan). Mereka bertiga menuju sebuah lokasi yang terdapat sebuah lubang besar terowongan bawah tanah. Mereka mencoba memasuki terowongan itu dan memvidiokannya. Tenyata sesuatu yang berada di ujung terowongan itulah yang mengubah nasib mereka.

Andrew, Matt dan Steve di dalam terowongan

Sebuah benda tak dikenal bersinar di ujung terowongan. Sebuah kristal besar yang memancarkan cahaya biru itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras dan warnanya berubah menjadi merah. Tiba-tiba mereka merasakan sakit kepala dan mimisan. Kamera pun mendadak mati.

Beberapa hari setelahnya mereka menyadari bahwa benda asing itu memberikan kekuatan telekinetik pada mereka bertiga. Kekuatan itu semakin bertambah tiap harinya. Mulai dari mengendalikan benda-benda kecil, kemudian benda-benda besar hingga mereka bisa menerbangkan tubuh mereka sendiri. Dengan euforia sekelompok remaja, kekuatan itu mereka gunakan untuk senang-senang. Namun, kehidupan Andrew yang sering mendapatkan kekerasan baik dari ayahnya dan dari teman sekolahnya ternyata membuat pertumbuhan kekuatan itu kearah kekuatan jahat yang tak terkendali. Emosi akibat penbekanan yang terakumulasi membuat Andrew tidak mampu mengendalikan kekuatan jahatnya sendiri.

Tiba-tiba mereka memiliki kemampuan telekinetis

Kemampuan super mereka semakin meningkat hingga bisa terbang

Opini 

Nampaknya genre film found footage mulai bisa dijadikan senjata untuk menembus pasaran box office. Diawali dari kesuksesan The Blair Witch Project yang nampaknya membuka suasana baru untuk film jenis ini, kemudian franchaise Paranormal Activity yang cukup sukses menerima sambutan hangat dari para kritikus film. Terbukti bahwa di era persaingan teknologi 3D, film mini bujet ini mampu disejajarkan dengan film berbujet berkali-kali lipat lainnya.

Dari segi alur cerita dan tema, Chronicle  tidak menghadirkan sesuatu yang baru. Tema superhero tanpa kostum ini sudah pernah diangkat dalam film Hancock dan Jumper. Namun yang menjadi unik adalah bahwa superheo di Chronicle ini tidak memanfaatkan kekuatan supernya untuk menolong orang lain. Justru dengan latar belakang kehidupan remaja para pemainnya, kekuatan super yang dimiliki para tokohnya hanya digunakan sebagai sebuah kebanggaan dan kesenangan pribadi. Satu pebedaan ini jika digabungkan dengan format found footage, maka akan tersaji sebuah film found footage yang selama ini mengusung genre sebagai film misteri, menjadi sebuah film found footage  pertama yang bergenre superhero yang jauh dari sebutan hero.

Meski dengan bujet minim ($15 juta), film ini ternyata tidak menyajikan spesial efek yang minim. Efek-efek yang luar biasa cukup menarik menghiasi film ini. Patut diacungi jempol. Secara keseluruhan, Chronicle merupakan film sederhana namun memberikan kesan yang begitu mengigit.

Behind The Scene 

Film ini disutradarai oleh Josh Trank dan merupakan film petama Trank untuk format layar lebar. Sebelumnya Trank menyutradarai serial TV The Kill Point. Film ini memakan bujet $15 juta. Pembuatan film dimulai bulan Mei 2011 dan berakhir di bulan Agustus 2011.

Sutradara Josh Trank

Josh Trank dengan kameranya

Syutingnya kebanyakan dilakukan di Cape Town Afrika Selatan. Kendalanya, di Afrika Selatan mengendara mobil menggunakan sisi kiri jalan dan kemudi berada di sebelah kanan. Maka untuk menyesuaikan dengan keadaan setting sesuai skenario (seolah di Seattle yang kondisi lalulintas dan posisi kemudinya berkebalikan dengan Cape Town), beberapa mobil Amerika terpaksa harus dikirim menggunakan kapal.

Filmnya dilakukan editing postproduksi agar terlihat seperti film found footage. Sinematografer Matthew Jensen menggunakan kamera video Arri Alexa dan lensa Angenleux Optimo dan Cook s4. Untuk membuat adegan yang mensimulasikan kamera Adrew yang meluncur dilantai ketika ditendang oleh kawannya, digunakan skateboard untuk menopang kamera tersebut.

Did You Know? 

Gadis berambut pink pasangan karakter Andrew yang diperankan oleh Anna Wood adalah kekasih Dane DeHaan (Andrew) di kehidupan nyata.

Lagu The Bright Flash yang dinyanyikan oleh M.8.3 yang dimainkan di credit akhir film hanya berisi sebaris lirik: I killed all the rainbows and the species.

Favorite Quotes 

Matt Garetty: Andrew, don’t fart. We’ll never find you again

Andrew Detmer: I’ve been doing a lt of reading, you know? Like, online about, like, just evolution and natural selection and how like there’s this thing, right? Its called the apex predator, right? And basically what this is, is the strongest animal in the ecosystem, right? And as human beings, we’re considered the apex predator but only because smaller animals can’t feed on us because of weapons and stuff, right? A lion does not feel  when it kills a gazelle, right? You do not feel guilty when you squash a fly… and I think that means something. I just think that realy means something.